
"Lo... Gak kenapa-napa kan kemarin? " tanya Vito. Kali ini Flora menoleh kearah Vito, tatapannya tajam menembus bola mata Vito.
"Lo kira gue gila! " ujar Flora ngegas.
...
"Gitu donk ngegas! " ejek Vito menambah emosi dalam diri Flora.
"Btw ngapain lu disini? Nunggu angkot bukan disini neng"
"Bukan urusan lo! " bentak Flora.
'Dih kasar banget cewe! ' batin Vito.
"Nungguin siapa sih?! " tanya Vito semakin kepo.
"Lo kok jadi banyak tanya gitu sih, gue lagi nungguin Rasty! "
"Lah..., bukannya Rasty udah pulang dari tadi? " Vito baru ingat, Rasty teman sekelasnya yang selalu membonceng seorang siswi disini waktu pulang sekolah.
"Jadi, yang selama ini nebeng sama Rasty itu elo? " tebak Vito.
Lagi-lagi Flora enggan menjawab pertanyaan yang pasti sudah Vito ketahui jawabannya dari awal.
"Rasty nya udah pulang duluan tuh, gimana kalau elu nebeng gue aja?" tawar Vito.
Flora sempat berfikir. Keadaan sekolah sudah sepi, jika dirinya terus berlama-lama disini dia tidak akan pernah bisa pulang, kecuali kalau emang niat nginep di sekolah sih.
Setelah dipertimbangkan, akhirnya Flora setuju untuk pulang bersama Vito. Bagaimana lagi, Rasty sudah pulang terlebih dahulu.
"Iye gue nebeng lo, tapi sampai depan rumah, mau? "
"Nah gitu donk dari tadi! Siyapp! " ujar Vito menyetujui.
Sore itu dua insan yang baru mengenal masing-masing (nama:v) akhirnya dapat berboncengan ria melewati jalanan perkotaan dengan ditemani hiruk pikuk udara hangat di sore hari.
Untuk mengisi kekosongan di jalan, Vito berniat bertanya lagi kepada Flora.
"Lo kok belajarnya kadang suka di rooftop sih? "
Flora memandang Vito dengan tatapan malas melalui spion motor.
"Lo kok kepo mulu sih dari kemaren! " ujar Flora, acuh.
"Lo kan Google, jadi setiap pertanyaan gue harus lu jawab! "
Flora memutar bola mata malas, ia sangat muak terhadap Vito. Flora selalu kena skak dari ucapan Vito yang berakhir dengan degupan kencang di jantung Flora. Sakit, tapi terasa menyenangkan.
"Flo! " sapa Vito lirih.
"Ngelamun mulu dah, lihat tuh pipi lu merah kenapa? " tanya Vito disertai senyuman yang merekah di wajahnya.
Flora merasa ragu dan memegang pipinya yang dingin. Benar saja, di spion Flora dapat melihat pipinya benar-benar memerah, perasaan apa yang tengah Flora rasakan sebenarnya?
Beberapa menit berlalu akhirnya Vito sampai di depan kediaman keluarga Flora. Disana tampak papa Flora yang memandang Vito dengan berbagai rasa curiga dan was-was.
Flora turun dari motor. Tak lupa ia berterimakasih kepada Vito, lalu pergi memasuki rumahnya.
Tatapan tajam papa Flora adalah sambutan yang rutin beliau tampakkan jika Flora pulang terlambat. Flora benar-benar risih dengan ini semua.
"Dari mana aja kamu Flo? " tanya papa Flora mengintrogasi.
Flora hanya melewati papanya itu tanpa sekalipun melihat pandangan tajam dari beliau.
Papa Flora hanya menggeleng dan berjalan menuju Vito.
"Kamu, siapa nya Flora? "
Vito yang mengetahui dihadapannya adalah seorang papa kandung Flora, kemudian mengulurkan tangan hendak me-nyalami sebagai tanda hormat.
Tapi papa Flora yang judes hanya menatapnya sebelah mata.
"Kamu, tolong jangan terlalu dekat sama Flora..., saya takut Flora sakit lagi! " ucapan papa Flora barusan membuat Vito bingung, sakit?
Berhubung Vito tak ingin lama-lama melihat tatapan tajam papa Flora, Vito langsung berpamitan dan pulang saat itu juga.
***
Pukul 20.00 wib
Kediaman keluarga Flora.
"Ma, Flora punya temen baru. Anak kelas 11 Ipa 1, dan dia baik banget sama Flora " Flora bercerita di sela-sela waktu makan malam nya. Malam itu papa Flora tidak ikut makan malam bersama dikarenakan ada pekerjaan mendadak di kantornya.
"Tapi, mama tolong jangan bilang papa ya, Flora gak suka kalau papa ikut campur dalam urusan pertemanan Flora" ujar Flora memohon.
Mama Flora hanya berdiam diri mendengarkan cerita anak perempuan satu-satunya itu. Disisi lain ia juga takut jika Flora sampai tersakiti oleh laki-laki. Mama Flora mempunyai ketakutan terbesar, dan itu adalah anaknya sendiri, satu-satunya..., Flora Santika.
"Tapi kamu tahu sendiri kan Flo, papa kamu gak suka kalau kamu temenan sama anak laki-laki, dia pun juga anak baru Flo, kamu mana tau cerita lain tentang dia"
Flora yang kesal hanya menampakkan wajah cemberutnya. Menurut Flora keduanya sama saja, entah itu papanya ataupun mamanya mereka sama-sama tidak henti-hentinya mengekang Flora.
Membatasi pertemanan Flora juga bukanlah hal yang wajar, apalagi mengatur pola makannya juga. Apa yang sebenarnya terjadi dengan diri Flora, apa yang tengah Flora derita hingga ia harus se-sengsara ini.
***
Salam, Kirai.