
Waktu terus berlalu, Jasa mengerjakan PR yang awalnya hanya iseng dilakukan khusus untuk teman sekelasnya, kini mulai tersebar ke kelas - Kelas lain bahkan sampai terdengar di Kelas X dan XI. Dari situlah Pelanggan yang membutuhkan Jasanya Semakin banyak. Dina pun keteteran membagi waktu. Bahkan seringkali ia tak makan dan tak tidur demi mengerjakan tugas orang lain. Biasanya Dina menerima Order dadakan namun kini ia hanya bisa menerima Order H-2 sebelum Jatuh tempo Karena Saking banyaknya Peminat jasa tersebut. Penghasilan yang dina dapatkan Cukup banyak, namun uang itu selalu ia tabung Karena ia bercita cita untuk melanjutkan Pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia sadar, orang tuanya tak mampu Jika harus membiayainya lagi jadi ia memutuskan untuk berusaha sendiri dengan cara belajar lebih giat serta menabung. Siapa tahu suatu saat ia bisa mendapat beasiswa untuk meringankan Pembayaran Uang Kuliah. Begitu besar mimpi yang ia miliki, namun ia sama sekali tidak menceritakan mimpinya kepada orang tuanya. Ia takut akan menambah beban pikiran Kedua orang tuanya. Tak dapat dipungkiri, memang benar dulunya Dina adalah gadis Ceria yang suka bercerita apapun tanpa ada yang ditutup tutupi, namun sejak kebangkrutan Perusahaan ayahnya, ia menjadi pendiam dan sangat tertutup. Perubahan sikapnya ini disebabkan oleh Perubahan sikap Kedua orang tuanya. Ayahnya sekarang sibuk bekerja sampai sampai tak memiliki waktu luang Untuk mendengarkan Ceritanya. Sedangkan Sang ibu sibuk mengurus rumah tangga dan kakaknya sibuk dengan dunianya. Kehangatan Keluarga Dina Seakan akan hilang dan membawa banyak perubahan.
Pagi itu, Dina ke sekolah dengan wajah lesu. Matanya masih terasa berat, tubuhnya kelelahan akibat selalu begadang untuk mengerjakan tugas. Sesekali matanya terpejam tak tahan dengan kantuk yang ia rasakan. Akhirnya Pertahanannya roboh, ia tertidur di bangku Kelasnya Saat jam Pelajaran. Melihat hal itu. Ibu guru yang sedang menerangkan materi membiarkan Dina tertidur Sampai jam pelajaran Selesai. Barulah ia menegur Dina dan memintanya datang ke ruang BK. Dengan Pasrah Dina pun menemui Pak Rohman di ruang BK.
" Selamat Siang Pak" Sapa Dina.
" Siang " Jawab pak Rohman dengan Ketus.
Ini adalah Kali Pertamanya Dina berinteraksi secara langsung dengan Pak Rohman selaku guru BK. wataknya memang keras, Ketus, dan sangat ditakuti oleh seluru Siswa di sekolahnya. Beliau dipilih menjadi guru BK
Sesuai dengan Kepribadiannya. Watak yang keras Cocok Untuk menangani siswa yang bermasalah Karena biasanya siswa yang bermasalah adalah siswa yang Sulit diatur. Sudah 5 menit Dina berhadapan dengan Pak Rohman namun tidak ada pembicaraan apapun. Tatapannya tajam sibuk mengulik lembar demi lembar buku tanpa menghiraukan Dina yang duduk dihadapannya. Mulutnya diam Seribu bahasa, wajahnya dingin bak es di Kutub utara. Melihat hal itu jantung Dina berdetak Sangat cepat, Keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Namun dengan sangat terpaksa ia memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
"Mohon maaf pak, Saya Dina dari kelas XII IPA 1. Saya kemari atas perintah Ibu Lastri," ucap Dina dengan sedikit terbata bata.
Pak Rohman Pun menutup bukunya dan mulai menatap Dina.
" Oh iya, saya sudah mendapat laporan dan Bu Lastri Kata beliau kamu tidur saat jam pelajaran berlangsung, Apa itu benar? Tanya Pak Rohman sebagai Formalitas.
" Iya Pak, benar." Jawab Dina dengan singkat.
" Bisakah Kamu Jelaskan kenapa hal itu bisa terjadi?"
" Begini Pak, akhir-akhir ini saya kelelahan mengerjakan tugas rumah, di samping itu saya juga sedang ada masalah keluarga Pak jadi saya stress." Ucap Dina
Sambil menundukkan kepalanya.
