Vulnerable.

Vulnerable.
H-2 sebelum pindah.



Namira mempunyai waktu dua hari sebelum ia pindah ke kos yang akan ia tinggali. Hari ini ia berniat untuk membeli beberapa perlengkapan yang akan dibawa untuk dipakai di kosnya nanti. Sebenarnya tidak banyak. Hanya beberapa perlengkapan mandi, dan makanan untuk beberapa minggu di kos.


Ia sudah tiba di parkiran supermarket sejak lima menit lalu. Tapi karena sang Ibu menghubunginya sehingga ia memilih untuk berdiam di dalam mobil dulu.


Tidak ada percakapan yang penting diantara keduanya. Hanya percakapan seorang Ibu kepada anaknya. Seperti mengingatkan agar Namira menjaga kesehatan, makan yang teratur, jangan lupa minum vitamin, tidur yang cukup, dan masih banyak lagi. Namira hanya bisa mengiyakan setiap perkataan sang Ibu.


"Iya Bu iya." ujar Namira dengan nada lelah. Entah sudah keberapa kali ia menjawab iya.


Setelah panggilan dimatikan, Namira segera keluar dari mobil, mengambil troli lalu membawanya masuk ke dalam. Di dalam lumayan ramai. Mungkin karena sekaranv weekend, jadi banyak orang berbondong-bondong pergi berbelanja bersama keluarganya. Namira sempat terpaku beberapa saat ketika melihat satu keluarga yang lengkap tengah memilih bahan makanan tak jauh dari tempatnha berdiri saat ini. Iri. Itu yang Namira rasakan. Selama dua tahun terakhir ini ia tidak pernah belanja bersama. Kalau tidak sendiri, ya bersama Odrey. Ibu selalu menitipkan kertas berisi list bahan apa saja dan makanan apa saja yang harus Namira beli. Sejak dua tahun terakhir Ibu memang lebih sibuk.


Namira mulai menyadarkan diri agar tidak berlama-lama melamun. Ia harus segera pulang, sebelum Mbok Ti menyelesaikan masak untuk makan malam.


Namira mendorong troli ke area rak perlengkapan mandi, ia mengambil sabun, pasta gigi, sikat gigi, dan beberapa barang yang memang ia butuhkan. Setelah selesai dengan perlengkapan mandi, Namira bergegas ke rak makanan, ia mengambil makanan secukupnya karena takut kalau terlalu banyak nantinya akan basi dan berakhir terbuang. Jadi, ia mengambil makanan yang memang bisa tahan sekitar satu minggu.


Tiga puluh menit berlalu, kini Namira sudah berdiri mengantre untuk mendapat giliran membayar. Keadaan sekitar yang ramai membuat kepala Namira sedikit pusing. Beberapa menit telah berlalu, kini bagian Namira untuk membayar, ia mengeluarkan barang belanjaan yang semula berada di dalam troli menjadi di meja kasir. Kemudian beberapa detik setelahnya pegawai kasir sudah memberikan dua bungkus plastik kepada Namira.


"Kalo tau masih pake plastik gue bakal bawa tas belanja sendiri," gumamnya sembari melangkahkan kaki keluar.


Sekarang, ia sudah berada di dalam mobil, jauh dari kerumunan manusia yang membuat kepalanya sakit. Di dalam mobil, segera Namira menyalakan AC mobil, mengambil beberapa kembar tisue yang berada di kursi sebelahnya. Padahal ia hanya menghabiskan waktu tiga puluh menit di dalam sana. Tapi rasanya seperti ia sudah berjam-jam di sana, tubuhnya berkeringat, banyak.


Merasa sedikit lebih baik, ia menyandarkan tubuhnya pada kursi kemudi, menatap lurus ke depan. Bahkan di luar pun masih banyak orang. Mulai hari ini ia berjanji pada dirinya sendiri agar tak mengunjungi supermarket pada akhir pekan seperti ini. Dua tahun di Swiss membuat Namira kaget dengan ramainya orang-orang di sini. Padahal baru dua tahun ia meninggalkan negara ini, tapi rasanya seperti orang baru yang mengalami culture shock.


