
Matahari terbenam disusul langit orange yang ikut turun bersamanya dan sekarang hanya tinggal langit biru gelap dengan beberapa hiasan bintang di atas sana. Seolah-olah semua itu ingin merasakan kepedihan atas sepeninggalnya sang Augur kuil–nyonya Annalise Persie Barckif–.
"Semoga arwahmu tenang di surga," ucap sang Kepala kuil yang hadir kala itu.
Keadaan di pemakaman memang cukup ramai, banyak yang menangis sedih dan ada juga orang sialan yang malah tertawa kecil karena meninggalnya sang Augur.
Estera Barckif, anak satu-satunya dari nyonya Annalise dan mantan suaminya Alberte Barckif yang merupakan seorang bandit desa. Jika dipikir-pikir wajar orang-orang merasa jijik? Bagaimana bisa seorang Augur suci menikah dengan seorang bandit?
Estera berdecih dan bergumam, "lihat ibu, kau itu lemah, bahkan suami yang kau sanjung-sanjung itu pun tak datang ke acara pemakamanmu. Untung saja aku sudah besar, jadi aku bisa melakukan semuanya sendiri. Sayang sekali kau tak mendapatkan kenangan bagus bersama si brengsek itu, tak apa, aku juga tak berharap kalian bahagia".
Kepala kuil telah menyelesaikan doa-doanya kemudian beralih menghadap dan menatap Estera dengan senyuman lesu. "Nak, silahkan siramkan air suci ini ke makam ibumu, supaya ia bisa merasakan ketenangan abadi".
Estera mengernyitkan dahinya, dari mimik wajahnya memang sangat tertera kata-kata 'kenapa harus aku?'. Persetan dengan ini, Estera malah memalingkan wajahnya dan berkata, "kau saja. Mau aku yang menyiramnya sekali pun ia tak akan bisa masuk surga".
"Astaga! Jaga omonganmu barusan!" teriak salah satu pendeta di sana.
Kenapa orang-orang ini merepotkan sekali? Pikir Estera.
Karena tak ingin memperkeruh keadaan, sang Kepala kuil lah yang langsung menggantikan Estera menyiram air suci ke makam mendiang Annalise.
Sesungguhnya pemandangan yang cukup disayangkan dihari yang sangat mendalam ini. Orang-orang mulai berbisik-bisik dan bergosip tanpa sadar tempat, salah Estera juga tapi ia tak peduli. Dirinya hanya ingin cepat-cepat pergi dari sini dan bertemu dengan seseorang.
Namun saat penaburan bunga, Estera sempat mendengar orang-orang bilang kalau ia lah penyebab kematian ibunya.
Kenapa harus aku? Terserah dengan sifatku karena itu hak ku. Tapi kenapa orang-orang ****** ini terus memfitnahku dengan tuduhan yang tak masuk akal!? batin Estera.
Setelah beberapa menit dan acara pun selesai. Estera langsung bergegas pergi karena sudah muak dengan topeng orang-orang yang pura-pura sedih itu, meskipun dirinya juga sedikit pura-pura sedih. Sementara para pendeta hanya menghela nafas dan mengelus dada. Sesusah itu kah bersikap sopan pada upacara pemakaman ibumu? Pikir mereka.
...***...
Estera berhenti di depan gerbang menatap kereta kuda milik salah satu keluarga bangsawan. Sekilas memang kereta kuda itu sangat mewah, ada taburan berlian di atapnya. Sampai pada akhirnya seorang laki-laki membukakan pintu kereta kuda dari dalam.
"Duke Dante Rigvsen." sapa Estera pada laki-laki yang diketahui bernama Dante Rigvsen.
Duke Rigvsen tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya menolong Estera memasuki kereta kuda. Tentu saja Estera menerimanya dengan senang hati, bukan karena ia baik tapi memang ia agak tidak enak hati selalu merepotkan Duke Rigvsen, toh Duke Rigvsen sendiri yang memintanya, tak ada salahnya jika ia menerimanya juga, kan?
Setelah mereka berada di dalam kereta kuda, kusir pun langsung menyambuk pelan kudanya agar berjalan kembali.
Selama perjalanan banyak yang mereka bicarakan, terutama tentang kematian sang Augur.
