
Pada zaman modern di bumi semua orang sibuk dengan pekerjaannya sendiri dan masyarakat di perkotaan yang sangat padat penduduk biasanya memiliki satu sifat yang dominan yaitu individualisme, hanya peduli dengan diri sendiri tanpa melihat kondisi sekitar jika tidak menguntungkan. Kejahatan yang terjadi seperti begal, copet, penipuan, pencabulan, pemerkosaan atau bahkan pembunuhan sudah menjadi biasa yang biasa didengar di dalam berita setiap harinya.
Seorang pemuda paruh baya sekitar 29 tahun tinggi 174 cm bernama Adam hidup di dunia yang keras tersebut dan terpaksa berjuang keras dari usia muda demi menghidupi keluarganya. Dia mencoba berbagai macam pekerjaan tambahan diluar pekerjaannya utamanya sebagai pekerja kantoran. Tidak ada hari libur bagi Adam. Di matanya setiap detik adalah berharga, bahkan sampai tidak memperhatikan kesehatan demi penghasilan tambahan untuk keluarganya. Sedangkan keluarga Adam cenderung malas dan pasif dalam berusaha dan menyerah dengan keadaan dunia yang keras. Keluarganya terdiri dari ayah yang keras, ibu yang sakit-sakitan karena sering menangis setelah anaknya pergi dan tak pernah pulang kembali, satu kakak perempuan yang sudah lama tak ada kabar dan satu kakak lelaki yang merupakan seorang pemabuk dan penjudi.
Walaupun situasi tersebut sangat berat bagi Adam, Adam tetap berusaha lebih keras dari orang kebanyakan. Itu karena Adam mempunyai jiwa pantang menyerah, serta ambisi dan keyakinan yang kuat bahwa semua akan menjadi lebih baik. Dia berpikir jika dia bisa membuktikan diri bahwa dia bisa mencapai kehidupan yang lebih layak maka keluarganya akan ikut semangat mengikuti langkahnya dan menjadi keluarga yang mapan di masa depan.
Di malam bersalju nampak Adam sedang berjalan di jalan pertokoan yang terbuat dari paving batu tertutup salju dan dihiasi lampu jalan bersinar kuning di bagian tengahnya. Adam memasukan tangannya ke kantong jaketnya yang hangat dengan tudung jaket untuk menahan angin musim dingin bertiup ke arah kepala. Badannya sedikit bergetar dengan tangan yang disilangkan di dada selama berjalan. Hampir tidak ada orang yang berkeliaran di luar bangunan karena udara sangat dingin malam itu, tapi Adam tetap memaksakan diri untuk pulang malam setiap harinya.
Adam sedang berjalan sendiri di jalan pertokoan dekat rumahnya karena baru pulang dari kerja lemburnya. Ia memaksakan diri untuk lembur hampir setiap hari karena mempunyai target yang ingin dicapai. Jarak rumah dari kantornya pun lumayan jauh sehingga memerlukan waktu lama untuk pulang dan berjuang melawan cuaca yang tidak mendukung dari musim dingin.
“Chough.. Chough." terdengar suara batuk dari Adam.
"Ah.. sepertinya batuk ini mulai mengganggu, mungkin sebaiknya aku membeli obat di toko terdekat sekarang."
Salju yang turun lumayan lebat dan lampu toko-toko di sekitarnya yang cukup redup telah mengurangi jarak pandang dari Adam. Adam terhenti sejenak untuk melihat lihat kondisi sekitar sambil memicingkan mata. Dilihatnya pintu toko-toko yang sudah tertutup dan ada pula pegawai toko yang baru selesai menutup tokonya. Situasi itu menandakan sudah tidak ada kemungkinan membeli obat saat ini. Adam pun menengok ke jam tangannya ternyata sudah menunjukan jam 12 malam.
."Haaaaah... bodohnya aku, mana ada toko yang buka jam segini di malam bersalju." Adam sedikit kecewa dan menghela nafas. Tidak ingin berlama-lama merasa kecewa Adam pun kembali melanjutkan perjalan pulang ke rumahnya.
