This Villain Wants To Be The Empress

This Villain Wants To Be The Empress
- 03 -



Tangisan seorang gadis terus menggema dalam ruangan. Isak tangis itu seharusnya bisa membuat siapa saja merasa iba, namun tidak untuk laki-laki di depannya.


Berperawakan seperti remaja bangsawan kelas elit, pakaian yang ia kenakan memiliki beberapa batu berlian sebagai penghias. Khas sekali dengan baju para bangsawan keluarga kekaisaran. Ya, memang itu dia...


"Aku mohon yang mulia. Jangan sakiti aku, aku tak pernah berbuat jahat. Dia! Ayah ku saja yang anda sakiti!" teriak gadis itu seraya menunjuk ke arah pintu yang tertutup.


Ruangan yang bisa disebut kamar itu memang tak seperti kamar para kelas elit, di sana hanya terdapat satu kasur ukuran king size dan satu pintu, tak ada jendela sama sekali. Gadis itu benar-benar terkurung bersama laki-laki yang merupakan seorang putra mahkota.


"Estera, kau sangat cantik." ucapnya seraya melepas bajunya satu persatu.


Estera yang kala itu masih berumur 12 tahun terus menangis dan berteriak pada orang di depannya. "Tidak! Aku tidak cantik! Aku tidak cantik seperti yang kau bilang! Lepaskan aku atau aku akan merobek mulutmu dengan pisau ibu!"


Laki-laki di depannya hanya terkikik kecil. Perempuan ini memang sangat lucu, pikirnya.


"Kau benar-benar psikopat gila, Cassius!" Estera memukul-mukul kasur yang ia duduki dan suara tangisannya pun semakin kencang.


Laki-laki yang diketahui bernama Cassius itu mengeluarkan senyum jahatnya, "Eh? Kau tidak konsisten dengan panggilanku, ya? Tapi tak apa, barang bagus yang sudah ku beli dengan harga mahal tak akan sia-sia".


"IBU!!"


Pagi hari setelah mimpi buruk yang dialami Estera membuatnya benar-benar muak. Mata panda menjadi sambutannya pagi ini. Menyebalkan mendapat mimpi buruk tentang masa lalu yang sudah berlangsung 10 tahun lamanya.


Estera bangkit dari duduknya di kursi rias, ia terus-terusan menguap karena memang ia tak menikmati tidur malamnya. "Aku pikir lebih baik setelah ini aku tidur siang. Menjadi jahat membutuhkan banyak energi".


Ia langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan semua kotoran di badannya. "Ahh, rasanya segar, sudah lama aku tidak mandi".


Sudah bisa ditebak badan Estera sedikit dipenuhi biru-biru bengkak bekas pukulan ayahnya. Sangat mengecewakan memiliki ayah tempramental seperti itu, setidaknya sekarang ia sudah bebas dari pria brengsek bernama Albert tersebut.


Setelah beberapa menit ia menikmati mandinya. Terdengar seorang pelayan mengetuk pintu kamar mandi yang ia tempati, "nona, apa anda sudah selesai? Anda di undang untuk makan bersama dengan yang mulia Duke".


Estera diam sambil mengangguk, entah apa yang dipikirannya, tentu saja pelayan itu tak akan bisa melihatnya mengangguk. Pelayan itu kemudian mengatakan hal yang sama dan langsung dijawab iya oleh Estera.


...***...


Estera dengan pakaian sehari-hari yang sering dipakai para Lady. Tak lupa juga ia memakai rambut palsu berwarna hijau tua dan beberapa riasan yang membuatnya berbeda. Ia melakukan semua itu karena pelayan baru saja bilang kalau mereka juga sedang menjamu Baron Dervixon, dan semua yang dipakainya bertujuan agar identitasnya tak diketahui.


Estera berpura-pura merasa gugup dan bertingkah lugu di depan Baron Dervixon. Sementara Baron Dervixon hanya menatap Estera sambil mengangguk beberapa kali. Mungkin ia menganggap Estera agak menyedihkan dan terlihat sangat gugup karena telah mendapatkan musibah.


Duke Rigvsen mengambil sapu tangan dan mengelap bibirnya yang sedikit kotor karena saus. Ia kemudian tersenyum dan meminta pelayan untuk memberikan Estera air lagi, ia tau kalau Estera pura-pura gugup jadi ia membantunya untuk drama kecil-kecilan ini.


Baron Dervixon mengangkat suara duluan sambil menaruh kembali garpunya, "oh iya, sebelumnya saya belum bertanya, siapa nama anda, Lady?"


Estera yang merasa terpanggil pun langsung merespon sang Baron. "Nama saya Yolaine dari keluarga Baron Bilevicius".


