
St. Thomas Medical Care, North Carolina, USA. 23 Juni 2020
"Laura!" panggil seorang pria berjaket denim. Ia setengah berlari ke arah seorang gadis yang berdiri di depan kaca sebuah ruangan. "Bagaimana kondisi Ruth? Apakah ada kemajuan?" tanyanya.
Wanita bernama Laura itu menggeleng. "Belum. Dia hanya terus seperti itu. Kondisinya tak kunjung membaik."
"Ya Tuhan..."
"Apa yang membawamu kesini? Apakah tugasmu sudah selesai? Aku belum mendengar berita bahwa orang yang dikejar Ruth tertangkap."
"Orang itu sudah tertangkap, baru saja. Tadinya aku ingin memberitahu Ruth karena dia pasti akan sangat senang. Tapi sayangnya dia masih belum sadar." Pria itu menatap wanita yang terbaring di brankar ruang ICU rumah sakit itu sendu. "Seharusnya dia tidak bekerja sekeras itu. Aku menyesal tidak menghentikannya."
"Sudahlah, Harold. Semua sudah terjadi."
Harold, pria itu tersenyum. "Sepertinya kita harus kembali ke kantor unit sekarang. Austin akan segera melakukan konferensi pers setelah investigasi orang itu selesai malam ini."
"Baiklah. Ayo."
Kedua orang itu akhirnya pergi, meninggalkan wanita yang mereka sebut sebagai Ruth tadi sendirian di ruang ICU. Sudah hampir satu bulan Ruth terbaring di sana. Matanya memang belum terbuka, namun sesungguhnya ia mampu mendengar suara-suara alat medis di sekitarnya, pun dokter dan perawat yang mengunjunginya setiap hari.
Ruth terjaga di alam bawah sadarnya, namun ia tidak tahu apa yang terjadi. Ruth bingung, jiwanya terombang-ambing, terperangkap dalam gelap dan terang yang silih berganti. Ruth hanya terus berjalan, berlari, dan berakhir di tempat yang sama. Ruth frustasi, ia semakin lemah. Ruth ingin berteriak, namun sayang ia bahkan tak sanggup mendengar suaranya sendiri.
"Keluarkan aku dari sini..."
"Seseorang, tolong aku..."
****
Ruby Avenue, North Carolina, USA. 28 Juni 2020
Kesibukan terasa di sebuah rumah dua lantai malam itu. Lima orang datang, menyapa sang pemilik rumah yang turut menyambut mereka hangat di depan pintu utama. Pemilik rumah itu adalah sepasang suami istri berusia enam puluh tahunan. Keduanya memang terkenal ramah di komplek perumahan itu, tak sekali dua kali mengundang banyak orang untuk sekedar makan malam dan meramaikan rumah besar mereka.
"Silakan masuk, Harold, Laura."
"Terima kasih, Paman. Sudah lama sekali tidak berkunjung."
Ramah tamah itu berlanjut sampai ke dalam, dimana belasan menu makan malam telah tersaji di atas meja. Anna dan Jose selaku memilik rumah memulai acara makan malam itu, diselingi perbincangan santai di antara mereka.
"Kami sangat berterima kasih pada kalian, karena akhirnya orang itu tertangkap juga setelah dikejar-kejar oleh Ruth selama berbulan-bulan," ujar Jose.
"Ya, Paman. Kami juga sangat bersyukur karena tugas panjang ini telah selesai. Meskipun... Ruth belum bisa berkumpul bersama kita di sini."
"Aku berharap yang terbaik untuk Ruth, Paman, Tante. Begitu dia kembali, dia pasti akan menerima banyak sambutan dan penghargaan karena dedikasinya. Kalian pasti sangat bangga padanya."
"Ruth selalu menjadi kebanggaan kami," ujar Anna kali ini. Ia menambahkan beberapa potong daging ke piring Laura dan Harold. "Lalu bagaimana kabar pelakunya itu? Apa hukuman yang diterimanya?"
"Pembunuhan yang dilakukannya termasuk dalam kategori berat dan terencana, Tante. Jaksa menuntutnya dengan hukuman mati atau penjara seumur hidup."
"Ah, kurasa itu setimpal, meski nyawa-nyawa itu tak akan kembali."
"Benar, Tante. Hanya itu hukuman yang para penegak hukum berikan padanya."
