
Tepat tengah hari semua calon pelayan berkumpul di aula terbuka yang telah disediakan. Aula yang mengambil tema bunga sweet alyssum putih dan ungu, bunga ini memang selalu menjadi pertanda musim gugur telah tiba. Warna dan bentuknya membuat siapa saja merasa tenang saat melihatnya.
Di sini, semua dikumpulkan dan dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok berisikan 9 orang campur perempuan dan laki-laki. Kebetulan Estera satu kelompok bersama Cessa, dan 7 orang lainnya.
"Dengar, semua kelompok harus menjawab pertanyaan-pertanyaan dikertas yang telah disediakan, dan membuat teh sekaligus cemilan atau pun kue yang pas untuk dihidangkan bersama teh tersebut. Setiap kelompok wajib memiliki tiga macam teh dan cemilannya masing-masing. Sebelum pukul lima sore, semua harus berkumpul kembali di sini. Sekarang waktu sudah menunjukan pukul satu siang. Jangan membuang waktu lebih banyak, semua masuk dapur tenda." ucap utusan Kaisar sembari mengibarkan bendera dengan lambang keluarga kekaisaran, tanda acara selanjutnya terbuka.
Estera dan kelompoknya mendapatkan tenda 5. Tenda yang letaknya persis di samping danau yang dipenuhi mawar dan katak hijau yang lucu!
Sesampainya di sana, mereka bersembilan masuk bersamaan dan melihat-lihat peralatan dan bahan-bahannya. Peralatannya lengkap bersama dengan tempat pemanggangan, dan jangan lupakan beberapa bahan; seperti beberapa macam pucuk teh siap masak, tinggal mereka saja yang meracik sendiri jenis teh yang akan mereka buat. Cessa memulai percakapan dengan mengabsen semua anggota kelompoknya.
"Baiklah! Aku akan mengabsen kalian semua! Mari kita bekerja sama!" ucapnya sembari mengepal tangannya ke atas. "Anindiea Vinde Ambrogio!"
Orang yang dipanggil pun menjawabnya dengan jari manis kirinya diangkat setinggi bahu. Cessa yang melihatnya mengangguk, "Adnan Wrington!"
"Aku." sahut Adnan.
"Aku seperti tak asing dengan nama itu. Dan... Secca Ye Virgilla... oh kakak! Pastinya dia sudah ada di depanku." Secca memutar malas bola matanya, jika bukan karena adiknya itu memaksa dirinya untuk ikut ujian ini, ia pasti akan menjadi seorang Lady yang aktif dalam kehidupan sosialita.
"Mimia Aleen".
"Ya." jawabnya cetus. Ah, sepertinya Mimia orang yang selalu cemberut dan cuek. Tapi ia tetap terlihat cantik dengan mata magenta itu! Pikir Cessa.
"Arizette Ja Wiriten? Heh, apa kau suka menulis!?" tanya Cessa pada Arizette dengan excited.
Sementara itu sang empunya nama hanya menghela kasar nafasnya, "Witten, aku dari keluarga Witten bukan Wiriten. Apa kau tidak bisa membaca?" ucapnya malas.
Cessa mengangkat kedua bahunya tak peduli, memang cocok orang seperti Cessa ini dilempar ke dalam jurang, pikir orang-orang di samping Cessa juga termasuk kakaknya.
"Jason Van Trier! Aku kenal kau Jason! Kitakan sahabat!" Cessa melihat Jason bermaksud memberikan kedipan mata kanannya.
"Maaf? Aku tak mengenalmu. Cepatlah mengabsen, waktu kita terbuang karena kau." jawaban dingin dari Jason memang sedikit menusuk hati kecil milik Cessa. Ya memang karena hanya Cessa saja yang mengenalnya saat debut.
"Kau galak sekali. Dan Carrie De Gryfon?".
"Haha! Sekarang giliranku! Halo semua, aku Carrie! Semoga kita bisa bekerja sama!" satu lagi orang dengan enerjik penuh. Cessa yang melihat semangat Carrie pun ikut bersemangat. Sepertinya ia telah menemukan kembaran yang hilang!
"Yo, aku suka sekali semangat membaramu, Carrie! Lain kali kita harus bersekutu bersama! Dan yang terakhir Afta Dervixon".
Kini giliran Estera yang menjawab, "aku di sini".
Setelahnya mereka semua mengobrol untuk lebih mendekatkan diri. Adnan yang Estera pikir memiliki tulang lunak, ternyata bisa ditepis dengan suara bassnya. Mimia, Jason, dan Secca sepertinya bukan orang yang suka bersosialisasi. Anin terlihat cantik dan baik, dia sepertinya akan cocok dengan sifat Afta. Sementara bocah tengil Cessa dan Carrie terlihat sangat ekstrovet. Arizet? dia aneh.
