
Hamilton, South Lanarkshire, Skotlandia. 18 April 1872
Seorang gadis baru saja kembali dari ladang, membawa sekeranjang bunga heather ungu di tangannya. Parasnya yang cantik itu semakin elok karena senyumnya yang terus mengembang, mengiringi langkahnya menuju sebuah toko di komplek pasar bertajuk Lucy Florist.
Musim semi kembali menyapa, memekarkan bunga-bunga yang ditanam di lahan kecil tak jauh dari toko bunga miliknya. Musim semi kali ini telah memutar kembali roda bisnis rangkaian bunga yang melambat di musim-musim sebelumnya. Namun, itu bukan satu-satunya alasan sang gadis terlihat sangat bahagia hari ini.
"Emily, kita memiliki banyak pesanan hari ini. Bisakah kau menanganinya sampai sore nanti? Paul akan datang sebentar lagi, dan aku harus menyambutnya sebaik mungkin," ujar gadis itu, pada teman sekaligus pekerja di toko bunga miliknya.
"Tentu saja. Kau sangat cantik hari ini, Lucy. Gaun dan model rambut itu cocok sekali denganmu. Paul pasti akan sangat menyukainya," puji Emily.
Lucy tersenyum simpul, sekali lagi memutar tubunya di depan cermin, memastikan penampilannya yang terbalut gaun putih gading dan tatanan rambut bergaya waterfall itu sempurna sebelum menemui Paul, kekasihnya yang sudah dua tahun tidak bertemu. Paul adalah seorang insinyur perkapalan, dan ia pergi ke Spanyol dua tahun lalu untuk bekerja di sebuah perusahaan pelayaran.
Lucy kembali pada pekerjaannya, menyempurnakan rangkaian bunga-bunga mawar, hydrangea, willow, dan tak lupa heather yang baru saja dipetiknya. "Aku sangat merindukannya. Mungkin aku akan langsung memeluknya ketika dia datang."
"Ya, peluklah dia sesukamu. Apakah kalian akan segera menikah setelah ini?"
Lucy tersenyum malu. "Kuharap begitu, karena dia telah berjanji akan menikahiku setelah dia kembali dari Spanyol. Aku sungguh tidak sabar, Emily!"
"Wah, itu sangat romantis. Kau beruntung sekali memilikinya, Lucy!"
"Ya, aku sangat mencintainya lebih dari siapa pun. Hanya dia yang kumiliki dan kupercayai dalam hidupku."
"Ah! Kau membuatku iri saja."
****
Wellhall Road, Hamilton, South Lanarkshire, Skotlandia. 18 April 1872
Puluhan, bahkan mungkin ratusan orang berkumpul di pinggir jalan utama, menanti sebuah bus yang membawa rombongan yang terdiri dari para insiyur, konsulat, dan ilmuwan datang. Pemerintah menjemput mereka secara langsung, sebagai wujud penghargaan atas jasa-jasa mereka dalam kemajuan negara selama dua tahun terakhir. Mereka telah mewakili Skotlandia di belantika sains, ekonomi, dan teknologi.
Lucy ada di trotoar kanan, menjadi salah satu yang berdiri di antara kerumunan, harap-harap cemas sembari menggenggam rangkaian bunga spesialnya. Jantungnya berdebar, tangannya bergetar, bahkan sedikit berkeringat dingin dibalik sarung tangan brukat yang dikenakannya. Ah, semoga saja tatanan rambutnya yang tertutup topi itu tidak ikut berantakan karena tiupan angin.
"Itu mereka!"
"Mereka datang, mereka datang!"
Kerumunan itu mendadak bising ketika sebuah bus melaju pelan mendekati jalan di depan mereka. Suara tepuk tangan dan sorak-sorak mulai terdengar, tapi Lucy tak terlalu terusik karena perhatiannya hanya tertuju untuk Paul.
Bus itu akhirnya berhenti. Satu demi satu anggota rombongan itu pun keluar, hingga saatnya adalah giliran Paul.
Lucy mengembangkan senyumnya haru, sementara Paul hanya tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah kerumunan. Ah, Lucy sedikit kecewa karena Paul tak melihatnya. Namun, ternyata itu bukan apa-apa sebelum pria itu melakukan hal yang lebih dramatis.
Alih-alih berhambur pada Lucy yang menunggunya, Paul justru membantu seorang wanita bergaun biru dongker bergaya bangsawan turun dari bus. Tidak sekedar membantu, Paul terus menggenggam tangan wanita itu. Mereka berjalan bergandengan ke pusat jalan sebagaimana orang-orang lain yang turun lebih dulu dari bus itu lakukan sebelumnya. Biasanya, mereka akan menyapa atau menyampaikan sebuah pengumuman yang relatif penting.
"Rasanya senang sekali dapat kembali ke kota ini."
"Aku, Paul Wilkins, hendak membagikan sebuah kabar bahagia pada kalian semua yang telah menyambut kami disini..."
"Whooaaaah!"
