
Lucy Florist. Hamilton, South Lanarkshire, Skotlandia. 19 April 1872
Rasa traumanya belum hilang, ketakutan dan bayang-bayang akan sosok Paul di depan pintu toko masih menghantuinya. Seharusnya Lucy berada di rumah sakit, atau lebih baik rumahnya sendiri untuk menenangkan diri, namun yang ia lakukan justru kembali ke tokonya, tinggal di sana sampai tengah malam.
John, Emily, dan Elric telah mengizinkannya melakukan reka ulang kejadian 23 jam lalu dari sudut pandangnya sendiri. Lucy hanya ingin menemukan kepingan ingatannya yang mungkin hilang sejenak karena terlalu terkejut tadi pagi. Lebih penting lagi, Lucy berasumsi bahwa orang yang dilihatnya sebagai pembunuh Paul akan muncul kembali di tempat yang sama.
Siapa yang tahu?
Barangkali pembunuh itu ingin memeriksa tempat bekas perbuatannya. Atau mungkin, Lucy adalah target selanjutnya? Dugaan-dugaan seperti itu berangkat dari intuisi Lucy sendiri, dan untuk sementara disetujui oleh John untuk dibuktikan.
Lucy menghela nafasnya panjang, menenangkan dirinya sendiri di ruangan gelap. Ia duduk di meja kecil tempatnya biasa merangkai bunga bersama Emily, dengan sebatang mawar putih dalam genggaman lemas tangannya. Tidak ada tujuan khusus, meski itu mengesankan bahwa ia masih berduka atas kematian Paul.
Ah, bunga mawar putih itu juga adalah kesukaan Paul, dan mampaknya alam bawah sadar Lucy tetap mengenang pria itu di tengah tuduhan pembunuhan yang tajam ditujukan padanya.
Lucy juga menyesal, karena ia yang tidak membuka pintu untuk Paul lebih lama. Mungkin jika tadi malam Lucy menahan emosinya lebih baik, insiden ini tidak akan terjadi. Terus seperti itu, Lucy sibuk dengan pikirannya. Pandangannya kosong, pendengarannya hampa sebelum akhirnya mendengar sesuatu...
SSAK!
Lucy refleks menoleh. Suara itu terdengar dari sekitarnya, namun ia tidak tahu dari mana persisnya suara itu berasal.
TAP!
TAP!
Suara itu semakin jelas terdengar, kali ini bukan suara yang seperti sepatu yang bersentuhan dengan jalan paving tertutup pasir, tapi sungguh langkah seseorang.
Lucy perlahan beranjak dari duduknya, berjalan mengendap-ngendap tanpa suara ke belakang pintu masuk, mengintip keluar dari sisi kaca pintu bagian atas. Hanya gelap di sana, beberapa lampu jalan bahkan padam, membuat Lucy semakin kesulitan mengamati kondisi di luar. Mau tidak mau Lucy harus melangkah lebih maju, bahkan kini tanpa ragu gadis itu membuka pintu.
KRIEET!
Benar-benar sunyi, sepi. Bekali-kali Lucy mengedarkan pandangannya, namun sungguh tidak ada seorang pun melintas di depan tokonya. Namun, pada akhirnya Lucy memusatkan pandangannya ke bahu jalan sekian puluh meter di depan sana, tepat di bawah lampu jalan yang mati. Disanalah Lucy melihat sosok itu kemarin, dan ternyata...
Malam ini ia kembali muncul di tempat yang sama.
Sosok itu menunduk, membuat Lucy lagi-lagi tak bisa melihat wajahnya.
Lucy membeku di tempatnya, mengepalkan tangan mengumpulkan keberanian. Haruskah ia berlari dan menahan sosok itu sekarang juga? Tapi pria itu membawa senjata di tangannya, persis seperti kemarin. Itu akan berbahaya.
"John, dimana dia?" gumam Lucy, seharusnya John ada di sekitarnya sesuai rencana. "Ya Tuhan..."
"Oh?"
Lucy tak pikir panjang, ia keluar dari tokonya, berjalan cepat setengah berlari tanpa alas kaki di jalanan, mengejar sosok itu yang juga berjalan cepat ke arah timur.
"Berhenti!" Lucy berteriak dengan suaranya yang parau dan bergetar. "Berhenti! Hey!" Lucy terus berlari, mengejar sosok yang sepertinya adalah seorang pria, jika dilihat dari figur belakangnya.
"Kau!"