"Tugas rumah seperti apa? Masalah Keluarga apa? kalau tidak keberatan kamu bisa Ceritakan semuanya Kepada saya." Tanya Pak Rohman dengan iba. Pak Rohman memang memiliki Kepribadian yang Keras, namun apabila menghadapi siswa yong memiliki masalah Sensitif di luar sekolah seperti masalah keluarga, hatinya akan melunak.
"Maar Pak, saya tidak bisa cerita untuk saat ini. " tegas dina yang tak ingin memperpanjang urusannya. Bauk Kalau begitu. Tapi setiap Perbuatan Pasti ada Konsekuensinya jadi tugas kamu adalah membersihkan lingkungan mushola sampai jam istirahat selesai. Perlu di ingat juga, ini adalah teguran pertama. Jika kamu mengulanginya lagi maka kami harus memanggil orangmu, Bisa dipahami ?" ucap pak Rohman dengan tegas.
"Bisa Pak, Kalau begitu saya Permisi"
"Iya silahkan."
Dengan hati sedikit lega, Dina pun bergegas membersihkan mushola mulai dari menyapu, ngepel lantai, membersihkan Kamar mandi mushola dan tempat wudhu. Setelah Selesai, Dina duduk di taman Seorang diri.
"Nih buat Kamu " Ucap Angga sambil menyodorkan minuman.
"Makasih ya" ucap Dina menerima pemberian.
"Kamu Dina Kelas XII IPA 1 Kan? Aku udah denger loh tentang Kamu." Ucap Angga
"Hmmm..." Jawab Dina sambil mengerutkan Keningnya.
"oh iya Kenalin, aku Angga XII IPA 3 " ucap Angga Sambil menyodorkan tangannya.
"Dina..." Jawabnya Singkat..
"Jangan jutek dong, aku ke sini cuma mau minta nomor WA Kamu "
"Buat apa ?" tanya Dina sambil menatap dengan tajam
"Eh.. Jangan salah paham. Aku Sama Kayak temen temen yang lain. Mau minta tolong Kerjain PR "
"Oke, Catet ya. 085..... "
Tengkyu ya, ntar aku Call " Ucap Angga Sambil berjalan kegirangan.
Tak lama setelah angga pergi, datanglah Arin, teman Sekelas Dina.
"wih, roma romanya ada yang lagi PDKT nih?"
Ucap arin menggodanya.
"Apaan sih ? orang cuma minta tolong buat ngerjain tugasnya" Jawab Dina sedikit malu.
"Serius ? Emang Kamu ngga tau siapa dia?"
" Iya, Angga XII IPA 3 yang kemarin menangin
Olimpiade Matematika, Jadi ngga mungkin kalau cuma mau minta Kamu buat ngerjain PR nya, secara dia kan udah Pinter." Ucap Arin memberikan Penjelasan.
"Ya mungkin dia cuma ngga ada waktu buat ngerjain" Jawab Dina agar tidak menggiring opini lain.
"Hmm... Ya mungkin sih" Jawab Arin sedikit tidak percaya.
Sesampainya dirumah, terdengar suara ribut - ribut.
"Ini Semua salah Ayah, Kalau aja ayah ngga main perempuan lain Pasti hidup kita akan baik-baik saja, Perusahaan tidak akan di ambil alih Perempuan itu " Teriak Ibu Sambil menangis.
"Tapi tidak sepenuhnya salah Ayah Bu, Kalau saja Ibu bisa menjadi wanita seperti yang Ayah inginkan Pasti ayah tidak akan mencari Perempuan lain " Jawab ayah dengan nada marah.
Mendengar Pertengkaran itu Dina bergegas mengetuk D Pintu dan berpura pura tidak mendengar apa yang baru saja terjadi. Melihat Kedatangan Putrinya, Ibu Segera menyeka ait matanya dan ayah meninggalkan ruangan.
"Sudah Pulang nak? Ibu sudah menyiapkan makanan di meja. Kamu mandi terus langsung makan ya"
"Iya Bu." jawab Dina dengan singkat.
