THIS IS GAY IS MY HUSBAND

THIS IS GAY IS MY HUSBAND
Bab 4. Bersandiwaralah Denganku!



"Sebenarnya, darimana gadis ini berasal...sungguh membuatku sakit kepala."


Ucap Rikenzo.


"Aku tidak tahu, tuan darimana gadis tersebut berasal...tiba-tiba, saja dia menyeruak di antara aku dan tuan...dan, segera menggandeng tangan tuan seenaknya."


Ucap Madam Silva.


"Dia gadis yang berani menggandeng tanganku...tidak takut kepadaku...malah, ingin masih bermain sandiwara denganku...benar-benar gadis yang tidak takut mati."


Ucap Rikenzo.


"Jika, tuan mau...aku bisa menyingkirkan gadis itu."


Ucap Madam Silva.


"Jangan! Biarkan, saja...dia tidak berbahaya."


Ucap Rikenzo.


"Tetapi, tuan? Yang terlihat berbahaya...justru adalah kebalikannya."


Ucap Madam Silva mengingatkan. Dan, Rikenzo hanya diam saja ketika saat itu tepat Alyssa hadir disana dan ikut dalam pembicaraan mereka berdua.


"Mengapa, diam? Tadi, kalian membicarakan apa? Tampak serius."


Ucap Alyssa.


"Bukan urusanmu! Sebaiknya, kau pergi dan nikmati pestanya."


Ucap Madam Silva kesal.


"Hei, bukankah kau hanya seorang pelayan? Mengapa, mulutmu sangat tajam...melebihi tajamnya pisau?"


Ucap Alyssa.


"Kau!"


Ucap Madam Silva ingin marah. Tetapi, tertahan karena Rikenzo memberinya isyarat untuk tidak membuat masalah semakin besar.


"Mengapa, kau diam?"


Ucap Alyssa.


"Apakah, kau sudah cukup berbicara atau belum?"


Ucap Rikenzo tiba-tiba.


"Ah, pria cantik? Hehe...tiba-tiba, kau berinisiatif berbicara...aku belum selesai berbicara."


Ucap Alyssa.


"Kalau begitu, selesaikan sampai akhir!"


Ucap Rikenzo sambil berjalan mendekati Alyssa dan memeluk tubuh Alyssa. Alyssa yang mendapat perlakuan seperti itu benar-benar terkejut dibuatnya. Lalu, Rikenzo pun berbisik di telinga Alyssa.


"*Bersandiwaralah denganku...dan, akan aku berikan apa pun yang kau mau?"


Bisik Rikenzo di telinga Alyssa.


"Hehe...ternyata, pria cantik tidak tahan lagi ingin bermain sandiwara denganku...padahal, tadi kau bilang cukup satu kali saja."


Ucap Alyssa.


"Aku menarik ucapanku! Bagaimana?"


Ucap Rikenzo.


"Setuju! Tetapi, jangan menyesal ya? Kalau aku memintanya nanti."


Ucap Alyssa.


"Aku tidak akan menyesal."


Ucap Rikenzo*.


Tepat saat itu seorang lelaki bernama Jerry datang menghampiri ketiganya disana. Rikenzo memberi isyarat kepada Madam Silva untuk menyingkir.


"Hai, cantik?"


Sapa Rikenzo.


"Cantik? Siapa? Aku?"


Ucap Alyssa.


"Ck, siapa kamu? Terlalu percaya diri!"


Ucap Jerry sambil berjalan mendekati Rikenzo. Dan, Alyssa seketika membantu mendengar kata-kata dari Jerry barusan.


"Cantik?"


Ucap Jerry sambil menyentuh dagu Rikenzo. Alyssa menoleh ketika Jerry mulai beraksi merayu Rikenzo.


Ternyata ini yang dimaksud pria cantik...hegh! Ekstrim juga.


Ucap Alyssa dalam hati. Alyssa pun berjalan mendekati Jerry dan Rikenzo. Alyssa menarik lengan Rikenzo sambil berkata...


"Sayang? Siapa, lelaki itu? Apa, dia maduku?"


Ucap Alyssa. Begitu mendengar kata-kata tersebut keluar dari mulut Alyssa hampir saja membuat Rikenzo tertawa. Tetapi, ia menahannya.


"Hei, siapa kau ini? Mengapa, kau berada diantara aku dan si cantik?"


Ucap Jerry marah.


"Apa, kau tuli? Tidak mendengar kata-kataku baru saja? Pria cantik ini kekasihku."


Ucap Alyssa.


"Apa, kekasihmu? Cantik? Dia bercanda bukan...itu tidak mungkin bukan."


Ucap Jerry dan Rikenzo diam saja.


"Apa, kau tidak percaya?"


Ucap Alyssa.


"Tidak! Aku tidak percaya."


Ucap Jerry.


"Mau bukti?"


Ucap Alyssa.


"Bukti apa? Kurasa kau tidak bisa membukti...kannya."


Ucap Jerry sambil tergagap sebab ia melihat pemandangan menyeramkan tersaji di hadapannya. Ia melihat Alyssa mencium bibir Rikenzo secara tiba-tiba. Dan, hal tersebut sukses membuatnya menjadi mematung untuk sesaat.


"Sudah lihat?"


Ucap Alyssa. Dan, Rikenzo pun berbisik di telinga Alyssa dengan jantung yang berdebar-debar.


