Time To Save You!

Time To Save You!
Gelap, Angka, Billboard



St. Thomas Medical Care, North Carolina, USA. 29 Juni 2020


Jose dan Anna memutuskan untuk meninggalkan anak mereka satu sampai dua hari ke depan, karena dokter mengatakan Ruth perlu waktu untuk beradaptasi. Gadis itu baru saja sadar dari tidur panjang, dan tidak satu pun dari mereka mengetahui apa yang dialaminya di alam bawah sadar. Tidak jarang pasien yang baru bangun dari koma mengalami disorientasi sementara, namun di kasus Ruth, disorientasi itu sebenarnya sungguh berbeda.


Ruth, dia tetap tidak mengakui dirinya sebagai Ruth Madison.


Dia bukan Ruth Madison, dia adalah Lucy Ainsley.


Tidak ada yang salah dengan kesadarannya, dia memang Lucy. Hanya saja, Lucy merasa jiwanya itu berada di tubuh seorang wanita bernama Ruth Madison, wanita yang sama sekali tidak pernah ia kenal sebelumnya. Beberapa kali Lucy turun dari tempat tidurnya, berjalan-jalan kecil mengitari ruangan, dan selama itu juga Lucy merasakan kakinya menapak di lantai secara nyata. Sensasi berjalan dan bergerak yang ia rasakan seluruhnya sama, hanya saja lagi-lagi  ia menggunakan kaki dan tubuh berbeda.


Keanehan demi keanehan terus ditemui Lucy, dan puncaknya adalah ketika ia menemukan cermin dan melihat pantulan dirinya di sana.


"Ya Tuhan..."


"Apa yang terjadi padaku?"


Tangan Lucy sedikit bergetar, menyentuh wajahnya yang sekarang tampak di depan cermin. Rahang tajam dan tegas, kulit pucat, hidung mancung, bulu mata lentik, alis mata tebal, bibir merah tipis, dan iris mata berwarna abu-abu, semua itu bukan ciri-ciri wajahnya yang dulu. Wajah itu benar-benar baru, dan Lucy semakin tidak mengerti kenapa.


Tak lama berselang, lamunan gadis itu pecah ketika satu per satu lampu ruangan padam, membuatnya mendadak gelap gulita. Jantung Lucy berdegup kencang, matanya terbelalak, nafasnya memburu, tangannya mencari sesuatu untuk dipegang. Rasa takut yang menjadi perasaan terakhir yang ia rasakan sebelum jiwanya berpindah ke tubuh Ruth Madison itu kembali.


Perasaan takut, bingung, dan putus asa ketika mengejar sosok pria tanpa wajah yang merupakan pembunuh Paul, yang entah kapan terjadinya jika dibandingkan dengan waktu saat ini. Lucy frustasi, kini ia sungguh takut akan kegelapan dan kekosongan di sekitarnya. "Tolong..."


"Hhhhhhh!"


Suara gaung misterius terdengar, dan itu adalah suara yang sama dengan suara yang Lucy dengar sesaat sebelum dirinya jatuh ke jurang malam itu. Tidak hanya itu, cahaya dan kabut asap yang sama pun muncul entah dari mana. Bedanya, kali ini tidak tampak jembatan atau apa pun itu di belakang Lucy. Gadis itu hanya bersandar pada sebuah tembok dingin, terpojok di sana.


"Hah..."


Lucy melihat tangannya, atau tepatnya tangan Ruth Madison. Sesuatu yang bercahaya muncul di lengan bawahnya, menunjukkan enam digit angka yang Lucy sendiri tidak mengerti apa maksudnya.


TAP!


TAP!


Suara langkah kaki yang sama kini terdengar, dan Lucy rasanya ingin mati saja begitu mendapati sosok pria tanpa wajah dengan pakaian serba hitam itu berdiri dalam jarak hanya beberapa langkah darinya. Sosok itu menghadap Lucy dari dekat jendela, tak bergerak, tak berjalan, tak melakukan apa pun.


"Pergi..."


"Kubilang pergi!" sergah Lucy, namun sosok itu tetap berdiri di sana.


Semakin lama, semakin menegangkan. Lucy bahkan seolah terpaku di tempatnya, kakinya tak bisa bergerak untuk keluar atau sekedar berpindah tempat. Begitu juga dengan tangannya, dengan angka-angka bercahaya kuning muda di tangannya itu yang tak kunjung menghilang, malah semakin terang bercahaya.