Dina pun segera memasuki Kamarnya dan menangis. Ia mengingat kejadian barusan. Ia seperti merasakan Perih Seperti yang dirasakan Ibunya. Walaupun sang ibu Selalu menyembunyikan kesedihannya namun Dina masih bisa merasakan apa yang Ibunya rasakan. Seperti ada ikatan batin antara mereka berdua yang tak dapat dijelaskan. Ditengah Kesedihan itu, Dina teringat akan tugas-tugasnya. Ia pun bangkit dan meraih ponselnya. Ia segera merespon arahan dari pelanggannya Kemudian mengerjakan tugas di buku masing masing siswa, dengan fokus dan teliti tanpa menyadari ada chat dari Angga. Di sisi lain, Angga Sedikit gelisah mengapa chat yang ia Kirimkan tak kunjung mendapat respon. Ia tetap menunggu dan berharap mendapat balasan dari Dina sampai sampai ia terlelap. Saat Dina telah menyelesaikan tugasnya. Ia meluruskan badan lalu berbaring dan meraih Ponselnya.
"Ya ampun, apa ini ?" ucap Dina dalam hati ketika melihat Chat dan Angga yang menyatakan bahwa Ia ingin menjadi teman Dina. Dina terkejut dan teringat Perkataan Arin, ternyata Arin Benar. Angga tidak membutuhkan jasanya melainkan ada maksud lain.
Keesokan Paginya, Dina membagikan buku milk Pelanggannya di taman Sekolah, dan mendaput Penghasilan Cukup besar. Tanpa ia sadari, tenyata Sedari tadi ia sudah diperhatikan oleh beberapa guru yang kebetulan melewati taman. Guru Guru itu saling menatap satu sama lain Kemudian salah seorang guru mengangguk lalu pergi menghampiri salah satu pelanggan Dina.
"Sasa, Kemari nak "
"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu ?" tanya sasa tanpa rasa Curiga Sedikitpun.
"Sebenarnya sudah lama saya mendengar desas desus tentang Dina, Kakak Kelasmu. Dan Sepertinya hari ini saya menemukan kebenaran dengan mata Kepala saya sendiri."
Degg.... jantung Sasa seakan akan berhenti mendengar Pernyataan Ibu guru, ia tak tau harus berkata apa.
"Apa Perlu saya membawamu ke ruang BK untuk diinterogasi lebih lanjut ?" Sela Ibu guru.
"Ti... Tidak bu " Jawab sasa dengan takut.
"Baik, Kalau begitu Jawab dengan jujur. Apa benar Dina membuka jasa mengerjakan PR?"
"Benar bu..." Jawab sasa Jujur Karena takut.
"Siapa Saja yang sudah memesan jasa tersebut ? "
"Saya tidak tahu bu"
" Ya Setahu Kamu saja, sebutkan! Kalau kamu jujur Ibu akan merahasiakan identitasmu dan kamu tidak perlu takut dengan Dina."
"Ada banyak bu. Ada kak Iko, Nanda, Devi,.."
"Oke, terimakasih ya dan Kamu Jangan takut "
"Iya bu "
Saat Pelajaran berlangsung, terdengar Suara Pengumuman "Panggilan Kepada Dina Maharani Kelas XII IPA 1 harap Kekantor sekarang Juga, terima kasih "
Dina Pun segera menuju Kantor dan menemui bu Lastri Selaku guru matematika sekaligus wali kelasnya. Setelah menemu bu Lastri ia diarahkan ke ruang BK. Saat Dina memasuki ruangan ternyata sudah ada Ibunya yang terlihat marah dan kecewa. Tanpa berkata apapun, Sang Ibu menarik lengan Dina danga Kasar dan membawanya pulang. Sesampainya di rumah, Ibunya semakin menangis.
"Ibu, ada apa ini ?" tanya Dina yang tak tau apa apa.
" Apa benar Kamu membuka jasa mengerjakan PR demi uang jajan? kamu berbisnis di lingkungan Pendidikan demi Perutmu?" tanya sang Ibu dengan nada marah dan tak percaya.
" I... ibu, aku bisa jelasin" Jawab Dina terbata bata
"Penjelasan apa lagi? Ibu tidak pernah mengajar hal hal seperti itu nak. Saat ini kita memang sedang Susah tapi jangan mengambil jalan pintas. Ayah Ibu memang tidak bisa memberimu uang jajan sebesar dulu tapi tolong kamu mengerti nak. Ibu sedang Kacau dengan sikap ayahmu dan sekarang Kamu membuat Ibu malu. "
Dina tak bisa berkata kata, ia hanya tertunduk malu Sambil menangis. Ia benar benar tak berniat mempermalukan orang tuanya Justru ia ingin membantu meringankan beban mereka. Namun apalah daya? melihat Ibu yang Sedang terisak ia tak sempat menjelaskan apapun. Dina Pun lari ke dalam Kamarnya dan menangis, ia merasa tak dihargai. Padahal ia telah berusaha Sampai sampai harus begadang setiap hari. Hatinya benar benar kacau.