The Useless Noble Son Become King

The Useless Noble Son Become King
Chapter .11 Magic Pouch



Gerobak berisi apel apel itu pada akhirnya dibawa ke rumah Lucas untuk ia manfaatkan sendiri. Ia tidak sungkan mengambil semua apel itu, dan tersenyum lebar setelah kepulangan mereka. Siera dan Viktor tidak melanjutkan menemani Lucas karena ingin berlatih kembali untuk meningkatkan status. Mengetahui statusnya masih terlalu rendah, Lucas berpikir juga untuk meningkatkan statusnya.


“Perutku sudah sangat kenyang dengan apel apel tadi… mungkin besok akan kuhabiskan sisanya.” Lucas menggosok perutnya yang kekenyangan.


“Kupikir jika tadi Viktor tidak membantuku menghindar… tamatlah riwayatku di dunia ini.” Keluh Lucas mengingat kejadian tadi.


“Memang Apel sangat membantuku meningkatkan status dengan instan… tetapi sekarang apel di kebun Paman Greed sudah tak mungkin… setidaknya tahun berikutnya baru akan panen kembali.” Keluh Lucas.


“Kira kira apa yang bisa dimanfaatkan lagi untuk meningkatkan statusku ini selain apel?” Lucas berpikir keras sendiri.


“Kalau Gandum mungkin juga memiliki status unik… tetapi perlu menunggu musim berikutnya untuk panen… Hmmb.” Lucas menggerutu sendiri.


Lucas berfikir keras untuk beberapa waktu sambil duduk bersandar di dinding kayu depan rumahnya. Mengerutkan dahi dengan tangan menahan perut dan tangan lainnya menggosok dagu.


Lucas sebenarnya bisa saja ikut berlatih seperti Siera dan Viktor. tetapi karena memiliki tubuh lemah, ia sangat sulit untuk meningkatkan statusnya. Jika anak normal perlu waktu 10 hari untuk meningkatkan 1 status, Lucas 1 bulan pun belum tentu meningkat.


Maka dari itu Lucas berpikir mungkin ada cara lain meningkatkan status, karena latihan fisik tidak cocok untuknya


“Selain latihan fisik aku tidak memiliki banyak opsi… apakah aku mulai bisa berburu monster?” Lucas bertanya pada diri sendiri.


“Kuuurrr…Kuuuurr.” Seedy terbang dari gerobak apel ke arah Lucas seperti menyetujui ucapan Lucas.


“Itu mungkin saja Seedy… kubaca dengan mengalahkan monster juga bisa menambahkan status… tetapi kau tahu… sudah pernah kucoba menginjak injak ratusan Black ant… Tetapi tak ada perubahan apapun pada statusku.” Jelas Lucas.


Black ant adalah monster kecil berkoloni seperti semut pada umumnya dan cenderung tidak agresif.


“Jadi Aku berasumsi… setidaknya harus mengalahkan monster lebih kuat dariku… itu juga sungguh sulit untukku sendiri.” Keluh lucas.


“Kuuurrr.” Seedy menunduk sedih mendengar penjelasan Lucas.


“Jika ku sendiri melawan Horn Rabbit… sekali saja terkena tusukan itu aku langsung mati.” Jelas Lucas dengan muka muram.


“Sendiri ya… sendiri…. Oia kenapa aku begitu bodoh… hahahahaha.” Lucas tertawa memukul kepalanya


“Kenapa harus kulawan sendiri? Aku kan tinggal menyuruhmu melawannya kan?” Lucas bangga menunjuk Seedy sebagai petarung.


Mendengar pernyataan Lucas, Seedy terbang ke atas kepala Lucas dan mematuknya berkali kali.


“Aw… aw..aw.. Berhenti Seedy… aku hanya bercanda.” Lucas tertawa melihat tinggkah Seedy.


“Tentu saja kita akan melawannya bersama… hahaha.” Jelas Lucas pada Seedy.


“Tapi walaupun kita bekerja sama melawan Horn Rabbit… itu juga cukup sulit karena dia terlalu cepat untukku.


“Pertama tama kita harus memiliki senjata… apakah itu pedang, kapak, atau tombak?” Lucas berpikir untuk membeli senjata.


“Baiklah.. Pertama tama aku harus ke toko pengrajin milik Paman Paul.” Lucas sudah menentukan tujuannya pergi ke pengrajin di desa.


Sebelum berangkat Lucas membawa beberapa Apel berstatus khusus di dalam tasnya. Ia berharap sebagai alat tukar nantinya.


Perjalanan ke toko pengrajin itu lumayan memakan waktu karena berada di ujung desa dekat dengan pegunungan. Jika diukur dari jarak rumah Lucas sekitar 40 menit jika berjalan kaki.


Saat sedang menuju ke toko kerajinan itu, Lucas melewati beberapa rumah warga desa HoneyWood. Tampak ada beberapa warga menghinanya saat melewati rumah rumah itu.


“Hey Lucas… Hati hati dengan jalanmu… nanti kau terjatuh dan langsung pingsan… hahaha.” Hinaan salah satu warga desa.


“Harusnya kau tidur saja dirumah… mau apa kau dengan tubuh kurusmu itu?” Hinaan dari warga desa lainnya.


