UGLY GIRL

UGLY GIRL
Masa Lalu



" Hutang? Kenapa kamu ngga bilang sama Ayah atau Sama Ibu sih nak ?"


"Aku takut Ayah, uang nya Aku Pakat buat top up diamon game online dan untuk pendaftaran turnamen, jadi ngga mungkin aku bilang ke Ayah atau Ibu. Aku pikir di Perlombaan mobile legend Kemarin aku bisa menang dan bisa bayar hutang tapi ternyata aku kalah."


"Ya ampun Anwar, memangnya kamu hutang berapa?" tanya Ayah dengan penasaran.


"Rp. 500.000 Ayah" Jawab anwar dengan lirih.


" Sabanyak itu?" tanya Ayah sembari menggelengkan Kepalanya


...****************...


Akhirnya Ayah pun mengetahui duduk permasalahan Putra Sulungnya itu. Ia merasa menjadi ayah yang gagal karena tidak bisa mencukupi kebutuhan Keluarganya lagi. Padahal dulu ia bisa membeli apapun tanpa harus Kekurangan Sedikitpun. Ayah termenung mengingat Kehidupannya yang dulu...


Flashback...


...----------------...


Tok tok tok.... Terdengar suara Ketukan pintu yang membuat Ayah menghentikan aktivitasnya di depan laptop.


" Masuk " Ucap Ayah


"Permisi Pak, saya ingin mengingatkan jadwal bapak hari ini cukup padat. Jam 09.00 ada Pertemuan dengan Perusahaan Abadi, jam 11.30 acara makan siang bersama client, jam 15.00 meeting di Gedung Santika dan dilanjutkan dengan Party Pak." Ucap Sekretaris Ana.


"Oke, Kamu siapkan semua keperluan kita nanti ya! " ucap ayang dengan tegas


"Baik Pak, Saya Permisi. " Ucap Sekretaris Ana lalu meninggalkan ruangan.


Setelah Kepergian Sekretaris Ana, Ayah Kembali melanjutkan aktivitasnya yang Sempat terhenti. Ia melakukan Pengecekan data data mulau dari laporan Keuangan Perusahaan, laporan Perkembangan usaha, serta masih banyak laporan laporan lain.


Tepat pukul 08.30, sekretaris Ana Kembali memasuki ruangan dan mengatakan bahwa semuanya sudah siap. Mereka pun segera pergi menuju Perusahaan Abadi untuk melakukan Kerja sama. Di sepanjang perjalanan, Ayah Sama sekali tak berbicara dan sibuk dengan ponselnya. Suasana di dalam mobil pun menjadi sangat canggung, akan tetapi Sekretaris Ana sudah biasa dengan hal itu dan Tidak Kaget lagi. Pukul 08.25 mereka telah tiba di perusahan Abadi. Ayah memang orang yang menghargai waktu sehingga ia selalu tiba 5 menit sebelum jam Pertemuan. Tak hanya untuk pertemuan kali ini namun berlaku di seluruh kegiatannya. Prinsipnya "waktu adalah emas" sehingga ia merasa harus selalu tepat waktu. Saat memasuki ruang pertemuan, Ayah disambut oleh direktur perusahaan Abadi.


"Selamat Pagi bapak Hermawan " Ucap direktur Vita.


"Pagi Ibu vita" Jawab Ayah dengan tersenyum lebar.


"Silahkan duduk pak." ucap direktur Vita sambil mengarahkan tangannya.


"Baik Bu terima kasih "


Mereka pun berbincang bincang membahas Kerja Sama yang akan dilakukan. Seperti yang telah diketahui, Keluarga Hermawan memiliki perusahan makanan instan yang omzet nya lumayan besar. Meski bukan perusahaan besar namun pendapatannya bisa mencapai miliaran per bulan.


"Terimakasih Ibu atas kerja samanya. Saya senang bisa bekerja sama dengan anda. Kedepannya kita akan sering bertemu." Ucap Ayah dengan wajah gembira.


"Iya Pak. Saya juga senang bekerja sama dengan perusahaan bapak." Ucap direktur vita sambil mengulurkan tangannya.


