Vitflo

Vitflo
Chapt 2



Jam pelajaran pun akhirnya selesai tepat pukul 16.00 wib. Waktunya semua siswa untuk pulang. Tapi, masih saja ada beberapa siswa yang memilih nongkrong di kantin sekolah, sebut saja mereka adalah Randy, Bimo, Sarah, dan... Vito.


"Pulang yuk! " ajak Bimo agak tergesa.


"Ngapain sih Bim, lagi seru juga" sahut Sarah yang tengah asyik bermain di smartphonenya.


"Udah deh Bim, dari pada elu ngotot mau pulang, lo makan dulu gih di kantin gue yang bayarin! " ujar Randy menyiapkan dompetnya untuk membayar semua tagihan khusus Bimo.


"Beneran nih Ran? " Bimo terkesan, hampir tidak mempercayai.


Tapi kemudian Randy benar-benar memberikan selembar uang 100 ribu untuk dibayarkan di ibu kantin. Bimo yang melihat hal itu, matanya langsung berbinar dan segera memesan beberapa makanan.


"Randy, Sarah, Bimo! Kalian ada yang kenal cewek yang sering ke rooftop nggak? " tanya Vito tiba-tiba.


"Flora bukan? " tebak Sarah.


"Wah iye gue inget, namanya Flora! "


Sementara itu dari kejauhan nampak Flora yang tengah melangkah menuju kantin. Dilihatnya beberapa anak masih nongkrong dikala semua siswa sudah pulang. Dari keempat anak dikantin, Flora mengenal mereka semua terkecuali salah satunya. Bukannya tidak mengenal hanya saja 'Baru Kenal'.


Flora menghentikan langkahnya saat ia mendengar salah seorang dari mereka tengah membicarakan tentang dirinya.


Merasa risih akhirnya Flora tidak jadi ke kantin, ia memutuskan berbalik pergi.


"Eh, parah lo Vit! Orangnya pergi tuh! " kata Randy sembari menepuk pundak Vito dan menatap Flora yang berlalu pergi.


"Aduhh ketauankan kalau abis ngomongin dia! " sahut Vito gusar. Ia bingung bagaimana kalau Flora berfikir aneh tentang dirinya yang tiba-tiba membicarakan Flora? Bisa gawat, apalagi Vito baru dua hari memasuki sekolah ini.


Vito pun bangkit mengejar Flora yang tidak terlalu jauh. Ia menggapai pundak Flora dan Flora langsung berbalik menatap Vito tajam.


"Mau lo apa sih?!"


Vito terdiam menatap Flora sejenak. Raut Flora berubah masam, dan... Mukanya terlihat pucat.


"Lo... Sakit? " tanya Vito.


Flora mengalihkan pandangan. Tangan Flora meraba sedikit bagian pipinya, dingin yang Flora rasakan.


"Lo mau pulang? Gue anterin ya? " ajak Vito.


"Tuh cewek aneh deh" ujar Vito saat ia berbalik menuju kantin, tempat teman-temannya menunggu.


"Si Flora? " tanya Bimo seraya menghabiskan roti yang masih berada dalam mulutnya.


"Iya..., pucet banget keliatannya"


"Udah biasa Vit, kata anak-anak kelas sebelah dia emang sering sakit-sakitan, bahkan sering keluar masuk Rumah Sakit" terang Randy.


"Lah, emang dia sakit apa? Separah itu? "


"Entahlah gue mana tau, kalau lo mau tau Vit mending tanya langsung ke orangnya, tapi... Ya gitu ketus banget," ujar Randy memperingatkan Vito.


***


Pukul 20.00 wib.


Kediaman Flora


"Papa kan sudah bilang, kamu gak boleh makan yang aneh-aneh, kamu gak boleh kecapekan! " suara seorang lelaki bertubuh tinggi dan sedikit kekar memenuhi ruang makan keluarga Flora malam itu. Laki-laki itu tak lain ialah papa kandung Flora.


Flora yang mendengar hal itu hanya menunduk pasrah. Sebenarnya ada rasa kesal dihatinya saat papa Flora selalu mengomel agar Flora tidak bebas melakukan apapun, bahkan makanannya pun harus diatur.


"Jangan-jangan kamu pergi ke rooftop sekolah lagi! Flora... Kamu bisa sakit kalau kena angin, " ujar papa Flora menaruh curiga.


"Papa... Flora nggak apa-apa, Flora sehat pa. Papa gak usah khawatirin Flora, " kali ini Flora membela diri.


"Bagaimana papamu tidak khawatir, kamu aja sering pingsan di sekolah, " muncul lagi suara perempuan, kali ini lebih terdengar lembut ketimbang ucapan papa Flora.


Flora memutar bola mata malas. Rasanya ia sudah tak lagi mempunyai keseleraan terhadap masakan mamanya yang telah terjajar rapi di atas meja makan. Flora menghentakkan tangannya keras diatas meja makan lalu ia pergi tanpa rasa bersalah.


"Sebenarnya gue sakit apa sih! Kenapa gue gak bisa se-bebas anak-anak yang lain?! Kenapa gue harus selalu kontrol dan terus keluar masuk rumah sakit? Apa yang salah?? " hati Flora terus bertanya-tanya tentang apa yang tengah terjadi pada dirinya.


Flora kalut dan diselimuti rasa bingung. Malam itu, ia bersedih di kamarnya, diatas kasur dengan berselimut dan memeluk boneka teddy bear kesayangannya.


***