
Hujan turun dengan sangat deras bahkan hujan tidak berhenti walaupun 1 detik, Jung
Yerin mahasiswi jurusan desainer sedang meratapi kehidupannya, kehidupan yang
membosankan dan kehidupan yang tidak membiarkannya untuk bebas. Trauma yang ada
didalam dirinya membuatnya tidak berani untuk melangkah keluar, melihat sang
kakak selalu mengurung diri dikamar Eunha sebagai adik selalu mencari cara
supaya kakaknya bahagia. Orang tua Yerin sudah lama bercerai dan kini kedua
adik kakak itu tinggal bersama ibu tiri mereka yang sangat kejam termasuk ayah
mereka yang lebih mementingkan posisinya sebagai presdir dari pada mereka
berdua.
“Jung Yerin cepat belikan aku cemilan dan bawa kekamarku,” perintah kakak tirinya
yang membuat Yerin terdiam.
“Eunha sedang tidak ada dirumah jadi aku menyuruhmu, jadi cepat lakukan!” tatapnya
dengan sangat sinis lalu menutup pintu kamar dengan kencang.
Yerin melihat keluar jendela lalu dia melihat jalanan yang sangat sepi dan hujan
deras yang masih belum berhenti. Dengan sangat terpaksa Yerin menuruti
permintaan kakaknya itu Jung Ilhoon. Sesampai didepan pagar Yerin berdiam diri
dan hujan terus menguyurinya yang berdiri dibawah payung.
“Jung Yerin cepat!” teriak Ilhoon yang melihatnya dari jendela kamar.
Dengan cepat Yerin membuka pagar lalu keluar dari sana, dengan menggunakan hoodie
hitam dan masker Yerin pergi kemini market yang cukup jauh dari rumah. Sesampai
disana dia melihat beberapa pria yang sedang mabuk lalu dengan cepat dia masuk
untuk membelikan pesanan Ilhoon.
“32.500 won.” kata pelayan mini market tersebut.
Dengan cepat Yerin segera membayar dan mengambil belanjaannya lalu memutuskan untuk
pergi dari sana, namun saat akan melangkah keluar Yerin terhenti karena seorang
pria menghentikan langkahnya.
“Hai cantik, kenapa terburu-buru?” tanyanya yang membuat Yerin terus menunduk.
“Kamu sangat cantik walaupun memakai masker,” lanjutnya yang berusaha melepas masker Yerin.
“Hentikan,” tahan seorang pria yang baru saja tiba disana.
“Apa yang ingin kamu lakukan padanya?” tanya pria ini sambil berdiri didepan Yerin.
“Aku hanya ingin melihat wajah cantiknya, apa masalahmu,” omel pria dengan bau
alkohol yang menyengat.
“Singkirkan tanganmu jika kamu berani menyentuhnya maka aku akan menghabisimu.” ancamnya
sambil membawa Yerin pergi dari sana.
Yerin masih terdiam dengan perasaan yang takut sedangkan pria disampingnya ini
berdiri dengan keadaan yang basah karena Yerin tidak ingin berbagi payung
dengannya.
“Ini sudah larut malam kenapa kamu keluar sendirian?” tanya pria ini yang membuat
Yerin sangat berhati-hati.
“Kakakku menyuruhku,” jawab Yerin dengan suara yang pelan.
“Sepertinya dia menyebalkan,” selanya yang membuat Yerin menatapnya.
“Wajahmu mengatakan bahwa kamu menolak permintaanya,” lanjutnya lagi yang membuat Yerin berhenti.
“Aku sudah sampai, terima kasih,” Yerin segera masuk sedangkan pria yang
disampingnya ini hanya menggangguk.
“Permisi, maaf tidak berbagi payung denganmu jadi aku akan meminjamkan hoodieku padamu,”
lanjut Yerin yang membuat pria ini terdiam sesaat.
Yerin segera masuk kedalam rumah dan mengambil hoodie putih, handuk dan payung lalu memberikannya pada pria yang menunggunya didepan rumah.
“Kamu tidak perlu mengembalikannya, sekali lagi terima kasih sudah membantuku dan
mengantarku.” Yerin pun segera masuk kedalam rumah sedangkan pria itu hanya
tersenyum kecil.
Dari kejauhan Eunha yang baru saja pulang dengan menggunakan taksi melihat kakaknya
sedang berbicara dengan seorang pria, pria itu segera pergi lalu saat turun dari taksi Eunha segera masuk kedalam rumah untuk memastikan keadaan kakaknya
“Kakak?” panggil Eunha sambil berlari menuju lantai 2.
