
Namira beranjak dari ranjang tempat tidur, melipat bed cover corak bunga. Setelah selesai melipat, ia duduk di atas kasur untuk beberapa saat, lalu mengambil gelas berisi air minum, kemudian menenggaknya. Sebuah kebiasaan bagus yang sudah ia lakukan sejak kecil. Minum pada saat baru bangun tidur.
Ia terdiam beberapa saat, mengumpulkan nyawa. Sekitar sepuluh menit ia melamun, sampai akhirnya suara Mbok Ti terdengar. Dengan segera ia mengambil ikat rambut di atas nakas, menguncir rambutnya asal, lalu berjalan keluar menuju lantai bawah.
Namira menatap ruangan tengah, lengang. Yang terlihat dari balik kaca jendela hanya Pak Suri, beliau tengah memandikan burung peliharaannya di halaman belakang rumah. Di dapur, Mbok Ti sibuk mencuci piring.
"Pagi Mbok." sapa Namira sambil menarik kursi meja makan. Di atas meja sudah ada udang mentega, cah kangkung, dan ayam goreng. "Banyak banget Mbok masaknya?"
"Iya. Abisan Mbok lihat badan kamu kurus banget, jadi si Mbok masakin makanan yang enak, biar kamu makannya banyak, terus lahap," jawabnya sambil mencuci piring.
"Mbok sama Pak Suri makan bareng aku aja sini." Namira menawarkan. Sebab, makanan di atas meja saat ini benar-benar banyak, ia tidak yakin bisa menghabiskannya.
"Nggak usah, Ra, si Mbok sama Bapak udah sarapan nasi uduk tadi sehabis sholat subuh. Kamu aja makan, kalo memang nggak habis, nanti biar si Mbok taro di dalam kulkas. Buat Ra makan malam nanti." Ujar Mbok Ti sambil berjalan ke arah meja makan. Tangannya mengelus pundah Namira pelan. Layaknya seorang Ibu. Sikap hangat seperti ini yang Namira suka dari Mbok Ti. Beliau memperlakukannya seperti anak sendiri.
Bicara soal anak. Mbok Ti dan Pak Suri juga mempunyai anak perempuan, dua. Umur mereka sudah menginjak remaja, kata Mbok Ti semalam, pada saat Namira, Mbok Ti, dan Pak Suri menonton televisi di ruang tengah bersama. Mbok Ti bercerita banyak perihal anak-anaknya yang tinggal di kampung. Namira suka melihat Mbok Ti dan Pak Suri bercerita, mirip Eyang uti dan Ayah.
"Mbok mau ke mana?" Namira bertanya.
"Mau nyamperin Bapak, Ra. Dia udah dua jam gak selesai-selesai mandiin burung, Mbok takut kalo burungnya jadi pilek." Kemudian Mbok Ti berjalan keluar menuju halaman belakang. Dari meja makan Namira bisa melihat Mbok Ti berkacak pinggang, memarahi Pak Suri. Ia terkekeh melihat kejadian selanjutnya, Mbok Ti membawa kandang burung dengan sebal, lalu Pak Suri mengejar di belakangnya.
Namira mulai menyuapkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya. Sesekali ia masih tertawa mengingat tingkah Mbok Ti dan Pak Suri beberapa menit lalu. Sekarang, mereka berdua sudah tak terlihat lagi, entah ke mana. Tapi, Namira bisa mendengar suara Mbok Ti yang sedang memarahi Pak Suri. Seperti ini, "Bapak tuh kalo udah mainan burung memang nggak ingat waktu, ya?" lalu Mbok Ti berkata lagi, "Kalo Bapak mandiin burungnya berjam-jam gitu yo mati, Pak! Merawat tuh yang bener. Jangan hanya buat kesenangan Bapak aja, tapi gak mikirin burungnya." seperti itu kira-kira.
"Odrey nyesel banget nggak mau ikut pulang ke sini." ujar Namira sebelum ia melanjutkan kembali sarapannya. Agenda hari ini adalah ke toko buku, jadi ia harus menyelesaikan ritual makannya ini. Karena kalau sudah di toko buku, tak cukup kalau hanya satu atau dua jam saja, pasti Namira membutuhkan setidaknya setengah hari di sana.
...***...
Jalanan tampak ramai karena Namira keluar pada jam makan siang, dimana para pekerja banyak yang keluar untuk mengisi perutnya yang lapar. Mobil putih yang ia kendarai berhenti di lampu merah. Dari lampu merah toko bukunya sudah terlihat.
Namira melajukan mobil ketika melihat lampu berubah menjadi hijau. Mobil putihnya mulai masuk ke area pintu masuk toko, ia membuka jendela lalu mengambil kertas parkir. Kemudian mobil berhenti di pojok tepat di bawah pohon rindang. Namira keluar sambil menenteng tas tote bag warna putih, merapihkan baju yang sedikit kusut, lalu dirinya mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam toko buku.
