UGLY GIRL

UGLY GIRL
Depresi



Dina tak bisa berkata kata, ia hanya tertunduk malu Sambil menangis. Ia benar benar tak berniat mempermalukan orang tuanya Justru ia ingin membantu meringankan beban mereka. Namun apalah daya? melihat Ibu yang Sedang terisak ia tak sempat menjelaskan apapun. Dina Pun lari ke dalam Kamarnya dan menangis, ia merasa tak dihargai. Padahal ia telah berusaha Sampai sampai harus begadang setiap hari. Hatinya benar benar kacau.


...****************...


Sepanjang malam, Dina sama sekali tidak keluar dari kamarnya. Ia terbaring sambil menyeka air mata yang tak kunjung berhenti. Matanya sembab, kelopak matanya menebal, rambutnya acak acakan. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ia tak berani menampakkan wajah di depan Ibunya. Ia merasa malu namun sedikit kecewa, ia juga menyesal mengapa tak bisa menjelaskan apa


sebenarnya terjadi. Kalau saja saat itu ia memiliki Keberanian berbicara mungkin Ibunya akan mengerti. Mengingat hal itu Dina Semakin terisak, namun tangisannya terhenti mendengar bunyi Ponselnya.


" Ya Tuhan, Angga? " Batin Dina.


Karena terlalu sibuk ia sampai melupakan hari itu bahwa Angga berkata akan menghubunginya.


" Hallo " Ucap Dina sambil memegangi Ponselnya.


" Are you okay Dina? "


"Sure. Ada apa ? "


"Aku Khawatir dengan keadaanmu. Tadi di sekolah aku mendengar Kabar bahwa Kamu sedang dalam masalah."


"Ya Seperti yang kamu dengar. Pasti Sekarang aku jadi trending topik di sekolah." Jawab Dina dengan Pasrah.


"Tidak juga. Kamu kan salah satu murid kesayangan Guru Jadi Bapak Ibu guru tidak membeberkan apapun. Hanya Saja beberapa siswa yang Pernah membeli Jasamu dipanggil ke kantor dan mengetahui masalahnya cukup Serius, Jadi hanya bapak Ibu guru dan beberapa siswa, Saja yang tahu masalah ini. Kamu Jangan khawatir ya" Ucap Angga untuk membujuk.


" Tapi tetap saja Pasti siswa siswi yang tahu masalah ini akan saling memberitahu ke teman lain." Jawab Dina dengan sedikit isakan tangis.


" Jangan menangis, mereka ngga sejahat itu lo. Ya mungkin ada beberapa tapi jangan di dengar apalagi dimasukkan ke hati. "


"Hmm... " Jawab Dina dengan singkat.


"Ya Sudah, Sana istirahat! " ucap Angga yang tak ingin mengganggu Dina.


" Iya, aku tutup telfonnya..."


Mendapat perhatian dari temannya. Dina sedikit lega. Ia pun tidur tanpa memikirkan masalah ini lagi


Tak terasa, Pagi pun telah tiba. Makanan di atas meja yang sudah di siapkan dari Kemarin sama sekali tak disentuh oleh Dina. Sang Ibu yang mengetahui hal itu Sedikit Khawatir, Berkali kali ia mengetuk pintu kamar Dina namun tetap tak ada jawaban. Ia berusaha membuka Pintu Kamar Dina tapi ternyata Pintunya dikunci. Meskipun Sang Ibu tetap membiarkan Dina berada di Kamarnya. Ia tahu Presis bagaimana Sifat Dina ketika Sedang ada masalah. Dina tidak membutuhkan apapun dan tidak akan melakukan hal bodoh, yang dibutuhkan hanyalah waktu. Oleh karena itu, sang Ibu tidak memaksa Dina untuk membukakan pintu kamarnya dan Kembali mengurus Pekerjaan rumah. Tak lupa, Ibu juga membuat Sarapan dan membangunkan suami Serta anak laki-lakinya. Mereka pun Sarapan tanpa mengajak Dina. Setelah itu, Sang Ayah berangkat Kerja dan Anwar Kembali melakukan aktivitasnya yaitu bermain game online.


"Anwar, Kemari nak! Tolong ibu sebentar. " Ucap Ibu sambil melambaikan tangannya.


"Ada apa bu? Sebentar ya Anwar lagi main game " jawab Anwar tanpa memalingkan pandangan.


