
Seorang pria nampak tergesa-gesa melangkahkan kakinya entah ke ruang mana yang mau ia tuju. Lambat laun pria itu memberhentikan kakinya tepat di depan sebuah ruang UGD.
Beberapa orang tengah memandang pria itu dengan tatapan was-was.
"Mana Flora?!" pria itu kemudian berteriak menanyakan keberadaan seseorang yang bernama Flora.
Seorang bapak-bapak kemudian menghampiri sang pria. Memegang bahu pria itu dengan lembut.
"Om, Flora mana Om! " pria itu nampak gelisah, sebab pertanyaan yang sedari tadi ia lontarkan tak kunjung mendapat jawaban.
"Flora... " seorang bapak yang dipanggil dengan sebutan "Om" itu kemudian berkata sembari menghembuskan napas kasar.
"Flora masih kritis Vit, " bapak itu kemudian merunduk, ikut merasa gelisah atas apa yang barusan ia katakan.
Vito mengedarkan pandangannya ke seluruh koridor rumah sakit. Hanya sepi yang ia dapat. Tiba-tiba ia rasakan lutut yang lemas dan spontan berlutut di depan papa Flora. Vito tak kuat menahan tangisnya selama ini. Ia berharap Flora baik-baik saja di dalam. Ia berharap dokter dapat cepat menolong Flora begitupun Tuhan, tentu harus segera mengabulkan do'a Vito selama ini agar Flora bisa cepat di sembuhkan.
"Vito..., Vito minta maaf Om, Vito gak bisa jagain Flora dengan baik... " Vito berusaha memohon kepada papa Flora dengan merangkul lutut beliau.
"Nak Vito..." muncul raut kegelisahan yang jelas pada wajah keriput papa Flora.
Beliau lalu mengangkat bahu Vito agar remaja di hadapannya ini dapat berdiri.
"Semua ini bukan salah kamu, ini sudah takdir Vit, tapi saya yakin Flora akan tetap bersama kamu, bersama kita semua, " ucapan papa Flora barusan membuat air mata Vito berhasil mengalir deras.
Vito, pemuda kedua yang menyayangi Flora setelah papanya. Berusaha setabah mungkin menerima semua ini. Dengan yakin ia melangkah menuju pintu ruangan dimana Flora tengah ditangani oleh dokter-dokter khusus di rumah sakit ini.
Disana Vito melihat beberapa dokrer beserta suster yang sedang sibuk memasang beberapa alat penunjang kehidupan Flora. Banyak infus yang ditancapkan, banyak suntikan yang menusuk kedalam kulit pucat Flora. Namun Flora masih enggan membuka matanya hanya untuk sekedar merintih menahan sakit.
Sedangkan sang dokter dengan sangat profesional mulai memeriksa keadaan Flora kini. Kemudian dengan cepat pula sang dokter menghampiri Vito yang tengah melamun melihat semua kegiatan tadi dari balik pintu.
"Hmm, keluarga Flora? " tanya dokter tersebut sembari menunjuk ke arah Vito.
"Pasien harus segera menjalani Transplantasi sumsum tulang dengan segera, tapi... "
"Tapi apa dok? "
"Kesempatan untuk pasien bisa selamat sangat kecil, "
Begitu sangat terpukul hati Vito beserta keluarga Flora yang mendengar hal itu. Dengan susah payah Vito tahan air mata yang terus mengalir memenuhi pipinya, ia tak boleh terlihat lemah.
"Usahakan apapun yang terbaik buat Flora dok, saya mohon, "ujar Vito dengan sangat memohon kepada sang dokter.
"Kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk pasien, dimohon keluarga harap tabah dengan keadaan ini, saya permisi, " dokter itu pun kemudian langsung pergi meninggalkan Vito beserta keluarga Flora.
Sedangkan Vito masih tetap memandang kondisi Flora lewat pintu ruangan Flora. Betapa lemah Flora terbaring diatas ranjang, entah kapan ia akan bisa segera dipulangkan kembali ke pelukan Vito. Vito harap, secepatnya Tuhan segera menyembuhkan Flora. Vito terus berdoa semoga Tuhan selalu melindungi Flora. Vito tak ingin hal buruk apapun terjadi pada diri Flora.
Flora adalah penyemangatnya setelah Vito ditinggal pergi oleh Maminya. Apapun yang terjadi, Flora harus tetap berada di samping Vito.
"Kamu bertahan ya Flo, kamu pasti sembuh aku yakin itu. Kamu gak boleh nyerah Flo, ada aku yang selalu nungguin kamu... "
Samar-samar, jemari Flora mulai bergerak secara perlahan. Matanya mulai terbuka sedikit demi sedikit, begitu pun bibirnya yang pucat kini tengah membuka dan mengucap sebuah nama.
"Vito... "
***
Dilarang keras menebak alur cerita, ini masih Prolog bukan endhing.
Jadi, apapun bisa saja terjadi secara tiba-tiba. Tetap fokus ke cerita di part selanjutnya dan salam, Kirai.