Setelah tahu bahwa hari sudah mulai sore, segera Namira melajukan mobilnya. Mobil putih itu mulai melaju keluar dari area supermarket menuju rumah lamanya. Ia berniat mandi ketika sampai nanti. Tubuhnya terasa sangat lengket. Mungkin berendam air hangat adalah solusi yang terbaik.


...***...


Sebelum pergi ke kamarnya untuk mandi, Namira sempat berpesan kepada Mbok Ti agar mengolah sayur-mayur yang ia beli tadi. Mendadak ia tidak selera makan makanan berat, walau sejak pagi perutnya belum terisi apa-apa.


Tiga puluh menit ia habiskan di dalam kamar mandi. Sekarang, ia tengah mengemaskan buku yang hendak dibawa ke kos nanti. Tidak banyak. Hanya tiga box saja. Yang masing-masing berisi sepuluh buku. Kemarin, setelah mengecek kos, ia melipir sebentar ke toko buku terdekat. Sebuah kebahagiaan ketika mengetahui letak toko buku itu berada di sebrang komplek kos-kosannya. Mungkin kalau sempat, Namira akan datang lagi ke sana. Awalnya ia berniat mengajak Amara ke sana, tapi setelah bersama selama beberapa jam kemarin, ia mengurungkan niat itu. Namira tidak yakin mereka sedekat itu. Meskipun kemarin Amara sangat terlihat akrab padanya, tapi ia takut kalau hanya dirinya sendiri yang menganggap mereka dekat. Jadi, pergi sendirian adalah solusinya. Toh juga sejak dulu ia memang selalu sendiri. Sendirian itu tidak buruk, untuk beberapa orang.


Selesai dengan box berisi buku, Namira pindah ke dua koper besar, menyeretnya ke dekat meja belajar—tak jauh dari pintu. Entah kenapa ia melakukan itu. Tapi, letak koper tadi terlihat sangat mengganggu baginya. Jadi, ia pindahkan lah.


Masih ada sepuluh menit sebelum Mbok Ti memanggilnya untuk makan malam. Ia sebenarnya bingung ingin melakukan apa. Jadi ia hanya memilih duduk di depan meja belajar, menatap laptop berlayar hitam, mati. Ketika begini, pikirannya jadi lebih mudah untuk mengingat kejadian-kejadian dahulu. Kecelakaan dua tahun lalu berputar begitu saja di kepalanya membuat matanya berkaca-kaca tanpa sadar. Ternyata ia masih tidak sekuat itu. Kehilangan dua orang terdekatnya sekaligus, dengan cara yang tak pernah Namira bayangkan sebelumnya, membuat dadanya sesak tiap kali mengingatnya.


"Kangen." ujar Namira lirih. Ia membiarkan buliran air mata lolos membasahi pipi putihnya.


Ketukan pintu menyadarkannya, segera ia mengambil beberapa lembar tisue, lalu menjawab, "Iya sebentar."


"Ra makanannya udah ada di meja. Ayo makan." suara Mbok Ti terdengar.


Pintu terbuka, menampilkan Namira dengan tisue yang menutupi sebagian wajahnya. Tentu saja Mbok Ti bertanya-tanya. "Eh? Ra kenapa?"


Namira menggeleng. "Nggak aku gak apa-apa. Ini cuma itu, pilek. Aku pilek mendadak Mbok," katanya sembari mengajak Mbok Ti turun ke lantai bawah.


Sambil berjalan, Mbok Ti menatap Namira khawatir. "Habis ini minum obat, ya? Nanti Mbok cariin obat pilek. Pilek itu kan gak enak, Ra, bikin kepala pusing, terus badan juga meriang. Pokoknya gak enak. Minum obat ya habis ini? Sepertinya di dapur masih ada obat-obatan, soalnya si Bapak sering batuk pilek juga."


Namira hanya membalas dengan anggukan. Seketika ia merasa bersalah karena berbohong. Di dalam hati ia membatin, meminta maaf karena harus berbohong. Ia berjanji tidak akan berbohong lagi. Meskipun janji-janji itu sudah ia lontarkan puluhan kali sejak dulu.