This Villain Wants To Be The Empress

This Villain Wants To Be The Empress
- 02 -



Pagi ini tepat setelah ayam berkokok 2 jam lalu, Duke Rigvsen sampai di kediaman Baron Dervixon. Mansion Baron Dervixon memang terkenal akan kemewahannya, meski keluarga mereka hanya menguasai sedikit bagian dan pegunungan. Tapi mereka mempunyai tambang berlian yang cukup terkenal di bawah kaki gunung, mereka juga terkenal sebagai penghasil logam terbanyak meski memiliki wilayah yang tak begitu luas.


Duke Rigvsen disambut dengan ramah oleh Baron Dervixon langsung. Teh dan beberapa kue kering terpajang indah dimeja depan mereka. Sebelum mengatakan maksud tujuannya pada Baron Dervixon, Duke Rigvsen awali dengan permintaan maaf.


"Maaf karena saya bertamu secara mendadak, Baron Dervixon." kalimat pertama dari Duke Rigvsen.


Sementara Baron Dervixon memberikan senyum hangatnya, "tak apa, tak perlu sungkan, Duke Rigvsen. Saya malah merasa terhormat karena anda ingin menjadi tamu pertama saya dipagi hari ini".


Duke Rigvsen mengangguk setuju. "Sebenarnya kedatangan saya ke sini karena ada satu hal penting dan saya membutuhkan bantuan anda".


Baron Dervixon kini menaruh cangkir tehnya dan memperhatikan Duke Rigvsen secara seksama, "silahkan".


"Saya datang ke sini untuk meminjam identitas putri anda, mendiang Lady Afta".


Baron Dervixon mengernyitkan dahinya, sedikit tersinggung dengan perkataan Duke Rigvsen. "Maaf? Bisa kau jelaskan lebih detail? Mengapa harus sampai meminjam identitas putri saya yang sudah tiada?"


"Mungkin anda sedikit terkejut. Anda tau bukan? Kerajaan wilayah utara yang sekarang ada ditangan yang mulia Raja Liam?"


Baron Dervixon berusaha untuk tenang dan menanggapi Duke Rigvsen, "tentu. Seorang pemimpin dengan jiwa tiran itu? Lantas, apa maksudmu?"


"Syukurlah anda tau tentang itu. Di sana sedang marak pembunuhan massal dan pencurian identitas, bukan?"


"Betul! Saya benar-benar kesal, mengapa para pemimpin dan yang mulia Kaisar tak menghentikan mereka. Saudara saya juga berada di sana, dan bodohnya ia malah menjadi kaki tangan Raja sialan itu!" dengan api kecil yang lama-lama tersulut mencapai kepala Baron Dervixon, sepertinya Duke Rigvsen tidak menyangka akan seperti itu reaksi dari Baron Dervixon, tapi bukankah itu bagus?


"Maka dari itu, sepupu saya menjadi korban di sana. Reputasinya hancur, meski ia hanya seorang putri dari keluarga Baron seperti anda, apakah harus ikut diinjak juga? Dia tak punya siapa-siapa lagi, dan dia satu-satunya kepala keluarga dari kekuasaan Baron yang ia pegang. Baron memang dari kelas menengah ke bawah, tapi bukankah posisinya juga lumayan terpandang? Maka dari itu saya ingin meminjam identitas putri anda untuk mengembalikan posisinya".


Dengan hati bimbang dan banyak pertimbangan, Baron Dervixon mulai berpikir sejenak. "Saya tau, pasti sangat menyakitkan, dan saya juga baru tau kalau ada keluarga bangsawan yang ikut terinjak dan dicuri identitasnya. Saya ingin meminjamkannya".


Duke Rigvsen tersenyum, tapi tak semudah itu.


"Dan kebetulan yang tau kabar kematiannya hanya saya, beberapa pelayan, dan anda Duke Rigvsen. Tapi tak semudah itu saya membiarkan identitas putri saya dipinjam".


"Apapun itu saya terima, demi sepupu saya." jawab Duke Rigvsen.


"Anda pasti tau, saya sangat merahasiakan kematiannya, hanya anda lah satu-satunya orang kepercayaan saya yang tau tentang kematian Lady Afta. Saya hanya meminta tolong naikkan derajat Lady Afta dihadapan para Lady lainnya." pinta Baron Dervixon.


"Saya meminjam identitas putri anda untuk dipakai menjadi pelayan istana".


Baron Dervixon berdiri dan menatap marah Duke Rigvsen. "Apa!? Kalau begitu saya tidak mau! Kalau tau jika harus menjadi pelayan, lebih baik tak usah!" bentaknya.


