
Vito berlari tergesa-gesa menuju kelasnya. Ia hampir lupa jalan, karena koridor disekolah sangat sepi hingga tak ada manusia yang dapat Vito ajak interaksi. Wajar, Vito anak baru di SMA Sakti Wibawa.
Beberapa saat kemudian Vito akhirnya sampai pada kelas yang ia tuju. Dengan perasaan lega, ia berjalan santai dan begitu percaya diri saat memasuki kelasnya. Tak sadar, seorang guru killer telah lama mengawasi gerak geriknya.
"Vito Anggara!! " teriak Bu Susi keras.
Vito sontak menoleh ke arah Bu Susi. Dan bertanya,
"Ada apa ya bu? "
"Kamu sadar kesalahan kamu apa? " bentak bu Susi.
Vito nampak masih berfikir, apa kesalahan yang telah ia buat? Apakah memasuki kelas adalah sebuah kesalahan?
"Oh iya, saya lupa mengucap salam, Assalamualaikum" ujar Vito dengan percaya diri tinggi nya. Seisi kelas sempat menertawakan Vito.
"WAALAIKUMSALAMM... gak nyadar-nyadar kamu kesalahannya apa!" jawab bu Susi ketus.
"To the poin aja deh bu" Vito pasrah dan langsung duduk di bangkunya.
"Sudahlah, ibu kalah debat sama kamu! "
Vito tersenyum getir mendengar ucapan pasrah bu Susi. Disana Vito merasa bangga, secara dia masih berstatus anak baru yang notabene akan bisa mengalahkan omelan guru-guru di sekolah. Selamat Vito!
**
Jam pelajaran berlangsung dan sungguh membosankan bagi Vito. Sepertinya ia perlu melakukan hal yang sering ia laksanakan saat di sekolah lamanya. Haha, Vito akan berlari ke rooftop hingga jam pelajaran selesai dan ia akan langsung pulang.
Segera saja Vito berdiri untuk berbicara dengan bu Susi agar guru killer itu mengijinkan Vito keluar.
Awalnya bu Susi ragu-ragu tapi lama kelamaan akhirnya beliau mengangguk dan memberi ijin untuk Vito.
Langsung saja Vito meninggalkan kelas.
Sial! Gerbang masuk ke rooftop tertutup rapat dan di gembok.
Vito menyesal telah bersusah payah untuk menuju rooftop padahal gerbangnya terkunci.
Dengan perasaan tak puas, Vito berniat kembali ke kelas. Tapi, sesaat akan melangkahkan kaki untuk berbalik. Vito mendengar suara gemerincing lonceng-lonceng kecil yang sepertinya dibarengi suara sepatu Fantofel seorang perempuan. Kedua suara itu makin mendekat, dan pasti tujuannya sama, yaitu pergi ke rooftop.
Dari kejauhan, nampak seorang perempuan dengan rambut tergerai se-lengan, memakai seragam sekolah dan... Membawa sebuah kunci lengkap dengan 3 buah lonceng kecil sebagai gancinya, juga tumpukan buku pelajaran.
Perempuan itu berhenti tepat di depan Vito yang terpaku melihat kedatangannya. Ia menatap Vito lekat dan kemudian menghembuskan napas dengan kasar.
"Lo siapa? Ngapain ke sini? " tanya Vito terheran.
Raut wajah perempuan itu berganti malas. Seharusnya ia yang menanyakan hal semacam itu kepada Vito, entahlah.
"Seharusnya gue yang nanya ke lo, mau apa lo kesini? Minggir! " perempuan ketus itu langsung saja menyingkirkan bahu Vito dan terus melangkah membuka gerbang menuju rooftop.
"Lo kok punya kuncinya? " Vito bertanya lagi, perempuan tadi langsung menoleh ke arah Vito dan melemparkan sebuah kunci tipis, tepatnya bukan kunci, semacam seng yang bentuknya mirip kunci. Vito menangkap kunci itu dengan sigap.
"Ambil kalau lo mau, gue ada banyak. "
Perempuan tersebut lanjut melangkahkan kaki menuju rooftop, tanpa ada seorang pun yang akan menghalanginya lagi.
"Tunggu!" cegah Vito. Namun perempuan tadi tidak lagi menggubris panggilan dari Vito.
"Nama lu siapa?! "
"Flora..., Flora Santika! " jawab perempuan tadi yang bernama Flora dengan suara lantang.
**
Terimakasih udah baca part ini...