
"Lee Ji Eun?" panggil seseorang yang nampaknya baru saja tiba ke kedai tersebut, disebelahnya nampak ada seorang wanita yang merangkul mesra lengan kekarnya.
"Huang Zitao? Dan... Irene?" cicit Ji Eun mengenali sosok keduanya.
Mereka berempat pun berakhir bergabung menjadi duduk di satu meja. Seperti sedang menghabiskan akhir pekan, menikmati kudapan dan tteokbokki dengan double date.
Kenapa mesti disaat seperti ini, kami malah bertemu. Kenapa rasanya menjadi sangat canggung dan sedikit gugup, apa yang harus aku bicarakan supaya suasananya bisa mencair?
"A-anu, Tao kok tumben kamu kesini?" tanya Ji Eun.
"Ah, aku pengen makan tteokbokki jadi aku mengajak Irene untuk makan bersama. Aku kan tahu tempat ini karena kamu sering mengajakku datang kesini," jelas Tao yang hanya ditanggapi Ji Eun dengan menatapnya dan Irene secara bergantian.
"Ngomong-ngomong kita sudah berbaikan dan balikan lagi lhoo," sambung Tao yang seakan mengerti bahwa ia perlu memberi penjelasan kepada Ji Eun.
"Oh, jadi begitu...." jawab Ji Eun malas.
Padahal belum lama ini, dia merengek padaku untuk menemaninya yang sedang patah hati karena putus. Cih, memangnya apa yang bisa aku harapkan dari pria seperti Huang Zitao ini?
"Pria tampan yang bersamamu ini siapa, Ji Eun?" akhirnya Irene turut membuka suaranya.
"Iya! Kenapa aku bisa tidak mengenal temanmu yang ini?! Kamu juga tidak pernah bercerita padaku kalau kamu punya teman yang seperti ini," pekik Tao yang tidak terima karena merasa ada hal tentang Ji Eun yang bisa-bisanya tak diketahui olehnya.
"Memangnya kamu siapa? Kenapa semua yang ada dihidupku harus aku ceritakan padamu?" tanggapan Ji Eun atas keluh-kesah Tao.
"Ah, bukan begitu.... Tapi kita biasanya selalu bercerita tentang semua hal--," cicit Huang Zitao.
"Sudahlah, jangan berlebihan," jawab Ji Eun menginterupsi kalimat Tao.
Sedikit perdebatan antara Huang Zitao dan Lee Ji Eun membuat Park Seo Joon dan Irene kehilangan ruang mereka untuk ikut bergabung ke dalam obrolan, keduanya pun hanya bisa pasrah menyimak sepasang 'teman lama' yang saling beragumen.
"Pesanan nomor 28 sudah siap, silahkan diambil," suara nenek pemilik kedai memecah keheningan diantara keempat anak muda itu.
"Selamat menghabiskan akhir pekan untuk kalian, ayo sayang kita ambil makanan kita," Irene berhasil menarik tubuh Huang Zitao untuk pergi bersamanya meninggalkan meja itu.
Sekarang kembali lagi seperti semula, hanya ada Seo Joon dan Ji Eun yang duduk di meja itu. Bedanya hanya posisi mereka saja, yang kini duduk berdampingan.
"Apa dia.... Pria yang anda sukai?" pertanyaan Seo Joon nyaris membuat Ji Eun tersedak tteokbokki.
"Uhuukk! Uhuuukk!"
"Pelan-pelan saja makannya, saya tidak akan merampasnya dari anda," ucap Seo Joon sembari menyodorkan segelas air putih dan membantu penepuk-nepuk punggung Ji Eun.
Memangnya siapa yang membuatku tersedak ini, hah?
Dasar manusia tidak peka!
Kasian sekali dengan wanita yang akan bersanding bersama anda nanti, Pak Direktur.
"Tidak! Kami hanya teman. Teman satu almamater di bangku SMA dan kuliah, tidak lebih," sangkal Ji Eun dengan jelas setelah tersedaknya mereda.
Park Seo Joon terus tertegun menikmati pemandangannya, wajah Lee Ji Eun yang nampak sangat menggemaskan saat menikmati tteokbokki dengan mulut yang cemong karena kuah merahnya.
