THE SECRET CRUSH

THE SECRET CRUSH
02



Lee Ji Eun


Waktu sudah menunjukan pukul 00.00 *KST dan sungguh hal yang luar biasa, di jam tengah malam aku baru pulang kerja. Tidak mungkin di hari Minggu akan tetap pergi bekerja, makanya malam Mingguku habis hanya untuk bekerja lembur. Bahkan, waktu untuk galau saja aku tidak diijinkan untuk memilikinya hari ini.


Ah, Tuhan memang yang terbaik!


Kata orang dengan mengsibukan diri untuk bekerja adalah cara yang terbaik untuk move on. Memang benar adanya, sekedar untuk menangis pun seharian aku tidak punya waktu untuk itu.


Apakah ini yang dinamakan galau yang tertunda?


"Itulah yang aku jalani hari ini..." ucapku lesu, disusul dengan membuang nafas jengah panjang, entah sudah ke berapa kali aku membuang nafas jengah panjang hari ini.


Sekarang aku sedang berada di *pojangmacha, tentunya bersama sahabat satu-satunya yang ku punya di dunia ini.


"Hm... Jadi begitu... Kasian... Hari ini pasti berat banget buat kamu, Eun..."


"Makanya, cepat tuangkan alkohol untuk temanmu yang paling cantik di dunia ini~"


"Coba kita lihat, seberapa frustasinya temanku ini~" ucapnya yang lalu tangannya sibuk membolak-balikan badanku ke kiri dan kanan seenaknya.


"Puas? Makanya sekarang aku pengen minum alkohol yang kamu belikan huhuhu."


Wanita cantik, putih, dengan tinggi badan hampir 170 cm, berambut ombrey di hadapanku ini adalah sahabatku sejak SMA. Namanya Han So Hee, 26 tahun. Queen of UN Village. Siapa sih yang tidak mengenal sosok seorang Han So Hee di Seoul?


Pesona So Hee juga tidak kalah kalau disandingkan dengan artis Korea yang perawatan penuh di klinik ternama di distrik Gangnam selama satu tahun. Meskipun, badan So Hee tergolong kategori 'mahal' tetapi dia hanya melakukan perawatan yang seadanya. Padahal kalau dia mau ambil perawatan yang sama seperti Miss Universe juga tidak akan menjadi masalah untuk rekeningnya.


Jelas karena, keluarga Han bersaudara mendominasi sebagai orang paling berpengaruh di Korea. So Hee adalah anak salah satu dari mereka.


"Sebentar!" ucapnya sembari menahan tanganku yang hendak menuang sebotol Soju ke dalam gelas.


"Apa? Aku cuma mau merasakan keuntungan punya teman yang kaya raya. Tapi segini aja nggak boleh?"


"Bukan itu, hufft! Itu kan cuma minuman. Sepertinya aku punya ide untuk hibur diri kamu deh, Eun!" ucapnya dengan sangat antusias.


Aku masih menunggunya untuk melanjutkan kalimatnya, karena jujur saja otak ku sudah tidak dapat bekerja untuk diajak berpikir lagi. Sebagai gantinya, aku menatapnya lekat, memberitahukannya bahwa aku masih menunggu kalimatnya untuk menjelaskan apa yang dia maksud.


So Hee menelisik pandanganku, lalu dia tersenyum miring dan berujar, "Kamu gantikan aku datang ke perjodohan! Lagipula kamu kan habis patah hati, kamu bisa cari angin segar dan bertemu laki-laki disana. Biar galau kamu cepat sembuh, ya, ya?"


"Kok aku? Nggak mau! Aku masih sayang nyawa, nanti kalauketahuan ayahmu jadi runyam!" jawabku yang langsung menolak dengan sangat keras.


"Kamu kan tahu, Eun? Ini udah yang ke puluhan kalinya, jadi nggak masalah lah digantikan sekali aja. Soal ayahku biar aku yang urus!"


"T-tapi kan tetap aja--"


"Katanya ini akhir Minggu terakhirmu? Jadi sekalian dirusak aja! Ok?" ujar So Hee menginterupsi kalimatku.


"Kenapa kamu nggak nurut untuk nikah aja sih?!" kataku sedikit dengan kesal.