Sesampainya di depan rumahnya Adam mengambil kunci pintu di saku jaket dan mulai membuka pintu depan rumah. Rumah Adam sangatlah sederhana dan kecil yaitu sebuah rumah 1 Lantai dengan ukuran 40 meter persegi yang terdiri dari 2 kamar tidur, 1 kamar mandi dan 1 dapur. Bangunannya pun tidak terawat dengan baik. Terdapat banyak rumput ilalang dan cat tembok mulai mengelupas. Setelah pintunya terbuka Adam masuk ke dalam rumahnya dan mulai menyapa.
"Aku pulang," sapa Adam ke keluarganya.
Tetapi tidak ada yang menjawab sapaannya. Adam pun berjalan ke arah kamar orang tuanya untuk mengecek. Di depan pintu kamar Adam mengintip dari celah pintu kamar orang tua yang masih terbuka. Terlihat ayah sibuk bermain game di handphone sambil duduk bersandar di tembok dan ibu yang membelakangi ayah terlihat sedang tertidur di bawah selimut tebal.
"Oke, sepertinya semua baik-baik saja."
Ekspresi lega terlihat di wajah Adam setelah memastikan kondisi orang tuanya. Seperti sudah terbiasa dengan kondisi tersebut Adam langsung melangkah menuju dapur. Dapur di dalam rumahnya cukup kecil yg terdiri dari 1 wastafel menempel dengan meja kayu panjang, kompor yang terletak di atas meja dan alat-alat dapur menggantung di tembok. Adam mengambil ketel air yang berada di atas meja kayu, langsung mengisinya dengan air keran yang ada di wastafel dan mulai memanaskan ketel di kompor.
Selagi menunggu airnya panas Adam mengeluarkan laptop yang ada di dalam tasnya. Adam membuka laptop di atas meja dapur sambil berdiri dan mengecek project-project yang sedang ia jalankan. Setelah cukup lama melakukan pengecekkan penglihatan Adam terfokus pada project penting terakhir.
"Yah sepertinya belum beruntung juga ya." Terlihat raut wajah Adam kecewa setelah membuka project terakhirnya.
"Baiklah. Walaupun sekarang gagal dan terlihat tak mungkin, semuanya akan tetap kujalani. Semangat !!!" Ekspresi Adam berubah cepat dengan raut wajah semangat dan berpose mengepalkan tangan di dada, menggambarkan orang yg belum menyerah untuk berjuang.
"Ngiiiiiiing." Suara ketel pemanas air berbunyi dan membuyarkan fokus dari Adam.
Adam lekas menutup laptopnya, mengambil ketel air lalu bergegas masuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi Adam menuangkan air panas di dalam ember air dan mengisinya dengan air biasa agar suhunya cukup hangat untuk digunakan membersihkan badan. Sekitar 5 menit setelah Adam masuk ke kamar mandi terdengar suara gaduh dari luar.
"Brak!! … Duk duk duk duk." Terdengar suara pintu depan yang terbuka dengan kasar dan suara orang berlari ke arah kamar mandi tempat Adam berada.
Adam sedikit terkejut dengan kebisingan yang terjadi. Tetapi kekagetan Adam tidak berlangsung lama seakan situasi seperti itu adalah hal yang biasa baginya. Suara gaduh pun berhenti tepat di balik pintu kamar mandi.
"Adam.. Adam.. apakah kau di kamar mandi?" tanya suara terengah-engah seperti kehabisan nafas.
Suara itu terdengar familiar bagi Adam yaitu suara dari kakak Adam yang bernama Roy. Roy merupakan pria 35 tahun dengan perawakan tambun yang mempunyai tato di lengan dan kakinya.
"Ya… apa maumu?" sahut Adam dengan nada tidak bersahabat. Mata Adam setengah terbuka dengan pandangan curiga karena sudah mengetahui tujuan dari Roy.
"Ini aku Roy.. bantu aku kali ini Adam. Kumohon," jawab Roy sambil belum bisa mengatur nafasnya yang masih terengah engah.