"Ah, begitu rupanya. Lady Yolaine pertama-tama saya turut berduka atas kejadian yang telah menimpa anda. Saya sangat terkejut setelah mendengar tentang anda dari Duke Rigvsen." ucap Baron Dervixon sambil menunjukan ekspresi prihatinnya.


"Saya tidak apa. Lagi pula apapun yang menimpa saya, setidaknya dewa berbaik hati memberikan saya nyawa dan tubuh yang sehat. Saya bisa melalui itu semua dengan bantuan sepupu saya Duke Rigvsen" kata Estera sambil tersenyum melihat Duke Rigvsen.


Duke Rigvsen yang sadar langsung memberikan senyumnya kembali pada Estera. "Sejujurnya saya agak kaget ketika anda tiba-tiba sudah sampai dikediaman Rigvsen. Kalau tau begitu bukankah sebaiknya anda mengirim pesan terlebih dahulu? Agar saya menyiapkan lebih banyak jamuan".


"Anda tak perlu repot-repot tuan Duke. Saya bisa kesini dengan selamat pun sudah bersyukur. Lagi pula saya tidak sabar dan merasa terganggu dengan pikiran saya tentang pertemuan ini".


Duke Rigvsen mengangguk dan bertanya sedikit pendapat Baron Dervixon tentang Estera atau Yolaine.


"Lady Yolaine benar-benar cantik. Sama cantiknya dengan putriku. Dia juga sangat anggun, jujur saja anda tak cocok menjadi pelayan, tapi lebih cocok menjadi seorang Putri. Rasanya saya bisa mengobati rasa rindu saya jika anda benar-benar putri saya." puji Baron Dervixon pada Estera.


Estera tertawa kecil, "haha, anda terlalu memuji. Saya justru yang seharusnya berterimakasih karena anda ingin meminjamkan identitas putri anda untuk saya pakai".


"Silahkan saja, saya rasa anda orang yang sangat baik dan ramah pada siapa pun. Jadi saya bisa percaya identitas putri saya aman dipakai oleh anda".


"Terimakasih banyak." dengan pipi sedikit berseri, Estera melemparkan senyum terbaiknya untuk Baron Dervixon. Sebenarnya ia muak harus tersenyum seperti itu, pipinya terasa sakit.


"Lalu kapan Lady akan mengikuti ujiannya? Pendaftaran akan ditutup nanti sore." ucap Baron Dervixon.


Duke Rigvsen pun menjawab, "anda dan Lady tak perlu khawatir. Saya sudah mendaftarkannya sejak kemarin. Karena saya sudah merasa anda akan menyukai Lady Yolaine juga. Karena saya pun menyukainya".


Estera yang mendengar itu sedikit terkejut, bukan karena kapan mendaftarnya tapi karena kalimat terakhir Duke Rigvsen sedikit ambigu. Baron Dervixon hanya mengangguk setuju, memang tak bisa dipungkiri kalau drama Estera benar-benar bagus meski dilakukan dengan ceroboh.


"Saya hanya bisa berharap kedepannya menjadi lebih baik. Dan putri saya Afta bisa dikenal menjadi wanita yang ramah dan dapat bersosialisasi dengan baik. Saya percayakan ini semua pada anda Lady".


Estera bangkit dan membungkuk dengan tangan kiri mengangkat sedikit gaun sementara tangan kanan memegang dada. "Sungguh suatu kehormatan mendapatkan kepercayaan anda Baron Dervixon".


...***...


Malam setelah pamitnya Baron Dervixon dari kediaman Duke Rigvsen adalah malam dimana pengumuman babak penyeleksi.


Duke Rigvsen dan Estera sedang membaca-baca surat resmi dari kerajaan. Ada beberapa syarat terlampir di sana. Dan semua syarat itu cukup mudah digapai, minimal sekarang mereka telah memiliki identitas mendiang Lady Afta.


"Besok saat utusan Kaisar membaca beberapa pertanyaan terkait kesehatan, nona harus menyerahkan surat ini pada perawat di sana. Saya sudah meminta surat penyakit yang diderita Lady Afta dari Paul. Setidaknya ini bisa meringankan anda dari terpaan pertanyaan, karena Paul dan keluarganya adalah dokter istana. Surat ini juga telah ditandatangani oleh Baron Dervixon".


"Ah? Aku baru tau kalau Lady Afta mengidap penyakit".


Duke Rigvsen merapihkan beberapa kertas dan buku di mejanya. "Anda pikir Lady Afta mati karena apa? Saya tak mengerti mengapa Lady Afta mendapatkan penyakit itu, padahal penyakit yang dideritanya menyebar di benua barat".


