
Kediaman keluarga angkat Alyssa Monic...
Pertengkaran terjadi di rumah mungil nan sejuk tersebut. Dimana sang ayah, selaku pemilik rumah menginginkan putri angkatnya menikah dengan lelaki pilihan mereka. Akan tetapi, Alyssa tidak ingin menikah dengan lelaki yang telah dipilihkan untuk dirinya.
"Tidak, ayah! Aku menolak perjodohan ini."
Ucap Alyssa sambil berteriak.
"Alyssa, ayah mohon...ini semua demi kebaikan dirimu."
Ucap ayah angkatnya.
"Ini bukan demi kebaikanku...tetapi demi kebaikan ayah dan keluarga ayah...aku tahu ayah, aku hanya anak angkat ayah bukan anak kandung ayah."
Ucap Alyssa.
"Alyssa, walaupun kau bukan putri kandungku...tetapi kau juga bagian dari keluarga ini...kau putriku...untuk itu dengarkanlah ayah, Alyssa."
Ucap ayah angkat Alyssa.
"Tidak, ayah! Jangan, paksa aku...kumohon mengertilah...aku tidak mau dan aku menolak, oke?"
Ucap Alyssa sambil berjalan keluar dari rumah dan pergi tidak tahu kemana.
"Alyssa! Tunggu! Mau kemana, kau."
Ucap ayahnya berteriak. Akan tetapi, tidak ada Alyssa tidak menggubris teriakan ayahnya. Ia tetap pergi meninggalkan ayahnya disana. Alyssa pergi ke rumah temannya untuk mengadu.
"Jadi, ayahmu ingin menikahkanmu?"
Ucap teman Alyssa.
"Ya, Rin...tetapi, aku tidak mau Rin?"
Ucap Alyssa.
"Boleh ku tahu alasannya...sehingga, kau menolak lelaki yang dijodohkan denganmu itu."
Ucap Rini teman Alyssa.
"Kau sungguh ingin tahu apa alasanku?"
Ucap Alyssa.
"Ya."
Ucap Rini pendek.
"Karena dia tidak tampan!"
Ucap Alyssa.
"Apa! Hanya alasn itu saja?"
Ucap Rini terkejut.
"Tentu saja! Apalagi, jika aku terbangun di pagi hari...mendapati suamiku dengan wajah jeleknya...bukankah membuat moodku menghilang?"
Ucap Alyssa kesal. Mendengar hal tersebut, membuat Rini menjadi tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha...jadi karena alasan wajah jelek tersebut...sehingga, kau menolaknya."
Ucap Rini.
"Huh! Lebih baik aku menikah dengan gay...daripada harus menikah dengan lelaki jelek yang dipilihkan oleh ayahku."
Ucap Alyssa.
"Huss! Hati-hati dengan ucapanmu itu, Alyssa...bisa menjadi kenyataan."
Ucap Rini tiba-tiba.
"Memangnya mengapa? Aku tidak keberatan."
Ucap Alyssa.
"Ck, apa bagusnya jika kau memiliki suami gay?"
Ucap Rini.
"Bagusnya adalah aku dapat melihat wajah tampannya setiap hari...dan, tidak merusak moodku di pagi hari."
Ucap Alyssa.
"Apa? Kau memang sudah gila."
Ucap Rini.
"Jika, terkabul maka aku akan...memakai pakaian terbalik setiap hari...hahaha."
Tawa Alyssa kencang memecah keheningan malam.
"Kalau seperti itu...maka, aku tidak ikutan."
Ucap Rini sambil tersenyum.
"Baiklah."
Ucap Alyssa.
"Tetapi, aku akan mengingatnya."
Ucap Rini lagi. Lalu, akhirnya Alyssa pun terlelap di dalam kamar Rini. Rini menyelimuti tubuh Alyssa dengan kain sarung. Beberapa kali ia menggelengkan kepalanya mengingat kembali percakapannya tadi dengan Alyssa. Tidak lama rasa kantuk pun menyerangnya dan mengharuskan dirinya memejamkan mata sampai pagi menjelang.
House Gays Daddy...
Asap rokok mengepul dari sela-sela bibir tebal dan sexy tersebut. Sesekali, jari-jemarinya membuang abu rokok di asbak yang tersedia. Tatapan matanya jauh menerawang. Membuatnya teringat akan kehidupan masa lalu yang telah ia alami dahulu sekali. Namun, satu tepukan di bahunya yang kekar membuatnya terkejut dan tersadar dari lamunannya.
"Bro! Kau disini, rupanya."
Ucap seseorang menyapanya.
"Kau, Jerry! Mengagetkanku saja."
Balasnya.
"Hehehe...bagaimana, apakah bisnismu lancar?"
Ucap Jerry.
"Apa matamu buta? Kau lihatlah sendiri."
Ucapnya.
"Aku sudah melihatnya! Tetapi, dimana anak emasmu itu."
Ucap Jerry.
"Siapa, yang kau maksud."
Ucapnya.
"Lelaki cantik itu?"
Ucap Jerry.
"Kusarankan, kau jangan bermain-main dengannya."
Ucapnya.
"Mengapa?"
Ucap Jerry.
"Dia hanya tamu disini...dia tidak bekerja untuk melayani lelaki binal seperti dirimu."
Ucapnya.
"Alah, masa sih? Aku ingin sekali mencobanya."
Ucap Jerry.
Ucapnya.
"Eh? Apakah, dia sangat galak?"
Tanya Jerry.
"Ya, dia sangat galak...berhati-hatilah."
Balasnya.