"Nggak mau! Aku juga pengen ngerasain apa itu jatuh cinta kayak kamu," ucap So Hee setelah meneguk segelas Soju yang lalu gelasnya diletakan kasar di atas meja.


"Kamu mengejek? Jatuh cinta bertepuk sebelah tangan selama 8 tahun apanya yang bisa diiriin?!" ujarku tidak terima, karena aku juga sama menyedihkannya.


"Setidaknya kamu pernah ngerasain jantung kamu berdebar sangat cepat karena sedang bersamanya! Aku juga pengen ngerasain itu, tahu!"


"Kamu tahu kan, aku konglomerat generasi kedua? Dan aku akan tetap seperti itu, selama ayah nggak menarik fasilitasku."


Dan sekarang So Hee mengerucutkan bibir merah mudanya, setelah mengatakan tentang fasilitas yang dia miliki bisa ditarik kapan saja oleh sang ayah. Apalagi kalau So Hee tidak menuruti perintah ayahnya yang satu itu -perjodohan.


"Dasar wanita gila! Memanfaatkan derita temannya!"


Untuk kesekian kalinya, aku membuang nafas jengah lumayan panjang, kali ini dengan mengusak wajah hingga kepalaku dengan sedikit rasa frustasi.


"Bagaimana? Anda setuju dengan tawaran saya?" tanya So Hee dengan nada dan bahasa formal menggoda.


"Hm! Jadi, kamu mau bayar aku berapa?" tanyaku balik setelah menangkap maksud So Hee barusan, dia akan membayar jasa ku untuk kencan buta itu.


"Aku akan kasih kamu selembar cek, kamu boleh isi sendiri," jawaban So Hee membuatku memantapkan diri untuk menyetujui tawarannya.


Kalau saja aku tidak terlalu mendesak membutuhkan uang itu. Mungkin, iya mungkin saja aku tidak akan pernah menerima tawaran konyol dari So Hee itu.


Di malam itu So Hee dan aku menghabiskan malam Minggu dengan ditemani sebotol Soju yang pahit namun terasa manis, berbagi cerita yang kita lalui selama seminggu terakhir seperti biasa yang sudah menjadi hal rutin di antara kami berdua setiap akhir Minggu.


Meskipun kami berdua wanita yang tergolong bisa meminum alkohol, tetapi kami tidak sering melakukannya. Hanya untuk disaat pikiran mulai frustasi atau kadang karena jamuan formal.


So Hee dan aku juga tidak suka pergi ke Club karena terlalu bising dan terlalu banyak orang. Kami berdua lebih menikmati untuk duduk di sebuah *pojangmacha, menyantap berbagai menu berminyak andalannya. Dan meskipun tetap bising karena riuh pengunjung atau orang lewat, tetapi setidaknya tidak sebising di dalam Club.


Kami kembali bercerita tentang romansa yang sangat kami dambakan selama 26 tahun hidup di dunia ini. Aku yang belum pernah pacaran namun pernah jatuh cinta dengan sepihak selama 8 tahun, dan So Hee yang sama sekali belum pernah merasakan jatuh cinta selama hidupnya.


"Aku lagi menunggu jodoh, tahu! Cinta pandangan pertama! Aku butuh tersentuh yang namanya cinta, kalau dari perjodohan aku merasa seperti di jual sama ayah," ujar So Hee yang beralasan tidak mau menerima perjodohan yang telah diatur oleh ayahnya.


"Susah juga jadi anak konglomerat, tapi aku juga kok!" timpalku atas cerita So Hee.


"Kamu juga apa?" tanya So Hee kebingungan.


"Aku juga lagi menunggu jodoh, sebaliknya jodohku harus orang kaya! Hahaha," jawabku seadanya, karena ya siapa yang tidak berangan-angan memiliki suami yang mapan secara ekonomi.


"Nah, ayo bersulang untuk calon jodoh kita! Hahaha."


Sesi curhat pada malam itu diakhiri dengan kita yang mengatakan hal yang sama secara serentak saat bersulang.


...•••...


*KST adalah zona waktu yang dipakai di Korea Selatan.


*Pojangmacha adalah warung tenda di pinggir jalan yang menjual Soju dan makanan di Korea.


...•••THE SECRET CRUSH•••...



Han So Hee


Tinggi Badan 168 cm