This Villain Wants To Be The Empress

This Villain Wants To Be The Empress
- 06 -



Setelah jamuan berakhir, sebagian besar dari peserta yang tak lolos pulang ke kediamannya masing-masing dan sebagian ada yang menginap. Estera termasuk orang yang menginap di Istana.


Ia kini berada di taman Istana. Menatap malam dengan perasaan campur aduk. Angin berhembus seolah ingin membuat perasaan Estera semakin bercampur aduk.


Hembusan nafas pun sesekali keluar dari bibir kecil milik Estera.


"Huh... hari ini banyak sekali kejutan. Sebenarnya apa sih yang kau rencanakan sampai-sampai aku harus menjadi pelayan?".


Estera memejamkan mata dan membiarkan dirinya merasa di tabrak angin malam yang cukup dingin. Lamunannya itu tak bertahan lama.


"Ini, pakailah".


Seseorang bicara pada Estera di belakang, sontak Estera berbalik dan melotot melihat orang yang baru saja bicara di belakangnya.


"Yang mulia Kaisar C-cassius..." jawab Estera dengan sedikit terbata.


Cassius pun tersenyum tipis. Estera melihat ke pinggangnya dan terlihat sebuah jubah Kaisar terikat di pinggang dan menutupi bagian belakangnya.


"Kau sepertinya sedang datang. Pakai itu dulu, setelah itu kau bisa mencucinya." kata sang Kaisar Cassius yang sepertinya sadar apa yang dipikirkan Estera.


Estera menelan ludah, "t-terima kasih yang mulia, saya akan mengembalikan ini secepatnya".


"Tak perlu".


Hening.


"Yang mulia? Apa anda tak ingin kembali? Suhu sudah mulai turun. Lumayan dingin di sini." ucap Estera sambil sedikit melirik pada Kaisar yang lebih tinggi darinya.


"Tidak, lantas bagaimana denganmu?"


"Saya tak apa yang mulia".


Kaisar Cassius melirik Estera dari atas hingga ke bawah seperti sedang mengidentifikasi seseorang. "Kau sepertinya mirip dengan orang yang ku kenal?" tanya Cassius.


"Ah, itu, saya Afta Dervixon dari keluarga Baron Dervixon. Mungkin maksud yang mulia, orang yang anda kenal tersebut adalah ayah saya. Kebetulan memang ayah saya sering mendapatkan pelanggan dari keluarga kekaisaran." jawab Estera dengan rinci. Semoga saja Cassius tidak begitu curiga pada Estera.


"Pantas. Tapi... wangi mu tak asing bagiku. Sepertinya aku pernah mencium wangi yang sama enam tahun yang lalu".


Sepertinya Cassius mulai menyadari siapa aku! Astaga! Insting seorang kaisar kuat sekali... batin Estera.


"Eh? Mungkin maksud anda saat debutante yang mulia?" balas Estera pura-pura polos tak mengerti arah perkataan Cassius.


Cassius mengernyitkan dahinya dan menatap sedikit curiga. Namun ekspresinya kembali seperti semula setelah beberapa detik.


"Ah, mungkin? Wangi mu mirip Estera..."


Deg...


Estera terbelalak kaget dan langsung menatap lantai di bawahnya. Ia terkejut karena tiba-tiba Cassius mengungkit namanya tanpa aba-aba yang jelas.


Bajingan! Bagaimana ini!? Ia mengingatku!? Lantas mengapa janji yang ia ucapkan tak sedikit pun ia ingat!? Batin Estera.


Cassius kemudian berpindah posisi tepat di samping Estera. Cassius menatap taman luas dan menghembuskan nafas perlahan. Ia pun sesekali mengerjapkan mata dengan cepat kemudian memijat pelipisnya.


"Kau mungkin tak kenal dengannya. Kau tau? Ia gadis yang manis, aku mengenalnya karena ibunya adalah seorang Augur di kuil ibukota. Dan kau tau apa? Ayahnya itu adalah seorang bandit, ayahnya jahat sekali padanya, jadi aku menolongnya sebagai tanda terimakasih pada ibunya yang selalu menafsirkan mimpi lewat burung untuk keluarga kekaisaran." jelas Cassius yang kemudian menatap Estera dengan senyum tulusnya.


Tidak! Tidak begitu! Manipulatif sekali kau Cassius! Jika aku benar-benar Afta maka aku akan percaya-percaya saja pada kata-kata tak bermoral mu, tapi aku adalah orang yang kau bilang bahwa kau telah menolongnya! Sebenarnya otakmu itu ada dimana!? Batin Estera.


Estera terus membatin Cassius dengan kata-kata kasarnya. Ini aneh, ia yang suka ia pula yang merasa kesal.


"Sudah malam. Sebaiknya kau pergi ke kamar. Ini perintah".


Mendengar kalimat perintah, Estera langsung memberi salam dan pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun pada Cassius tentang cerita 'Estera' dari sudut pandang Cassius sendiri.