"Masalah apa lagi yang kau bawa kali ini, Roy?" Tanya Adam.
“Kau memang selalu menjadi penolongku Adam, pinjamkan aku uang 10 juta saja, aku sedang dikejar orang untuk melunasinya," balas Roy dengan yakin.
"Aku tidak punya uang !! Hutang-hutangmu sebelumnya pun belum lunas dan aku masih harus mencicil kepada bank," balas Adam dengan nada mulai meninggi.
"Apa kau sudah gila ?!! Bisa2nya kau meminta uang itu!!” Emosi Adam sudah tidak tertahan dengan suara makin meninggi.
"Kau tak usah khawatir, Adam. Saat taruhanku berhasil, semua hutangku padamu akan kulunasi.. Kumohon, ya?"
Adam terhening sesaat setelah Roy memohon kepadanya. Sedangkan Roy tetap berdiri di balik pintu kamar mandi menunggu jawaban dari Adam.
"Tidak !!! Tidak ada lagi uang untukmu...itu juga yang kau bilang berkali kali waktu lalu, Aku sudah bilang untuk tinggalkan dunia perjudian.”
"Kau tidak mengerti, Adam ! Hanya ini jalan satu-satunya untuk menyelamatkan keluarga kita dari kehancuran." Dengan sedikit kasar Roy bersikukuh.
"Menyelamatkan kepalamu!!! Kau hanya pulang meninggalkan hutang dan berfoya -foya di luar, *njing jahanam.'' Emosi Adam semakin sudah berada pada puncaknya setelah Roy mulai berkata hal yang semakin tidak masuk akal. Kata-kata kasar pun keluar dari mulutnya karena sudah tidak dapat menahan emosi.
"B*ngs*t kau !!! Beraninya kau menghina kakak tertuamu? Mulai sekarang kau bukan adikku lagi!"
Adam terdiam tidak ingin melanjutkan percekcokan itu sedangkan Roy masih terus menerus mengumpat.
“Mati saja kau sebagai karyawan rendahan !! Dasar tidak berguna!"
“Brak!!” kalimat terakhir dari Roy diiringi dengan pukulan di pintu kamar mandi.
Percekcokan kecil pun berakhir karena suara Roy sudah tidak terdengar sehingga Adam bisa melanjutkan mandinya. Setelah beres mandi Adam keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap dan bergegas mengambil laptopnya di dapur. Dari dapur Adam lalu pergi ke kamarnya yang jadi 1 dengan Roy. Adam mengintip sejenak lewat pintu kamar menyadari bahwa Roy tidak ada di tempatnya. Tidak peduli dengan hal tersebut Adam masuk ke kamar itu dan duduk di atas kasur untuk melanjut membuka laptopnya. Ia mulai membuka laptopnya dengan menyalakan musik santai agar lebih fokus dan tidak mengingat-ingat kembali percekcokan yang terjadi di malam hari itu.
Suasana santai tiba-tiba berubah setelah Adam melihat email di laptopnya. Mendadak Adam berkhayal bahwa ruangan tempat ia berada berwarna merah keemasan dengan kelap kelip bola disko di langit-langit dan muncul koin di sekitarnya. Suasana gegap gempita itu seakan menggambarkan suasana hati Adam yang bahagia. Bagaimana Adam tidak bahagia. Pengajuannya untuk hunian layak ke pemerintah akhirnya disetujui dengan cicilan rendah dan promosi kenaikan pangkat serta prestasi karyawan terbaik di dapatnya dari email perusahaan. Adam tidak akan sesenang itu jika hanya mendapat prestasi biasa saja. Prestasi karyawan terbaik ini adalah yang terbaik di semua cabang perusahaan dan karyawan terbaik merupakan puncak prestasi dengan reward tertinggi.
“Yaaaahooo !!! Akhirnya 10 tahunku tidak terbuang percuma … tidak sia-sia aku menjadi karyawan teladan dengan rekor tak terkalahkan paling rajin dan kinerja baik peringkat atas selama 10 tahun. Akhirnya terbayarkan sekarang." Adam kegirangan sambil melompat lompat. Kegembiraan Adam bukan tak berdasar. Hadiah dari prestasi itu adalah uang tunai senilai ratusan juta akan dikirim besok ke depan rumahnya.
