
Ruby Avenue, North Carolina, 30 Juni 2020
Liam mengantar Lucy sampai ke kamarnya, kamar Ruth di lantai dua rumah mereka. Tampak kamar itu sedikit berdebu akibat tidak pernah ditempati. Meski demikian, kamar itu tetap rapi dengan dominasi warna monokrom dan tampilan minimalistik.
"Selamat datang kembali, Ruth. Rumah ini akan kembali ramai karenamu." Liam belum berhenti mengungkap kebahagiaannya sejak kemarin di rumah sakit.
"Terima kasih, Liam."
"Ya. Selamat tidur. Panggil aku segera jika kau merasakan sesuatu. Aku pindah ke kamar di sebelahmu."
"Ah, ya."
Liam memutuskan untuk keluar dari kamar adiknya, namun ia berhenti di depan pintu begitu menyadari Ruth bertingkah aneh. Adiknya itu seperti orang bingung, bahkan kini celingukan di kamarnya sendiri. "Ngomong-ngomong, kenapa kau jadi sedikit canggung dengan kami? Kau masih terkejut?"
"Oh? Tidak. Aku hanya memastikan... apakah ini sungguh kamarku?"
"Tentu saja, Ruth. Kau ini kenapa? Sudahlah, sepertinya kau memang perlu beristirahat. Dah!"
Liam benar-benar menutup pintu kali ini, meninggalkan Lucy di kamar itu sendirian. Namun, alih-alih beristirahat sesuai perintah Liam dan dokternya, Lucy memilih untuk menjelajahi kamar milik Ruth yang tampilannya lagi-lagi sangat berbeda dengan kamarnya. Lucy menyukai merah muda, sementara Ruth menyukai hitam dan abu-abu. Lucy menyukai bunga, sementara Ruth lebih menyukai hiasan dari ukiran kayu. Lucy yang menyukai gaun, sementara Ruth lebih menyukai jas dan celana panjang.
"Seleramu seperti laki-laki sungguhan, Ruth," gumam Lucy usai melihat isi lemari pakaian Ruth. Kini, satu-satunya yang belum ia periksa adalah ruang kerja Ruth yang sengaja dibuat terpisah di sisi kanan kamarnya.
Lucy mendorong pintu ruang kerja yang tidak dikunci itu perlahan. Ia kemudian sedikit tersentak begitu lampu ruang kerja dengan sendirinya menyala usai pintu dibuka sempurna.
"Wah..."
Antara kagum dan terkejut, Lucy menilai ruang kerja Ruth itu seperti ruang kerja pejabat negara. Terdapat dua rak di sana, yang di sisi kanan berisi buku-buku fiksi, sementara yang di sisi kiri berisi buku-buku catatan dan kumpulan kertas-kertas yang tersusun rapi dalam arsip.
Lucy tersenyum simpul. "Kali ini kita sama, aku juga suka membaca novel," ujarnya, antusias melihat deretan judul novel yang tentu belum pernah ia dengar apa lagi baca. "Sepertinya aku akan sering-sering berdiam di sini."
Lucy terus menjelajahi ruang kerja Ruth, hingga ia memutuskan duduk sejenak di kursi kerjanya. "Kursi ini juga nyaman, harganya pasti mahal." Lucy berkomentar iseng, mengingat kursi itu yang memang terbuat dari kulit asli. "Kau rupanya orang kaya, Ruth. Kau memiliki keluarga yang menyayangimu, dan sepertinya... pekerjaan yang sangat kau sukai..."
"Tapi dimana kau sekarang? Kenapa aku bisa berada di dalam tubuhmu?" Lucy terus bermonolog, sembari tangannya membuka sebuah album foto di meja. Lucy kira itu adalah album foto keluarga, namun ternyata ia salah.
"Paul?" Lucy memeriksa seluruh foto di album itu dari halaman pertama hingga halaman terakhir. "Tidak salah, ini Paul. Kenapa Ruth menyimpan fotonya?" Lucy terus bingung dan mencari tahu, namun hanya dua hal yang ia dapati dari keseluruhan album foto itu.
