
~
Musuh yang mereka hadapi tidak terlihat terluka sedikit pun. Milo merasa khawatir dengan keadaan yang tidak menguntungkan bagi timnya ini.
“Haa?” ucap Losy mengintip dari pedang Milo yang sedang dia genggam,
“Apakah sudah selesai? Hahaha…” Lanjutnya lalu tertawa,
“Milo…” ucap Niro memberikan isyarat,
Milo membuat segel sihir dengan tangannya kemudian dia menjawab,
“Ya …” Milo menunjukkan senyum liciknya,
“AERO DEMON …”
”VUTRA …”
Milo merapalkan sihirnya bersamaan dengan Niro yang duduk dan mengarahkan busurnya,
Pedang Milo tiba-tiba mengamuk mengeluarkan banyak sayatan angin hingga membuat Losy terkejut. Pedang itu melayang diantara mereka dengan tubuh pedangnya yang terselimuti sihir angin,
“AERO BRIDGE”
Ucap Kennith merapalkan sihir dinding anginnya untuk menghalangi pandangan musuh,
“WIND STORM!”
“REDGIS!”
“AERO DOM!”
Secara bersamaan mereka melepaskan serangan kombinasi,
Kilatan kuning dari pedang Milo dan gemuruh angin mulai terasa didalam lorong,
‘Dyzbuh!-Zbuh!-Dbuh-Dbuh…!’
Dengan cepat, badai angin disertai ****** beliung yang menembakan hujan panah itu membesar,
“Hey hey hey … Bisakah kalian tenang sedikit?” ucap Pria berjubah hitam yang sedang berusaha berkonsentrasi untuk membuka segel gerbang besar didepannya,
“Serangan ini cukup berbahaya bagi kalian” ucap Zein sambil berjalan menghampiri Pria itu,
Mereka bersiaga dengan memasang kuda-kuda bertahan,
“Ho … Mereka mulai serius” ucap Haimo sambil membuat segel sihir dengan tangannya,
“Hihihi …” Marian tertawa aneh saat melihat serangan kombinasi itu,
Putaran ****** beliung beserta daya dan jarak serangnya semakin membesar.
'Dbuh!-Dbuh!-Dbuh!'
“Cih … Kalian hanya para sampah, jangan terlalu jumawa” ucap Losy dengan perasaan kesal,
“Kita hentikan mereka disini!” ucap Milo sambil menguatkan serangannya,
“Hmm!” Jawab teman-temannya yang juga menguatkan serangannya masing-masing,
Serangan itu kian membesar dan memberikan dampak kerusakan yang besar kepada apapun disekitarnya. Lorong mulai berguncang disertai hancurnya langit-langit lorong sedikit demi sedikit.
'Zyusfh!-Dbuh!-Dbuh!-Dbuh!'
"Bocah-bocah kurang ajar." ucap Haimo saat dia dan teman-temannya terkena beberapa serangan,
~
Disisi lain kolosium, Richey dan teman-temannya terlihat telah selesai mendiskusikan sesuatu. Tiba-tiba Richey merasakan sesuatu dari dalam lantai yang dipijaknya.