"Anda ingin versi yang seperti apa?"
"Apa maksud Bapak?" tanya Ji Eun bingung.
"Pacar yang perhatian, banyak uang, tampan, atau yang keren tapi imut?" tanya Seo Joon kembali lebih spesifik.
Dengan muka cemongnya Lee Ji Eun hanya bisa menatap wajah Park Seo Joon yang sedang duduk disampingnya, yang dengan kushuk menghadap dirinya menatap wajahnya juga, dengan bertumpu dagu.
"Katakan saja, saya bisa menjadi pacar tipe apapun untuk nona Lee Ji Eun," kali ini ucapan Seo Joon dibumbui dengan senyuman menyilaukan yang sangat amat jarang ia tunjukan.
Wanita mana yang sanggup melihat pesona menawan seorang konglomerat tampan seperti Park Seo Joon secara langsung, bahkan hanya berjarak beberapa jengkal saja. Begitupun Lee Ji Eun yang hanya bisa menelan kasar salivanya, menutup rapat-rapat mulutnya yang terasa bungkam tak dapat menyuarakan tanggapannya.
Demi Dewa Yunani, semoga kewarasan Ji Eun tetap tersisa di dalam jiwanya karena ulah seorang Seo Joon yang lagi-lagi tanpa sengaja jantung Ji Eun terasa berdebar dikala ibu jari tangan kanan Seo Joon mengusap sisa kuah yang menempel di sekitar bibir wanita itu.
**
Hari berlalu begitu saja, kembali pada rutininas sehari-hari.
Di hari Senin yang mengawali hari di minggu ini, Ji Eun menerima paket spesial dari seorang anonim, paket itu terdapat ada sekotak cokelat merk mahal, satu buket bunga yang cukup besar, sekotak cupcake dan beberapa gelas kopi yang cukup banyak untuk dibagikan ke rekan-rekan kerja satu ruang Divisinya.
Tak ketinggalan juga ditemukan secarik surat tulisan tangan yang mengatakan,
"Selamat bekerja, awali minggumu dengan Senin Ceria! Perintah; bunga dan cokelat ini hanya untuk anda jadi tolong dinikmati sendiri, untuk cupcake dan kopinya anda bisa membagikan ke teman anda. "
Mengingat tadi pagi ketika Ji Eun baru saja sampai dan masuk ke dalam ruang Divisinya hendak menuju meja kerjanya. Banyak rekan-rekan wanita itu yang terus berbisik sembari menatapnya, ada juga beberapa yang menggoda Ji Eun secara terang-terangan.
"Waahh.... Ji Eun kita ternyata sudah punya pacar yaa...."
"Betapa beruntungnya Ji Eun, memiliki pacar yang penuh perhatian."
"Pacar kamu romantis juga."
Lee Ji Eun yang nampak kebingungan dengan situasi yang mendadak menjadikannya pusat perhatian banyak orang di dalam kantor pun tak menahan rasa penasarannya.
"Ada apa sih? Memangnya penampilan saya hari ini sangat aneh? Ada sesuatu di wajah saya?" tanya Ji Eun dengan polosnya kepada seluruh orang disana.
"Hahahaha lihat dia menjadi salah tingkah karena terang-terangan berkencan di kantor."
"Pacar? Kencan kantor?" Ji Eun masih terpaku tidak mengerti situasi.
"Cepatlah ke mejamu dan lihat apa yang pacarmu lakukan untukmu."
Setelah itu Ji Eun langsung bergegas ke meja kerjanya dan menemukan semua paket tersebut. Sesuai dengan isi surat yang ada, ia pun melakukan hal yang sudah dituliskan disana.
Seharian penuh ia berhasil menjadi seorang 'bintang' di kantor Divisinya, semua orang tak hentinya membicarakannya saat bertemu dengannya. Tak membuat Ji Eun menjadi senang, namun sebaliknya ia malah merasa sangat tertekan dan kebingungan dengan situasi yang tiba-tiba hadir di kehidupannya yang damai selama ini.
...•••THE SECRET CRUSH•••...