Orang-orang di sini memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Cessa dan Carrie sangat aktif, Jason, Secca, dan Mimia sepertinya bukan seseorang yang mudah untuk diajak berteman, Arizet aneh, Adnan kalau dibujuk sedikit sepertinya akan mudah berteman dengannya, dan Anin dia seperti Afta. Aku harus mengikuti sifat Anin, sepertinya dia memang mirip dengan Afta. batin Estera.
Cessa menaruh kertas tersebut ke atas meja dan membaca beberapa pertanyaan. Ada 9 kertas tentang pertanyaan pribadi, sepertinya ini harus diisi masing-masing anggota. Dan ada satu kertas dengan pengetahuan umum, seperti bagaimana cara membuat kue yang memiliki harum mawar! Ya, akhir-akhir sedang ramai kue kering yang memiliki harum khas bunga mawar, dan kue itu sering habis di toko-toko. Maka dari itu orang-orang mencari resep sendiri tentang kue kering berbau mawar ini.
Cessa memberikan masing-masing selembar pada semua anggota. Estera yang mendapat giliran langsung saja membacanya dalam hati.
Umur? Nama kepala keluarga? Oke, lalu alasanku mengikuti ini? Aku harus jawab apa, ya?
"Kalian liat pertanyaan ini? Alasan mengikuti ujian ini? Apa kalian akan menulis ikut karena uang yang ditawarkan begitu banyak?" tanya Carrie pada yang lain.
Anggota lain ada yang menggeleng dan ada yang mengangguk. Cessa termasuk yang mengangguk, ternyata dia pecinta uang juga, ya. Sementara kakaknya Secca menggelengkan kepalanya, kakak beradik terkadang tidak sehati.
"Setiap orang memiliki alasan tersendiri. Jika aku mengucapkannya bukankah kalian bisa meniruku? Apalagi kita tak bisa menulis alasan hanya karena uang, kan? Itu sama saja kita tak ada niat dan telaten untuk menjadi pengabdi keluarga kekaisaran, kita bisa saja tersingkir karena itu. Jadi sebaiknya tak usah dibeberkan, ya?" kata Estera sembari tersenyum tulus.
Semuanya mengangguk setuju, termasuk Carrie. Sepertinya ia salah memilih topik. Setidaknya sekarang Estera harus memikirkan alasan apa yang harus ia tulis. Mana mungkin ia menulis ingin merebut Cassius dari Brigitta, bukan? Atau bahkan membunuh anaknya Brigitta. Memang sepintas dipikiran Estera untuk menulis dengan bahasa formal dan alasan klasik karena ia berniat untuk menjadi pelayan kekaisaran, tapi jika ia menulis itu kesempatannya untuk lolos sangat minim. Karena hanya orang tak punya pemikiran luas yang hanya menulis seperti itu.
Jika aku menulis karena Baron Dervixon yang menyuruhku menjadi pelayan, apa tidak terdengar rendahan, ya? Baron Dervixon itu kaya, tak mungkin juga aku harus menulis karena membutuhkan uang. Tak ada jalan lain selain karena aku penggemar Brigitta, tapi itu terdengar aneh, sih. Atau aku menulis karena aku sedang mencari pekerjaan di ibukota dan ini adalah perkejaan yang direkomendasikan oleh Duke Rigvsen? batin Estera.
Estera fokus dipojokkan dengan kertasnya kemudian ia tersadar jika sedari tadi Cessa meliriknya.
Apakah Cessa mencurigaiku? tanya Estera dalam hati.
Estera melambaikan tangan pada Cessa, Cessa tersenyum dan kembali menulis diselembaran kertasnya. Sepertinya ia sadar kalau ia ketahuan sedang melirik kearah Estera terus menerus. Adnan yang dari tadi diam pun ikut melirik Cessa dan Estera bergantian dan tersenyum kecut. Apa yang ia pikirkan sekarang? Menatap orang kemudian berekspresi seperti itu, apakah ia iri atau menyukai salah satu dari orang yang ia tatap?
Salah satu dari anggota mengangkat suara pertama setelah 5 menit. "Jika kita sudah menyelesaikan pertanyaan individu, sebaiknya kita juga menyelesaikan yang kelompok. Mari kita bagi jadi dua kelompok lagi. Sebagian akan menjawab pertanyaan dan sebagian membuat tehnya. Kebetulan aku membawa kertas resep teh enak bersama dengan cemilannya".
Yang lain menatap Adnan dengan senyum senang, bahkan Cessa sempat-sempatnya untuk bertepuk tangan bangga dengan Adnan. "Wah! Adnan kau hebat, kau kepikiran untuk membawa resep atau memang ada orang dalam?" tanya Cessa pada Adnan.