“Apakah kalian merasakan sesuatu?” tanya Richey kemudian menyentuh lantai itu dengan tangan kanannya,
“Apa yang kamu maksud?” tanya Venesia dengan wajah yang bingung,
“Kamu benar …” jawab Dyres dengan tatapan tertuju ke lantai,
“Ada Niewral dan Sihir yang besar dibawah kita …” saut Shane dengan mata terpejam,
“Apa yang kalian maksud?!” ucap Venesia bertambah bingung,
“Mengapa hanya aku yang tidak merasakan apa-apa?” Lanjutnya,
Richey menatap Venesia dan mengatakan,
“Kamu terlalu ribut …”
Venesia menjawab dengan wajah datar,
“Aku disebut ribut oleh raja membuat keributan …”
Venesia duduk dengan tatapan kosong,
“Harga diriku …”
Saat itu dia tersadar akan adanya Niewral yang terasa menembus lantai didepannya,
“Tunggu ... Kalian benar.” Lanjutnya menyentuh lantai itu,
“Kita harus segera kesumber Niewral ini …” ucap Richey dengan tatapan seriusnya mengarah ke Dyres,
“Tidak … Kamu harus selesaikan pertarunganmu” Jawabnya,
“Biar kita yang tangani hal ini” saut Venesia menatap Richey,
“Aku sudah menandai posisinya” ucap Shane saat membuka matanya,
“Apa kalian yakin?” tanya Richey menatap teman-temannya,
“Tidak usah menjadi sosok seperti Nenek didepan kami” jawab Dyres,
“Menangkan pertandingan nanti, karena aku yang akan mengalahkanmu diakhir …” Lanjutnya menepuk pundak Richey,
“Hmm!” Shane dan Venesia mengangguk menatap Richey,
“Baiklah teman-temanku yang bodoh!” ucap Richey sambil berdiri,
“Jangan salahkan aku bila aku meratakan kalian diakhir nanti, Hihihi …” Lanjutnya lalu tersenyum senang,
“Jangan terlalu banyak bicara” saut Dyres,
“Tunjukkan kepada kami…” sambung Venesia,
Shane tersenyum dan menjulurkan tangannya. Teman-temannya memahami dan ikut menjulurkan tangannya masing-masing.
“Sampai bertemu dipertandingan utama nanti…” ucap Dyres,
“Hmm!” Jawab teman-temannya mengangguk,
Mereka segera berlari dengan cepat menuju sumber Niewral dan Sihir yang telah ditandai oleh Shane,
Sesaat Richey merasakan firasat buruk setelah melihat teman-temannya berbelok diujung lorong,
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi disini …” Richey beratanya-tanya didalam hatinya,
“Aww!” ucapnya menggenggam pergelangan tangan kanannya lalu melihat telapak tangannya,
Dia melihat garis telapak tangannya bercahaya seperti terbakar dari dalam,
“Apa ini …” Ucapnya menahan sakit,
Kemudian Richey menepuk-nepuk dadanya yang terasa sakit,
“Tenanglah … Turuti perkataanku …” Lanjutnya berlutut dilantai lorong,
Richey menarik nafasnya dalam-dalam lalu melafalkan sebuah Niewral,
“WRAMBLE!”
Richey tidak bisa bernafas dan seolah-olah ada sesuatu yang ingin keluar dari mulutnya.
Setelah itu bagian tubuh lainnya bersinar terang sesaat, lalu memudar dan kembali seperti normal.
~
Dari sudut lain, Dyres yang sedang berlari tiba-tiba merasa bulu kuduknya berdiri karena sesuatu yang tidak dia ketahui.
“Apa ini … Kenapa tiba-tiba aku merinding?” ucap Venesia terkejut sambil menunjukkan tangannya yang tiba-tiba merinding,
Dyres melihat bulu kuduk Venesia ketika dia mengatakan hal yang sama,
“Aku juga …” sambung Shane menunjukkan tangannya,
Sesaat beberapa orang merasakan sesuatu yang sangat tajam namun tidak bisa dirasakan oleh indera mereka,
“Ini …” Niro menoleh kearah datangnya perasaan itu,
“Niro!” ucap Milo memanggil dirinya,
“Ya…” Jawabnya sambil memikirkan sesuatu,
Dari luar kolosium terlihat Rascal sedang berjalan,
“Sepertinya dia ada disini juga …” ucapnya melihat kearah kolosium saat tubuhnya merasakan sesuatu,
“Hal buruk apa sebenarnya yang akan terjadi di kerajaan ini …” Lanjutnya menatap kerajaan,
Disisi lain,
“Sepertinya dia sudah merasakannya lebih dulu …” ucap Avro melihat kearah kolosium,
Beberapa orang lainnya yang terlihat misterius dari beberapa tempat yang berbeda, tersenyum saat merasakan perasaan aneh itu.
~
Sementara itu didalam arena, Ryd berdiri sambil memegang kertas nama ditangannya.