"Ngomong-ngomong kemana Emma dan Liam? Mengapa mereka tidak ada di sini?" Harold sedikit mengganti topik pembicaraan.
"Mereka sedang berkemah di Las Vegas, mungkin sekalian ingin melepas penat. Belakangan ini mereka sangat sedih dan depresi karena merindukan Ruth."
Kelima orang itu paham, ikut merasakan bagaimana sedihnya keluarga yang selalu hangat itu ketika salah satu anggotanya berjuang melawan maut di ruang ICU sebulan terakhir. Dokter bahkan telah memvonis bahwa cedera otak yang dialami Ruth membuatnya tak memiliki banyak harapan untuk bertahan hidup. Saat ini, keluarga Ruth hanya mengharapkan keajaiban dari Tuhan.
DRRT!
DRTT!
"Oh, sebentar."
"Halo?"
"..."
"Ya. Apa terjadi sesuatu pada anakku?" Jose terdengar panik, membuat seluruh perhatian meja makan tertuju padanya. Jelas itu adalah panggilan dari rumah sakit.
"..."
"..."
"Apa? Ya Tuhan!"
"Baik. Kami akan segera ke sana."
****
St. Thomas Medical Care, North Carolina, USA. 28 Juni 2020
Jose dan Anna tak melepaskan tautan tangan mereka, berjalan dengan perasaan tak menentu menuju ruang rawat Ruth. Anna bahkan sudah hampir menangis di jalan ketika Jose meneruskan pesan dari seorang perawat di rumah sakit yang mengatakan bahwa Ruth telah sadarkan diri.
Sepuluh menit kemudian, mereka akhirnya sampai di ruangan tujuan. Tanpa berlama-lama lagi, Anna lekas berlari, berhambur pada Ruth, memeluk anaknya erat-erat. Ruth telah membuka matanya, meskipun ia masih terlihat bingung di atas brankar tempat tidur.
"Ruth..."
"Ya Tuhan, bagaimana kabarmu, Sayang?" Anna mengecup dahi Ruth sayang, bersamaan dengan Jose yang juga memeluk anak kesayangannya itu. "Kami merindukanmu, Ruth. Syukurlah kau akhirnya kembali."
Hening kemudian, hanya ketiganya yang saling menatap, utamanya Ruth yang menatap kosong kedua orang tuanya. Gadis itu terlihat sangat bingung, membuat Anna akhirnya bertanya, "apakah kau baik-baik saja? Oh, baiklah, aku akan memanggil dokter," ujarnya.
Anna bergegas keluar ruangan, menyisakan Jose di sana. "Apa ada yang sakit? Kenapa kau terlihat bingung? Kau pasti terkejut, Ruth."
Ruth menggeleng pelan. "Kau... siapa?"
Jose terdiam.
"Aku... berada di mana? Tempat apa ini?" Ruth mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, dahinya mengerut. Ia sungguh tak sedang bersandiwara dengan ekspresi itu.
Jose lantas mendekat, mensejajarkan tingginya dengan Ruth yang terbaring. "Ruth, ini aku, Jose, ayahmu. Bagaimana bisa kau tidak ingat?"
"A-ayahku?" Ruth sedikit terbata-bata berbicara. "Aku... tidak ingat. Aku tidak... mengenalmu."
"Kau..."
"Oh, Dokter." Jose tak melanjutkan percakapan mereka, karena dokter dan perawat sudah datang bersama dengan Anna yang tadi memanggil mereka.
"Ada apa?" Anna melihat ekspresi Jose yang berubah.
Jose hanya menggeleng. "Ruth bersikap aneh. Aku tidak mengerti."
"Nona Ruth Madison, apakah kau merasakan sesuatu yang sakit di kepalamu?" tanya sang dokter kemudian usai memeriksa kondisi vital Ruth.
"R-Ruth Madison?"
"Ya, Nona Ruth Madison, kau telah koma selama lebih dari satu bulan. Sekarang, apakah kau merasakan sesuatu? Katakan padaku, apa saja." Dokter itu mengulang pertanyaannya lebih seksama, namun Ruth lagi-lagi tampak bingung.
Ruth memejamkan matanya sejenak. "Tidak. Siapa itu Ruth Madison?"
"Namaku adalah Lucy Ainsley."