Sebagian warga ada yang ikut tertawa dengan hinaan ke Lucas, beberapa juga tidak peduli dan lebih memilih pura pura tidak mendengar.


Karena warga desa HoneyWood sangat menjunjung status di atas segalanya, mayoritas warga desa memperlakukan orang lemah seperti Lucas seperti sampah. Walaupun begitu, masih ada beberapa orang yang peduli padanya.


Sesampainya Lucas di depan rumah pengrajin Paman Paul, Lucas melihat pintu rumah tertutup tidak seperti biasanya. Lalu Lucas mengetuk pintunya untuk mengkonfirmasi orang di dalam.


“Tok..Tok..Tok… Paman Paul… Kau di dalam.” Panggil Lucas ke dalam rumah.


Tidak ada jawaban dari dalam rumah setelah Lucas mengetuk pintu. Lucas mencobanya lagi berkali kali untuk memastikan.


“Apa Paman Paul sedang tidur ya?” Tanya Lucas dalam hati.


Untuk memastikan kembali Lucas mengecek ke bagian belakang rumahnya, posisi kamar tidur Paman Paul tepat ada di bagian belakang rumahnya. Jadi Lucas mengintipnya dari celah jendela belakang.


Benar saja yang diperkirakan Lucas, Paman Paul sedang tertidur pulas sambil mendekur di ranjangnya. Lucas langsung menggedor jendela kamar Paman Paul dengan kencang.


“Paman Paul bangun!!!... bangun Paman Paul!!!” Teriak Lucas dari balik dinding kamar.


Tidak lama Paman Paul pun terbangun.


“Hoooaaaahuaaeeeemm… Ya aku bangun… siapa disana?” Tanya Paman Paul masih setengah sadar.


“Ini aku Lucas… tolong buka tokomu Paman Paul!!.” Teriak Lucas kembali.


“Baik… Baik Lucas… tidak perlu berteriak lagi… aku sudah bangun.” Balas Paman Paul beranjak dari kasurnya.


Paman Paul adalah Pria berbadan tinggi besar yang sedikit tambun. walaupun tambun, Paman Paul memiliki lengan berotot. Setiap langkahnya terdengar berat di lantai kayu rumahnya.


Beberapa saat kemudian pintu depan rumah Paman Paul terbuka. Tampilan toko pengrajin itu dipenuhi dengan perkakas perkebunan, senjata senjata besi, dan juga armor. Ada juga tungku api dan landasan besi untuk membuat alat alat perlogaman.


“Ada apa kau menggangguku Lucas? aku lelah semalam bekerja… sekarang aku ingin beristirahat.” Paman Paul beralasan.


“Aku ingin membeli sesuatu untuk berburu Paman Paul.” Jawab Lucas.


“Tapi sebelumnya aku membeli… bisakah aku membayarnya dengan apel unik ini? Tanya Lucas.


Paman Paul sempat melihat apel yang di bawa Lucas dan mencoba memeriksanya.


“Apel unik?... coba aku periksa dengan Scroll identity.” Paman Lucas mengambil scroll yang berada di lemari penyimpanan scroll.


“Bagaimana paman? Bisakah aku menukarnya dengan sesuatu?.” Lucas harap harap cemas.


“Hmmbb.. Apel berstatus memang jarang ditemukan Lucas… tetapi ini penambahan status yang sangat rendah.” terang Paman Paul dengan raut wajah kecewa.


“Yah… kukira setidaknya aku bisa menukarkan dengan 1 senjata.” Lucas kecewa dan lesu mendengar pernyataan Paman Paul.


“Belum lagi kau membawanya tanpa Magic Pouch… mungkin besok apel ini akan kehilangan statusnya… aku tidak ingin menurunkan ekspektasi Lucas… tetapi itulah aturannya.” jelas Paman Paul kembali.


Lucas murung untuk beberapa saat, tetapi mencoba untuk tidak putus asa.


“Ngomong ngomong apa itu Magic Pouch? Apakah aku bisa mendapatkannya Paman?” Tanya Lucas heran.


“Itu sangat mahal Lucas… jarang ada orang yg memilikinya di desa ini… mungkin Greed memilikinya.” Pikir Paman Greed mengira ngira.


Setelah mendapat informasi dari Paman paul, ia murung dan merasa perjuangannya mengumpulkan apel bisa sia sia karena ia tak memiliki Magic Pouch. Lucas baru tahu jika buah berstatus khusus memiliki masa kadaluarsa.


“Baiklah Paman Paul… aku pergi dulu… maaf sudah mengganggu” Jalan Lucas terhuyung huyung lesu karena kecewa.


Paman Paul merasa kasihan pada Lucas dan berinisiatif membantunya.


“Tunggu Lucas… kau memang tidak bisa membeli alat alat di sini dengan beberapa apel… bagaimana jika aku buatkan kau senjata dengan bayaran apel itu… tentu saja kau yang harus mengumpulkan bahan bahannya sendiri.


Mendengar itu Lucas langsung berbalik dengan wajah gembira, Lucas merasa seperti pertolongan dari tuhan dalam keterpurukannya. Di matanya Paman Paul seperti bersinar dan mengulurkan tangannya.