UGLY GIRL

UGLY GIRL
PROLOG



Dina Maharani merupakan gadis mandiri yang berasal dari Kota Baru. Ia berasal dan Keluarga yang Sederhana, bahkan bisa dibilang Kurang mampu. Ayahnya bekerja sebagai buruh tani sawit sedangkan ibunya mengurus rumah tangga. Ia juga memiliki Kakak laki-laki yang hanya berjarak 2 tahun darinya. Kakak laki-laki Oina bernama Anwar Hasri, ia memiliki hobby bermain game Online sehingga hampir setiap hari waktunya habis digunakan untuk bermain game bersama teman-temannya.


Saat itu, Usia Dina masih 18 tahun. Ia masih duduk di bangku SMA, Sedangkan Kakaknya sudah lulus 2 tahun yang lalu namun tak kunjung mau untuk bekerja. Dina sangat khawatir dengan kondisi Keluarganya, bagaimana tidak? Penghasilan ayahnya tak mampu Untuk menutupi pengeluaran mereka sehingga memiliki hutang dimana-mana. Belum lagi untuk membayar uang sekolah Dina yang sudah menunggak 2 bulan. Sejenak, Dina merenung meratapi keadaannya. Ia berpikir apakah harus berhenti sekolah dan mengubur mimpinya dalam - dalam? Atau ia harus tetap bertahan walau mendapat cacian, makian, bahkan Penghinaan? Berhari - hari masalah tersebut selalu mengganggu Pikirannya. Di dalam benaknya ia berbisik


"Apa yang harus aku lakukan agar bisa seperti dulu, bisa beli ini itu, ga perlu mikirin uang sekolah, semuanya sudah ada. Tapi sekarang? Jangankan beli ini itu, bayar uang sekolah aja ga bisa. Hmmm... ternyata benar, hidup itu ga selalu di atas, kadang bisa di bawah bahkan di bawah banget...."


Lamunannya terhenti ketika ia mendengar suara ibunya


"Mikirin apa sih nak ? Masalah uang sekolah mu ya? Sabar ya, Seminggu lagi ayahmu gajian." Ujar ibu untuk menenangkan dina, Padahal Kata- Kata itu sudah keluar sejak 2 bulan yang lalu.


"Bukan masalah itu Ibu, Dina Cuma mikirin tugas Sekolah yang belum terpecahkan." jawab Dina agar Ibunya tidak khawatir.


"Kalau ada tugas sulit ya dikerjakan bersama biar Cepat Ketemu solusinya."


"Hmm... Iya Bu, besok Dina ajak teman-teman untuk diskusi. Ya sudah, Dina mau tidur Bu udah larut." Ucap Dina berbohong agar Pembicaraan berakhir.


Pukul 01. 30 dini hari, Dina masih belum bisa tidur, Ia terus-terusan berfikir bagaimana caranya agar bisa mendapat penghasilan tanpa harus berhenti Sekolah. Tanpa mendapat Solusi apapun, Dina akhirnya terlelap kelelahan.


" Dina! Bangun nak sudah siang " Ucap ibu Sambil mengetuk pintu.


" Iya Bu, Dina Sudah bangun" Jawab Dina dengan mata yang masih terpejam.


Dina Pun bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Ketika Sampai di sekolah ia menjalani hari-hari seperti biasanya. Sampai tiba lah jam pelajaran terakhir.


"Selamat siang semuanya " ujar Bu Lastri sambil berjalan menuju tempat duduknya.


"Siang Bu"


"Hari ini Ibu akan membagikan hasil ulangan harian matematika kalian. Ibu sangat kecewa dengan hasilnya. Di Kelas XII IPA 1 Ini Masa dari 30 siswa hanya 1 orang yang nilainya di atas KKM? Apa kalian tidak belajar sebelumya ? Ucap Bu Lastri dengan nada marah. "


" Belajar Bu " Jawab mereka dengan serempak..


"Baik Bu"


"Dina Maharani, Selamat ya nilai kamu 9 dan menjadi satu satunya nilai yang di atas KKM"


"Terima Kasih Bu" Jawab Dina sambil melangkah ke depan mengambil Kertasnya.


"Berikutnya, Adi, Mila, Nesya....." ucap bu Lastri membagikan Kertas ujian satu per satu.


Dari Kejadian inilah Dina berpikir, ia memiliki Kelebihan dari yang lain. Ia bisa menggunakan kecerdasannya untuk mendapatkan Penghasilan agar bisa membayar uang sekolahnya. Ketika Pelajaran berakhir dan Ibu Guru telah meninggalkan ruang Kelas, Dina Segera berlari menutup pintu kelas dan berbicara


"Guys... Jangan pulang dulu ya. Aku Punya Pengumuman nih, Janji Cuma 3 menit."


" Iya, Apaan?" Seru teman teman dengan rasa Penasaran.


"Mulai sekarang aku membuka jasa pengerjaan PR, tarifnya murah Lo... Misal 10 Soal Kalian Cuma bayar Rp. 10.000 aja. Jaminannya kalau nilainya dibawah KKM uangnya bisa kembali deh." Ucap dina meyakinkan teman-temannya.


Meskipun tidak semua teman-temannya merespon dengan Positif, namun hampir 1/3 siswa setuju.


" Oke deh, ntar aku WA ya. " Ucap Arin.


" Aku juga" ucap teman-teman yang lain.


Melihat hal itu, Dina Semakin yakin ia bisa mendapat penghasilan. Ya meskipun ada rasa bersalah telah menjadikan Pendidikan sebagai bisnis. Namun, ia melakukan ini benar-benar karena terpaksa.


Sesampainya di rumah, ia segera mengecek ponselnya dan teryata sudah ada 10 siswa yang membutuhkan jasanya. Ia sangat gembira dan segera mengerjakan PR milik teman-temannya itu dengan teliti dan sungguh - sungguh hingga larut malam. Pukul 00.30 dini hari akhirnya tugas - tugas itu selesai.


" Aduh, lelah sekali..." ucap Dina sambil meluruskan badannya.


Tak terasa, hari pun sudah pagi. Sesampainya disekolah, Dina membagikan tugas milik teman-temannya dan mendapatkan upah. Seketika, lelah yang ia rasakan semalam menjadi hilang. Ia pun bisa tersenyum lebar. Hari-hari berlalu, Dina masih tetap membuka jasa mengerjakan PR seperti sebelum- sebelumnya dan mengerjakan dengan teliti dan sungguh sungguh bahkan sampai larut malam. Meskipun tak setiap hari ada pelanggan namun Dina tetap bersyukur bisa memiliki penghasilan. Penghasilan tersebut ia tabung terus menerus meskipun sedikit lama lama akan menjadi bukit. Akhirnya, Dina bisa membayar uang sekolah tanpa harus meminta uang dari ayahnya..