Tak lama kemudian, sosok hitam itu menghilang, namun tidak dengan angka-angka di tangannya. Angka itu masih berpendar meski lemah, cahayanya tak seterang ketika sosok tanpa wajah itu muncul, warnanya bahkan nyaris tersamarkan dengan warna kulit tangan Ruth yang pucat. Angka-angka itu kini terlihat seperti tato, dan tato itu perlahan menghilang seiring cahaya lampu ruangan yang kembali.


"Apa-apaan semua ini?"


Angin malam sontak menerpa wajahnya, menyibak rambut panjang Ruth yang tergerai bebas. Namun, baru saja beberapa langkah menapaki balkon, Lucy lekas melangkah mundur. Lucy  tidak sadar jika sedang berada di atas ketinggian. Entah lantai berapa saat ini ia berada, tetapi Lucy merasa pusing begitu melihat pemandangan ramai di bawah sana.


Lucy tidak pernah melihat kendaraan berlalu lalang sebising itu di jalan raya. Belum lagi cahaya-cahaya lampu yang berwarna-warni dan bangunan-bangunan tinggi yang saat ini juga tampak di hadapannya. Suasana malam di tempat itu sungguh mewah, berbeda sekali dengan yang biasa ia lihat sebelumnya: sepi, sunyi, senyap.


Sesuatu lantas menarik perhatian Lucy. Gadis itu kembali melangkah, menuju ke tepi balkon guna melihat lebih dekat potret bergerak di sebuah papan besar bercahaya di seberang sana. Lucy bingung, ia tidak tahu bahwa itu adalah sebuah billboard yang tengah menayangkan sebuah iklan.


Seorang pria muncul di billboard itu, dia memegang sebuah produk perawatan wajah pria. Pria itu juga memperagakan dirinya yang membersihkan wajah dengan ekspresi ceria di setiap detiknya.


Lalu kedua mata Lucy memicing tatkala pria dalam papan billboard itu seolah tersenyum ke arahnya sekian detik sebelum keseluruhan tayangan iklan itu terulang. Lucy tidak mungkin salah lihat, ia jelas mengenal siapa pria itu.


"P-paul?" gumamnya. "Kau..."


"Nona Ruth?"


"Oh?" Lucy lekas berbalik, tak sadar jika dokter yang menanganinya datang.


"Apa yang kau lakukan di sana? Kemarilah, aku harus memeriksa beberapa hal."


Lucy mengangguk, menghampiri dokter itu. Meski bingung, sepertinya Lucy harus menyesuaikan dirinya sebagai Ruth Madison mulai hari ini. "Jadi... kau adalah dokterku?"


Dokter itu menaikkan sebelah alisnya bingung. "Kau tidak ingat jika aku adalah orang yang pertama kau temui setelah kau membuka mata?" tanyanya, membantu Ruth berbaring di tempat tidur, mulai memeriksanya.


Ruth terus menatap dokter yang tampaknya seumuran dengannya itu. Banyak hal yang ingin ia tanyakan, setidaknya tentang dimana ia berada saat ini, dan bagaimana caranya hidup di tempat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Ruth..." Dokter itu melepaskan stetoskopnya. "Apakah kau sungguh tidak mengenali ayah dan ibumu?"


"Tidak..."


"Lantas bagaimana caranya aku menjelaskan dirimu yang dikenal sebagai Ruth Madison ini, hm? Kau tahu? Aku telah mengenalmu selama bertahun-tahun, dan aku juga mengenal keluargamu, Ruth."


Lucy sebagai Ruth menghela, memutar matanya malas hingga ia mengunci pandangannya di layar televisi. Wajah Paul kembali muncul dalam tayangan yang sama, namun kali in di layar yang lebih kecil.


"Ruth Madison," panggil dokter itu lagi, mengalihkan pandangan Lucy dari layar televisi. "Apa?"


"Katakan padaku, dengan nama apa aku harus mengenalmu. Lucy Ainsley, atau Ruth Madison? Aku akan menurutimu." Dokter itu memberikan pertanyaan validasi identitas, memeriksa apakah orientasi Ruth telah kembali atau belum.


"Aku..." Lucy mulai bingung, melirik dokter itu dan wajah Paul di televisi bergantian. Gadis itu berpikir keras, karena jawabannya akan menentukan seperti apa kehidupannya di tempat ini kelak.


"Aku..."


"Ruth Madison."