
Gadis itu tiba di bandara pukul sembilan pagi. Suasana bandara begitu ramai sehingga Namira harus melipir sebentar ke salah satu kafe yang ada di sekitar area bandara. Ia butuh kafein agar tubuhnya bisa fokus menjalankan hari. Hari ini akan terasa panjang karena banyak yang harus ia lakukan, membereskan barang-barang di rumah lamanya, membeli peralatan untuk mengisi kosnya nanti. Ini adalah tahun pertama Namira masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi, Universitas. Setelah perdebatan panjang dan perjuangan yang tak mudah, akhirnya ia mendapatkan izin untuk kuliah di salah satu kampus Indonesia. Di sini ia hanya seorang diri. Ibu dan adiknya berada di Swiss. Mereka sudah menetap di sana kira-kira dua tahun—sejak Ayah dan Eyang uti meninggal.
Jarak kampus dan rumah lamanya tidak terlalu jauh sebenarnya. Hanya sekitar tiga puluh menit jika tidak macet. Tapi karena terlalu banyak kenangan yang ada di rumah lama, membuat Namira enggan untuk berlama-lama di sana. Apalagi jika harus tinggal di sana sampai kuliahnya lulus. Hal itu seakan membuka luka lama Namira. Mungkin bagi orang lain dua tahun terasa sangat cepat. Tetapi tidak dengan Namira. Ia melewati dua tahun terakhir ini dengan banyak air mata. Namira tahu, Ayah dan Eyang utinya tak akan suka jika melihatnya terus-terusan larut dalam kesedihan. Tapi, tidak dapat dipungkiri juga bahwa kehilangan memang semenyakitkan ini.
Namira menyeruput kopi hangat yang ia pesan beberapa saat lalu. Keadaan di dalam kafe lumayan membuatnya tenang. Ia jadi bisa menikmati kopi dengan tenang.
Jadwal perkuliahan dimulai satu minggu lagi. Cukup untuk Namira mencari kos-kosan yang akan ia tinggali untuk beberapa tahun. Namira hanya berharap ia bisa menyelesaikan kuliahnya dengan tepat waktu, lalu kembali ke Swiss, bertemu dengan Ibu dan Odrey. Adiknya itu pasti senang karena sudah jauh dari Namira, dia bisa bebas berpergian tanpa Namira di belakangnya. Ibu memang tak pernah memberikan izin untuk anak-anaknya keluar sendirian, mereka berdua harus saling menemani. Namira tak keberatan akan hal itu. Ia justru senang. Setidaknya ia mempunyai kesibukan lain selain menyirami tanaman yang memenuhi pekarangan rumah, juga membuat roti isi cokelat kesukaan Eyang uti.
Sekarang, di sini, ia akan memulai hal baru. Tidak hanya menyirami tanaman di pekarangan. Juga tidak hanya membuat roti isi cokelat. Di sini, Namira akan melakukan banyak hal. Hal baru yang akan menambah pengalaman dalam hidupnya. Hal baru yang mungkin akan membuat dirinya senang, ataupun sebaliknya.
...***...
Mbok Ti menyambut kedatangan Namira dengan mendorong pagar, diikuti Pak Suri yang juga ikut membantu Mbok Ti mendorong pagar. Mereka adalah sepasang suami istri yang sudah bekerja pada keluarga Namira sejak sepuluh tahun lalu. Namira lumayan dekat dengan keduanya. Karena dari dulu, sejak usianya masih belia, ia sering ditinggal di rumah oleh Ayah dan Ibu. Pada saat itu Eyang uti, Mbok Ti, dan Pak Suri lah yang menemaninya, menjaganya, menjemput Namira sekolah. Kala itu mereka juga yang membantu mengurus Odrey. Ibu hanya mengambil cuti dua bulan. Setelah Odrey lahir, Ibu kembali bekerja. Padahal, Ibu bosnya, tapi ia tak mau berlama-lama berdiam diri di rumah. Begitu juga Ayah. Mereka selalu sibuk dihari-hari biasa. Tapi tenang, mereka berdua pasti meluangkan waktu untuk acara kumpul keluarga mereka di setiap minggu. Satu hari itu mereka habiskan dengan hangat. Layaknya seorang keluarga yang begitu harmonis.
