
“Tok..tok..tok.. Aku pulang.” sapanya sambil mengetuk pintu depan.
Lucas terdiam di depan pintu menunggu ada yang merespon dari dalam rumah. Tetapi tidak ada yang menjawab juga, suara langkah kaki atau keberadaan orang bergerak pun tidak terdengar. Karena rumah lucas terbuat dari kayu, jika ada pergerakan sedikit saja dari seseorang di dalam, suaranya akan terdengar jelas dari luar. Karena tidak ada respon apapun dari dalam, dia lekas membuka pintu dengan hati2.
“Kreeekkk..” Suara pintu terbuka. Lucas dengan hati2 masuk melangkah ke dalam rumahnya.
Sumber penerangan di dalam rumah sangat kurang. Hanya ada cahaya dari bintang2 malam yang masuk melalui jendela dan celah2 rumah.
“Sepertinya semua orang sudah tertidur sekarang.” katanya dalam hati.
Terlintas dalam ingatan Lucas kehidupan sebelum kematiannya. Atmosfer yang sama dan kondisi keluarga yang tidak jauh berbeda.
“Aku sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini.” lucas tersenyum kecil dengan tatapan kosong.
Lalu Lucas menuju ke kamarnya untuk melepas lelah karena seharian menggunakan ability. Sebelum menuju kamar, lucas melewati 2 kamar yaitu : kamar ayah nya Roland Greatwind dan kamar kakak nya Aland Greatwind. Kedua kamar itu tertutup rapat dan tanpa ada suara apapun dari dalam. Lucas berjalan mengendap - ngendap ke kamarnya takut suara langkah kakinya akan membangunkan semuanya.
Setibanya lucas di kamar ia menaruh beberapa tanaman dan batu di atas meja kayu. Meja kayu itu terletak persis di sebelah kasur di kamarnya. Sebelum tidur lucas duduk di atas kasur sambil melihat batu yang dia dapat.
“Kenapa batu ini ada efek status?” lucas terheran melihat batu yang didapatkannya di perjalanan pulang.
Efek status sangat jarang ada di objek2 sekitar, jikalau pun ada hanya berasal dari makanan , senjata atau peralatan. Tapi efek itu berada pada batu biasa yang ia temukan. Batu itu berbentuk oval memanjang sebesar telapak tangan orang dewasa.
#Batu.
Batu biasa.
Str 2
“Efek dari penambahan status ini memang luar biasa, tp apakah batu bisa dimakan?” Lucas masih bingung cara menggunakannya.
Lucas berfikir untuk memasaknya dengan bahan2 lain. Tetapi ia khawatir akan kehilangan efeknya. Ia juga mengecek beberapa tanaman liar yang dibawanya. Saat ia mengecek tanaman itu dari perjalanan, tanaman itu masih memiliki efek status. Tp setelah ia meremas2 hingga hancur, tanaman itu kehilangan efeknya.
"Apa yang harus aku lakukan.. Haruskah aku memakan langsung batu ini?" Ia mulai menggigit batu.
Lucas sedikit tidak waras berusaha memakan batu karena ingin menambah statusnya. Sesaat setelah Lucas menggigit batu, ada suara dari luar. Suara pintu terbuka dan nampak sosok tinggi besar tinggi mendekat ke arahnya.
"Kita tak semiskin itu sampai kau harus memakan batu" suara besar bergema berasal dari sosok itu.
Itu adalah Roland Greatwind ayah dari Lucas Greatwind. Ia memandang Lukas dengan tatapan curiga. Seketika Lucas berhenti dan mengeluarkan batu di mulutnya. Lucas hanya tertunduk malu akan kejadian itu.
"Aku terlalu mengantuk ayah, kukira ini buah." Lucas beralasan untuk menghilangkan kecurigaan.
Roland masih menatap lucas dengan curiga. Tetapi tidak mempermasalahkannya lagi.
"Kukira kau sudah mati saat pergi ke hutan." Kata Roland menatap Lucas.
"Aku baik baik saja ayah." Saut Lucas sambil menunduk.
Roland melihat Lucas untuk beberapa saat memastikan kondisinya. Tanpa sepatah katapun lagi Roland pergi meninggalkan Lucas untuk kembali ke kamarnya. Dalam benak Lucas walaupun ayahnya terlihat tidak peduli, tp dia yakin bahwa ayahnya masih menyayanginya.
Setelah kejadian itu Lucas berhenti untuk meneliti. ia memilih untuk langsung tidur, agar tidak ada kecurigaan lagi dari ayahnya.
"Masih banyak waktu bagiku untuk meneliti ini semua.. besok akan ku lanjutkan" Kata lucas dalam hati.
Lucas menaruh batu nya kembali di atas meja dan merebahkan diri ranjang lalu memejamkan matanya.
Sesosok wanita cantik dengan rambut panjang berwarna pirang dan berkulit putih sedang berdiri di kebun bunga. Wanita itu membuka tangannya seperti mengisyaratkan untuk dipeluk. Itu adalah mimpi Lucas, ia tidak tahu siapa itu. Tetapi ada rasa sangat ingin memeluk wanita itu tanpa keraguan sedikitpun. Lucas langsung berlari ke arah wanita itu lalu memeluknya dengan erat. Entah kenapa Lucas menangis saat memeluk wanita itu. Tangisnya seperti bayi tanpa henti, Pelukan kembali dari wanita itu pun juga terasa sangat nyaman dirasakan Lucas.
