The Story of Novus

The Story of Novus
When Love & Hate Collide 6-1



Nama gw Cindy...


Udah lebih dari sebulan gw kehilangan ingatan. Rumah ga inget dimana, keluarga sama aja. Satu-satunya yang tersisa dari masa lalu gw adalah cincin yang melingkar di jari manis tangan kiri gw. Kalo gw buka, didalemnya ada tulisan C.Z, entah apa artinya? mungkin nama lengkap gw? Cindy Zeta-Jones? Cindy Zulkarnain? entah lah. Saat ini gw blom tau, tapi suatu saat nanti gw yakin gw akan inget sendiri.


Malam ini gw bermimpi tentang sesorang. Mukanya ga jelas, tapi gw inget suaranya. Suaranya menghadirkan kesejukan dan aura kebaikannya pun memancar dengan kuat. Di mimpi itu cowo itu memasangkan cincin yang gw pake sekarang di jari gw, dan berkata sesuatu yang kurang jelas. Anehnya meskipun suaranya terdengar jelas, tapi kata-katanya sama sekali ga jelas, cuma ada satu yang bisa gw tangkep "lindungi kamu..". Siapa ya orang itu? dan kenapa dia masang cincin ini disini? jangan-jangan gw udah punya suami? Tapi kalo udah ada, kenapa ga ada yang nyari gw? apa mungkin dia udah meninggal ya? kasian amat kalo gw janda muda...


Saat ini gw lagi mandi di kamar seorang cowo yang saat ini gw sayang banget. Namanya Ravi. Malam tadi kita baru saja melakukan sesuatu yang sangat luar biasa, pengalaman pertama gw (yang meyakinkan gw kalo gw belom nikah). Sebenernya gw agak minder sama cewe-cewe lain di Cora ini, karena mereka tinggi-tinggi n sexy2. Tapi waktu gw liat di kaca, selain tinggi, gw ga kalah kok sama mereka. Justru gw menang di satu hal... eh salah.... DUA 'hal'. wkwkwkwk...


Begitu gw keluar dari kamar mandi, Ravi terlihat sudah siap dengan pakaian perangnya. Hari ini adalah jadwal Chip War dia. Dia ngeliat gw dari kamar mandi yang hanya dibalut dengan handuk, dan ekspresinya langsung aja mupeng.


"waaaww... kayaknya aku salah ya mandi duluan? tau gitu kan biar kamu yang mandi duluan, abis itu aku temenin. hehehe", katanya dengan mulut yang ampir jatoh ke lantai.


"huu... maunyaaa... aku kan udah menduga, makanya ak suruh kamu mandi duluan! bee..!!", gw melet sambil tutup mata


Tiba-tiba di kepala gw terdengar suara, rupanya telepati dari petinggi Cora. Gw terdiam sejenak yang membuat Ravi agak heran.


"Kenapa?" tanyanya heran, dan lebih heran lagi setelah melihat ekspresi gw yang tiba-tiba kesenengan.


Gw langsung meluk dia yang lagi bego sambil berteriak, "Aku ditugasin ke garis depan hari ini!!", kata gw girang. Tapi reaksi Ravi sangat ga gw duga. Dia meremas pundak gw dengan keras dan melihat tajem ke mata gw.


"Serius?!!", katanya pelan tapi keras (bingung ga lu?). Gw mengangguk dengan agak ketakutan karena baru pertama kali liat dia kayak gitu. Dia langsung ngeloyor keluar pintu. Gw yang gantian bingung langsung aja ngejar dia. Rupanya dia pergi ke tempat para petinggi, ngapain? Begitu sampai di ruangan yang berisi meja besar dan dikelilingi beberapa petinggi (yang gw sendiri ga tau), dia memberi hormat dan langsung berkata.


"Mohon Maaf, Saya tidak setuju bila Cindy disertakan dalam perang kali ini!!", protes dia. Gw tambah heran liat reaksi dia, kalo bukan petinggi yang nanya, gw yang bakal nanya duluan.


"Dengan segala hormat, Cindy baru 1 bulan belajar Dark Force, dan saya selalu menemani dia latihan di luar, dan saya bisa menilai bahwa dia belum siap untuk terjun langsung!!", Ravi serius sekali kali ini, kayak bukan dia aja. Gw bisa liat beberapa petinggi itu tersenyum, lalu salah satunya berkata,


"Berarti dia menjalankan perintahnya dengan baik..", katanya, membuat Ravi berekspresi heran. Terdiam sejenak, si petinggi melanjutkan kata-katanya "Corite yang ada disamping kamu itu telah mampu menguasai isis dalam waktu kurang dari 1 bulan. Dan kami telah perintahkan agar tidak ada yang diberitahukan selain para pelatih Summoner!!". Wah? kok mereka yang bocorin? gw liat Ravi masang ekspresi aneh banget waktu ngeliat gw, apa emang segitu susahnya ya nguasain isis? gw kok gampang..?


"Perintah dari kami telah diturunkan, laksanakanlah dengan baik!", kata petinggi yang lain, Ravi hanya terdiam dan memberi hormat lalu membalikkan badan keluar dari ruangan, gw dengan agak kagok kasih hormat dan ngikutin dia. Diluar, dia berhenti membelakangi gw. Gw pun ga bergerak.


"Sejak kapan?", katanya. Tetap membelakangi gw.


"sudah hampir 2 minggu", jawab gw pelan.


Gw terkaget waktu Ravi tiba-tiba membalikkan badannya dan meremas bahu gw. "Kenapa kamu ga bilang sama aku?!", mukanya kelihatan marah.


"kamu kan denger kata-kata dari para petinggi?!", jawab gw agak gemeteran "Aku ga boleh kasih tau siapa2!!", akhirnya dia pun melepaskan tangannya. Kemudian menatap gw lagi, tapi kali ini matanya lebih sejuk.


"kamu tau...? orang lain butuh waktu berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun untuk menguasai isis..", tuturnya sambil menatap gw tajam, kita berdua terdiam sejenak tanpa melepas kontak mata.


Tiba-tiba dia tersenyum dan memeluk gw. "Kamu hebat! kita perang bersama ya! jangan jauh-jauh dari aku..", gw pun membalas peluknya dengan penuh senyum.


"pasti!!", kata gw dengan sedikit mata yang berkaca-kaca.


.................................