Vitflo

Vitflo
Chapt 5



Vito: Papa lo serem>~<


Flora: Nggak tuh b aja:v


Vito: Gue gak mau lagi dah


nganterin lu:v


Flora: Hmm


Vito: Tapi bo'ong:v


Flora: ***** bet dah-,-


Diam-diam Flora tertawa mendengar lelucon Vito lewat telepon. Tadi Vito bercerita kepada Flora, bahwa ia sempat membuka data siswa di kantor hanya untuk mengetahui nomor telepon Flora. Entahlah, Flora tidak begitu mengerti jika Vito anaknya bisa se-jail itu.


Vito: Flo!


Flora: Apa?


Vito: Jangan senyum-senyum


Diseberang telepon, gue gak bisa


Lihat elo:v


Flora: Apaan sih Vit!


Vito: Eh, kata papa lo tadi elo


sakit? Sakit apa?


Flora merenung, apa yang telah papanya katakan kepada Vito tadi?


Flora: Ah, enggak kok Vit


Gue sehat-sehat aja...


Vito: Syukurlah...


Flora: Hmm, maaf ya


Telepon nya sampai sini dulu,


udah terlalu malem nanti papa denger bisa gawat!


Vito: Ooh, ya udah gapapa


Tidur sono lu!


Flora: Sampai ketemu besok...


Karena Flora malas jika berurusan dengan papanya lagi, maka saat itu juga ia memutuskan untuk tidur.


Mereka adalah dua insan berbeda, laki-laki dan perempuan yang dipertemukan di rumitnya tangga spiral menuju rooftop sekolah dan teka-teki yang mengikuti di belakang mereka.


***


Esoknya.


"Flo, kamu gak usah masuk sekolah dulu ya, waktunya control kesehatan di rumah sakit " kata mama Flora sembari sibuk merapikan tempat tidur Flora.


"Tapi ma, hari ini jadwal latihan full Flora buat Cheer's "


Huft, mama Flora menghembuskan napas kasar didepan putri semata wayangnya.


Ia menatap manik mata Flora yang kecoklatan penuh kepolosan.


"Mama sama papa udah ngingetin kamu Flora, kalau kamu gak boleh terlalu kecapekan! Mama akan bilang sama guru kamu, kalau kamu harus keluar dari jabatan sebagai ketua Cheer's "


Flora terkejut atas kata-kata yang baru saja mamanya katakan. Sangat menyakitkan, apalagi eskul Cheer's adalah yang paling Flora sukai semenjak SMP.


Pagi itu karena sangat kesal, Flora memutuskan kabur dari rumah. Ia berlari sembari mencangklong tas ranselnya menuju sekolah. Ia tak peduli tubuhnya kecapekan hingga mengeluarkan banyak peluh sekalipun, Flora tetap dengan pilihannya. Ia tak mau dikekang terus, ia ingin kebebasan, karena Flora sendiri bingung tentang penyakit apa yang tengah ia derita hingga kedua orangtuanya sangat overprotectif terhadap Flora.


Flora pun sampai di sekolah. Ia menyelinap lewat pintu belakang dan membuka paksa pintu ruang latihan Cheer's. Flora tahu ia sangat lelah berlari 1km jauhnya, jauh--bagi Flora.


Mungkin wajahnya sekarang telah berubah menjadi pucat. Bahkan pipinya kembali terasa dingin. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa, kini Flora hanya sendiri di ruang latihan yang sepi.


***


"Ran..., sehari ini gue gak lihat lagi tuh cewe" ujar Vito yang tiba-tiba melamun kearah atas gedung, tepatnya di rooftop.


"Siapa sih? Kemarin? Si Flora bukan?"


Sebenarnya Randy menyadari temannya yang satu ini telah jatuh cinta kepada seorang perempuan lemah lembut yang 'katanya' sering ia lihat di rooftop.


"Oh iya, gue inget kalau hari selasa biasanya dia emang sering gak masuk, atau... Lagi latihan Cheer's kali " tebak Randy asal.


"Lo cek aja sono di ruang latihan, siapa tahu doi emang benaran disana! "


Langsung saja Vito berlari kearah gedung yang dimana terletak sebuah kelas atau ruangan latihan khusus Cheer's yang bersebelahan dengan ruang latihan basket.


Sesampainya Vito disana, ia menemukan pintu ruang latihan Cheer's terbuka lebar, tapi terlihat sepi dari luar.


Vito berjalan pelan ke dalam ruang latihan. Betapa terkejutnya Vito melihat seorang perempuan tengah meringkuk hingga sebagian rambut menutupi wajahnya.


Pelan-pelan Vito mendekati perempuan tersebut dan ia semakin yakin jika perempuan itu tak lain ialah Flora.


Sesekali Vito goyangkan tubuh perempuan di depannya. Tapi secara tiba-tiba tubuh perempuan itu lemas dan jatuh kedalam pelukan Vito.


Benar saja, perempuan itu tidak salah adalah Flora, sosok yang sedari tadi Vito cari-cari kehadirannya.


***


Salam, Kirai.