Sosok pria bersenjata itu tak mendengar, terus saja berjalan menunduk. Lucy hampir meraih ujung mantelnya, namun ia kembali kalah cepat ketika pria itu berbelok ke kanan, ke sebuah gang jalan yang sangat gelap tanpa seberkas cahaya sedikit pun. Lucy bahkan tak dapat melihat jalan tempatnya berpijak, hanya dirinya yang meringis beberapa kali ketika merasakan telapak kakinya tertancap sesuatu yang tajam.
Intuisi menuntunnya.
Satu-satunya petunjuk adalah suara langkah pria itu yang terus terdengar melaju cepat ke depan. Pria itu sudah tak terlihat lagi, namun naluri Lucy mengatakan bahwa jaraknya dengan pria itu kembali menjauh, maka ia mempercepat langkahnya.
"Tolong berhenti!" Suaranya kini menggema.
Lucy heran, mengapa pantulan suaranya sekeras itu? Padahal seingatnya jalan gelap itu dibatasi dinding-dinding bata dan tanah liat yang seharusnya menyerap bunyi. Kenapa kini ia seolah berada di dalam goa?
"Ah!"
"Astaga..."
Lucy terhenti, kakinya terperosok ke dalam sesuatu yang berair, mungkin sebuah kubangan atau genangan yang cukup dalam. Sayangnya, Lucy tidak bisa melihat apa yang terjadi pada kakinya. Tempat itu benar-benar gelap, bahkan kini terasa seperti ruang hampa ketika Lucy menghentikan langkahnya.
Gadis itu memutar tubuhnya, meraba-raba, mendadak kehilangan orientasinya. "Dimana ini..."
TAP!
TAP!
Suara langkah itu kembali terdengar. Namun, berbeda dengan sebelumnya, langkah itu terdengar mendekat padanya alih-alih menjauh seperti tadi. Lucy mulai gemetar, perlahan mundur, menjauh dari kubangan air yang membuatnya terperosok.
TAP!
Suara langkah itu kini berhenti, bersamaan dengan Lucy yang merasakan seseorang berhenti selangkah di depannya. "Siapa kau?"
"Hhhh..."
Itu bukan helaan nafas, tapi lebih terdengar seperti sisa-sisa gaung yang baru sampai usai merambat di ruang kosong. "Kau... yang membunuh Paul?" Lucy bertanya dengan suara bergetar. Karena takut, dendam, dan benci.
Tak ada jawaban, tetapi di detik-detik berikutnya, Lucy membulatkan mata sempurna. Gadis itu membungkam mulutnya sendiri, melangkah mundur tertatih-tatih begitu seberkas cahaya putih remang tiba-tiba muncul bersama dengan kabut tebal, menampakkan sosok itu sepenuhnya.
Lucy benar-benar ketakutan sekarang.
Sosok itu tak memiliki wajah.
Kepalanya hanya terlihat seperti topeng hitam datar tanpa bentuk terutup topi.
Sosok itu melangkah, mendekat pada Lucy, membuat gadis itu mundur. "T-tolong..."
"Siapa kau? Siapa kau?!" Lucy berteriak, suaranya lebih menggema dari sebelumnya. Ia sudah tidak peduli ada apa di belakangnya, ia hanya terus berjalan mundur. Hingga tak sengaja ia tersandung sesuatu dan terjatuh...
KRRK!
"Aaaaah! Tolong!!" Lucy menyeru putus asa.
Entah dari mana asal muasalnya, Lucy tiba-tiba sudah berada di atas jembatan tali nan usang, terombang-ambing di sana. Kedua kaki dan tubuhnya sudah menjuntai ke jurang yang sangat dalam sampai tak terlihat dasarnya. Nyawanya kini di ambang nadir, hanya bergantung pada tangannya yang berpegang pada dua utas tali jembatan.
Sosok tanpa wajah itu berhenti di ujung jembatan, menghadap Lucy yang berada di ambang kematian. Namun tampaknya pria itu memang tak punya belas kasih. Ia mengeluarkan pistolnya, mengarahkannya pada Lucy.
"Jangan..."
"Tolong jangan..." Lucy sudah menangis, pasrah dengan hidupnya yang mungkin akan segera berakhir.
KRK!
DOR!
DOR!
Genggaman tangan Lucy terlepas, tubuhnya terjatuh ke dalam jurang berkabut. Dalam sepersekian detik, kedua matanya masih menangkap sosok penembaknya itu di ujung jembatan. Lucy menjulurkan tangannya, tapi itu tak berarti apa-apa karena semuanya terlanjur hampa, sunyi, dan gelap.