"Kau tau, nona? Ada beberapa orang yang saya curigai." Estera mengangkat satu alisnya. Duke Rigvsen kemudian mengambil kertas dan membaca coretan di kertas tersebut yang berisi tersangka yang ia curigai, "yang pertama ada Countess Vereen, yang kedua ada Lady Wendy, yang ketiga ada Duke Harnicst, dan yang terakhir adalah ayah anda sendiri" ringkasnya.
"Duke Harnicst? Bagaimana bisa ayahnya Viktor masuk dalam daftar?" tanya Estera.
"Oh, soal itu mungkin agak keliru. Baru saja, saat rapat petinggi di istana, yang mulia Kaisar mengumumkan akan menaikkan jabatan Viktor, Viktor diangkat menjadi kepala keluarga Harnicst dan sah mendapatkan gelar Duke. Saya kurang mengerti jelasnya seperti apa, namun yang mulia Kaisar hanya mengatakan jika Viktor akan menggantikan ayahnya menjadi kepala keluarga Harnicst" jelasnya.
Tanpa upacara atau pun pengumuman resmi? batin Estera.
Estera mengangguk sebagai tanda paham. Viktor adalah mantan pacar Estera jadi ia tau betul sifat Viktor, bahkan ia sedikit curiga kalau Viktor bekerja sama dengan Kaisar Cassius. Kenapa tidak? Bisa saja Viktor membeberkan soal tujuannya pada Cassius. Tapi masalahnya, bagaimana bisa Verard ayahnya Viktor mengundurkan diri dari kepala keluarga?
Estera lagi-lagi mengernyitkan dahinya. "Memang ada yang disembunyikan. Kau tau? Verard ayahnya Viktor pernah bercerita– sombong lebih tepatnya, padaku dan dia bilang tak akan melepaskan jabatannya meski aku sudah menikah dengan Viktor sekalipun. Orang-orang tau dia pelit, jadi ku pikir agak aneh. Lalu bagaimana pendapatmu?"
"Saya curiga ia tangan kanan Kaisar".
Duke Rigvsen memberikan secarik kertas pada Estera. "Singkat dari bebet bobotnya tertera disitu, untuk tujuannya sendiri saya masih agak ragu namun saya yakin dengan apa yang saya temukan. Saya menemukan sepucuk surat dan beberapa tetes cairan dikain handuk bekas nyonya Annalise. Saya kenal bau itu, itu adalah racun dari tanaman hemlock, dan hanya keluarga dari Lady Wendy saja yang memiliki tanaman itu. Kain itu saya serahkan pada Paul untuk pemeriksaan lebih lanjut".
"Tunggu dulu. Kenapa kau harus mencurigai Wendy? Kenapa tidak dengan keluarganya?"
Duke Rigvsen mengeluarkan sepucuk surat yang dimaksudnya dari saku baju, ia memberikannya langsung pada Estera. Tanpa pikir panjang Estera langsung membaca surat itu.
"Apa-apaan ini?" Estera menyipitkan matanya, kemudian *******-***** suratnya dengan geram dan melemparkannya ke lantai kereta.
"Anda pasti sangat terkejut dengan isi surat itu. Tapi saya yakin, Lady Wendy dibantu oleh orang lain, ia ingin meracuni anda dengan cara seperti itu adalah hal yang tak mungkin dan sangat beresiko jika ia tau bagaimana sifat anda. Belum lagi kita belum tau motif apa yang mendorong ia melakukan hal tersebut?".
Duke Rigvsen menatap Estera ragu-ragu sementara Estera hanya menatap kesal surat itu. "Nona, ada hal yang lebih bahaya dari itu. Permaisuri Brigitta... dia hamil"
Estera lagi-lagi dibuat geram, ia mengangkat kepalanya dengan cepat dan menatap Duke Rigvsen, "benarkah?! Sialan. Aku sedikit terkejut, tapi tak apa. Aku butuh bantuanmu lagi". Estera sedikit menahan nafasnya, sialan, baru saja ia membunuh anak mereka tapi Brigitta malah hamil lagi.
"Tak masalah. Namun kali ini kita harus berhati-hati, yang mulia Kaisar sedang was-was dan tak akan membeberkan soal kehamilan permaisuri kali ini. Pasti dia sudah curiga setelah keguguran yang ketiga kalinya".