Lucy membaca kembali tulisan di sampul album foto. "Dia Paul, tapi kini namanya Aaron Tyler? Siapa itu Aaron Tyler? Apakah dia..."
"Seorang artis? Selebriti?" Lucy menyimpulkan, karena hampir seluruh foto Paul di album itu memegang instrumen, utamanya gitar dan piano. "Apa Ruth menyukainya?"
Tidak merasa menemukan fakta yang cukup, Lucy kembali membuka laci-laci di meja kerja Ruth, namun yang ia dapati hanyalah tulisan-tulisan di atas kertas yang tidak ia mengerti apa isinya. Bukan karena Lucy tidak bisa membacanya, tetapi ia terlalu malas, karena tulisan-tulisan itu sangat padat seperti tulisan koran. Namun, selembar kertas di paling bawah tumpukan kertas itu menarik perhatiannya.
Sebuah foto Paul tersisip di pojok kanannya, menyatu dengan beberapa lembar dokumen di bawahnya.
Lucy tak melanjutkan monolognya, tangan kanannnya mendadak bergetar. Dokumen dengan foto Paul terjatuh di atas meja, bersamaan dengan Lucy yang diserang panik ketika enam digit angka bercahaya kuning terang itu kembali muncul, persis seperti yang terjadi di rumah sakit dua hari lalu.
"00..."
"2... 3..."
"54?"
****
Criminal Investigation Division, FBI Office, North Carolina. 1 July 2020
Seperti yang dikatakan Harold, kembalinya Ruth Madison menjadi momen penting bagi institusi tempatnya bekerja. Belasan orang di unit tugas menyambut kembalinya agen khusus yang telah menangkap seorang pembunuh berantai legendaris yang selama dua tahun berkeliaran di Amerika Barat. Mereka menyalami Ruth, memeluknya, memberikan harapan-harapan agar ia selalu sehat dan tidak lagi mengalami kecelakaan kerja.
Oh, mereka sungguh tidak tahu bahwasanya Ruth di hadapan mereka bukan sepenuhnya Ruth Madison, tetapi sosok gadis polos yang bahkan tidak tahu apa-apa soal pekerjaan 'keras' yang dilakoni oleh Ruth. Lucy sebatas mengetahui bahwa Ruth adalah seorang polisi, itu saja.
"Selamat bekerja kembali, Kawan. Tugas baru menantimu." Laura menjadi orang terakhir yang menyalami Lucy ketika ia sampai di meja kerjanya diantara Harold.
"Tugas baru? Tugas apa?"
"Oh, rupanya kau benar-benar tertidur selama sebulan, Ruth. Apa kau belum mendengar bahwa kasus pembunuhan berantai kembali terjadi?"
"Pembunuhan berantai? Aku tidak tahu. Sejak kapan itu terjadi?"
"Sejak sebulan lalu. Selang beberapa hari setelah kau menangkap seorang pria yang membuatmu jatuh ke jurang, dua kasus pembunuhan terjadi. Satu di Columbia, satu lagi di Southern Pines."
"Ah... itu gila. Kenapa banyak sekali pembunuhan di negara ini?"
Laura hanya mengedikkan bahunya, lalu menyerahkan tumpukan arsip dokumen ke meja Lucy. "Silakan kau pelajari, aku sudah banyak mengumpulkan bukti-bukti."
"Astaga, banyak sekali. Dokumen apa ini?"
"Apa? Banyak kau bilang? Astaga, ini bahkan belum apa-apa dibanding pekerjaanmu sebelum-sebelumnya. Kuharap kau segera kembali pada ambisimu, Ruth. Pembunuhan kali ini sepertinya menargetkan orang-orang penting, mulai dari pejabat sampai selebriti..."
"Selebriti?" Lucy langsung terkoneksi, pada sosok Paul yang kini dikenal sebagai Aaron.
"Ya. Oh, rupanya kau juga belum tahu bahwa salah satu korbannya adalah gitaris band favoritmu, The Leftovers."
"Band?"
"Ya, dan dia sekaligus adalah adik dari Aaron Tyler, vokalisnya."