"Cepat nak, game nya nanti lagi! "


" Ngga bisa bu, tanggung. "


Dengan Kesal Ibu pun masuk ke Kamar Anwar lalu mengomel.


" Kamu ya, ngga Kerja di Panggil Panggil ngejawab mulu mau jadi apa nak? Celoteh Ibu dengan marah.


"Iya Bu, aku memang belum punya pekerjaan tapi hobby Ku ini sangat menjanjikan Bu, aku bisa menjadi Proplayer dan memiliki Penghasilan banyak." ucap Anwar berusaha meyakinkan Ibunya.


" Tapi sampai Kapan nak? Kamu selalu menjanjikan ini itu tanpa berusaha. Sudah lah nak, Kamu Sudah dewasa. Sudah sepantasnya kamu cari kerja, apapun pekerjaan yang ada ya lakukan, ngga perlu pilih pilih. Kamu Kan Juga bisa bantu bantu ayahmu di kebun sawit, hitung hitung kan cari pengalaman." ucap ibu sedikit kesal.


Tanpa berbicara apapun Anwar meninggalkan rumah dengan Perasaan kecewa. Di sisi lain, Dina yang baru bangun tidur sudah mendengar Keributan itu. Pikirannya makin Kacau balau. Ia Kembali menangis dan meratapi nasibnya. Saat tersadar, Dina Pun bangkit lalu duduk di depan meja riasnya. Ia pun menatap ke cermin dan terkejut melihat Penampilannya. Rambutnya berantakan, Kelopak matanya tebal, bibir nya kering, serta muncul bintik bintik merah di pipinya.


"Ya ampun, penampilanku kumuh sekai." Batin Dina.


Saat ini perutnya mulai meronta ronta, sudah seharian ia belum makan. Ia ingin sekali Keluar mengambil makanan namun tak siap bertemu dengan Ibunya. Dengan terpaksa ia pun tetap menahan rasa laparnya dan kembali tertidur.


Pukul 15. 30, Dina bangun dan memutuskan untuk Keluar Kamar mengambil makanan. Saat ia berdiri Kepalanya terasa pusing tujuh keliling, perutnya keras seperti kram serta rasa mual yang tak tertahankan. Ia bersandar di tembok dan berusaha untuk Keluar Kamar. Saat membuka Pintu Kamar, la pun terjatuh. Sang Ibu yang mendengar Suara Keras itu pun segera menghampiri.


"Ya ampun Dina" Teriak Ibu sambil berlari.


Tanpa pikir panjang Ibu pun segera menelfon ayah.


" Halo " Jawab Ayah.


"A...Ayah. Dina Pingsan, Ayah harus segera pulang. " Ucap ibu dengan nada panik.


" APAAA ??" Tanya ayah berusaha memastikan.


"Dina Pingsan, Ayah " Jawab Ibu Sekali lagi.


"Baik, Ayah akan segera pulang."


Ayah Pun pulang dengan tergesa gesa, sementara ibu menelfon petugas puskesmas agar segera mengirimkan mobil ambulance ke rumahnya. Sesampainya di rumah, ayah segera membantu Dina dan membawanya Ke rumah sakit.


"Bu, sebaiknya kamu telfon Anwar " Perintah Ayah.


"Ayah saja. Ibu sedang tidak ingin bicara dengan Anwar."


"Ya Sudah, Ayah akan mengirim Pesan saja.".


Di ruang tunggu UGD, Ayah dan Ibu duduk dengan Khawatir. Sesaat Kemudian Anwar pun datAng. Ayah Segera menceritakan kejadian itu dan mereka sama sama menangis. Tangisan mereka terhenti Ketika mendengar suara pintu terbuka.


"Dok, Bagaimana keadaan anak saya ?" tanya Ayah


"Anak bapak baik baik saja, hanya mengalami dehidrasi dan asam lambungnya naik sehingga menyebabkan Pusing serta mual sementara. "


"Syukurlah, terimakasih Dok. " ucap mereka bersamaan.


Mereka pun segera memasuki ruangan dan merasa lega Ketika melihat Dina Sudah Sadar. Mereka menyangka bahwa Dina hanya mengalami dehidrasi dan asam lambung Karena tidak makan dan minum Sama sekali. Akan tetap mereka tidak sadar dengan kondisi mental Dina saat ini. Masalah yang bertubi-tubi Dina hadapi seorang dini, hal ini menyebabkan depresi yang tak bisa diketahui oleh dokter.


...****************...