
Pada akhirnya tubuhku sendirilah yang memberi respon tanpa ijin dan aba-aba dari pikiran dan juga hatiku. Ternyata aku tidak bisa menolak pria ini. Maafkan aku sahabatku, kerja kerasmu akan selalu ku kenang dan ku hargai. Tetapi untuk masalah hati, Lee Ji Eun kamu harus tabah menerima kenyataan ini bahwa kamu telah kalah telak dari pria yang baru saja ku temui ini.
"Jangan lupa sabuk pengaman anda," ucap pria itu.
"Eh, kok tidak bisa..." gumam So Hee dengan suara sedikit bergetar. Dia berusaha untuk memakai sabuk pengaman.
"Sepertinya tersangkut, nah seperti ini..." ucap pria itu yang sembari membantu memasangkan sabuk pengaman pada Han So Hee. Membuat Han So Hee sempat melupakan bagaimana cara bernafas untuk beberapa saat karena jarak wajah mereka yang terlalu dekat.
Kruuyukk
"Hahaha a-apa anda tidak lapar?" tanya So Hee dengan canggung karena bunyi perutnya yang lumayan keras terdengar.
Pria ini pun langsung melesatkan laju mobilnya tanpa berkata dan bersuara apapun selama di dalam perjalanan kami. Dia hanya menatap wajahku singkat setelah mendengar bunyi perutku yang berhasil membuatku merasa sangat malu. Hingga pada akhirnya, dia berhenti di suatu tempat makan Mie yang terkesan cukup sederhana dan mengajak ku untuk masuk kesana.
"Kenapa?" tanya So Hee karena pria di hadapannya ini terus menatapnya saat ia sedang lahap menyantap makanannya.
"Awalnya saya sempat berpikir anda tidak bisa makan di tempat sederhana seperti ini..." ujar pria itu merasa kagum melihat So Hee yang menyantap makanan dengan lahap tanpa adanya rasa tidak nyaman.
"Maaf saya mengajak anda kesini karena saya tidak terlalu nyaman di restoran mewah. Dan tempat ini kebetulan adalah tempat langganan saya," ujar pria itu kembali.
"Apa saya sudah menghancurkan image yang anda bayangkan?" tanya So Hee dengan nada bicara bercanda.
"Tidak juga, karena saya juga tidak terlalu yakin. Karena itu saya langsung mengajak anda kesini tanpa bertanya terlebih dahulu," jelas pria itu.
Akhirnya muncul juga pria yang seperti ini!
"Hahaha kalau begitu, mau saya benar-benar hancurkan bayangan anda tentang saya?" tanya So Hee menggoda dengan bercandaan. Sesaat kemudian dia kembali memesan menu untuk makan malam.
"Bibi, minta *Sundae satu porsi ya!"
"Kuahnya yang banyak!" seru So Hee dan pria itu secara serentak. Mereka pun berakhir dengan tertawa tulus yang tidak dibuat-buat.
Ternyata kami mempunyai selera yang sama, dari tidak menyukai tempat makan yang mewah hingga cara menikmati menu makanan.
Kami sama-sama merasa untuk makanan rumahan khas Korea memang lebih enak di tempat makan sederhana yang seperti ini, dan juga menyukai *Sundae dengan banyak kuah agar bumbunya terasa lebih tajam dan banyak.
Drrt Drrt
"Eh, sebentar ada pesan masuk," ucap pria itu sembari merogoh ponselnya yang bergetar dari kantong celananya.
"Rapat darurat?" gumamnya setelah membuka isi pesan tersebut.
"Ada apa? Tiba-tiba terburu-buru seperti itu?" tanya So Hee melihat pria itu sudah berkemas hendak bangun dari duduknya.
"Saya akan mengantar anda pulang sekarang, saya ada rapat darurat," ujar pria itu.
"Ah, tidak perlu. Anda pergi saja, saya akan masih ingin menghabiskan makanan," ucap So Hee mengerti kondisi. Pria itu pasti sedang terburu-buru karena rapat penting itu.
...•••THE SECRET CRUSH•••...
Lee Ji Eun
"Ibu, ayah, aku pulang!" ucap Lee Ji Eun yang baru saja memasuki warung makan ayam milik orang tuanya.
"Selamat datang Ji Eun, kamu pulang telat ya hari ini?" sapa Huang Zitao yang sebelumnya ia sedang membantu melayani pelanggan.
"Hari ini kan babak penyisihan Piala Dunia, jadi aku ingin membantu disini," jawab Huang Zitao berjalan menghampiri Ji Eun yang masih mematung di tengah pintu masuk.
