
Anggia masuk kedalam kelas nya ketika bel berbunyi. Terlihat para murid sudah duduk dibangku masing masing.
"Gia!" seru Nayla sambil melambaikan tangan nya kearah Gia supaya duduk disebelah nya.
Gia tersenyum dan segera melangkah ke arah Nayla.
"Eh, lu di apain aja sama kak Arya?" tanya Nayla setelah Gia mendaratkan bokong nya dibangku sebelah Nayla.
"Kak Arya? Siapa?" tanya Gia sambil mengernyitkan alis nya sebagai tanda bahwa dia tidak mengerti dengan pertanyaan Nayla.
"Itu si Osis ganteng" kata Nayla.
Mendadak Gia terdiam, pipinya jadi memerah mengingat kejadian tadi di sanggar.
"Eng.. Gak di apa apain kok" kata Gia gugup.
"Terus kenapa lu blushing?" tanya Nayla sambil menyeringai.
"Eng.. Enggak, siapa yang blushing." elak Gia.
"Eh ngomong-ngomong lu tau dimana nama kak osis?" tanya Gia penasaran.
"Lu kagak liat di baju depan nya? Kan nama nya ada di situ" Nayla menjeda.
"A.R.Y.A S.A.M.U.E.L" kata Nayla lagi sambil mengeja nama Arya.
Gia hanya manggut-manggut mendengar nya.
"Eh lu beneran gak di apa-apain kan?" tanya Nayla lagi.
"Ih.. Apa an sih. Eng.. Enggak lah" kata Gia kembali mengelak.
"Trus lu dikasih hukuman apa ama dia?" Tanya Nayla penasaran.
"Ih kepo deh" kata Gia, dia bingung harus menjawab apa. "Gue disuruh bersihin sanggar" kata nya lagi, dia tidak mungkin mengatakan yang sebenar nya pada Nayla.
Nayla menatap Gia prihatin.
Seorang wanita paruh baya masuk, mendadak para murid bungkam.
"Perkenalkan nama saya sumiati, kalian bisa panggil saya bu sumi. Saya adalah wali kelas kalian." wanita itu memperkenal kan diri nya.
"Hari ini kita perkenalan dulu, mungkin untuk kegiatan belajar akan kita laksanakan mulai besok" lanjut nya lagi.
****
Kelas selesai, para murid kelas X IPA 2 sudah pulang.
Gia sedang menunggu supir nya untuk menjemput nya. Ya, memang Gia berasal dari keluarga yang berada.
Ayah nya seorang pembisnis yang sering keluar negri dan ibunya ikut bersama ayah nya, jadi Gia tinggal bersama para pembantu nya dirumah.
Gia sudah sering ditinggal sendirian sewaktu dia kecil, jadi sudah tidak tabu lagi bagi nya ketika dia harus ditinggal bersama pembantunya.
"Ih lama banget sih" gerutu nya sambil sesekali melihat kearah jam tangan nya.
"Em, yaudah deh gue duluan ya, lo gak papa kan gue tinggal?" tanya Nayla.
"Gak papa, lo duluan aja" kata Gia meyakin kan.
"Yaudah gue duluan ya" kata Nayla sambil masuk kedalam mobil milik nya sendiri.
"Mending lo ikut gue aja, nanti supir gue yang nganterin" kata Nayla lagi.
"Gak usah. Gue nungguin supir gue aja" kata Gia dengan tersenyum manis.
"Yaudah, see You" kata Nayla membalas senyuman Gia.
"See You" balas Gia sambil melambaikan tangan nya.
Mobil Nayla sudah menghilang dari pandangan nya, "pak! Kok lama sih?" tanya Gia menelpon supir nya.
"Iya neng macet nih" kata supir itu diseberang sana.
"Yaudah, pak bowo putar balik aja, biar Gia nebeng sama temen" kata Gia berbohong lalu mematikan sambungan telepon itu. Siapa coba yang mau ngnterin dia. Dia menyesal karena menolak ajakan Nayla yang menawarkan untuk mengantarkan nya.
"Jalan deh..." Gumam Gia lesu sambil melangkahkan kaki nya padahal jarak tempuh kearah rumah nya lumayan jauh.
"Gia!" panggilan itu menghentikan langkah Gia, dia membalikkan badan nya dan seketika tubuh nya menegang melihat orang yang memanggil nya.
"Kak.. Kak Arya" gumam Gia pelan.
Arya yang tengah mengendarai motor nya pun menghentikan nya.
"Kok jalan? Mau aku anter pulang?" tanya Arya sambil tersenyum manis.
Mendadak Gia terpesona melihat senyuman itu tapi mengingat kejadian tadi siang membuat muka nya merah, segera dia menundukan kepala nya.
"Eng.. Gak usah kak, Gia bisa jalan sendiri" katanya masih tetap menunduk.
Arya turun dari motor nya lalu menarik tangan Gia. "Ayo!" katanya sambil menyerahkan helm ke Gia.
Gia terpaksa mengambil helm itu dengan perasaan gugup.
Arya membantu nya naik karena ukuran motor Arya cukup tinggi.
"Pegangan" kata Arya lalu menjalankan motornya.
Gia hanya memegang ujung baju Arya.
Ketika Arya menambah kecepatan motor nya, tiba tiba Gia memeluk pinggang nya karena takut.
Perasaan hangat tiba tiba menghampiri Gia ketika memeluk Arya, ada rasa aman didalam nya.
Arya tersenyum melihat kearah perutnya yang dipeluk Gia.
Bersambung...
Kok dikit? Maaf ya..