"*Gadis sialan! Kau mencuri ciuman pertamaku."


Bisik Rikenzo.


"Ah, ciuman pertamamu? Aku beruntung."


Ucap Alyssa.


"Kau yang beruntung...aku yang buntung."


Ucap Rikenzo.


"Bukankah, kau menyuruhku bermain sandiwara? Jadi, nikmatilah!"


Ucap Alyssa*.


"Hu...kalian membuatku patah hati."


Tidak kusangka ternyata cara ini lumayan...untuk mengusir pria genit tersebut...tetapi, ciuman pertamaku sudah direbut gadis menyebalkan ini.


Ucap Rikenzo dalam hati kesal sambil mengusap bibirnya tadi yang dicium oleh Alyssa.


"Dia sudah pergi...kau menggunakan perisai yang tepat...ingat, kata-katamu...kau akan memberikan apa pun yang kumau."


Ucap Alyssa.


"Aku akan menepatinya."


Ucap Rikenzo.


"Janji seorang pria."


Ucap Alyssa.


"Ya, janji seorang pria."


Janji Rikenzo.


"Baiklah, aku pergi dahulu untuk mencari teman."


Ucap Alyssa kemudian segera berlalu dari sana. Madam Silva melihat segala yang terjadi. Sebab, ia selalu memperhatikan segala sesuatu yang terjadi pada Rikenzo.


Teenyata gadis itu berani mengambil kesempatan dalam kesempitan...dia tidak salah...salah tuan sendiri...memberinya kesempatan untuk berada di sekitarnya dengan leluasa.


Ucap Madam Silva dalam hati.


"Tuan bukanlah orang yang sesederhana itu...tetapi, kali ini dia sanggup dikelilingi gadis tersebut...bahkan mau menemaninya bermain sandiwara."


Ucap Madam Silva.


"Apakah, akan terbit matahari dari sebelah barat?"


Ucap Madam Silva.


"Hu...matahari masih akan terbit di sebelah timur."


Ucap Jerry sudah ada di sisi Madam Silva dengan air mata yang berderai.


"Oh, kau rupanya? Mengapa, denganmu?"


Ucap Madam Silva.


"Apa, kau tidak melihat adegan tadi...sa...sangat menyeramkan...hu."


Ucap Jerry. Dan, Madam Silva pun menepuk-nepuk bahu Jerry memberinya dukungan.


"Kau sudah tahu...bahwa akan berakhir mengenaskan...dan, kau masih saja mencobanya."


Ucap Madam Silva.


"Hu...awalnya aku berpikir...aku dapat menggoyahkan pendiriannya...tidak tahunya ternyata dia sudah mempunyai iblis kecil tersebut di sampingnya."


Ucap Jerry.


"Sudah jangan menangis lagi...nanti, akan kucarikan pria cantik untukmu."


Ucap Madam Silva.


"Benarkah?"


Ucap Jerry dengan wajah berseri-seri.


"Benar!"


Ucap Madam Silva.


"Kau serius?"


Tanya Jerry.


"Sekali kau bertanya begitu...maka, aku tidak jadi mencarikannya untukmu."


Jawab Madam Silva mengancam.


"Hei, tunggu...jangan, marah...aku salah...ayo, kita minum."


Ucap Jerry.


"Nah, begitu baru bagus."


Ucap Madam Silva sambil berjalan membawa Jerry untuk meminum minuman yang di sediakan disana. Sedangkan, Alyssa sedang mencari Rini dimana saja. Tetapi, tidak bertemu dengan Rini.


"Si Rini ini dia mirip seperti bunglon saja...sanggup bersembunyi dariku...bahkan, dia tidak terlihat dimana pun sejak tadi."


Ucap Alyssa.


"Sepertinya, aku perlu bantuan seseorang?"


Ucap Alyssa kemudian berlalu pergi menemui Rikenzo yang sejak tadi hanya menyendiri di sudut balkon tanpa ditemani siapa pun.


"Pria cantik?"


Sapa Alysaa dan Rikenzo pun menoleh.


Aduh? Mengapa, masalah ini datang lagi."


Ucap Rikenzo dalam hati.


"Sepertinya, bukan kebetulan kau datang menemuiku lagi...apa, kau ingin bermain sandiwara lagi?"


Ucap Rikenzo.


"Tidak! Kali ini, tidak."


Ucap Alyssa.


"Katakan, saja!"


Ucap Rikenzo.


"Bukankah, kau bilang...kau akan memberikan apa pun yang kumau?"


Ucap Alyssa.


"Itu benar!"


Ucap Rikenzo.


"Itu tadi aku datang kesini bersama dengan seorang teman...tadi, aku sudah mencarinya kemana-mana tetapi, tidak bertemu...jadi...


Ucapan Alyssa terpotong.


"Siapa, namanya."


Tanya Rikenzo.


"Rini!"


Balas Alyssa.


"Baiklah, kau tunggu disini."


Ucap Rikenzo.


"Kau mau kemana, pria cantik?"


Ucap Alyssa.


"Mengobrak-abrik tempat ini."


Ucap Rikenzo kemudian segera bergerak. Ia memanggil seluruh anak buahnya untuk menemukan Rini teman Alyssa. Sedangkan, Alyssa berharap-harap cemas. Sebenarnya, apakah yang sudah terjadi kepada Rini temannya itu.


Bersambung...


THIS IS GAY IS MY HUSBAND