Aku tidak pernah menyangka pria ini benar-benar tidak dapat dibaca sama sekali. Sepertinya waktu 8 tahun masih belum cukup untuknya membuatku terus berharap padanya.
Setidaknya jangan bersikap seperti ini kalau memang hubungan kita hanya sebatas teman, sampai kapan lagi aku harus menyembunyikan perasaan sepihak ini darimu.
Sikap Huang Zitao yang seperti ini membuatku terus-terusan mengganggap bahwa hubungan kami sebenarnya lebih dari sekedar teman.
"Entahlah, dia memaksa untuk membantu. Padahal Tao pasti juga sibuk..." ucap ibu Lee Ji Eun yang baru keluar dari dapur.
"Ji Sung yang memintanya datang..." ucap ayah Lee Ji Eun yang menengok dari celah jendela dapur.
"Aku pulang! Ah, sibuk sekali..." ucap Ji Sung yang baru saja memasuki warung makan ayam mereka.
"Hei, Lee Ji Sung! Kenapa kamu menyuruh Huang Zitao untuk datang?!" seru Lee Ji Eun memarahi adik laki-lakinya dengan geram.
Anak laki-laki dengan tinggi badan 180 cm dan baru berusia 20 tahun. Bocah tengil yang memiliki tinggi badan jauh dariku ini adalah adikku satu-satunya. Kami berdua sangat jauh dari kata 'akrab' karena tidak ada hari tanpa berdebat, meskipun untuk hal yang sepele.
"Baru pulang dimarahin! Ngajak berantem?" pekik Ji Sung yang merasa tidak terima dimarahi tiba-tiba oleh kakak perempuannya. Sejurus kemudian dia menyambung kalimatnya setelah duduk di salah satu meja disana.
"Kita kan sudah dekat, tidak apa-apa dong saling membantu. Kakak tidak tahu apa itu gotong royong?" sambungnya jengah dengan wajah dingin.
"Ji Sung benar, aku senang kok membantu. Aku kan juga sudah sering main kesini sambil membantu, sekalian aku juga ingin bertemu denganmu. Kita sudah lama tidak bertemu, aku merindukanmu," ujar Huang Zitao berusaha menengahi perdebatan kakak-beradik itu.
"Begitu ya... Benar, kau bisa mati karena rindu kalau lama tidak melihatku," ucap Ji Eun yang tidak tahu harus menjawab apalagi.
Ji Sung berakting ingin muntah setelah mendengar kalimat Ji Eun barusan. Dan dibalas dengan tatapan mata tajam yang amat sangat menusuk oleh kakak perempuannya itu.
"Kak Tao, kok mau sih temenan dengan kakakku yang tidak cantik dan tidak punya apa-apa ini?" tanya Ji Sung pada Huang Zitao menyindir kakak perempuannya.
"Apa katamu?! Aku tidak punya apa-apa?!" pekik Ji Eun yang kesal karena tidak terima.
"Memangnya apa yang kakak punya?" tanya Ji Sung meremehkan.
"UANG SEWA TOKO INI!" teriak Ji Eun sembari menjunjung tinggi selembar cek bank ditangannya.
Wajah terkejut dari mereka semua pun tidak dapat disembunyikan, terlebih lagi Ji Sung yang kini kedua matanya telah membulat sempurna dan nampak berbinar disertai mulut yang menganga lebar, fokusnya berada di tangan Ji Eun yang menggenggam selembar kertas berupa cek bank tersebut.
"KAKAK! Ah, tidak. Tuan Putri Ji Eun yang terhormat, cantik dan sangat menarik. Apa anda sudah makan malam?" ujar Ji Sung yang merubah sikapnya 180 derajat.
Ji Sung langsung melompat bangkit memeluk kakak perempuannya, lalu bersikap sopan bak seperti pelayan yang setia sedang melayani majikannya.
Dari mempersilahkan Ji Eun untuk duduk di salah satu meja yang sebelumnya ia duduki tadi, mengambilkan air minum, hingga menyiapkan seporsi makanan berlauk dada ayam.
Tidak berhenti disitu, Ji Sung secara ajaib menjadi seperti anak anjing yang menggemaskan dan sangat patuh pada Ji Eun.
...•••...
*Sundae adalah hidangan Korea yang umumnya dibuat dengan merebus atau mengukus usus sapi atau babi yang diisi dengan berbagai bahan. Hidangan ini adalah jenis sosis darah dan diyakini telah dimakan sejak lama.
...•••THE SECRET CRUSH•••...