"Kenapa dia diam saja? Apa dia tau sesuatu? Aku sangat kenal wangi ini, tak banyak yang memakai wangi ini karena sangat sulit mendapatkan bunga Camelia atau pun minyak wanginya di ibukota. Akan tetapi Estera memiliki ayah yang merupakan keturunan Barckif, di tempat asalnya banyak sekali bunga Camelia. Tidak salah lagi, pasti tuan Baron sangat kaya raya, aku harus segera menemui Viktor." ucap Cassius sebelum akhirnya ia beranjak pergi entah kemana.


...***...


Sebelum beranjak tidur Estera sempatkan mengintip jendela, kalau-kalau jika 'dia' mengirim sesuatu pada Estera. "Sepertinya tidak? Aku harus menjalani semua seperti biasa".


Satu kamar yang ditempati para peserta ini berisi empat kasur individu. Estera kembali ke tempat tidurnya dan baru menyadari sesuatu. Ada yang mengkilap seperti kaca dari sela-sela tasnya.


"Aku melupakan sesuatu". Estera pun hendak ingin mengambil tasnya.


"Afta! Apa kau bisa membantuku?" sapa seseorang yang membuat Estera mengurungkan niatnya.


Estera berbalik menatap orang yang memanggilnya. Cessa...


"Apa yang bisa ku bantu, Cessa?" tanya Estera pada Cessa.


"Begini, aku sangat ingin makan pai labu. Bisakah kau meminta pelayan untuk mengambilkannya untukku?" pintanya dengan ekspresi orang meminta belas kasihan.


Gila, kau datang disaat yang tidak tepat. batin Estera.


"Mengapa harus aku? Ada Anin dan kakakmu Secca".


"T-tapi kan Anin ada jadwal berdoa malam, kakakku pasti akan mengamuk kalau aku menyuruhnya. Belum lagi kakiku masih sakit bekas kepleset tadi. Aku mohon ya??"


Untuk kali ini saja. batin Estera.


Estera mengangguk dan kembali beranjak pergi ke dapur untuk mengambil pai yang diminta Cessa.


Ceklek.


Cessa menyaksikan adegan pintu tertutup perlahan. Kemudian ia berbalik dan mendekati kasur Estera. Ia berjongkok dan meraih tas milik Estera.


"Maafkan aku nona Barckif, tapi tidak untuk kali ini." ucapnya yang kemudian merongoh tas itu dan mengambil cairan sianida di dalam botol kaca.


Cessa menggelengkan kepala. "Anda sangat ceroboh, nona. Untuk kali ini tak akan saya biarkan tangan anda ternodai".


Cessa buru-buru membereskan bekasnya dan menaruh cairan lain dalam botol kaca yang baru. Ia meletakkan cairan baru itu di dalam tas Estera. Cessa pun kembali ke kasurnya dan menyembunyikan cairan sianida itu.


Sementara itu seseorang sedang menguping perkataan Cessa dari belakang pintu. "Apa-apaan ini? Apanya yang ceroboh?"


Suara ketokan pintu membuat Cessa bangun dari tempat tidurnya dan membukakan pintu untuk orang yang mampir ke kamarnya.


"Eh? Anda siapa?" tanya Cessa bingung.


"Oh, maaf sebelumnya. Perkenalkan saya Perlaa Wrington, saya adalah pelayan pribadi ibu suri Elua." gadis itu memperkenalkan dirinya dan memberi salam pada Cessa. Mau tak mau Cessa pun memberikan salam kembali pada Perlaa.


Untuk apa bawahan ibu suri Elua di sini? batin Cessa.


"Aku Cessa Ye Virgilla. Dari margamu... apakah kau saudari Adnan?"


Gadis bernama Perlaa itu mengangguk, "benar, saya adalah kakak perempuan satu-satunya Adnan. Apa anda mengenalnya?"


"Tentu! Hei, bilang pada adikmu jangan kurang ajar padaku!" kesal Cessa dengan nada bercanda.


Perlaa tertawa miris. "Anda pun tak sopan pada nona Barckif, kan? Apa yang baru saja anda lakukan di dalam?"


Deg...


"Maksudmu apa? Nona Barckif? Siapa dia?" Cessa berpura-pura tidak mengenal nona Barckif, padahal jelas-jelas tadi ia membahasnya.


"Tak perlu pura-pura bodoh. Apa hubunganmu dengan nona Barckif?" tanya Perlaa sekali lagi.


Cessa mengernyitkan dahinya. "Kau datang tengah malam hanya untuk bertanya apa aku mengenal orang yang bahkan aku tak pernah dengar namanya".


"Heh? Sebenarnya anda ini suruhan siapa? Brigitta? Dante? Oh! Atau permaisuri Maya?"


SLAPP!!


"Jaga omonganmu." Emosi Cessa mulai tak terbendung sampai ia rela menampar orang yang baru pertama kali ia temui.


Perlaa tersenyum puas dan meraba bekas tamparan di pipinya. "Sepertinya saya berhasil menemukan mata-mata. Hadiah apa yang akan saya dapatkan yah? Jika saya berhasil menyandera anda karena anda telah memata-matai nona Barckif".