Saat bermimpi bertemu dengan wanita itu Lucas merasa itu adalah momen paling bahagia baginya walaupun dalam mimpi. Ada tersirat di benak Lucas, ia tidak ingin terbangun dari mimpi itu. Karena di dalam mimpi itu ia merasakan kasih sayang dan perasaan dilindungi.
Pagi hari disambut dengan kicauan burung dari pojok jendela. Ada burung bertengger di jendela kamar Lucas seakan mengingatkannya untuk bangun.
"Criip.. criip.. criip." Terdengar suara burung.
"Waaaaahaaaaem.." Lucas terbangun dari tidurnya.
Setelah bangun Lucas melihat ke arah jendela dan Langsung tersenyum karena melihat burung yg bertengger di jendelanya.
Burung itu berwarna coklat kemerahan dengan dada berwarna kuning serta berjambul hitam.
"Pagi Seedy." Lucas menyapa burung itu.
Lalu Lucas mengambil biji2n dari tanaman yang dikumpulkannya kemarin malam.
Penamaan Seedy itu cukup sederhana, Lucas memberikan nama itu karena burung itu selalu datang kepadanya untuk meminta bijian2. Lucas terbangun dan menghampiri burung itu.
Seedy tidak terbang kabur saat Lucas mendekat. Seakan sudah terbiasa dengan Lucas, Seedy langsung terbang ke arah tangan Lucas dan Seedy mulai mematuk biji2an di tangan Lucas.
"Kau tidak sabaran ya Seedy.. nih makanlah yang banyak" perasaan tenang dan bahagia tersirat d wajah Lucas.
"Ouh.. sepertinya aku tidak pernah mengecekmu Seedy.. coba ku periksa" Lucas mengaktifkan abilitynya pada Seedy.
—--------------------
—--------------------
\# black crested bird
Burung kecil berjambul hitam
Agi \+ 5
evolusi
"Sejak kapan burung jambul bisa berevolusi?" Lucas terheran-heran dalam hatinya melihat status dari Seedy.
"Apakah kau mengetahui ini Seedy?" Lucas bertanya pada Seedy.
Seakan paham dengan Lucas, Seedy memandang Lucas lalu mengangguk. Lucas pun kaget sejenak melihat respon Seedy.
—-------------------------
#skill stressing used#
—-------------------------
"Aah.. aku mulai gila lagi .. mana mungkin dia mengerti apa yang kuucapkan." Kata lucas tidak percaya.
Lucas melanjutkan melihat status Seedy, dengan memperhatikan lebih lama tulisan Evolusi, otomatis keterangan lanjutan terbuka.
'Evolusi'
LV 2 identity required
"Ouh.. Informasi evolusi masih terbatas rupanya, aku tau ada monster yang bisa berevolusi.. tetapi tidak ada scroll identity yang bisa mengeceknya." Lucas berfikir dalam hati.
"Baiknya nanti saja ku periksa, lagipula belum memungkinkan bagiku untuk sekarang,” Lucas berhenti berharap untuk sementara untuk mengulik informasi lebih jauh.
Seedy masih mematuk matuk biji2an di tangan Lucas dengan sangat lahap dan tak terasa biji2annya sudah habis. Seedy memandang kembali Lucas dan berseru.
"Criip.. Criip.." Seru Seedy seakan mengisyaratkan untuk memberinya lagi.
"Cukup Seedy, hanya segitu saja yang aku bawa." Lucas perlahan mengelus Seedy.
Seperti biasanya setelah Seedy selesai makan, Seedy langsung terbang melalui jendela kamar menuju keluar dan meninggalkan tangan Lucas yang sudah kosong. Perasaan hangat dirasakan Lucas di moment itu seperti keluarga yang menyambutnya setiap pagi.
Setelah ditinggal oleh Seedy, Lucas mengambil barang2nya dan pergi ke ruang tengah untuk makan pagi. Bertemulah Lucas dengan kakaknya yaitu Aland Greatwind. Aland adalah pemuda berumur 18 tahun, bertubuh kekar yang memiliki mata biru dan rambut pirang khas bangsawan. identik dengan Lucas karena dalam keluarga Greatwind memiliki identik warna mata dan rambut yang kurang lebih mirip.
"Selamat Pagi Kak." Sapa Lucas kepada kakaknya dengan wajah tersenyum.
"Gubraaak." Suara hantaman tangan ke meja makan dari Aland.
"Apa maksudmu dengan senyum menjijikkan itu?" Dengan kesal Aland membalas sapaan Lucas.
Lucas sedikit kaget dan teringat kembali gambaran ingatannya tentang keluarganya.
"Sial.. aku lupa kalo orang ini membenciku." Tungkas Lucas dalam hatinya.
Lucas langsung tertunduk dan menggelengkan kepalanya melihat respon Aland. setelah itu. Lucas melihat ke atas meja makan bahwa tidak ada lagi makanan yang tersisa untuknya. Hanya remahan roti gandum yang tercecer di piring kayu.
"Lihat apa kau anak sial? Tidak ada makanan untukmu." Kata Aland dengan nada geram.
"Ayah kemana kak?" Tanya Lucas.
"Kenapa kali ini kau banyak bicara? Mana kutahu.. Ayah juga tidak peduli denganmu.. pergi sana anak sial" Jawab Aland dengan sinis.
Lucas sedikit kesal dengan sikap Aland. tetapi hanya bisa tertunduk dan sambil merenung kembali kebiasaan Lucas sebelum bereinkarnasi. Lucas menyimpulkan bahwa jiwa Lucas yang asli dahulu bukan karakter yang banyak bicara.
Mengetahui hal itu Lucas untuk sekarang lebih hati2 dalam berbicara agar tidak terlihat aneh di depan orang sekitarnya.