Seperti sudah tau hal ini akan terjadi, Duke Rigvsen pun ikut bangkit dari duduknya dan meminta untuk Baron Dervixon duduk kembali. "Mungkin anda akan sedikit tersinggung, tapi saya bisa menjamin bahwa putri anda akan dikenal sebagai wanita ramah dan mendapatkan reputasi yang lebih baik".


"Tapi mengapa harus menjadi pelayan!?"


"Tujuan saya sedari tadi ingin membangun kembali posisinya dari awal, anda mendapat reputasi sementara sepupu saya akan mendapatkan posisi. Bukankah itu bisa menjadi barter yang cukup memuaskan bagi kedua pihak?" jelas Duke Rigvsen.


Baron Dervixon masih merasa ragu-ragu, selama Lady Afta hidup ia sangat menentangnya menjadi seorang pelayan, apalagi pelayan istana. Jujur saja, Baron Dervixon pun menyimpan rasa tak suka pada sang Kaisar, entah dari perilakunya atau sifatnya. Tapi perkataan Duke Rigvsen benar juga, meski putrinya telah tiada, setidaknya reputasinya menjadi lebih baik meski itu bukan Lady Afta yang asli.


"Baiklah, tapi akan saya pikir lagi. Kalau bisa temukan saya dengan sepupu anda dulu, baru saya bisa memberikan jawaban".


Dengan senyuman puasnya Duke Rigvsen menjawab, "tentu saja, terimakasih banyak".


...***...


Sore hari sebelum kembali ke kediamannya, Duke Rigvsen menjemput Estera di rumahnya.


Perjalanan dari Mansion Baron Dervixon ke rumah milik Estera cukup memakan waktu sekitar tiga jam menggunakan kereta kuda. Jalanan yang dipenuhi lumpur serta disampingnya terdapat lapangan hijau agak menguning tanda musim gugur akan berlangsung. Banyak yang harus dipersiapkan sebelum musim dingin menyapa, contohnya menghabisi anaknya Brigitta dan Cassius misal.


Terlihat Estera tersenyum sambil memakai baju coklat yang terbuat dari kulit kerbau, meski terbuat dari kulit kerbau, baju itu sama sekali tidak bau amis, malah tercium wangi bunga Camelia.


"Silahkan masuk, nona".


Estera langsung saja masuk ke dalam kereta kuda tersebut dan mereka pun bergegas pergi meninggalkan rumah Estera dengan keadaan sepi, dan tanpa mereka sadar bahwa ada orang yang mengintip dibalik pepohonan sana.


"Ternyata kau memiliki hubungan dengannya, ya?"


Diperjalanan tak banyak yang mereka bicarakan, tak terkecuali tentang Estera yang harus menemui Baron Dervixon sebelum menyetujui rencananya.


"Baron Dervixon... selain itu tak ada syarat lain lagi?" tanya Estera.


Estera hanya mengangguk dan melanjutkan lamunannya. Sebenarnya apa yang ia pikirkan?


Duke Rigvsen sadar sedari tadi Estera melamun. "Nona? Apa yang anda khawatirkan? Bukankah semua berjalan seperti kemauan anda?"


"Aku tidak apa-apa, Dante".


Perjalanan dilanjutkan dengan keheningan di dalam kereta, sementara diluar kereta cukup berisik karena suara tapak kaki kuda. Suara kuda pun sesekali terdengar nyaring. Lain waktu sepertinya Duke Rigvsen harus bilang pada pak kusir untuk sedikit lebih lembut pada kudanya.


Butuh waktu satu jam untuk sampai di kediaman Duke Rigvsen. Mansion milik Duke Rigvsen tak kalah mewah dengan milik Baron Dervixon. Mansion yang dapat menampung puluhan orang bahkan ratusan orang ini terlihat kokoh dengan campuran warna putih elegannya. Di sisi kanan terdapat air mancur dengan patung malaikat beserta kolam ikan dan juga bunga teratainya. Sementara sisi sebelah kiri terdapat taman luas yang biasanya dipakai untuk acara-acara keluarga atau resmi.


Sekiranya ada dua puluh pelayan menunggu kedatangan mereka ke mansion. Setelah mereka berdua turun dari kereta, mereka disambut dengan sedikit tatapan melas dan tak suka tapi mereka tetap berusaha untuk profesional juga, mengingat semalaman Duke Rigvsen terus mengancam mereka untuk tetap sopan dihadapan Estera.


Sang kepala pelayan mansion Rigvsen pun menghampiri mereka dan mempersilahkan mereka masuk, "selamat datang yang mulia Duke, selamat datang nona Barckif." ucapnya sembari menuntun mereka masuk.


