
Estera terus menatap ke depan, melihat Cassius tersenyum menatap sekeliling. Disampingnya, Brigitta pun memberikan tatapan hangat pada semua calon pelayan di aula. Estera terus menatap marah pada Cassius hingga akhirnya ia disadarkan oleh Anin.
"Afta, sebentar lagi giliran kita. Jangan gugup, kita pasti lulus kok." kata Anin berusaha menenangkan Estera.
Estera terdiam hanya menjawab Anin dengan senyum tipis. Beberapa menit berlalu, utusan penyicip yang merupakan koki di istana memberikan reaksi dan respon yang berbeda-beda. Mulai dari kelompok satu dengan reaksi biasa hingga reaksi bingung saat melihat kue dari kelompok tiga. Tiba saatnya kelompok lima, Estera, Anin, dan Secca maju ke depan menyerahkannya pada para penyicip yang berjumlah enam orang itu.
"Bisa kalian jelaskan masing-masing, mengapa kalian memilih teh dan pendampingnya ini?" tanya salah satu penyicip.
Secca menjawab pertama. "Kami membuat masing-masing teh untuk dinikmati dibeberapa situasi. Ini adalah teh Russian Caravan, teh yang memiliki aroma berat sangat cocok dipadukan dengan kue rempah seperti Gingerbread".
Orang di depannya hanya mengangguk dan menatap Estera untuk bergiliran. "Ini adalah teh Rose Congou yang terkenal dengan aroma menenangkannya, sangat cocok bila meminumnya pada sore hari dengan kue buah manis dan segar".
Kini giliran Anin menjawab. "Dan ini adalah teh melati, teh ringan yang sangat cocok diminum saat senja bersama kue madu. Rasa ringan dan manis dari kedua perpaduan ini laris setiap akhir pekan untuk dinikmati saat waktu santai".
Para penyicip tak banyak bicara dan mulai menyicipi semua teh dari kelompok lima, dan reaksi mereka kali ini pun sama seperti kelompok sebelumnya, biasa saja. Bahkan salah satu dari mereka menatap tak suka teh yang disediakan kelompok lima. Satu persatu sendok emas itu menyentuh mulut bersamaan dengan kue yang telah mereka sendok. Reaksi yang sedikit memuaskan karena salah satu dari mereka sepertinya menyukai kue jahe, tapi dua diantaranya malah menatap jijik kue jahe itu. Apa karena jahe yang dipakai terlalu banyak?
Estera sendiri bisa melihat Anin mengeluarkan sedikit keringat dipelipisnya. Rasa gugup pun makin menjadi saat utusan Kaisar menyuruh perwakilan kelompok lima untuk mundur kembali ke tempat awal tanpa komentar apapun dari para penyicip, berbeda dengan kelompok sebelumnya yang mendapat komentar dari penyicip. Rasa kecewa juga bisa dilihat dari ekspresi anggota kelompok lima lainnya, diiringi tatapan puas dan kasihan dari kelompok lain. Entah yang salah ada di teh atau kue, yang pasti reaksi para penyicip sangat tidak memuaskan.
Anin mengambil tempat paling belakang, sepertinya dia akan menangis. Cessa yang tadinya merasa bersemangat seketika perasaannya berubah menjadi kekecewaan, kerja keras mereka sepertinya akan sia-sia setelah ini. Carrie yang tak enak pun membantu menghibur Cessa bersama Secca. Jason menyusul Anin dibelakang. Estera juga kecewa, jika begini maka usahanya akan gagal.
Mimia menepuk-nepuk pundak Estera, berusaha menyemangatinya. "Hei, jangan sedih. Kau hebat, ku pikir kau hanya gadis manja, tapi kau bisa menyelesaikan ujian sampai detik ini. Kita semua hebat bisa bertahan, kita sudah berusaha sekuat tenaga kita, bukankah sampai dititik ini adalah hal yang luar biasa? Banyak yang tak lulus di seleksi sebelumnya. Selanjutnya masih ada kesempatan".
Estera menghela nafas panjang, membatin. tidak apa, Duke Rigvsen pasti akan membantuku. Lagi pula yang menyebalkan itu para koki penyicip atau apalah itu. Toh, mereka bukan dewa yang bisa seenaknya menilai sesuatu.
Arizet sedari tadi hanya diam mengatur nafas kasar. Estera yang sadar pun menyenggolnya.
"Maaf, Afta. Anxiety ku sepertinya kambuh." ucapnya sembari tersenyum lemas. Tanpa aba-aba, Mimia memeluk Arizet bermaksud membuatnya tenang. Mimia ini sebenarnya bukan jahat, tapi lebih ke dewasa dan bijaksana, pikir Estera.
Adnan yang melihat kelompoknya seperti itu hanya bisa menggelengkan kepala, "kalian ini apa-apaan. Kita pasti akan lulus, kok. Yang aneh itu jika kita tak lulus, sangat aneh jika kita tak lulus." celetuknya.