Ketika sampai di depan pintu toko, wangi khas buku baru tercium oleh hidung. Namira suka. Menurutnya aroma buku bisa membuat suasana hatinya tenang seketika. Makanya ia lebih suka membuang waktunya ke tempat ini.
Ia mulai melihat-lihat tiap rak yang ada di toko ini. Terdapat buku-buku baru yang tampak tidak familiar. Itu artinya Namira belum mempunyainya. Arti lainnya, Namira harus membeli buku yang tampak tidak familiar ini. Dua buku sekaligus ia ambil tanpa ragu.
Selama di Swiss, Namira jarang membaca buku karena selalu sibuk membuat roti. Odrey lah yang menjadi tampungan jika roti itu tidak habis. Namira akan memaksanya untuk menghabiskan, setelah habis, besok harinya ia akan membuat kue yang sama lagi. Mungkin ini salah satu alasan mengapa Odrey lebih suka berada di luar rumah. Ia sudah bosan melihat dan memakan roti cokelat setiap hari. Remaja itu lebih suka melihat Namira mengurusi tanaman yang ada di pekarangan rumah, daripada gadis itu sibuk di dapur.
Tanpa sadar buku yang ada di tangannya sudah ada lima. Tetapi Namira belum mau pulang, ia masih menyelusuri tiap rak buku, tiap sisi rak, bahkan tiap sudut ruangan toko. Kebetulan toko buku siang ini tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa pelanggan yang singgah sebentar untuk membeli, kemudian setelah mendapatkan buku yang mereka mau, mereka membayar, dan pulang. Berbeda dengan Namira. Kedua tangannya sudah penuh pun ia masih tidak berniat untuk pulang. Gadis itu sengaja membeli buku yang banyak agar bisa dijadikan stock untuk nanti di kos. Meskipun ia tak tau akan sempat untuk membaca atau tidak.
Ia berjongkok dengan susah payah karena buku yang hendak ia beli sudah mencapai delapan buku. Namira meletakkan delapan buku itu di lantai, lalu tangannya mengambil buku lagi yang letaknya di bawah rak.
"Hei?" lelaki itu memanggil Namira untuk yang kedua kalinya. Membuyarkan lamunan Namira.
"Oh, iya. Gak papa masih bisa dibawa pake tangan."
Lelaki itu ikut berjongkok di sebelah Namira, "Mau satu keranjang bareng? Kebetulan buku gue cuma satu doang."
Namira menatap lelaki itu ragu. Sebenarnya tampilan lelaki yang ada di sebelahnya ini tidak terlalu buruk dan tidak mencurigakan juga. Dia seperti mahasiswa pada umumnya. "Kenapa? Ragu, ya? Gue bukan orang jahat kok." lelaki itu meyakinkan.
"Tapi gue masih ada yang mau dibeli lagi." ujar Namira jujur.
"Yaudah gak apa, gue tungguin."
"Okee."
Namira kembali melihat buku yang di tangannya. Karena merasa kurang cocok, akhirnya ia menaruhnya kembali ke tempat semula. Manik matanya mulai mencari-cari lagi.
"Nama gue Kalingga. Kalingga Halid." lelaki itu memperkenalkan diri dengan santai.
"Oh, iya." hanya itu kata yang bisa Namira keluarkan. Ia tidak berani kalau harus memberi tahu namanya pada orang yang baru dikenal.
Namira beranjak sementara lelaki bernama Kalingga memasuki buku-buku Namira ke dalam keranjang. "Eh nggak perlu, gue bisa masukin sendiri."
Selesai Namira berbicara, buku-buku itu sudah masuk ke dalam keranjang semua. Tersusun dengan rapih di atas buku tebal milik Kalingga.
Kalingga berjalan mendahului menuju kasir. Tadi dia berbalik sebentar untuk menanyakan apakah masih ada yang Namira ingin beli. Tapi ternyata tidak. Namira mendadak tidak ingin membeli lagi. Cukup sembilan buku saja. Buku terakhirnya ia pilih pada saat ia tengah beranjak.
Namira mengikuti Kalingga dari belakang. Lelaki itu sudah berdiri di depan kasir, mengeluarkan buku-buku milik Namira ke atas meja.
"Cash atau..."
"Debit, Mbak." Namira muncul dari belakang, memberikan kartu miliknya. "Sembilan buku debit ya, Mbak."
Kalingga melihat Namira sekilas. "Yang sastra jepang juga pake debit."
Pegawai kasir mengangguk, kemudian mulai sibuk melakukan pembayaran. Beberapa menit setelahnya paper bag cokelat diberikan pada Namira dan Kalingga. Keduanya keluar beriringan, tangan kanan Kalingga sibuk memasukkan dompet ke dalam kantong celananya.
"Makasih ya." ujar Namira. Tanpa menunggu balasan dari Kalingga, Namira sudah berjalan keluar toko, meninggalkan Kalingga yang masih terpaku menatap kepergiannya.