“Dimana dia?” tanya Eunha pada dirinya sendiri saat tidak melihat Yerin didalam kamar.
Eunha terus meneriaki kakaknya itu dan tidak lama kemudian Yerin keluar dari kamar
kakak tirinya.
“Ada apa?” tanya Yerin dengan wajah yang datar.
“Apa kakak baik-baik saja aku melihatmu bicara dengan seorang pria tadi dan juga
kenapa kakak ada dikamarnya?” tanya Eunha dengan sangat cepat.
“Pria yang ada dibawah menyelamatkanku dan pria yang ada dikamar ini menyuruhku untuk
membelikannya cemilan,” jelas singkat Yerin yang membuat Eunha terdiam.
“Kembalilah kekamarmu dan istirahat.” Yerin pun segera meninggalkan Eunha sendirian disana.
Saat Yerin pergi dari sana dengan cepat Eunha masuk kedalam kamar Ilhoon dan benar
saja Ilhoon sedang memakan cemilan itu sambil menonton film horror dikamarnya.
“Yoon Ilhoon dasar tidak tahu malu!” teriak Eunha sambil melempar Ilhoon dengan
bantal.
“Hei kamu itu hanya seorang pengangguran dirumah bagaimana bisa kamu memperlakukan
kakakku yang statusnya lebih ditinggi darimu bagaikan budak!” omel Eunha yang
membuat Ilhoon segera berdiri.
“Penggangguran katamu, aku adalah pewaris Jung Group yang sebenarnya bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu padaku dan juga kakakmu itu tidak pantas duduk dikursi ayah
karena dia terlalu lemah dan terlalu bodoh,” jawab Ilhoon yang tak mau kalah.
“Tidak tau diri!” teriak Eunha sambil melemparinya dengan barang-barang yang ada
diatas meja.
Keesokkan paginya keluarga kecil itu berkumpul diruang makan untuk sarapan bersama, terlihat sangat jelas jika diwajah Eunha dan Ilhoon terdapat luka kecil.
“Apa yang terjadi pada kalian berdua?” tanya ayah sambil menatap kedua anaknya itu.
“Dia mengatakan padaku jika aku tidak pantas menggantikan ayah,” Ilhoon lebih dulu
menjawab dari pada Eunha.
“Dia menyuruh kak Yerin untuk membelikannya cemilan semalam dan apa ayah tau dia
menyuruh kak Yerin keluar hampir tengah malam,” jelas Eunha yang membuat ibu
tirinya segera membuat pembelaan untuk Ilhoon.
“Apa salahnya jika meminta bantuan padanya, kita semua tau jika 7 tahun belakangan
ini Yerin selalu dirumah bahkan dia tidak pernah keluar rumah, Ilhoon hanya
ingin membuatnya kembali bersosialisasi pada lingkungan saja,” jelas ibu yang
membuat Eunha sedikit geram.
“Ditengah malam?” tatap Eunha dengan sangat sinis.
“Jung Eunha jaga sikapmu bagaimana pun dia adalah ibumu dan Ilhoon kakakmu,” bela
ayah pada ibu dan Ilhoon.
“Yang dikatakan ibu benar Ilhoon hanya ingin yang terbaik untuk Yerin dan juga Yerin
harus segera membiasakan diri untuk bertemu orang-orang, jika Yerin tidak bisa
melakukannya maka perusahaan akan tetap kembali pada Ilhoon,” jelas ayah yang
membuat Yerin menatapnya.
“Itu perusahaan ibuku,” sela Yerin untuk pertama kalinya.
“Kakak benar, disurat wasiat tertulis namanya dengan sangat jelas,” sela Eunha yang
membuat ayah sedikit marah.
“Kalian berdua masih memikirkan ibu kalian, padahal sudah sangat jelas jika dia
meninggalkan kalian,” tatap Ilhoon yang membuat Yerin segera pergi dari sana.
“Nikmati sarapan kalian, tuan Jung dan nyonya Yoon,” Eunha pun segera menyusul Yerin dan
pergi dari sana.
“Itu menyakitkan Jung Eunha,” kata llhoon dengan suara yang pelan namun didalam hati
sanngat marah.
Dengan sangat cepat Yerin masuk kedalam kamarnya bahkan Eunha saja tidak bisa
masuk kedalam kamar kakaknya itu karena
Yerin tidak akan membukakan pintu untuk siapapun.