
~
Hembusan angin yang kencang menerpa wajah Rascal yang terlihat sedih. Nuvier yang diam tak bergerak perlahan mulai mengeluarkan cahaya dari dalam tubuhnya. Satu persatu bagian tubuhnya menjadi partikel cahaya yang terhempas oleh angin.
“Maafkan aku…” ucap Rascal dalam kesedihannya,
Senyuman dan air mata yang mengalir tiba-tiba terlihat dari wajah Nuvier,
“Kamu sudah terlalu banyak membantu kami, Nak…” ucap Nuvier,
Dia melihat Rascal terkejut dan perlahan mengangkat wajahnya. Tangan kanannya bergerak perlahan menyentuh pipi kiri Rascal,
“Terima kasih, karena tidak pernah lelah mencoba untuk menolongku…” Lanjutnya dengan senyuman yang tulus dan air mata di pipinya,
Rascal menatap Nuvier dengan wajah sedih dan penuh air mata,
“Aku akan menceritakan kisah hebat mu kepada Caitlain…” sambung Nuvier sambil
mengusap air mata Rascal,
Perlahan senyuman, air mata dan tatapan bahagia itu melebur menjadi cahaya yang tertiup angin, lalu menghilang.
“Terima kasih…” Ucap Rascal sambil menghapus air matanya,
Perlahan dirinya mendarat ke tanah. Hembusan angin terasa ketika dia melenyapkan Niewral-nya yang masih aktif.
Dia menatap kearah angin yang membawa leburan tubuh Nuvier ke angkasa,
~
Didalam lorong bawah tanah kolosium yang lembab, terlihat beberapa orang berjubah hitam tengah menunggu rekannya menghancurkan segel gerbang besar yang berada didepan mereka.
Tiba-tiba dari gelapnya langit-langit lorong, sebuah pedang berputar dan melesat kearah mereka.
‘Syufh!...Dbuh!’
Mereka menyadari pedang itu dan berhasil menghindarinya,
“Akhirnya ada sesuatu yang bisa ku mainkan…” Ucap seorang berjubah hitam dengan senyumnya yang menyeramkan,
Perlahan beberapa langkah kaki terdengar semakin mendekat menuju kearah mereka. Beberapa pasang kaki itu terlihat keluar dari kegelapan dan menuju bagian lorong yang diterangi oleh lampu dinding.
Perlahan Niro, Milo dan Kennith muncul dengan percaya diri dihadapan mereka,
“Sepertinya kita tidak usah menanyakan apa yang sedang mereka lakukan…” ucap Niro lalu duduk jongkok didepan kedua temannya,
Kelompok berjubah hitam itu secara bersamaan melihat kearah pedang tadi,
‘Fyuuh...Clap!’
Pedang yang tertancap ditanah dengan Simbol Iblis Angin itu melesat dan kembali kegenggaman Niro,
Mereka telah siap dengan kuda-kuda mereka masing-masing,
“Kita mulai permainan ini!” ucap Milo sambil menangkap pedang angin miliknya yang dilemparkan oleh Niro,
“Baiklah…” ucap Kennith berlari melemparkan pedang besarnya kearah dua orang berjubah hitam yang berada didinding lorong sebelah kiri,
‘Huwf…Dbum!’
Pedang besar itu menusuk dinding dengan kuat hingga terjadi retakan dipermukaan dinding,
‘Fyuuh!’
Milo melemparkan pedangnya kearah yang berlawan dan menuju kearah dua orang berjubah hitam lainnya,
Sesaat ketika mereka menghindari pedang itu,
“WIND DASH!”
‘Syuuh!’
Milo melesat lalu menendang pedangnya yang membuat arah pedang itu menukik kearah seorang wanita berjubah hitam,
‘Dbuh!’
Serangan mengejutkan itu membuat mereka lengah dengan Niro yang telah siap menembakkan anak panah Annaroth-nya kearah seorang anggota berjubah hitam yang sedang berusaha membuka segel gerbang besar itu,
“REDGIS”
‘Dwyuhh..!!!’
Annaroth yang ditembakkan itu melesat seperti laser besar dan menghancurkan apapun yang dilaluinya,
Kelompok berjubah hitam itu terkejut ketika Niro melepaskan serangannya,
“Bocah merepotkan…” Ucap seorang anggota kelompok itu dengan nada kesal,
“GAID TRONE”
Sebuah gerbang hitam dari Sihir Iblis yang di rapalkan orang itu muncul dan menyerap serangan Niro,
“Apa?” ucap Milo terheran melihat kejadian itu,
"Kita sudah tahu mereka akan merepotkan, jadi jangan terkejut." saut Kennith,
Sesaat kemudian,
‘Dbuh!!!’
"Argh!"