Adnan bingung harus jawab apa, karena memang ini barang yang dipaksa untuk dibawa oleh ibunya. "Ibuku menyuruhku membawanya, ia tau hal ini karena ia juga bekerja menjadi pelayan di sini juga".
Jason yang tadinya hanya fokus dengan kertasnya, kini ia beralih fokus ke Adnan dengan senyum liciknya. "Senangnya memiliki anggota dengan kemampuan orang dalam. Jangan sia-siakan itu, curang sedikit tak apa".
Carrie pun ikut menimpali. "Betul! Aku bingung soal perteh’an ini. Jadi mari kita curang, dosanya mari kita tanggung sendiri-sendiri".
Mimia yang dari tadi diam langsung angkat suara juga. "Aku bukan orang yang percaya pada tuhan atau pun dewa. Jadi bisakah kau mewakiliku untuk mendapatkan dosa?"
"Kau pikir aku ini tempat penyimpanan dosa??"
Semuanya tertawa kecil melihat ekspresi kaget Carrie. Estera pun ikut tertawa kecil, kemudian ia mengarahkan pandangannya pada Anin. Anin sedari tadi hanya diam. Kenapa dia?
"Anin, apa kau baik-baik saja?" tanya Estera pada Anin. Anin menatap Estera dan mengangguk.
"Aku tidak apa kok. Aku hanya terpikir soal dosa, keluargaku taat agama. Apa bisa ya aku berbuat curang seperti ini?" tanya Anin balik pada Estera.
Ah, ibuku pun seorang Augur. Tetapi aku malah suka membunuh orang. batin Estera.
"Anin, jika kau berharap untuk melayani keluarga Kaisar dengan sepenuh hati, aku yakin dewa tak akan marah. Aku tak membenarkan kebohongan seperti ini, tapi Anin, bisakah kau egois sedikit tentang perasaanmu? Kau tak ingin membuat para anggota lain kecewa dan gagal karena kau membeberkan ini pada utusan Kaisar, bukan?" nasihat Estera membuat kepala Anin ribut sendiri.
Afta benar, apa aku egois sedikit, ya? Ibuku pun tak tau. Kali ini, dewa tolong maafkan aku, aku janji hal ini tak akan terulang lagi. Afta sedikit membuka pikiran sosialku. batin Anin.
Anin mengangguk tanda ia setuju. Estera merasa tenang kembali, setidaknya berkat Adnan ia dan yang lain mendapat kemudahan untuk hal ini. Sepertinya ia salah menilai Adnan tulang lembek. Ternyata ia keren juga dapat bocoran dari orang dalam langsung! Semoga Duke Rigvsen membantu Estera juga di ujian selanjutnya.
...***...
"Secca! Tolong berikan aku coklat itu!"
"Cessa! Bisakah kau sopan sedikit dan memakai kata 'kakak' padaku!? Aku ini lebih tua darimu!"
Teriakan kakak beradik yang sedang meributkan hal tak penting. Padahal jarak mereka hanya satu meter, apakah mereka tak bisa akur di saat seperti ini? Yang satu tak tau diri dan yang satu gampang tersinggung, khas sekali memang.
"Ya ampun, tulisanmu jelek sekali, Adnan. Sini biar aku saja yang menulis." kali ini sahutan dari seorang Jason yang emosi melihat tulisan Adnan pada kertas pertanyaan kelompok. Tulisannya sedikit keluar batas dan ada sedikit coretan karena Adnan salah menulis
Adnan yang tersinggung langsung mengambil kertas yang sedang ia kerjakan itu. "Heh, enak sekali bicaramu seperti itu. Apa kau tidak tau kalau aku ini lulusan sekolah Cexillion? Meski tulisanku seperti ini, setidaknya aku ini pintar." sahutnya kembali.
Mimia yang mendengar ucapan Adnan sedikit bingung. "Apa korelasi antara tulisan jelek dan sekolah di Cexillion?"
"Nah, kau lihat Mimia. Kau merasa orang ini aneh, bukan?" timpal Jason.
Adnan yang tak terima hanya menghentakkan kaki jenjangnya. Emosi dengan Mimia dan Jason yang selalu mengejeknya sedari awal ia menulis. Sementara Anin hanya bisa menggelengkan kepala sembari memanaskan air untuk teh. Lalu Carrie dan Arizet? Carrie sedang mengaduk adonan kue dan dibantu Arizet yang membaca bahan-bahan yang harus dicampur kedalam adonan. Sementara Estera? Ia menunggu di depan pemanggangan yang menyala, ia bingung harus berbuat apa.
