Vitflo

Vitflo
Chapt 3



Teng teng tong teng....


Saatnya jam pertama dimulai...


Teng teng teng teng...


Tepat pukul 07.00 wib jam pelajaran di SMA Sakti Wibawa dimulai. Sialnya, pagi itu Vito terlambat lagi. Ia terus mempercepat langkahnya menuju kelas. Untung saja keadaan kelas 11 Ipa waktu itu sepi dan sedang dalam jam kosong.


Sebuah keberuntungan bagi Vito, karena ia tak akan mendapat omelan lagi dari bu Susi seperti kemarin.


Segera Vito duduk di bangkunya, me-relax-kan tubuh yang sudah capek-capek berlari melewati koridor untuk menuju kelas yang berada di paling ujung gedung B.


Samar-samar dari pojok kelas beberapa anak perempuan tengah membicarakan sesuatu secara terang-terangan bahkan Vito pun kerap mendengarnya.


"Bener gak sih, katanya akan ada pertandingan basket bulan ini," ujar salah satu perempuan.


"Dan Randy bakal ikut lagi kan, secara dia itu kapten basket! " sahut beberapa perempuan lagi.


Hm, Vito hanya terdiam. Entahlah, 3 tahun lebih ia mengenal Randy, sampai segitunya dijuluki Most Wanted School.


Padahal tampangnya pun nampak biasa saja.


Tak lama kemudian, yang dibicarakan pun datang. Siapa lagi kalau bukan Randy. Beberapa anak perempuan di kelas itu sempat terkagum, bagaimana seorang Randy tiba-tiba memasuki kelas 11 Ipa yang jarang dibuat nongkrong anak laki-laki kelas lain?


"Lo, ikut gue sekarang Vit! " ujar Randy serius, ia menggandeng tangan Vito dan mengajaknya keluar kelas.


"Ada apaan sih Ran? " tanya Vito kebingungan.


Namun, Randy terus menggandeng Vito hingga menuju lapangan. Disana terlihat banyak anak laki-laki mulai dari adik kelas hingga senior yang beberapa memakai seragam olahraga khusus basket.


"Gini, Vit... Gue mau keluar dari jabatan gue sebagai kapten basket" terang Randy.


"Terus, gue... Ngapain nih?! "


"Ya... Lo gantiin gue kek, gue mau fokus ke Osis dulu," kata Randy, berharap Vito mau menggantikan Randy sebagai kapten basket SMA Sakti Wibawa.


"Yah... Gimana ya Ran... " ujar Vito masih berfikir, sesekali ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ayolah Vit, gue tau lo bakat main basket, masa lo gak mau bantuin temen,"


"Anak baru apaan o'on! Udah tiga hari masih aja ngaku anak baru! " ejek Randy sembari menyenggol bahu Vito hingga ia hampir saja terjatuh.


"Selamat bergabung dengan kami, kapten basket baru SMA Sakti Wibawa, Kak Vito Anggara" seseorang langsung menghampiri Vito dan menjabat tangannya.


Vito yang bingung hanya bisa plonga-plongo tak mengerti. Secepat itukah ia menjadi kapten basket SMA Sakti Wibawa?


***


Jam terus berputar hingga akhirnya waktu pulang pun datang. Sorak semua murid berhamburan keluar kelas.


Ada yang masih di kantin, ada yang sudah pulang, ada juga yang masih berada di kelas atau di perpustakaan.


Sore itu Vito tidak langsung pulang, ia harus berkumpul terlebih dahulu di ruang pengurus eskul basket. Disana dia diberitahu bahwa beberapa minggu lagi akan diadakan pertandingan basket SMA Sakti Wibawa dengan SMA murni Permata dan diharapkan Vito dapat menghandle para anggotanya agar dapat berlatih dengan giat.


Nah, berhubung ruang pengurus eskul basket berdampingan dengan ruang latihan para Cheerleader's, saat itu juga Vito di ajak berkenalan langsung dengan ketuanya. Tapi, betapa terkejutnya Vito karena ketua Cheerleader's tak lain dan tak bukan adalah..., Flora.


"Vito..., perkenalkan ini Flora ketua grup Cheer's SMA Sakti Wibawa" ucap seorang guru laki-laki yang ikut mengurus kegiatan eskul basket dan Cheerleader's.


"Vito... " ujar Vito memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangan kepada Flora. Sebenarnya ini hal bodoh, mengapa mereka harus berkenalan untuk kedua kalinya? Dan mengapa juga harus dengan berjabat tangan? Padahal keduanya tahu mereka sudah saling kenal.


"Flora... "


Flora membalas uluran tangan Vito. Setelah itu mereka berdua saling mengalihkan pandangan hingga kegiatan diskusi soal eskul sore itu dibubarkan.


Vito pun memutuskan langsung pulang, begitu juga Flora. Namun, saat diparkiran tak sengaja Vito bertemu Flora lagi, untuk kedua kalinya dihari ini.


Vito heran melihat Flora yang celingak-celinguk dengan raut resah. Dengan keberanian tinggi, Vito mencoba sedikit berinteraksi dengan Flora (yaela pake interaksi Vit, dipikir makhluk astral apa:v)


"Flora ya? " sapa Vito.


Flora yang mendengar hal itu memilih untuk pura-pura tidak tahu. Bagi Flora untuk apa mengurusi seorang Vito yang jelas-jelas sudah tahu kalau sosok didepannya ini adalah Flora tapi masih saja bertanya "Fliri yi? "


"Lo... Gak kenapa-napa kan kemarin? " tanya Vito. Kali ini Flora menoleh kearah Vito, tatapannya tajam menembus bola mata Vito.


"Lo kira gue gila! " ujar Flora ngegas.


***