Suara sorak-sorak keramaian itu kembali terdengar, seolah mereka mengetahui apa yang akan disampaikan oleh Paul dan wanita itu di sana. Sementara Lucy? Ia tidak tahu apa-apa, ia bingung. Ada apa sebenarnya? Mengapa Paul bersama wanita itu? Mengapa juga mereka terlihat sangat bahagia dan tersenyum bersama?
"Kalian pasti tahu siapa wanita di sebelahku ini, bukan?" tanya Paul pada kerumunan, melirik wanita yang digandengnya seraya tersenyum."Dia Susan Davies, dari konsulat pertahanan Skotlandia..."
Semua orang kembali bersorak, kontras dengan Lucy yang gemetar luar biasa, menatap Paul tidak percaya. Lucy paham apa yang mungkin akan dikatakan pria itu selanjutnya.
"Kami akan segera menikah!"
"Whoaaah!"
"Ya, dan aku mengundang kalian untuk datang ke pernikahan kami minggu depan!"
DEG!
Runtuh sudah, Lucy menangis, menatap Paul penuh tanda tanya dan rasa kecewa mendalam. Pria yang dicintainya itu sungguh menggenggam tangan si wanita bernama Susan alih-alih dirinya, bersama senyumnya yang terlihat sangat bahagia saat mengumumkan pernikahan.
Apakah Lucy sedang bermimpi?
"Kau jahat, Paul..."
****
Lucy Florist. Hamilton, South Lanarkshire, Skotlandia. 18 April 1872
Lampu toko telah dipadamkan, hanya cahaya dari lampu jalan yang menerangi Lucy Florist remang-remang. Pemiliknya masih ada disana, membersihkan duri-duri dari batang bunga mawar sembari terus menangis. Sesekali duri mawar itu menusuk jarinya, menambah perih perasaannya yang terlebih dulu terluka.
Paul telah mengkhianatinya, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis dan meratapi nasib percintaannya yang mengenaskan. Lucy tidak berdaya, karena ia bukan siapa-siapa, tak punya kekuasaaan, tak punya apa-apa selain toko bunga kecil warisan mendiang ayahnya. Lalu, alangkah memalukannya jika ia menangis meraung-raung di hadapan Paul yang sekarang hidupnya sudah sangat berubah menjadi orang kaya yang dihormati.
Oh, mungkin itu juga alasannya meninggalkan Lucy dan memilih Susan, wanita yang kemudian Lucy ketahui berasal dari keluarga Davies, keluarga aristokrat Skotlandia.
Lucy kalah jauh, maka ia memilih diam dan menerima saja, meskipun setidaknya ia bisa menuntut penjelasan dari Paul.
Banyak penyesalan yang membuat Lucy menyalahkan dirinya sendiri. Seharusnya Lucy sadar diri ketika Paul mulai jarang berkirim surat padanya sejak tahun lalu. Seharusnya Lucy tidak menunggunya, tidak mengharapkan Paul menepati janji untuk menikahinya.
Namun, di sisi lain tetap saja Paul yang bersalah, meski tampaknya pria itu tak merasa demikian karena kini ia tiba-tiba muncul di depan toko, mengetuk pintu kacanya, dan mengintip ke dalam.
Lucy menghela, menguasai dirinya sebelum beranjak dan membukakan pintu. "Untuk apa kau datang kesini?"
"Lucy, dengarkan aku..."
"Aku sudah mendengar semuanya! Kau bahkan dengan lantang, tanpa ragu sedikit pun mengatakannya di depan orang-orang!" sentak Lucy, amarahnya sudah naik ke kepala.
"Lucy, biar aku jelaskan." Paul memegang kedua bahu Lucy. "Aku sungguh mencintaimu, tetapi aku tidak bisa..."
"Apanya yang tidak bisa, Paul?" Lucy menepis tangan Paul di bahunya. "Apa salahku, hah?!" Lucy kembali menangis. "Aku tahu aku hanyalah orang miskin yang tidak punya apa-apa! Tapi haruskah kau berbuat jahat seperti ini padaku? Kenapa kau tidak mengatakan sejak awal jika kau sudah tidak ingin melanjutkan hubungan denganku?!"
"Lucy... tidak seperti itu..." Paul tetap memohon, namun Lucy sudah tak ingin mendengarkan. "Aku membencimu, Paul! Sudahi saja semua ini!"
BLAM!
Lucy membanting pintu tokonya keras-keras, membuat beberapa kanvas di sekitarnya bergetar, diikuti sang empunya toko yang merosot di balik pintu, menenggelamkan wajahnya disela kedua lutut, menangis sejadi-jadinya.
"Lucy..."
"Lucy aku mohon jangan seperti ini..."
"Pergi, Paul!"
"Lucy ak..."
DOR!
Tangis Lucy seketika berhenti, matanya membulat sempurna. Satu suara tembakan terdengar tak jauh dari tokonya. "A-apa itu..."
DOR!
"Ah!" Lucy tiarap di lantai, menutup kedua telinganya.
BRUKK!
Kini terdengar sesuatu jatuh menabrak pintu tokonya. Lucy lantas memberanikan diri berdiri, memeriksa keluar tokonya setelah suara tembakan itu tidak lagi terdengar. Namun di detik-detik berikutnya, Lucy kembali terjatuh di lantai...
"Paul!!"