"Aku ada tamu istimewa...aku pergi layani dahulu...kau bersenang-senanglah."
Ucapnya.
"Baiklah."
Ucap Jerry. Dan, sang lelaki yang menjadi temannya Jerry tersebut segera bangkit dari duduknya dan menghampiri seorang tamu istimewa. Ia melayani segala keinginan dari sang tamu.
"Baiklah, tuan? Aku, akan menyediakannya."
Ucapnya.
"Oh, kudengar kau juga memiliki sesuatu yang baru disini...bolehkah, kau bawakan dia untukku?"
Ucap sang pelanggan.
"Maaf, tuan? Tidak bisa...dia hanya tamu disini...sama seperti anda."
Ucapnya.
"Hei, madam Silva! Mengapa, kau mendadak menjadi pelit begini sih? Akan aku bayar berapa pun harganya."
Ucap pelanggan.
"Mau, tuan memberikan harga setinggi langit sekali pun...baik, jika itu harta karunmu habis sekalipun demi dia...tetap, tidak bisa kukabulkan keinginanmu."
Ucap orang yang dipanggil madam Silva tersebut.
"Mengapa, kau begitu angkuh...hanya seorang lelaki cantik saja...kau menjadi sombong sekali."
Ucap pelanggan.
"Tuan? Bersikap sopanlah...anda tidak tahu anda sedang berada dimana saat ini."
Ucap madam Silva.
"Tidak perlu kau jelaskan! Aku tahu aku berada di tempat yang tidak baik...memperdagangkan lelaki...aku menjadi ingin tahu...bagaimana, rupa si sialan pemilik tempat ini...panggil dia!"
Ucap pelanggan marah. Namun, madam Silva hanya tersenyum saja.
Aih...pelanggan ini tetap keras kepala...jika dia tahu siapa yang dia singgung...sudah pasti kata-kata busuk itu tidak akan keluar dari bibirnya.
Ucap madam Silva.
Tuan? Sampai kapan kau akan diam saja...tidak bertindak seperti biasanya...menghancurkan setiap orang yang menghina dirimu.
Ucap madam Silva dalam hati sambil menatap seorang lelaki tampan yang sedang menuruni anak tangga. Dan, semua yang ada disana tertegun akan kehadirannya yang tampak dingin dan menatap tajam ke satu arah.
"Silva? Ada apa! Aku mendengar seekor hewan menggonggong hari ini di wilayahku."
Ucap lelaki tersebut.
"Tuan Rikenzo? Anda, sudah turun? Tidak apa-apa, tuan...hanya masalah kecil saja...aku dapat menyelesaikannya."
Ucap madam Silva.
"Oh, ya? Kau dapat membereskannya...tetapi, mengapa suara gonggongannya masih terdengar jelas di telingaku."
Ucap lelaki yang dipanggil Rikenzo.
"Hei, siapa kamu! Jangan, ikut campur! Siapa, juga yang kau sebut hewan menggonggong disini."
Ucap pelanggan kesal.
"Apa, aku bicara denganmu?"
Ucap Rikenzo dingin dengan tatapan mata yang tajam. Terasa menusuk hati siapa pun yang melihatnya. Seketika pelanggan tersebut pun menjadi takut.
"Eh? Tidak, tuan...aku mengaku salah...aku akan pergi dan tidak berbuat kacau disini."
Ucap pelanggan melangkah pergi.
"Tunggu!"
Ucap Rikenzo.
"Ya, tuan?"
Ucap pelanggan.
"Kau telah membuat keributan disini...sebagai pemilik...bukankah aku harus bertindak mendisiplinkan para tamu yang berbuat onar."
Ucap Rikenzo.
"Maksud, anda tuan?"
Ucap pelanggan.
"Aku ingin kompensasi dari hasil kerja kerasmu itu...sekarang juga!"
Ucap Rikenzo tegas.
"Tetapi, tuan...
Ucap pelanggan.
"Apa! Bukankah, tadi kau sangat garang...sangat kuat? Kekuatan bicaramu pasti sebanding dengan jumlah uang yang kau miliki...ganti rugi maka kau boleh pergi...jika tidak?"
Ucap Rikenzo tidak meneruskan ucapannya.
Sialan! Dia adalah pemilik tempat ini ternyata...lelaki cantik ini adalah sang pemilik...aku sudah menyinggungnya...tamatlah aku.
Ucap pelanggan dalam hati.
"Ba...baiklah...akan aku ganti rugi."
Ucap pelanggan tersebut.
"Bagus! Berikan, kepada madam Silva."
Ucap Rikenzo.
"Iya tuan."
Ucap pelanggan.
"Lain kali, jika ada masalah seperti ini...lakukan seperti biasa!"
Ucap Rikenzo kepada madam Silva sambil berjalan kembali ke lantai atas.
"Baik, tuan!"
Ucap madam Silva seraya membungkukkan badan. Dan, Rikenzo sudah tidak terlihat lagi di hadapannya. Madam Silva menyeka keringat yang keluar dari pori-pori kulitnya. Padahal suhu di ruangan tersebut sangat dingin. Sebab, pendingin ruangan yang banyak terpasang di tempat tersebut.
Tetapi, yang membuat madam Silva berkeringat adalah tekanan yang diberikan oleh Rikenzo kepadanya selaku sebagai pemilik tempat tersebut. Membuatnya berpikir beribu kali jika harus berhadapan dengan Rikenzo. Yang dinilainya tidak dapat disentuh oleh siapa pun.
Bersambung...
THIS IS GAY IS MY HUSBAND
Ucap