
Dito termenung di atas balkon kamar nya dengan tatapan kosong pikirannya terpenuhi dengan nama Kirana.
Kirana Azullia? Kirana? Rana? Pikirannya terus berkecamuk dengan nama tersebut, Dito mengacak Rambutnya kesal, bagaimana bisa dia berpikir kalo teman pacar nya itu adalah wanita yang pernah mengisi indah masa lalu nya.
"Argghh sial" dito bergumam pelan, terus menerawang langit-langit sore yang tampak cerah. Sampai pada akhirnya suara notif pesan membuyarkan pikiran nya, ia segera melihat siapa nama pengirim tersebut. Yah Tertera nama besar KIMBERLY di sana, tidak ada panggilan spesial di kontak nya ntah karna hubungan mereka masih baru, atau karna keinginan dari hatinya sendiri.
From
KIMBERLY
"Dito lagi apa?"
"Berly? Tumben chat? Lagi duduk ni"
"Gpp si, emang ganggu ya?"
"Ngga sayang, tumben ni ga pake
kata kak?"
"Lagi belajar, tapi gak enak banget:'(
Kesan nya aku gak sopan gitu"
"Gpp, lebih baik gini. Lebih nyaman"
"Hehe, udah dulu yah berly
mau mandi ni"
"Yaudah, eh bentar ly. Boleh nanya gak?"
"Nanya apa?"
"Temen kamu yang waktu itu di restoran, nama nya kirana yah? Kalo boleh tau
Nama panjangnya apa?"
"Tumben kepo? Emang kenapa, nama
Mantan kamu kirana yah? Hahahaa"
"Emang gak boleh kepo, haha dasar
Anak panda pelit"
"Ly?"
Tak ada jawaban dari Berly, bahkan tanda Read di pesan nya pun tidak ada, sepertinya berly memang belum membaca pesan terakhir dito untuknya.
****
Penghuni rumah besar keluarga Regatra tengah sibuk dengan urusan nya masing-masing, Viktor yang tengah sibuk Membaca di ruangan khusus miliknya dengan banyak Buku-buku, meja dan kursi lengkap dengan alat-alat belajar nya.
Devan yang tengah heboh dengan Game Free cacing di handphone nya, berteriak menggelegar tat kala cacing nya mati karna menabrak cacing orang lain.
Pak Riyo yang sibuk mengurus Berkas-berkas perusahaan di ruang kerja milik Almarhum adik ipar nya, yang kini berganti alih pemilik saat dirinya ada di Indonesia.
Bu Qila Kebetulan tidak ada di rumah, ia sedang ada pertemuan ibu-ibu arisan di komplek tetangga bersama pak Ucup, supir keluarga Regatra yang sudah bekerja hampir 3 tahun lebih.
Bi ijah sedang memasak makanan untuk makan malam orang-orang di rumah, bersyukur nya, bi ijah kini kedatangan partner baru dari jawa, nama nya Murni. Kini Bi murni bisa meringankan pekerjaan nya. Karna sejujurnya bi ijah sering kewalahan mengurus rumah besar ini seorang diri.
Devan lelah setelah berteriak-teriak bak anak gadis di sekolahan nya yang suka heboh melihat pria tampan. Dia beranjak dari ruang keluarga untuk mengambil air ke dapur.
"Kebakaran-kebakaran"
Suara menggelegar devan di sambut panik oleh kedua wanita yang tengah sibuk di dapur itu, "Hindung gustiiiii kabakaran dimana den," bi ijah berlari kencang sambil membawa panci penggorengan yang hendak ia taro di kompor. "Oaladalah Bi ijah tunggu murni bi" bi murni yang sedang duduk sambil mengiris bawang pun segera bangkit dan berlari menyusul bi ijah.
Sedangkan Devan tertawa terbahak-bahak menyaksikan kejadian yang ada tepat di depan mata nya, di dapur yang amat besar itu bi ijah dan bi murni berhamburan, lari ke arah nya. Devan yang saat itu masi berdiri di ambang pintu sampai di buat sakit perut karna nya.
Bi ijah dan bi murni hanya mematung di tempat, tak mengerti dengan sikap tuan muda nya itu, bi murni bahkan hampir saja menangis karna saking takut nya.
"Tenang bi tenang!, aduh bibi-bibi ini gampang banget si di kibulin, aduu perut devan sakit banget sumpah hahaahaaa" devan tak henti nya tertawa, sungguh pemandangan langka bagi nya, kapan lagi bisa mengerjai dua bibi nya sekaligus.
"ADENNNNNNN" murka bi ijah, yang langsung di sesali devan. "Ampun bi ampun" devan langsung lari terbirit-birit. Sedangkan bi murni hanya geleng-geleng kepala melihat nya, ternyata keluarga kaya raya tidak semuanya bersikap sombong dan berhati dingin. Keluarga Regatra menjadi salah satu contoh, dimana Golongan Tinggi Rendah, Kaya Miskin, Majikan Pembantu, tidak menjadi penghalang akan rasa persatuan dan kesatuan.
