Time To Save You!

Time To Save You!
Aku Tidak Membunuhnya!



Lucy Florist, Hamilton, South Lanarkshire, Skotlandia. 19 April 1872


Orang-orang berkumpul, berkerumun di depan pekarangan Lucy Florist. Mereka yang lebih berani berdiri di barisan paling depan, menyaksikan jasad seseorang yang baru kemarin mereka sambut kedatangannya di jalan utama. Tidak satu pun di antara mereka yang menyangka, atau sekedar membayangkan bahwa Paul Wilkins akan tewas secara tragis sehari setelah kedatangannya. Tidak hanya itu, fakta bahwa Paul tewas di depan toko milik mantan kekasihnya yang bernama Lucy semakin membuat mereka tidak percaya.


Siapa itu Lucy?


Orang-orang yang mengenalnya di kota ini mungkin dapat dihitung jari. Apa mungkin seorang Paul Wilkins yang cemerlang itu pernah menjadikannya seorang kekasih?


Seorang petugas kepolisian dan detektif turun ke sana. Mereka mencatat, mengamati, dan memotret kondisi jasad Paul beserta seluruh sisi tempat penemuannya. Jasadnya itu tertelungkup bersimbah darah akibat dua tembakan di dada dan kepala, serta satu luka tusuk di perut bagian kanan. Pembunuhnya sadis, tak mudah berpuas diri, hingga benar-benar menghabisi korbannya tanpa ampun hingga nafas terakhir.


"Bagaimana kau menemukannya, Nona?" tanya sang detektif yang diketahui bernama John, pada Lucy yang saat ini menjadi satu-satunya saksi di tempat kejadian.


Lucy menggelengkan kepalanya dramatis. "Aku tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya, Detektif. Aku hanya menutup pintu toko, lalu mendengar suara tembakan dua kali, diikuti suara orang terjatuh."


"Aku penasaran, lalu aku membuka pintu, dan Paul sudah terkapar tak sadarkan diri di sana."


"Baik." Detektif itu mencatat pernyataan Lucy yang ke sekian kalinya di buku catatan kecil. Sedari tadi pikirannya tak bisa berhenti menuduh, karena bukti-bukti yang tersedia sangat kuat mengarah pada Lucy. Gadis itu bahkan masih mengenakan gaun putih gading lusuh dengan bercak darah, yang tak lain dan tak bukan adalah darah Paul.


Satu-satunya alasan John tak langsung menyeret Lucy ke kantor polisi adalah ekspresi ketakutan gadis itu. Kondisi kejiwaannya jelas masih menunjukkan trauma. Ia masih menangis, sementara temannya yang bernama Emily terus menenangkan.


"Pertanyaanku yang lain, mengapa kau menutup pintu tokomu tadi malam? Apakah kalian bertengkar?"


"Ya, kami bertengkar."


"Apa yang menjadi penyebab pertengkaran kalian?" John menggali lebih jauh ketika tangis Lucy mereda.


"Masalah pribadi."


"Ya, masalah pribadi apa? Apakah kau marah karena Paul Wilkins yang dua tahun lalu masih kekasihmu kembali dari Spanyol tiba-tiba pulang dan mengumumkan pernikahannya bersama Susan Davies kemarin?" tebak John langsung, membuat Lucy terdiam sejenak.


Oh, luka itu kini bercampur aduk, semakin membuatnya terpuruk.


"Ya..."


"Tentu saja dia marah dan mereka bertengkar," sambung seorang pria. Ia muncul dari tengah kerumunan, lekas mengambil posisi di sisi kanan Lucy, melengkapi Emily yang di sisi kiri. Ketiganya memang bersahabat. "Kau tidak bisa menuduhnya. Tidak cukup bukti."


"Apa yang kau ketahui tentang barang bukti? Bahkan tanpa senjata di tangannya sekali pun, dia adalah satu-satunya orang di tempat kejadian, sekaligus yang berinteraksi kurang baik dengan Paul sebelum ia tewas."


"Aku tidak melakukannya! Aku tidak membunuhnya!"


"Jangan percaya dia, John!"


Perhatian semua orang kini tertuju pada seorang wanita yang baru saja datang bersama dua orang pria. Caranya berbicara, berjalan, berpakaian, dan dirinya yang mengenal John sudah langsung menunjukkan kekuasaannya.


Susan Davies, wanita itu berhenti tepat di depan Lucy, menunjuk wajahnya arogan. "Kau membunuhnya?"