Cessa menggertakkan gigi-giginya. "Jika aku memata-matainya, lantas apa hak mu menahan ku? Apa kau bawahannya Dante!?"


"Sayang sekali nona manis. Si keparat Dante itu tak ada sangkut-pautnya dengan saya. Coba tebak, saya ada di pihak mana?".


"Mau ku menebaknya pun aku tak perduli. Tapi kalau begini..." Cessa mengambil ancang-ancang dan menarik belatinya dari kantong celana, "kau tak ada pilihan untuk hidup"


"Woah, tenang lah, anda ini berlebihan, haha".


"Kenapa? Kau takut nona Perlaa?" ejek Cessa.


Perlaa menggelengkan kepalanya dan melirik ke arah lorong. "Sebaiknya anda sembunyikan benda itu. Nona Barckif sedang menuju ke sini".


"Apa?" Cessa buru-buru memasukkan kembali belatinya dan benar saja, Estera mulai terlihat sedang berjalan di lorong menuju kamarnya.


"Saya akan kembali lagi. Sebaiknya anda tutup mulut, saya tau rahasia gelap anda."


Perlaa akhirnya pergi ke arah berlawanan membawa sejuta pertanyaan di kepala Cessa. Tapi pada akhirnya Cessa tak ingin memikirkannya lagi, setelah ini ia harus melapor pada atasannya.


Jika setelah ini dia akan sering bertemu denganku dan nona Barckif, bisa-bisa rencana ku dan atasan akan gagal. Aku harus segera memberitahukan ini pada tuan. Batin Cessa.


"Cessa? Hei Cessa?"


"Oh! Afta! Maaf aku melamun. Sepertinya saking kelaparannya aku, pandanganku jadi kosong".


"Sudahlah, cepat makan, karena ini masih hangat. Tadi aku bertemu Anin di jalan, sepertinya ia sudah selesai doa malamnya. Seharusnya ia udah sampai di sini, tapi kenapa hanya ada kau?"


Cessa mengangkat kedua bahunya dan masuk ke dalam kamar meninggalkan Estera sendirian di depan pintu. Dasar tidak tau diri, pikir Estera.


Untung saja tadi aku pergi mengambil pai. Jadi aku ada alasan mengambil surat itu dekat danau istana. Lagi pula burung ceroboh itu malah seenaknya masuk tanpa sihir perlindungan. Huh. batin Estera.


...***...


"Jalur kuda. Skakmat. Aku menang lagi".


"Sudah lah, Dante. Ini sudah tengah malam".


"Yang bilang ini adalah petang siapa, Wirra?"


Duke Rigvsen kemudian menyeruput kopi hitamnya dibarengi tatapan puas akan kemenangannya di permainan catur ini.


"Mengapa kau bangga sekali?" tanya Wirra cetus.


"Aku senang bisa mengalahkan mu dalam permainan otak. Apa kau tak terima kekalahan mu?"


"Ish, kau menjengkelkan sekali Dante. Kalau saja ini bukan wilayah tanpa sihir, mungkin aku sudah mengutukmu menjadi katak." keluh kesah Wirra yang tidak terima kekalahannya di permainan ini.


Duke Rigvsen kembali menyesap kopi hitamnya. "Kau kan tau. Wilayah ini dibuat anti sihir karena permaisuri terdahulu. Dan sampai sekarang pun masih dipertahankan agar permaisuri terdahulu itu tak menghancurkan wilayah ini".


"Memang apa spesialnya wilayah ini?"


"Wilayah ini adalah wilayah pertama yang di huni keluarga kekaisaran Cransrifgh. Tapi mereka bukan yang pertama datang ke sini, ada suatu keluarga yang telah menempati wilayah ini terlebih dahulu. Tanpa ada aba-aba panjang, keluarga Cransrifgh membantai keluarga yang katanya adalah leluhur dari permaisuri terdahulu ini. Tapi sampai sekarang belum ada kepastian nama keluarga yang dibantai tersebut, yang jelas ini adalah cerita yang beredar dan masuk akal. Wajah permaisuri terdahulu agak mirip dengan tengkorak dari keluarga yang sempat di bantai keluarga Cransrifgh itu".


Wirra mengangguk, "perebutan wilayah bisa membuat siapa saja hilang akal bakal dilakukan dengan cara yang tidak masuk akal".


"Benar, apalagi kita termasuk orang-orang yang seperti itu".


Wirra terdiam kemudian menanyakan sesuatu pada Duke Rigvsen. "Jika permaisuri Maya memiliki sihir segitu besarnya, seharusnya ia bisa bertahan hingga sekarang, kan?".


"Aku pun berpikir demikian. Tapi selama ini tak ada tanda-tanda atau pun saksi yang pernah melihatnya langsung setelah kejadian tersebut".


"Oh? Flori moarte? Kejadian yang menimpa wilayah ini".


"Ya, mari kita kembali, aku mencium aroma orang lain di sekitar sini." ajak Duke Rigvsen.


"Kau memang mempunyai penciuman yang sangat tajam, Dante. Aku salut padamu".


...TBC...