Pak Suri membantu Namira membawa dua koper bawaannya. "Maaf ya, Ra, Bapak sama Mbok nggak bisa jemput ke bandara. Di rumah cuma ada motor, Bapak gak tega kalau Ra harus naik motor panas-panasan." Mbok Ti membukakan pintu utama rumah. "Ra mau tidur di mana? atas? atau bawah? nanti biar Mbok rapihkan."
Namira mengambil alih koper, "Gak apa-apa Pak, Suri. Ra kan bisa naik taxi." Namira mengalihkan pandangan ke Mbok Ti. "Aku mau di kamar atas aja, Mbok, tapi aku aja yang rapihin gak papa. Mbok gak perlu repot-repot. Namira kan udah gede sekarang."
Suami istri itu tersenyum simpul, Mbok Ti mengelus pucuk kepala Namira, lalu berkata, "Udah gede kamu ya, Ra. Sedih Mbok. Perasaan baru kemarin Mbok jemput kamu sekolah masih pake seragam merah putih. Sekarang udah jadi anak kuliahan aja, udah nggak perlu Mbok atau Pak Suri jemput lagi."
Namira terkekeh pelan, "Waktu emang berlalu cepet banget ya Mbok. Aku juga kepengennya mah jadi anak kecil terus aja kalo bisa. Enak."
"Soalnya Mbok Ti dan Pak Suri orang hebat."
"Kamu juga hebat, Ra. Kamu lebih hebat daripada Bapak sama Ibu." ujar Pak Suri. "Wes wes, jangan diajak ngobrol lagi Namiranya. Dia harus istirahat piye toh Bu malah diajak nostalgia."
"Si Bapak gak peka. Ibu tuh kangen sama Ra." Mbok Ti mencibir kesal.
"Ya nanti saja kangen-kangenannya," Pak Suri memberikan kode agar Namira naik ke lantai atas. Gadis itu tertawa karena melihat tingkah suami istri yang tidak mengingat umur ini.
"Yaudah kalian lanjut deh, ya, aku mau ke atas dulu. Dadah, Mbok, Pak." ia melangkahkan kaki, menaiki anak tangga satu persatu. Di sana, Mbok Ti dan Pak Suri masih berdebat. Karena mereka, rumah ini jadi tidak terlalu sepi. Setidaknya Namira masih mempunyai mereka berdua di sini.
Ia membuka kamar lamanya, masuk ke dalam, menatap sekeliling. Tidak ada yang berubah dari kamarnya ini. Masih banyak buku disney yang selalu Ayah belikan setiap minggu. Buku dan raknya bersih, tak berdebu. Mungkin karena Mbok Ti selalu rajin membersihkan. Namira harus berterima kasih padanya karena tlah menjaga kamarnya dari debu. Debu adalah musuh terbesar Namira, karena kalau ada Debu, Namira pasti selalu bersin.
Gadis itu menatap burung kertas yang ia buat beberapa tahun lalu. Tampilannya masih sangat bagus. Hanya saja kertasnya sudah mulai usang. Dulu Namira membuat burung kertas ini bersama Odrey, lalu membagikannya ke semua orang yang ada di komplek rumahnya, termasuk satpam. Pada saat itu umur Namira masih sepuluh tahun dan Odrey tujuh tahun. Dua gadis kecil yang membuat gemas seluruh penghuni komplek.
Tersadar akan lamunannya, Namira segera membuka ponsel, ia harus memberikan kabar pada Ibu juga Odrey. Kalau tidak, bisa-bisa mereka di sana berpikiran yang tidak-tidak.
Ponsel itu terus mengeluarkan nada sambung, belum diangkat. Tiga detik berikutnya barulah terdengar suara, "Hallo Ibu?"