Sebelum benar-benar masuk, Duke Rigvsen berbisik pada kepala pelayan untuk membawa Estera ke kamarnya duluan, sementara ia ada urusan sebentar.


"Baiklah. Nona, mari saya antar ke kamar anda".


Dengan senyum tidak ikhlas Estera menjawab ya. Sebenarnya setelah sampai, Estera ingin mengobrol banyak dengan Duke Rigvsen saat sudah sampai di mansion, tapi sayang, ia malah menyuruhnya langsung ke kamar.


Selama perjalanan ke kamar Estera, ia bisa mendengar pelayan-pelayan yang ia lewati terus membicarakannya, karena tak tahan ia lantas langsung menegurnya. "Ternyata seperti ini cara perlakuan pelayan dari keluarga DUKE terpandang pada seorang tamu, huh? Meski tamu yang kalian layani ini tak memiliki latar belakang bagus, tapi begini kah sikap terbaik yang kalian keluarkan dalam ujian? Benar-benar menjijikkan, entah apa yang merasuki Duke Rigvsen sampai harus menerima kalian menjadi pelayannya".


Semua pelayan di sana terdiam dan terlihat meminta maaf pada Estera tak terkecuali kepala pelayan. "Maaf atas ketidak sopanan mereka, nona. Maaf, mari saya tunjukkan kamar anda".


Dengan perasaan yang sudah campur aduk, Estera langsung mengikuti arahan kepala pelayan. Setidaknya itu lebih baik daripada adu mulut pada orang tak tau diri, bukan?


Saat Estera dan kepala pelayan tak terlihat lagi, salah satu pelayan menyeletuk, "lihat, pasti dia akan menelan ludah sendiri. Lebih baik kita lihat para koki sedang sambung ayam".


...***...


Estera kini berada dikamar barunya, aroma bunga mawar persis seperti aroma yang ia cium saat berada didekat Duke Rigvsen. Setelah barang-barangnya disimpan, kepala pelayan pun izin keluar meninggalkan Estera sendirian.


Ia mengganti bajunya dengan gaun polos berwarna merah, dan mulai merancang sesuatu benda yang ia simpan ditasnya.


Sementara itu di sisi lain, Duke Rigvsen sedang menodongkan pedangnya pada seorang pria asing. Entah atas dasar apa pria asing itu terus mengikuti kereta kuda yang ia tumpangi bersama Estera.


"Katakan, siapa yang mengirimmu?"


Pria asing itu tersenyum miring, "kalau pun aku memberitahumu, apa jaminannya? Pasti aku akan dikurung, lebih baik tidak".


Duke Rigvsen menodongkan pedangnya tepat ke arah mata pria itu. "Saya tanya sekali lagi, siapa yang mengirimmu ke sini?"


"Sekalipun aku memberitahumu, pasti kau tak akan bisa melawannya. Kau itu bukan tandingannya, lagi pula dari awal aku hanya membututi Estera bukan kau." lagi-lagi jawaban menyebalkan keluar dari mulut pria itu.


Sebenarnya tak ada gunanya jika ia terus bertanya 'datang darimana pria ini'. Tapi ada sesuatu yang menarik perhatiannya, "oh? Belati yang kau simpan, sarung belati itu sepertinya tidak asing?"


Pria itu sepertinya tau jika Duke Rigvsen sadar akan sesuatu. "Belati apa? Ini pisau dapur ibuku!"


"Hah, sejak kapan Liam mengirimmu untuk membututi Estera?"


"L-liam apanya?"


Tepat seperti dugaan Duke Rigvsen. Orang itu berasal dari kerajaan wilayah utara atau kerajaan QillianG, dilihat dari caranya bicara, sepertinya dia hanya sewaan. Ukiran kepala ular cobra dan kepala beruang, tidak salah lagi itu adalah ikon dari kerajaan tersebut.


"Aku tidak paham lagi apa yang ada di otak Liam. Saat kecil dia tak seperti ini".


Ssuk!


Pedang tajam dan mengkilat kini berlumuran darah segar. Benda tajam itu tertancap mulus di bagian leher pria tersebut. Suara pun teriakannya terdengar begitu indah ditelinga Duke Rigvsen.


"Aku tak peduli jika tuanmu menginginkan Estera. Tapi sayang sekali, Estera sudah milikku sekarang. Sampaikan padanya nanti saat ia sudah di alam yang sama denganmu." begitu salam perpisahan khas Duke Rigvsen, ia kemudian pergi meninggalkan mayat pria tersebut yang masih dalam keadaaan tertancap pedangnya.


Disepanjang perjalanan kembali ke mansionnya sendiri, ia terus memikirkan bagaimana caranya mengikat Estera agar selalu didekatnya?


TBC