"Mulai besok keluargaku akan hidup layak. Selamat tinggal rumah bau dan kecil, selamat tinggal kasurku yang keras, selamat tinggal kesedihan."
Adam berhenti melompat lalu bergegas berlari mencari ayah dan ibunya untuk memberitahu kabar gembira ini. Tetapi langkah Adam terhenti di depan pintu kamar orang tuanya saat melihat ayah dan ibunya yang sudah tertidur pulas. Sambil tersenyum penuh keyakinan Adam bergumam sendiri, "Ayah…Ibu… hari ini adalah hari terakhir kalian melihat sesuatu yang indah hanya dalam mimpi. Besok semua itu bukan hanya mimpi, karena akan kubuat menjadi kenyataan."
Setelah itu Adam kembali ke kamar untuk membaca ulang emailnya. Kebahagiaan dalam hati Adam tak kunjung hilang walaupun membaca ulang email tersebut sebanyak puluhan kali. Setiap kalimat demi kalimat diucapkan oleh Adam kembali dan selalu diakhiri sebuah senyuman lebar.
Malam bersalju inipun menjadi malam paling emosional dalam benak Adam. Tak sabar baginya untuk menunggu hari esok dan tanpa sadar Adam terlelap dengan laptop yang masih menyala. Satu jam setelah Adam tertidur Roy pulang kembali ke rumahnya dengan kondisi mabuk.
Roy masuk ke dalam kamarnya dan melihat sebuah pemandangan aneh yang jarang terlihat, yaitu laptop Adam masih menyala di atas kasur, tepat di sebelah Adam yang sedang tertidur. Roy merasa aneh karena biasanya laptop Adam selalu mati dan tidak dapat dibuka oleh siapa pun kecuali Adam sendiri. Roy pun menyeringai. Ia mempunyai niat jahat untuk mencuri laptop tersebut dan berniat menjualnya untuk mendapatkan uang. Tetapi rasa mabuknya tiba - tiba menghilang serta niatnya berubah menjadi lebih buruk saat membaca email yang masih terbuka di laptop tersebut.
"Hey adikku sayang, kerja yang bagus." Ekspresi iblis memenuhi wajah Roy dengan suara yang seperti dirasuki setan. "Tidurlah yang nyenyak, dari sini kakakmu ini akan melanjutkannya. Lebih baik kau tidurlah untuk selamanya."
Roy pun tersenyum layaknya wajah iblis yang ingin memakan mangsanya. Roy dengan tenang berjalan ke arah dapur untuk mengambil sebilah pisau. Setelah menggenggam pisau di tangannya, Roy kembali ke kamarnya dan mendekati Adam yang sedang tertidur.
"Hey, adikku. Di kehidupan berikutnya janganlah terlalu sombong dan tetaplah bodoh.. Xi xi xi," bisik Roy dengan wajah iblis yang semakin menguat.
Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya Roy tanpa ragu menusuk Adam dengan pisau dapur secara membabi buta di bagian-bagian vital. Adam langsung terbangun karena kesakitan. Saat membuka mata, Adam melihat sosok yang mencoba membunuhnya dan betapa kagetnya Adam melihat pelaku pembunuhan itu. Tapi itu semua sudah terlambat karena Adam sudah sekarat dan melihat Roy masih menusuknya dengan gila.
"Ro..oy…. Ke..na…pa?" Itulah kata-kata terakhir Adam.
Setelah itu Roy sadar akan suara Adam lalu menjawab.
"Uang," jawab Roy dengan wajah tersenyum lebar layaknya iblis.
Sedetik kemudian pisau langsung menancap di leher Adam sehingga kematian Adam pun tidak terelakan. Gambaran hitam pun muncul di pandangan Adam. Melambangkan hilangnya penglihatan dunia yang pernah Adam tinggalkan.