Hari hari berikutnya Ayah dan direktur vita Semakin dekat. Kerja sama yang mereka lakukan Mengharuskan mereka untuk sering bertemu. Bahkan Ayah sering Pulang larut malam, sering kerja di hari libur, sering keluar kota tak seperti biasanya. Sebagai Seorang istri, Ibu merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia mengecek ponsel suaminya namun tak melihat ada hal yang aneh. Ketika mereka berada di kamar, Ibu memberikan diri untuk bertanya.


"Apakah ada yang ayah sembunyikan?" tanya Ibu menatap dengan Serius.


"Tidak ada Bu, Ayah Kan sudah pernah bilang kalau perusahaan lagi naik naiknya jadi ayah harus bekerja lebih rajin agar Produk kita semakin terkenal." ucap ayah berusaha menjelaskan.


"Tapi ini sudah keterlaluan Ayah. Masa Setiap hari ayah pulang tengah malam bahkan beberapa kali ayah juga tetap Kerja di hari libur." tanya Ibu dengan sedikit menyudutkan.


"Terserah Ibu aja lah mau percaya atau tidak, Ayah ngantuk mau tidur " Jawab ayah lalu membalikkan badannya.


"Pag Ayah" ucap Dina.


"Pagi nak" jawab ayah.


"Loh itu Ayah yang masak?" tanya Dina sambil menunjuk arah meja makan.


"Iya nak. Yasudah, ayo lekas bangunkan Anwar dan Ibumu"


"Siap Ayah " jawab Dina dengan antusias


Beberapa menit kemudian dina dan ibu turun dari lantai 2 menuju meja makan dan disusul dengan Anwar. Di atas meja sudah tersedia berbagai jenis makanan lezat.


"Tumben bibi masak sebanyak ini ?" tanya Ibu dengan heran.


"Ini masakan Ayah loh bu" ucap Dina.


"Loh ini Ayah yang masak? Kok tumben?"


"Iya Bu. Ini sebagai tanda permintaan maaf dari Ayah. Akhir akhir ini Ayah terlalu sibuk sampai melupakan kalian. Jadi hari ini waktu ayah akan menjadi milik kalian. ayah juga akan mengajak Kalian Jalan Jalan. " ucap Ayah


"Yee.... Kita Halliday" ucap Dina kegirangan.


"Aduh Kok dadakan sih Yah? Hari ini aku ikut turnamen mobile legend babak final" ucap Anwar.


"wah bagus itu. Gimana kalau kita nonton pertandingan Anwar biar dia lebih semangat?"


"Ide bagus" Jawab Ibu.


Mereka makan dengan lahap sembari bercanda gurau. Selesai makan, mereka bersiap-siap lalu berangkat menuju gedung tempat Anwar bertanding. Ketika Anwar bertanding, Mereka bersorak sorak untuk menyemangati Anwar, ya meskipun tidak tau mengenai pertandingan ini. Akhirnya, tim Anwar memperoleh kemenangan. mereka semakin gembira lalu berfoto bersama. Selanjutnya mereka pergi shopping di Mall terdekat.


"Ambil apa saja yang kalian Suka" Ucap Ayah.


"Tapi Ayah..." Ucap Ibu sedikit khawatir.


"Tak apa Bu, toh hanya sesekali. Biar mereka senang kan Bu" jawab ayah mencoba memberi pengertian.


Ibu pun tersenyum lebar mendengar jawaban itu. Selesai shopping, mereka pun Pergi ke restoran barat dan memesan banyak makanan. Di tengah perbincangan, ayah memberikan kartu debit kepada Anwar sebagai hadiah atas kemenangannya.


"Ini Serivs Yah?" tanya Anwar tak percaya.


"Serius dong" Kata Ayah meyakinkan.


"Buat aku mana?" tanya Dina.


"untuk kamu ya 2 tahun lagi pas udah lulus sekolah. Kalau Anwar kan udah lulus dan memiliki kebutuhan untuk mendukung hobby nya."


"Hmm... Kakak terus" ucap Dina dengan cemberut


"Sudah-sudah, ini kan hari bahagia kita jangan berantem dong!" sahut ibu dan dilanjutkan dengan tawa riang mereka..


...****************...