“Sepertinya pertarungan kali ini akan sangat mendebarkan!” ucap Ryd dengan semangat diikuti suara penonton yang bergemuruh,
“Dia adalah satu-satunya perwakilan dari Clan Fensemort yang mengikuti ujian ditahun ini. Dirinya juga merupakan penyandang gelar Anak Emas dari Fensemort!” Lanjutnya,
“Kita panggilkan, inilah dia Louisiana Fensemort!” Ucapnya menunjuk kearah pintu arena disebelah kiri,
Lousiana berjalan masuk ke arena dengan anggun dan tatapan tajam yang menatap kedepan. Semua penonton kagum dengan kecantikan dan keanggunannya. Tidak lupa Varadis yang sedang ditutup matanya oleh Namira pun demikian.
“Hoy sayang ...” ucap Varadis,
“Pertandingan kali ini tidak layak ditonton oleh orang sepertimu…” saut Namira,
“Cantik sekali …” ucap Ryd yang tidak sadar saat mengagumi kehadiran Louisiana,
“Em ... Em ... Maksud saya, Louisiana bisa berada ditahap ini karena suatu alasan dari gurunya …” Ryd menjelaskan sambil melihat kertas yang berada dimejanya,
"Yaitu salah satu Legenda Sihir kita, Tassy Fensemort!” Lanjutnya menunjuk kearah Tassy,
Mendengar sambutan dari Ryd, Tassy menjawab dengan mengangguk dan memberikan hormat kepada seluruh penonton.
“Dan seseorang yang akan menjadi lawannya adalah seorang anak yang juga menjadi salah satu murid sekaligus cucu dari Legenda Sihir Nedelvort, siapakah dia?” ucap Ryd membuat suasana terangkat,
“Kita panggilkan saja, Richey … Vlarain!” Lanjutnya dengan heboh,
Para penonton bergemuruh dan bersorak saat Richey berjalan memasuki arena.
Pandangannya saat memasuki arena tidak terlepas dari Louisiana,
~
“Ada apa dengan anak itu?” ucap Aglus yang sedang berjalan menaiki anak tangga di tower kolosium bersama teman-temannya saat melihat Richey,
Virden yang berjalan paling depan menyadari sesuatu saat melihat mereka berdua dari celah jendela di tower itu.
“Apakah mereka berdua sudah bermusuhan sebelum datang kesini?” Samy bertanya-tanya,
“Menurut ku mereka saling jatuh cinta…” ucap Lugo dengan polosnya,
“Dari wajahnya saja sudah terlihat tidak seperti itu!” bentak Aglus yang kesal mendengar ucapan Lugo,
“Mereka bukan makhluk yang sama seperti kalian …” Tiba-tiba Virden mengucapkan kalimat yang tidak dipahami oleh teman-temannya,
“Apa yang kamu maksud?” tanya Samy,
“Kalian akan melihatnya nanti. Untuk sekarang fokuslah kepada keselamatan kalian terlebih dulu” Lanjutnya lalu kembali berjalan menaiki anak tangga,
Teman-temannya bingung dengan ucapan dan tingkah laku Virden saat itu.
~
Sedangkan didalam arena,
“Ternyata ada makhluk seperti dia dikerajaan ini …” ucap Louisiana didalam hatinya saat melihat Richey,
“Makhluk apa yang ada didalam tubuhnya itu …” ucap Richey didalam hati saat tiba-tiba melihat suatu makhluk yang membayangi tubuh Louisiana,
“Ah …” Louisina mengalami rasa sakit didadanya dengan tiba-tiba,
Tangannya memegang dada yang menjadi titik rasa sakit,
Richey terus menempatkan pandangan kepada makhluk yang membayangi musuhnya itu. Makhluk itu terlihat tidak sabar untuk segera menghancurkan Richey.
Para penonton dan Ryd bingung saat melihatnya,
“Woh woh … Apa yang terjadi kepada Louisiana?” ucap Ryd,
Dia melihat tanda mulainya pertarungan akan segera dinyalakan,
“Mohon bersabar untuk para peserta…” Lanjut Ryd bersiap memulai pertarungan,
Sambil menahan rasa sakitnya, Louisiana berusaha untuk terlihat normal. Kemudian dia menunjukkan ibu jarinya kepada Ryd.
‘Fyuhwiit…’
Suar sihir tanda dimulainya pertarungan terlihat,
“Inilah dia…Pertarungan kita mulai!!!” ucap Ryd dengan penuh semangat.
~Bersambung