Vulnerable.

Vulnerable.
kos baru



Namira sudah siap pergi pagi-pagi sekali untuk melihat tempat kos yang akan ia tinggali untuk beberapa tahun ke depan. Semalam, selepas pulang dari toko buku, Odrey menghubunginya. Gadis itu memberitahu bahwa Namira sudah bisa mengunjungi kos yang akan ia tinggali nanti. Sang Ibu rupanya sudah mencarikan kos sejak satu bulan sebelum keberangkatan Namira ke Indonesia.


Ia menuruni anak tangga satu persatu. Kali ini ruangan tengah, dapur, dan halaman belakang tampak sepi. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Mbok Ti dan Pak Suri. Namira berpikir, mungkin saja mereka berdua sedang pergi keluar. Namira tak terlalu memikirkan hal itu. Dengan pakaian yang sudah rapih, ia sudah siap untuk berangkat.


Namira berbalik arah menuju dapur, ia berniat mencari susu untuk dijadikan sarapan pagi ini. Sebab, di atas meja makan tidak ada makanan apa-apa. Namira tidak keberatan akan hal itu. Lagi pula, ia sudah dewasa, sudah bisa mencari makanan sendiri. Tidak seperti dulu yang harus disuapi tiap kali perutnya keroncongan. Sekarang, ia akan membiasakan diri untuk melakukan apa-apa sendiri. Ia tidak mau membuat orang lain kesusahan. Bahkan kalau bisa, ia mau menjadi seseorang yang paling dibutuhkan jika ada yang membutuhkan bantuan.


Ia tersenyum simpul ketika mendapati isi kulkas yang sudah lengkap. Mbok Ti memang paling mengerti. Padahal, terakhir kali Namira lihat kemarin isi kulkas masih kosong. Tetapi sekarang sudah terisi banyak makanan, minuman, hingga sayur-sayuran. Namira berniat membawa makanan dan minuman botol ke kos nanti kalau dalam satu minggu masih ada.


Ia melewati ruang tamu, di dinding terdapat banyak sekali foto-foto keluarganya. Salah satu kenangan yang ia punya dan masih membekas adalah dua foto dengan bingkai yang besar. Di sana terdapat foto keluarganya yang lengkap, dan yang satu lagi foto Eyang uti sendiri. Namira memandangi kedua foto itu untuk beberapa saat, sebelum akhirnya ia menghela napas dan berjalan keluar. Jika terus-terusan seperti ini ia tidak akan pernah bangkit. Ia mulai menguatkan diri lagi, sebelum membuka pintu mobil, memakai seat belt ke tubuhnya, menyalakan mesin mobil. Setelahnya mobil mulai keluar dari area rumah.


Pagi ini ia sudah berniat untuk produktif dan mulai bersiap untuk pindahan ke kos. Karena jadwal perkuliahan sudah semakin dekat. Ia hanya berharap bisa menyelesaikan pendidikannya tepat waktu. Itu saja.


...****...


Mobil memasuki area komplek. Areanya lumayan bagus. Asri. Dan lumayan sepi. Namira beberapa kali mengecek ulang alamat yang dikirimkan Odrey. Ia sudah memastikan pada satpam yang berjaga di depan komplek tadi, katanya, memang benar ini alamatnya. Namira tidak salah. Ia hanya lupa bahwa Ibunya tidak akan membiarkan dia untuk tinggal di tempat yang sembarang. Dalam artian Ibu Namira ingin anaknya tinggal di tempat yang nyaman dan aman.


Kedua matanya menatap rumah yang ada di kanan dan kirinya. Bagus. Sangat bagus. Namira sempat tak percaya kalau kos-kosan itu terletak diantara rumah-rumah mewah ini.


"Ibu gak salah nyari kos-kosan?" tanyanya pada diri sendiri.


Namira memicingkan mata ketika melihat seorang gadis yang seumuran dengannya. Gadis itu terduduk di pinggir trotoar tak jauh dari pager bernomor 99. Nomor itu adalah nomor kos-kosan yang akan Namira datangi. Lantas Namira segera memarkirkan mobil tak jauh dari pagar, ia keluar membawa tas tote bag putih miliknya, lalu menghampiri gadis yang tengah duduk di atas trotoar.


Ia menghampiri gadis itu dengan ragu. "Kamu yang mau ngekos di sini juga?" Gadis berambut sebahu mendongak, menatap Namira. "Atau penghuninya?"


Sebenarnya Namira tidak tahu harus menyapa bagaimana. Tapi karena ia membutuhkan info tentang kos ini dan ia juga tidak tahu harus bertanya pada siapa di tempat se-sepi ini, jadi akhirnya ia memilih untuk bertanya pada gadis ini. Lagi pula hanya ada dia di sini, di depan kos pula.


"Lo mau ngekos, ya?" Gadis itu beranjak, membersihkan celana bagian belakangnya. "Gue juga!!" Pekiknya sembari tersenyum senang. Seperti menemukan harta karun.


"Eh? Kirain aku kamu penghuninya. Maaf, ya, aku gak tau." ujar Namira lirih.


Gadis itu mendorong bahu Namira pelan, "Ah elah, santai aja. Gue malah beruntung karna ketemu lo di sini."