"Tidak!"


Susan tersenyum miring, dengan matanya yang berkaca-kaca penuh duka. "Lantas siapa yang membunuhnya, hm? Katakan padaku. Kau menemukannya sedetik setelah kejadian, bukan? Mustahil kau tidak melihat pelakunya selain itu adalah dirimu sendiri!"


"Aku tidak membunuhnya!" sentak Lucy, membuat Susan mengepalkan tangan dan rahangnya penuh amarah.


"John..."


"Ya, Nona?"


"Ya! Hukum dia!"


"Ya! Gantung saja dia!"


Kerumunan mulai bersorak, menyuarakan kebenciannya, mengecam Lucy, menuntut dua orang petugas polisi itu mengeluarkan kalimat hukum. Sementara itu Lucy bingung, terus menerus mengegeleng, menolak mengaku karena ia memang ia tidak melakukannya.


"Lucy, kau melihatnya? Penembak Paul? Coba kau ingat-ingat kembali," bisik Elric, sedari tadi menggenggam tangan Lucy yang bergetar.


"Ya, Lucy. Aku tidak akan percaya jika kau yang melakukannya," tambah Emily.


Lucy memejamkan matanya, mengingat-ngingat insiden tadi malam seraya mencoba menguasai dirinya sendiri. Ada sesuatu yang sebenarnya tidak berani ia ungkapkan karena khawatir disebut bodoh dan memalsukan fakta. Namun, suara kerumunan dan makian dari Susan membuatnya tak punya pilihan lain. "Aku..."


"Diam!" Elric membungkam keramaian yang terdengar menjengkelkan di telinganya. "Dengarkan dia!"


"Apa yang ingin kau katakan, Nona Lucy?"


"John, jangan dengarkan dia!" Susan menuntut, namun John tetap pada posisi objektifnya sebagai aparat hukum. "Katakan, apa yang kau ketahui lagi dari kejadian tadi malam," titahnya.


Lucy menghela. "Aku melihat seseorang. Dia berpakaian serba hitam, mengenakan sarung tangan hitam juga, dan memegang pistol. Dia berdiri di sana... tak jauh dari toko, tapi aku tidak bisa melihat wajahnya."


"Bohong!" seru Susan.


"Ya, dia pasti berbohong!"


Lucy menggeleng. "Aku bersumpah melihat orang itu, tapi dia menghilang begitu cepat, aku tidak bisa mengenalinya."


"Apa yang sosok itu lakukan di sana?"


"Dia hanya berdiri, menghadap toko."


"Mustahil kau tidak melihat wajahnya!" Susan kembali menyentak. "Berhenti berbohong dan akui saja kesalahanmu! Motifmu sudah jelas!"


"Nona Susan, tenanglah. Aku akan mengurusnya di kantor polisi. Kau bisa mempercayakannya padaku," lerai John, meminta Susan yang menangis itu kembali ke tempatnya bersama dua pengawalnya tadi. "Aku tidak mau tahu, John! Tangkap pelakunya! Hukum mati dia!" pesan Susan, semakin terisak sebelum ia pergi.


"Tenang saja. Aku akan menangkapnya. Paul akan mendapatkan keadilan."


Susan lantas pergi, menatap nanar Lucy sepanjang langkahnya menuju mobil. Tersisa kerumunan itu yang bersimpati penuh padanya, dengan hujatan yang tetap tertuju pada Lucy lebih keras.


"Apakah kau bisa membuktikan orang yang kau lihat itu?" tanya John.


"Aku tidak tahu. Aku tak punya petunjuk apa pun." Lucy pesimis.


"Biarkan dia membuktikannya, John. Aku dan Emily akan membantunya," pinta Elric.


John akhirnya setuju. "Baik. Aku juga akan bekerja bersama kalian. Namun, jika dalam tiga hari orang itu tak kunjung ditemukan, maka tidak ada orang lain yang dapat dijadikan tersangka selain dirimu, Nona."


"Bukan aku, John! Aku bersumpah!"


"Sumpahmu tidak akan berarti apa-apa jika kau tidak menemukan orang lain yang bisa menggantikan tuduhan itu, Nona."


Lucy dan kedua sahabatnya itu terdiam. Memang sulit. Keseluruhan kejadian ini menyalahkan Lucy, gadis itu benar-benar sial.


"Ikut kami ke kantor polisi sekarang, kau tidak diperkenankan pergi kemana pun tanpa izin kami, termasuk untuk mencari orang itu. Paham?"