Tak ada yang menghiraukan perkataan Adnan, karena kata-katanya malah membuat yang lain semakin merasa pupus harapan. Adnan gemas sekali pada kelompoknya ini, mengapa ia harus berada di kelompok yang orang-orangnya mudah menyerah seperti ini?
"Dengar, jangan sampai aku kecewa dengan kalian, bisakah kalian bersemangat sedikit saja? Hal yang mengecewakan itu bukan masalah lulus atau tidaknya kita, tapi bagaimana usaha kerjasama kita yang dirasa sia-sia hanya karena tak lulus saja. Kalian pikir gunanya tantangan ini hanya untuk memasak? Tidak, justru tantangan ini dibuat untuk kita belajar arti kerjasama antar anggota. Bersyukurlah kita bisa kerjasama meski tak sampai akhir nantinya." kesal Adnan menatap kelompoknya.
Semuanya tersadar, ada benarnya juga perkataan Adnan barusan. Hal terpenting yang mereka pelajari dari tadi itu bukan memasak, tapi ada arti lain didalamnya, yaitu kerjasama dan kekompakan. Sabar dalam melakukan itu semua pun menjadi poin yang baru mereka sadari. Hal yang terpenting bukan masakan enak melainkan arti dari tantangan tersebut.
Estera sepertinya pusing memikirkan ini semua, apa ia harus meminta bantuan Duke Rigvsen sekarang? Tapi ia berpikir ada benarnya juga perkataan Adnan barusan, tapi apakah mereka akan benar-benar lulus hanya karena itu? Atau ada maksud lain dari perkataan Adnan?
"Benar, masih banyak waktu untuk kita menunggu hasil. Dan jangan lupakan jawaban kita dikertas, kita pasti bisa. Cessa ayo semangat," kata Carrie dengan penuh semangat.
Cessa mengelap air matanya dan menatap Carrie dengan tawa, "haha! Benar, aku seperti bayi cengeng tadi. Mari kita tunggu hasilnya!" Secca ikut tersenyum saat melihat Cessa tersenyum, ia mengelus punggung Cessa pelan, ia merasa tenang saat adiknya balik seperti sebelumnya.
Jason datang dengan menggenggam tangan Anin, sementara Anin hanya menunduk menutupi wajahnya yang memerah. Tak ada yang bertanya apapun tentang apa yang terjadi pada kedua sejoli itu, karena mereka mulai tenggelam pada pikirannya masing-masing.
...***...
Malam hari jamuan besar diselenggarakan sebagai bentuk apresiasi para peserta di ruang makan aula. Ruang makan aula ini sangat luas, cukup untuk menampung orang hingga ratusan. Dan sekarang juga adalah momen yang ditunggu-tunggu, momen penentuan untuk masuk ke tahapan selanjutnya.
Pengumuman kali ini akan dibacakan langsung oleh Kaisar Cassius. Semua orang yang tadinya berfokus pada makanan, kini beralih melihat sang Kaisar yang berada di depan ruang makan aula. Tak ada suara sedikitpun yang keluar sampai akhirnya Kaisar itu mengumumkan kelompok yang akan lulus.
Dengan berdiri tegap dan berwibawa itu memegang kertas yang terdapat kelompok terpilih yang akan lolos di tahapan ini. "Selamat malam untuk semua calon pendamping cahaya kekaisaran. Saya sangat senang karena kalian sangat tekun dalam mengikuti seleksi ini dan saya berharap kalian bisa bersungguh-sungguh dalam tugas ini. Hal yang terpenting adalah kalian tidak menjalankan seleksi ini hanya karena uang bukan?"
Semua calon pelayan terdiam menatap satu sama lain.
"Haha, saya harap kalian tidak begitu. Kalau kalian lalai, saya bisa saja memotong kepala kalian dihadapan semua orang".
Itu bukan lelucon, bodoh, tapi hari ini kau sangat tampan! batin Estera.
"Saya tak suka menunggu, jadi kelompok yang akan masuk ketahap berikutnya adalah kelompok satu, tiga, enam, delapan, sepuluh, sebelas, dua belas, lima belas, enam belas, dan terakhir dua puluh. Selain itu maaf, kalian tidak lulus".
Rasa kecewa mulai menyelimuti ruangan tersebut, terutama bagi kelompok lima. Mereka yang tadinya merasa akan baik-baik saja dan berharap akan lulus, nyatanya nihil, itu hanya menjadi angan-angan mereka.
Estera bisa merasakan rasa kekecewaan dari anggota lain, mulai dari Arizet yang anxietynya kambuh lagi, Anin yang menangis di dada Jason, dan Cessa yang mencak-mencak dipelukan Secca. Tapi tak sampai disitu, Kaisar Cassius menarik perhatian kembali.
"Oh, saya melupakan sesuatu. Ada satu kelompok yang akan saya loloskan karena itu adalah kelompok yang sudah permaisuri Brigitta dan saya setujui sedari awal untuk lolos. Kelompok lima, kalian terpilih".
Anggota kelompok lima langsung berbalik menatap kaget sang Kaisar yang ternyata sedari tadi melirik mereka. Anggota kelompok lain yang tak lulus pun ikut melirik kelompok lima dengan perasaan iri. Ada apa ini? Memang bisa seperti ini?