Namira tertawa canggung. Ia tidak tahu harus membalas apa. Belum ada lima menit mereka bertemu saja Namira sudah bisa menilai bahwa gadis ini sangat aktif.


"Nama lo siapa?" gadis itu bertanya.


"Namira."


"Cakep. Nggak kayak gue."


"Nama kamu siapa emangnya?" Namira bertanya. Kali ini tanpa ragu.


"Amara," jawab Amara singkat.


"Nama kamu bagus. Apa yang salah?"


"Salah. Karena gue gak suka. Orang-orang kebanyakan manggil gue mara-mara."


Namira berdiam beberapa saat, kepalanya berpikir, berusaha mencerna perkataan Amara barusan. Namun, detik berikutnya ia tahu harus membalas apa.


"Kan bisa panggil Ra aja. Ra gak terlalu buruk kok."


"Pasti panggilan lo itu, ya?" Namira sempat terkejut karena tebakan Amara benar. "Kalo lo nyaranin berarti lo sendiri suka, soalnya gue kayak gitu. Gue selalu nyaranin orang-orang terdekat gue makanan yang paling gue suka."


Mereka berdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Namira membuka obrolan kembali. "Udah sampe kapan nunggu di luar gini?"


Amara menjentikkan jari tiba-tiba, membuat Namira sedikit terperanjat karena kaget. Gadis itu berjalan membuka pager yang tingginya sekitar tiga meter.


"Sebenernya gue daritadi duduk di luar tuh lagi inget-inget mau ngapain, terus pas tadi lo bilang gitu gue baru inget kalo gue mau masuk ke dalem. Kenapa bisa gue lupa?"


Namira menggeleng pelan. Sejujurnya ia tidak tahu apa yang sedang Amara lakukan. Omongan gadis itu juga daritadi membuat Namira bingung.


Namira berjalan mengikuti Amara dari belakang. Gadis itu celingak-celinguk melihat kanan dan kiri. Dari depan pintu mereka bisa mendengar gaduhnya suara. Sepertinya suara itu berasal dari ruang tengah.


"Ada orang ternyata?" Amara bertanya pada Namira. Namira hanya memberikan respon seadanya. Karena ia benar-benar tidak tahu. Ia juga heran mengapa Amara selalu memberikan pertanyaan yang Namira saja tidak tahu apa jawabannya.


Keduanya sudah melewati pintu utama. Tak jauh dari tempat mereka berdiri ada dua orang lelaki tengah sibuk bermain game. Suaranya menggelegar ke seisi kos.


Amara mengetuk pintu dengan keras. Ketukan pertamanya sukses membuat dua orang lelaki yang berada di ruang tengah terperanjat. Juga Namira yang berdiri di sampingnya.


Amara menyengir menatap dua lelaki yang sedang shock karena ulahnya. "Kita penghuni kos baru, Mas."


Kedua lelaki itu ber-ohh ria serentak, beranjak dari duduknya, salah satu dari mereka mematikan televisi. Namira memicingkan matanya, ia merasa sedikit familiar pada salah satu dari mereka.


"Sorry ya main masuk aja, soalnya gue pikir kalo teriak-teriak dari luar lo berdua gak bakal denger. Berisik banget soalnya." ujar Amara.


"Oh iya gak papa. Kenalin gue Kalingga." Amara menyambut tangan Kalingga, lalu berpindah ke tangan lelaki yang berdiri di sebelah Kalingga. "Lo?"


"Rakas."


Namira ikut menyambut uluran tangan Kalingga. "Namira."


"Kalingga."


"Eh mau liat-liat dulu apa gimana? Ibu kosnya lagi gak ada di sini si, tapi beberapa hari lalu beliau sempet ngabarin kalo bakal ada dua anak baru yang bakal ngekos di sini." ujar Rakas.


"Kalo gue nggak perlu si, gue dateng ke sini cuma butuh kunci kamar aja. Minggu lalu gue udah ketemu sama Ibu kos kok." Rakas mengangguk paham. Pandangannya beralih ke arah Namira. Gadis itu masih sibuk melihat sekeliling sehingga Amara harus menyenggol tubuhnya untuk menyadarkan.


"Oh? Iya-iya gue juga sama. Cuma butuh kunci aja."


"Nggak mau liat-liat dulu?" Kalingga bertanya.


"Nggak. Udah cukup kok."


"Oke."


Kalingga berjalan pergi menuju nakas, mengambil dua kunci sekaligus untuk ia berikan kepada Namira dan Amara. Dikunci itu terdapat nomor yang berbeda. Yang satu nomor lima dan yang satunya lagi tujuh.


Namira mengambil kunci nomor lima, sedangkan Amara nomor tujuh. "Kamar Kalingga di nomor enam dan kamar gue di nomor delapan. Penghuninya ada delapan, tapi yang ngisi kamar nomor satu sampe empat lagi pada pulang ke rumah masing-masing."


Namira dan Amara mengangguk serentak. "Makasih," kata Namira.


"Mau langsung cabut?" Kalingga bertanya.


"Iya," jawab Namira dan Amara serentak sebelum akhirnya mereka berjalan keluar meninggalkan Kalingga dan Rakas.