"Aku tau. Bisakah kau bertemu dengan Baron Dervixon? Bilang padanya kau ingin meminjam identitas Lady Afta".
Di dalam pikiran Duke Rigvsen sedang menebak-nebak rencana selanjutnya dari Estea. "Tentu, tak masalah, beliau masih ada hutang budi dengan saya".
"Bilang padanya bahwa sepupu jauhmu ingin meminjam identitas putrinya yang telah meninggal itu, bilang saja untuk sepupumu bekerja menjadi pelayan istana. Jika ia bertanya kenapa tak memakai identitasnya sendiri? Kau bisa bilang sepupumu ini baru saja terampok oleh tiran Kerajaan utara dan kau sangat membutuhkan identitasnya untuk mengembalikan posisi sepupumu, sangat beresiko jika membeli identitas dari pasar gelap untuk mengajukan diri menjadi pelayan keluarga Kaisar".
Duke Rigvsen mengangguk setuju, agak masuk akal karena sekarang sedang marak pembantaian dan pencurian identitas di kerajaan utara yang memang pelakunya adalah Raja itu sendiri, entah atas dasar apa ia melakukan hal tersebut. "Lalu bagaimana dengan ujiannya?"
"Jangan remehkan aku. Oh, iya, satu hal lagi, juga bilang pada temanmu untuk membuat sianida dan berikan padaku saat malam penyeleksi, sisanya biarkan aku saja. Aku bisa menjamin keamanan temanmu".
"Baiklah, sepertinya itu cukup meyakinkan, nanti saya akan sampaikan padanya".
Estera tersenyum puas, merasa semua akan baik-baik saja meski kemungkinannya sangat kecil. Menjadi Lady Afta sangat sulit sepertinya, ia tau Lady Afta karena orang-orang sering membicarakan betapa pendiamnya dia, belum lagi ia juga pernah menolak ajakan dansa Pangeran.
"Ngomong-ngomong soal Pangeran. Cassius memiliki seorang adik dari selir ayahnya, kan? Kemana dia?" tanya Estera.
"Betul, Pangeran Erlend. Saya dengar ia menjadi pembunuh bayangan, tapi belum ada bukti yang menyatakan bahwa itu semua benar. Anda tau sendiri, kan? Yang mulia Kaisar sangat membenci Pangeran Erlend, jika ia menginginkannya kembali, kemungkinan besar ia hanya akan menjadikannya kesatria biasa. Pangeran Erlend dimata yang mulia Kaisar hanya menjadi penghalang baginya." jawab Duke Rigvsen.
Estera menjentikkan jari lentiknya, "aku tau, biarkan saja, hehe, aku jadi ingin mencoba memanas-manasi Cassius dan ibu suri Elua, haha".
Setelah percakapan berakhir, mereka kembali diam. Sepanjang perjalanan mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Belum ada yang membuka pembicaraan lagi, yah mungkin karena sudah malam rasa kantuk mulai merambat perlahan.
"Nona, anda mau langsung pulang ke rumah anda atau mampir ke mansion saya? Saya kasihan pada anda, sekarang sendirian di rumah. Tenang saja, saya tak akan berbuat macam-macam." tawar Duke Rigvsen.
Sebenarnya tawaran Duke Rigvsen lumayan bagus, karena ia bisa menjalankan rencananya tanpa terganggu, tapi sangat beresiko jika Estera tak ada di rumah setelah malam pemakaman. "Mungkin besok sore, ada beberapa riasan yang harus aku persiapkan sendiri. Dan juga sangat beresiko memunculkan kecurigaan orang-orang".
Duke Rigvsen mengangguk, "baiklah, saya akan menjemput anda besok sore sepulang dari mansion Baron Dervixon." Estera tersenyum sebagai tanda terimakasih.
Ada sedikit perasaan lega dan nyaman saat bersama Duke Rigvsen, bukan karena Estera menyukainya, namun ia senang mendapatkan partner yang memiliki tujuan yang sama dengannya.
Sudah cukup Estera tersiksa dengan masa lalunya, sudah cukup ia berbuat baik dan membuat dirinya masuk ke dalam api. Saat ini ia harus terlahir menjadi penjahat dan memukul mundur orang-orang yang mengkhianatinya, meski menimbulkan korban dan mendapatkan kebencian pun tak apa baginya.
TBC