Yang lainnya pun terdiam, ini keluar dari zona harapan memang, tapi ini lumayan membuat mereka senang. Setidaknya mereka lulus, tapi ada yang aneh.
"Adnan? Apa kau melakukan sesuatu?" kali ini Cessa bertanya pada Adnan dengan rasa curiga yang ia simpan.
"Kalian pikir aku tidak bisa memakai orang dalam? Ibuku itu pelayan pribadi satu-satunya permaisuri, jadi ibuku sedikit merayu permaisuri untuk meloloskan kita." jelasnya dengan bangga.
Yang lain tak habis pikir, ini tak se-menghebohkan tadi, namun bukankah ini artinya curang?
"Itu artinya kita curang? Bukankah itu berlebihan?"
"Anin, dengar, ini bukan curang, tapi ini main akal." ucap Adnan dengan bangga.
Setelah kalimat terakhir dari Adnan, tak ada lagi yang ingin membuka suara.
...***...
"Salam kepada bulan QillianG yang mulia Raja Zeckiliam Warnden".
Pria itu menaruh surat yang ia bawa ke atas meja kerja sang Raja. Raja Zeckiliam Warnden atau Raja Liam adalah Raja bagian utara yang terkenal sebagai tirannya utara.
Raja Liam hanya menatap surat itu tanpa sedikit pun berinisiatif membaca atau menyentuhnya. Lantas pria di hadapannya berdeham dan membetulkan kacamata yang hampir turun.
"Selama itu bukan info dari Estera, aku tidak mau menerimanya. Ambil kembali surat itu, Theo." ucap sang Raja.
Theo menghela nafas kasarnya, sudah beberapa tahun belakangan ini atasannya selalu membicarakan gadis bodoh itu. Mungkin saat mengingau pun ia menyebut-nyebut nama gadis itu. Entah apa yang membuat Raja kejam ini menyukai gadis desa yang bahkan tak dikenali banyak orang itu.
"Yang mulia, ini adalah surat penting. Memang tak ada hubungannya dengan nona Barckif. Tapi ini ada hubungannya dengan mantan permaisuri Maya De Cransrifgh. Anda yakin tak ingin membacanya, yang mulia?"
Mendengar kata 'Maya', Raja Liam langsung mengambil surat itu. Surat terbuka menunjukan tulisan panjang tanpa dialog. Dan kini giliran Raja Liam yang menghembuskan kasar nafasnya, melempar surat itu ke atas meja dan memijat pelan pelipisnya.
"Bagaimana bisa suruhan ku mati lagi? Apa perlu ku kirim semua pasukan untuk menyergap perempuan gila itu?" kesalnya.
Theo menggelengkan kepalanya pelan, "apa yang mulia frustasi sekarang?"
"Ck, bisakah kau singkirkan sifat menyebalkanmu disaat seperti ini, Theo?"
"Maaf, saya tak bisa menghilangkan sifat alami saya. Tapi apa anda tau hal ini, yang mulia? Orang yang anda sukai itu lulus dari ujian memasak".
Senyum nakal tersirat dibibir sang Raja. "Tentu saja, karena dia calon istriku." ucapnya dengan sombong.
"Bukan itu maksud saya, yang mulia. Karena seharusnya kelompok yang ditempati nona Barckif tak lulus, sebagian besar juri di sana tak menyukai masakan kelompok nona Barckif".
"Jadi kau mau mengolok-olok calon istriku?"
Sabar Theo sabar, kau bisa menghadapi banteng ini...
"Anda tak curiga jika ibu suri Elua ikut campur dalam hal tersebut? Mungkin saja beliau sudah mengetahui sedari awal kalau nona Barckif menyamar".
Raja Liam menopang dagunya, "aku tak sebodoh itu. Bukan ibu suri Elua yang melakukannya, tapi bawahannya Brigitta lah yang memintanya. Bawahan Brigitta adalah salah satu orang tua dari anggota kelompok yang Estera tempati".
"Bagaimana anda mengetahui hal tersebut?" tanya Theo dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Kau pikir aku hanya mempekerjakan mu?"
"Tidak".
"Bagus. Sekarang aku ada tugas untukmu dan bawahanmu. Bunuh seluruh keluarga Count Lysandres di ibukota. Kau bisa, kan? Bunuh mereka hari ini juga".
"Tentu, akan saya laksanakan".
Theo pergi dari ruangan dan menyisakan Raja Liam sendirian. Laki-laki itu kemudian mengambil sesuatu dari lacinya. Ia mengambil bingkai dengan gambar seorang wanita cantik berambut coklat bermata ungu. Raja Liam kemudian mengusap-usap gambar wanita tersebut yang telah dilapisi kaca sebagai pelindung.
"Akan ku pastikan tidak ada siapapun yang bisa memilikimu, Estera. Bahkan ayahmu. Kau lihat? Ayahmu sudahku penggal, iya, jadi jangan merasa sakit ataupun takut terus-menerus, aku di sini, Estera, aku di sini".
...TBC...