Bi ijah dan bi murni kembali pada aktivitas nya masing-masing, bi murni ta henti nya tertawa saat mengingat betawa lucu nya kejadian beberapa menit lalu, di tambah bi ijah yang berdongeng panjang lebar tentang ke humorisan dan kebaikan keluarga tersebut.
Devan yang tadi nya berniat mengambil air pun mengurungkan niat nya, ia tak berani jika bi ijah sudah ngamuk. Devan kenal betul dengan bi ijah, selama ini bi ijah lah yang mengurus nya dan menemani nya di kala mamah nya __bu qila, tengah sibuk dengan urusan pribadi nya.
Devan sangat takut jika bi ijah sedang marah, karna menurut devan marah nya bi ijah lebih kejam dari pada seorang mamah tiri di sinetron-sinetron indosiar. Yang lebih tepat nya sering devan liat saat bi ijah sedang menonton nya sendiri sambil membentak-bentak gambar tak berdosa di layar tv tersebut.
"Buset dah. Nyesel gw udah bangunin tu macan. Gw kan jadi gak bisa minum." gerutu nya saat sudah kembali duduk di sopa depan televisi. "oh iya, di rumah ini kan sekarang bukan gw doang." ide cemerlang nya tiba-tiba muncul saat ia melihat Viktor keluar dari ruangan nya.
"Aduuuuuuhh aduuuu perut gw, tolong woiii, adu sumpah perut gw sakit niii." devan tiba-tiba histeris agar Viktor menghampiri nya. "Woiiii kampret Alllllll... Viktor kontetttttttt woi tolong-" tak sempat melanjutkan drama nya, devan di buat diam saat Viktor sama sekali tidak memberikan respon apa pun, bahkan untuk nengok ke arah dirinya pun tidak di lakukan nya. Viktor hanya santai melenggang dengan satu tangan di dalam saku celana nya, dan tangan kanan nya membawa satu buku yang lumayan tebal.
"Lah!! Budeg apa gimana si tu orang, gw teriak kencang kek gini masa gak kedengeran." devan menggerutu di tempat nya, menghembuskan napas nya kasar lalu beranjak pergi dari tempat itu.
****
Viktor, Devan dan Pak Riyo sudah stay di meja makan. Sedangkan bu Qila belum juga pulang dari acara nya.
"Pah, lusa papah sama Viktor pulang ke singapur yah?" tanya Devan memecah keheningan di ruang makan itu.
Pak Riyo sedikit tercekat dengan pertanyaan devan, ada suatu hal yang pasrinya sulit untuk pak Riyo ungkapkan. "Kenapa dev?" tanya nya balik.
"Iya-iya. Santay ae atu mang" Akhir devan, lalu semua nya kembali melanjutkan aktifitas makan nya tanpa ada satu suara pun yang mengganggu.
****
Berly dan keluarga nya berkumpul di ruang makan, semua nya sudah siap dan rapih untuk menjalani Aktivitas nya masing-masing. Ayah nya sudah siap untuk pergi ke kantor, begitupun Berly dan Tesya yang sudah rapih dengan seragam sekolah nya.
"Bun, yah."Singkat berly yang lalu di pandang semua orang disana. "Iya ly, kenapa?" tanya ayah, lalu kembali menyuap kan makan an ke mulut nya.
"Bunda sama ayah jangan marah yah!" ucap nya, lalu menarik napas pelan dan memasang wajah tegang.
"Ada apa sayang? Bikin dagdigdug aja ih" saut bunda. "berly mau jujur" katanya.
"Jujur apa si?" penasaran tesya. "Jadi sebenarnya... Yang waktu itu berly ijin sama bunda kalo berly mau jalan sama temen itu boong" kata nya dengan raut tegang. Ada benak takut di wajah nya. "Maksud kamu?" tanya bunda bingung.
"Iya, jadi.. Dia itu pacar berly!" berly mengatakan nya dengan cepat, lalu menundukkan kepalanya dalam. Sungguh dia takut sekali terkena sembur dari ayah nya.
Aktivitas makan pun terhenti seketika. Bunda tidak percaya berly bisa berbohong hanya masalah pacaran. Ayah pun sama, dengan wajah datar nya ia menatap lekat wajah tertunduk berly. Semua nya terfokus pada berly, ___taman sudah riwayat nya.
"Iya berly minta maaf sudah berbohong pada kalian! Berly minta maaf banget. Tapi berly juga takut buat jujur sama kalian." di benak berly masih ada kesempatan untuk semua nya bisa bersikap biasa-biasa saja. Tapi semua nya tak sesuai harapan saat bunda nya ternyata mulai merecokinya.