Bisa dibilang sekarang tenda 5 cukup berisik. Sampai-sampai ada pengawal yang memperingatkan mereka dari luar untuk diam, dan mereka yang berisik akhirnya diam dan menyalahkan satu sama lain.
Estera yang sedari tadi fokus pada pemanggangan langsung sadar bahwa kue pertama yang sedang dipanggang itu telah matang. "Hei! Kue ini sepertinya sudah matang!"
"Eh, iya? Ini sudah tigapuluh menit? Coba kau cicipi dulu, Afta." ucap Anin sembari mengukur teh yang akan ia tuangkan pada cangkir.
Estera membuka tutup pemanggang dengan kain yang diberikan Arizet. Ia membukanya perlahan sembari membiarkan asap yang masih terkumpul di dalam pemanggang itu keluar. Harum wangi madu dan kue yang cantik membuat semua yang disitu menatap loyang kue yang dibawa Estera.
"Harum sekali! Tak sia-sia aku mengaduknya dengan tenaga dalam." kata Carrie terharu.
Estera menaruh loyang itu ke atas meja dan mengambil pisau dan memotong salah satu kue tersebut. Ia meniup-niupnya dan menunggu kue itu hingga dingin. Saat dipotong memang kue itu terlihat matang sempurna. Namun saat ia memakannya, "enak, namun lebih enak lagi jika kue ini dipakai saus tomat untuk menetralisir rasa asinnya".
"Eh!?" semua orang disitu sedikit kaget. Bukan karena Estera memakan kue itu padahal masih sedikit panas. Tapi kue itu seharusnya manis karena madu namun mengapa Estera bilang lebih baik menambahkan saus tomat pada kue itu?
Mereka semua kecuali Carrie dan Arizet menatap tajam kedua orang yang memang bertanggung jawab tentang kue-kue tersebut.
Carrie hanya menunjuk-nunjuk Arizet. "Aku tak tau! Tapi ini sesuai takaran yang dikatakan Arizet!"
"Kenapa malah menyalahkan aku? Kau kan yang menyuruhku membacanya buru-buru sampai mataku bingung harus membaca bagian mana".
Mimia memijat dahinya pusing. "Bisakah kalian diam? Adnan, kau yang baca resep itu dan awasi Carrie, pasti kau bisa mengajari orang ceroboh karena kau lulusan Cexillion, kan? Arizet kau bantu Anin dengan mata anehmu itu dan kau Afta, daripada kau diam saja seperti orang bodoh, bukankah lebih baik menulis di sini? Ku dengar kau pandai membuat novel, berarti tulisanmu seharusnya bagus? Kalau tulisanmu berantakan, aneh sekali perpustakaan ibukota bisa menyimpan novel tulis tanganmu, kan?"
Semua terdiam, kata-kata Mimia agak sedikit keterlaluan sepertinya. Apalagi dari kalimat itu tersirat seperti merendahkan Adnan dan Afta. Tapi mereka sepertinya sedikit memaklumi, karena Mimia dari keluarga Knight juga, pasti didikannya keras. Tapi mengapa Adnan berbeda?
Estera berjalan menuju meja dan menulis setiap kata yang diucapkan Mimia dan Jason. Sementara Arizet fokus menatap tangan Anin yang sedang meracik teh-teh tersebut. Carrie sibuk mengaduk bahan yang diucapkan Adnan. Cessa dan Secca sibuk menghias cemilan mereka.
Teng!
4 jam kemudian lonceng pun berbunyi, tanda semua kelompok harus menyerahkan kertas dan teh yang mereka buat.
Estera keluar membawa nampan berisikan kue buah pendamping teh Rose Congou, teh yang dibuat dari bunga mawar menjadi salah satu teh pilihan mereka, kue itu pun terbuat dari buah-buahan terbaik. Sepertinya ini akan menjadi perpaduan yang sangat bagus, selama tidak ada kelompok lain yang memilih teh dan kue ini juga.
"Liat itu, kue dari kelompok tiga cantik sekali. Seperti kue ulangtahun, apa mereka salah tema?" ujar Cessa.
Carrie mengiyakannya. "Orang-orang yang terlalu niat atau kita yang malas?"
"Sepertinya kita yang malas." timpal Cessa.
Mimia menghela nafas malas, ia hanya membolak-balik kertas jawaban individu dan kelompok, kali-kali jika ada pertanyaan yang mereka lewatkan bisa langsung buru-buru diselesaikan sebelum pengumpulan.
Namun bukan itu yang mengambil fokus Estera, tapi Kaisar. Keluarga kekaisaran ada di depannya, di atas panggung. Brigitta, Cassius, dan ibu suri Elua, Estera melihatnya sendiri dengan mata kepalanya. Rasa sesak kembali menyelimuti hatinya, apa dia bisa menghadap Cassius nanti?
...TBC...