Estera hanya mengiyakan ucapan Duke Rigvsen. Dia merasa suntuk ketika orang-orang membicarakan penyakit, menurutnya aneh orang-orang seperti Lady Afta bisa terkena penyakit. Ia sering menutup diri tapi bisa terkena penyakit yang bahkan jauh dari benuanya saja sudah aneh.


"Tenang, penyakit itu tak akan menular dan menginfeksi orang secara langsung. Anda tidak tau seperti apa penyakitnya, kan?" kata Duke Rigvsen.


Duke Rigvsen hanya mengangkat kedua bahunya. "Entah lah, saya pun tak tau dan tak berminat untuk tau".


Ah, percuma aku berbicara pada orang yang sebelas duabelas denganku. Tapi aku penasaran penyakit apa itu. Kalau sampai penyakit itu menjadi penghalang bagiku, maka itu sangat beresiko saat aku akan menjalankan tugas. batin Estera.


Estera menggigit kuku jarinya dan berusaha memikirkan bagaimana caranya ia menjalankan tujuannya tanpa terhalang penyakit Afta. Duke Rigvsen memandang Estera dengan senyuman dan menyingkirkan tangan Estera menyuruhnya untuk berhenti menggigit kuku-kuku jarinya.


"Sudah, jangan anda pikirkan. Sebaiknya nona tidur, semua sudah saya persiapkan mulai dari riasan wajah. Dan untuk warna mata saya sudah menyiapkan ramuan dari Wirra. Soal ramuan-ramuan pengubah pasti ia ahlinya." ucap Duke Rigvsen sambil mengusap rambut kepala Estera.


"Bisakah kita mempercayai mereka?" tanya Estera.


Mengapa anak ini banyak tanya!? Sabar. Sebentar lagi kau akan memilikinya. Sebentar lagi Dante. Batin Duke Rigvsen.


"Tentu saja. Kalau mereka berkhianat, maka akan saya potong gaji mereka. Sakarang saya ucapkan selamat malam untuk nona. Simpan tenaga anda untuk hari esok".


"Ya! Selamat malam juga, Dante".


...***...


"Secca Ye Virgilla dari keluarga Viscount Virgilla. Silahkan masuk".


Orang yang dipanggil namanya satu-satu persatu memasuki ruangan yang diperintahkan oleh utusan Kaisar. Ruangan khusus yang dipersiapkan untuk pengecekan kesehatan, takut-takut jika suatu saat mereka bekerja bisa menularkan penyakit bagi keluarga kekaisaran.


"Adnan Wrington dari keluarga Knight Wrington. Silahkan masuk." satu lagi nama dipanggil ke dalam ruangan tersebut.


Sayang sekali, anak laki-laki dari keluarga kesatria malah menjadi pelayan. Yah, mungkin ia memiliki tulang lunak jadi ia lebih memilih untuk menjadi pelayan, batin Estera.


"Afta Dervixon dari keluarga Baron Dervixon. Silahkan masuk".


"Ini saatnya." bisik Estera kemudian beranjak pergi ke ruangan tersebut, tak lupa ia menggenggam erat suratnya untuk diberikan pada perawat nanti.


Ruangan tersebut terdapat banyak meja dan kursi berhadapan, masing-masing calon pelayan dapat satu perawat untuk menginterogasinya. Di dalam ruangan sedikit berisik karena para perawat menanyakan beberapa pertanyaan pada calon pelayan. Estera duduk di salah satu bangku yang di depannya terdapat perawat istana. Pria berkacamata bulat, dengan mata sayu dan juga mata panda, sepertinya ia lembur untuk ini.


"Halo Afta. Berikan suratnya" ucap pria itu.


Tunggu! Tau darimana ia kalau Estera memegang surat untuk diberikan padanya?


"Tidak perlu takut, ini aku Paul. Aku tidak tau ternyata aku kebagian jadwal pengecekan sekarang, kau bisa memberikan itu dan aku akan pura-pura kaget, ya, hihi." bisiknya.


Kenapa Dante bisa berteman dengan dia? Pikir Estera.


Estera mengangguk dan memberikan suratnya. Paul pun tersenyum dan pura-pura mengecek surat itu padahal ia sendiri yang membuatnya. Ia mempersilahkan Estera untuk ke ruang pakaian yang ada di sebelah ruangan kesehatan untuk mengganti pakaiannya menjadi pakaian pelayan khas keluarga kekaisaran.


Estera melangkah menuju keruang pakaian, karena setelah ini akan ada tes memasak. Semoga saja Estera bisa melewati itu semua tanpa meluapkan emosi di sana. Karena hari ini ia juga mendapat jadwal datang bulan. Untung saja ia baru tau tadi pagi, jadi ia menyuruh para pelayan di sana untuk diam dan jangan memberitahukannya pada Duke Rigvsen. Lagi pula apa gunanya memberitahukannya, kan?