"Sudah berapa lama?" tanya ayah judes. Tak seperti biasa nya saat menggoda anak nya tentang berpacaran.
"dua bulan lebih" jawab nya jujur. Yang langsung mendapat pelototan dari dari sang bunda dan adik nya.
"Serius kamu ly! Kamu berhubungan dengan cowo selama itu tanpa sepengetahuan kami?" tanya bunda yang agak syok. Berly hanya mengangguk malu.
"Tapi bunda sama ayah biasanya juga suka goda berly masalah pacaran. Dan itu slow-slow aja. Terus kenapa sekarang pada berlebihan gini" berly berani menjawab dengan wajah tegap. Pandangan nya menatap lurus ke arah depan.
"Tapi itu beda berly!" bentak ayah dengan wajah yang masih datar tanpa ekspresi.
"Kalian kenapa si!, berly cuma berhubungan biasa layak nya remaja jaman sekarang. Tapi kenapa gak ada yang bisa ngertiin sama sekali." sentak berly, lalu beranjak dari tempat duduk nya.
"Mbaaa Tunggu" teriak tesya mengejar langkah berly. Kedua orang tua nya masih termenung di tempat tersebut.
"Ayah berangkat dulu bun, jangan terlalu di pikir in, kita bahas nanti saja setelah ayah pulang kerja." ucap nya. lalu dengan sigap bunda mencium punggung tangan suami nya. "Ayah berangkat ya. Assalamualaikum".. "Iya yah hati-hati, waalaikum salam"..
****
"Mba tunggu ishh" tesya terus membuntuti langkah cepat mba nya. Hingga tiba di sebuah trotoar jalan raya akhirnya mereka pun berpisah. "Mbaaa" tesya sempat memegang pergelangan tangan mba nya yang tengah melambai kan tangan pada Sebuah Taxi. "Mba Tunggu" teriak tesya. Berly pun sempat memandang wajah kekhawatiran adik nya itu. "Mba gpp kok, kamu cepet berangkat ntar telat. Mba duluan" ucap nya lalu dengan segera langsung memasuki Taxi yang ada di depan nya.
Tesya sedikit lega dengan apa yang di ucap kan mba nya. Ia tau betul bagaimana perasaan kakak tersayang nya itu. Mungkin tindakan berly memang tidak salah. Tapi ntah apa yang menjadi alasan orangtua nya menentang hubungan mba nya itu.
****
"Ini pak uang nya, makasih" berly menyerahkan beberapa lembar uang kertas pada pak sopir, lalu beranjak keluar dari taxi tersebut.
Syukurlah berly belum telat, masih ada sisa 5 menit untuk Bell masuk di bunyi kan. Ia segera berjalan memasuki gerbang besar sekolah itu.
Berly terus berjalan di koridor kelas XI dengan rusuh, namun langkah nya terhenti saat melihat Sahabatnya, ___Kirana nampak asik berjalan sambil bercanda ria dengan Aurel, __teman sekelas mereka berdua.
"Kir-" Dengan acuh nya, kirana hanya melewati Dan tak menghiraukan panggilan berly. Tidak masalah, berly sudah biasa di campakan seperti itu akhir-akhir ini.
Berly kembali berjalan menuju Ruang Kelas nya. XI IPSa, dia mencepatkan langkah kaki nya __tidak ingin terlambat masuk kelas. Jujur Berly sangat sensitif dengan hal-hal yang berbau BK.
****
"Kir, tadi berly manggil lo. Kenapa gak berhenti?" tanya Aurel, saat kedua nya keluar dari toilet wanita.
"Masa sih?, hehe gw gk denger, udah yu ah" jawab nya santai. Aurel tak begitu menghiraukan nya.
Mereka segera kembali ke kelas untuk mengikuti Jam pelajaran.
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Ingat..!!
Kamu Bisa Menemukan Kebahagiaan Dari Benih Kesabaranโช
KIMBERLY ALVERA STIPANY
.
.
.
ALHAMDULILLAH MASIH BISA PUBLIS:')
TAPI MAAF GAK BISA SAJIIN YANG TERBAIK:)
DITUNGGU UP AN BERIKUT NYA YAH GUYS..!!
JANGAN LUPA VOTE COMMENT SAMA SHARE CERITA INI:')
SETIDAKNYA "ADA HARGA DARI SEBUAH USAHA:')"
MAKASIH YANG UDAH BANTU AKU DENGAN TETEP STAY DI CERITA INI.
OH IYA, JANGAN LUPA COMMENT-COMMENT DUNG. AKU MAU TAU SIAPA AJA YANG MAU BACA CERITA KU INI๐ BIAR BISA SILATURAHMI:D .. Kan enak tuuu-,-__๐๐
Yodah lah. Sampai disini dulu yah guys.. Pay-pay jumpa di up an selanjutnya.. Bubay-,- LOVE YOU All๐๐๐