Tiba-tiba anggota berjubah hitam yang berusaha membuka gerbang terkena serangan yang tidak diketahui dari mana asalnya,
Orang itu memuntahkan darah setelah terkena serangan,
“Serangan anak ini cukup berbahaya…” Ucapnya sambil mengusap darah dimulutnya,
"Serangan anak ini mampu menembus *Gaid Trone ..." *Ucap seorang berjubah hitam yang perlahan membuka tudung jubahnya,
“Aku akan melayani kalian” Lanjutnya,
Kennith dan Milo melompat kembali kesisi Niro,
“Hati-hati, Aku merasakan sesuatu yang sangat jahat berada didalam tubuhnya…” ucap Niro kepada kedua temannya,
“Hmm” Mereka berdua mengangguk menjawabnya,
“Aku mengakuimu bocah pemanah. Namaku adalah Haimo, dan akan ku buat kau menyesal karena telah mendengarnya…” Ucap orang yang bernama Haimo itu,
Mendengar ucapannya, Milo teringat akan sesuatu dan segera menyampaikannya,
“Hati-hati dengan kekuatannya. Dia adalah salah satu buronan seluruh kerajaan yang ada di Vlarain…”
“Ya, aku mengingat informasi itu dari buku hitam. Dia salah satu buronan dengan harga tinggi” saut Kennith bertambah waspada,
Niro berdiri dan berkata,
“Izinkan aku untuk menjadi lawanmu”
Haimo tersenyum dan menjawab,
“Memang itu niatku diawal tadi”
“LHI…MUNECRATE”
Ucap orang itu merapalkan sebuah Sihir Iblis yang menciptakan Zona Sihir yang besar,
“Biarkan Marian bermain dengan salah satu dari mereka, Haimo…” Ucap seorang berjubah hitam saat melihat rekannya yang terlihat tidak bisa menahan hasrat ingin bertarungnya,
“Nama itu…” Ucap Milo terkejut,
“Itu benar Haimo…Jangan terlalu egois dengan bersenang-senang seorang diri” Ucap salah satu rekannya yang menghampiri dari dinding sebelah kiri,
“Aku juga memberikan izin kepadamu, Losy…” Saut orang itu,
“Cih…” Milo semakin kesal,
“Wahaa!...Hanya kau yang mengerti diriku, Zein!” Ucapnya tersenyum senang,
“Zein…” ucap Niro berbisik,
“Kita harus menghentikan mereka disini…” lanjut Niro,
Dia memfokuskan Annaroth berwarna abu-abu miliknya kedalam busur yang dia genggam,
“Ternyata mereka semua adalah tokoh utama yang ada didalam daftar buku hitam” saut Milo bersemangat,
“Mungkin kita akan menjadi kaya setelah ini dan bisa langsung pensiun…” sambung Kennith lalu tersenyum senang,
“Eee…Tidak-tidak seperti itu” saut Milo dengan wajah datar melihat Kennith,
“Ayo…” ucap Niro menatap tajam kearah Haimo,
“Hmm!” Jawab mereka berdua,
‘Fyuh-Fyuh!’
Mereka berdua segera berlari menyebar,
Niro menarik busur dengan tangan kanannya dan segera memusatkan Annaroth dengan daya besar.
“VUTRA…”
Puluhan Lingkaran Annaroth muncul di belakang Niro secara tiba-tiba,
“…REDGIS!”
‘Tyufhh-Tyufh-Tyufh…!’
Niro melepaskan serangannya diikuti dengan puluhan Lingkaran Annaroth yang juga menembakan serangan yang sama kearah semua musuh,
“Bocah merepotkan itu yang harus dibunuh pertama kali” ucap Haimo setelah melihat serangan itu,
“GAID TRONE”
Satu persatu bayangan yang dibentuk oleh sihir menjulang keatas dan menahan beberapa serangan Niro,
“Bagus sekali…Sihirnya tidak mampu mengimbangi banyaknya serangan Niro” ucap Milo didalam hatinya sesaat sebelum sampai dihadapan Losy,
Milo terus berlari diantara lesatan-lesatan serangan Niro,
“AERO DEMON…”
Milo merapalkan sihir dan membuat pedangnya bergelora dengan Sihir Abu-abu miliknya,
“Bagus, diamlah disana dan aku akan menghancurkanmu…” ucap Kennith didalam hati saat melihat Marian yang terdiam saat serangan itu berlangsung,
‘Fyuh-Fyuh-Fyuh…!’
Serangan Niro melesat mendahului Milo dan Kennith,
“Hmm!” Terlihat senyuman aneh dari wajah Marian saat dia membuka tudung jubahnya,
‘Dbuh-Dbuh-Dbuh…!”
Serangan Niro menghantam tempat dimana Losy, Haimo dan Marian berdiri,
“DEMON AERO SLASH!”
“AERO BODY”
‘Syufh-Syufh-Syufh … Whufh!’
Milo merapalkan sihir dan melepaskan serangan berbentuk sayatan angin dengan sihir yang besar kearah Losy. Diikuti oleh Kennith yang tubuhnya diselimuti sihir angin dan segera menyerang Marian dengan pedang besarnya,
‘Dbuh-Dbuh-Dbuh … Dbuuh!’
Serangan mereka menghantam tepat kearah musuh.
Getaran didalam lorong terasa oleh mereka semua akibat serangan itu. Serpihan kecil dari langit-langit lorong mulai berjatuhan.
“Ini sangat menyenangkan!” ucap Marian yang sedang menahan pedang besar Kennith dengan telunjuknya,
“Memang tidak diragukan lagi jika kalian berada diurutan atas buku hitam…” ucap Kennith saat melihat cara musuh menahan serangannya,
“Ken …” ucap Milo memberikan isyarat,
Kennith yang sekuat tenaga menahan pedanganya, dengan segera melompat mundur untuk menjaga jarak kembali.
Musuh yang mereka hadapi tidak terlihat terluka sedikit pun. Milo merasa khawatir dengan keadaan yang tidak menguntungkan bagi timnya ini.
~Bersambung