Estera mengibas tangannya pada lemari mencari ukuran baju yang pas untuknya. Setelah ia menemukan yang ia rasa cukup untuk ukuran badannya, ia pun memakainya di ruang ganti dengan cepat, karena banyak orang yang mengantri. Entah perasaannya atau memang kebetulan acara pencarian pelayan untuk istana keluarga kekaisaran kali ini cukup ramai peminat, bahkan ada yang dari wilayah timur.


Beberapa menit kemudian ia keluar dengan pakaiannya dan menuju ke tempat duduknya di awal. Masih banyak orang-orang yang belum dipanggil namanya, tapi sekiranya limapuluh orang sudah mengenakan pakaian pelayan. Estera beruntung karena mendapat nomor urut absen ke empat puluh, jadi ia tak perlu menunggu lama-lama untuk mengantri.


Selama dua setengah jam ia menunggu, dan sisa seperempat orang yang belum masuk ke ruang kesehatan.


"Banyak sekali." gumamnya.


Tiba-tiba ada seorang gadis yang duduk di samping Estera langsung menyenggol pelan pundaknya. "Memang, kan sekarang imbalan untuk menjadi pelayan dinaikkan menjadi lima kali lipat. Tentu saja banyak yang tak mau menyia-nyiakan kesempatan kali ini, apalagi menjadi pelayan dari keluarga kekaisaran bukanlah hal yang mudah".


Estera yang kaget langsung menatap orang yang menyenggolnya dan melototinya.


"Hehe, maaf. Oh iya, namaku Cessa Ye Virgilla dari keluarga Viscount Virgilla wilayah barat. Namamu siapa?" ucapnya sembari memberikan tangan kanannya untuk berjabat tangan.


Estera tersenyum berusaha menjaga penampilannya. "Aku Afta Dervixon dari keluarga Baron Dervixon dan aku berasal dari ibukota. Salam kenal." Estera langsung menjabat tangan Cessa. Setidaknya Cessa tak terlihat seperti saingan baginya. Beberapa detik setelahnya, Estera mengakhiri jabatannya. "Oh iya, harus ku panggil apa kau? Nona Cessa atau Lady Cessa?"


"Hei, hei, jangan terlalu formal. Panggil aku Cessa, dan aku akan memanggilmu Afta. Oke?".


"Oke." jawab Estera singkat.


Cessa meletakkan jari manisnya ke dagu, "hei, kau tau, Afta? Ku dengar ada masalah di kerajaan wilayah utara. Tentang Rajanya yang memimpin seperti seorang tiran dan menjadi maling identitas itu ya. Ku kira dia bukan tiran tapi ia gila seperti bayi yang tidak diberi susu oleh ibunya. Lagi pula untuk apa juga ia mencuri identitas para warganya." bisik Cessa pada Estera. Cessa sepertinya tipikal orang yang suka bergosip tentang berita panas yang mencuat akhir-akhir ini.


Obrolan ini membuat Estera sedikit canggung. Meski ia sudah memikirkan banyak topik obrolan, tapi topik obrolan semacam ini membuatnya tidak nyaman, tapi ia berusaha untuk tetap jaga sikapnya. "Benar, aku sendiri sedikit khawatir tentang keluargaku. Aku takut mereka akan menjadi korban".


Cessa yang mendengar itu sedikit terkejut. "Lho!? Raja mereka juga menyerang keluarga Baron di ibukota!?"


Oh sial. Aku salah bicara, aku malah bicara tentang Yolaine. batin Estera.


"Maksudku keluargaku yang jauh ada di sana. Haha, maaf ya membuatmu salah paham, aku gugup baru pertama kali membicarakan hal seperti ini pada orang lain." ucap Estera sembari memegang dadanya.


Sepertinya Cessa menaruh curiga pada Estera. "Oh begitu, iya benar juga. Keluarga jauhku pun ada di sana." timpalnya.


"Benarkan? Terkadang kita merasa khawatir dengan keluarga kita saat di zona bahaya, meskipun mereka bukan keluarga dekat kita".


Cessa mengangguk dan menunduk menatap kakinya, "iya benar, tapi aku awalnya tak memikirkan hal itu. Bahkan terkesan tak peduli, tapi setelah mendengar kata-katamu aku jadi sedikit tersadar." Cessa menatap Estera.


Orang yang ditatap pun hanya bisa menahan rasa canggung dan malu, "iya, peduli pada orang lain akan membuat mereka peduli pada kita juga suatu saat nanti." rasanya pipi Estera mau copot menahan malu seperti ini.


...TBC...