THE SECRET CRUSH

THE SECRET CRUSH
06



Lee Ji Eun


Uang memang uang, tetapi karena aku juga bertanggung jawab jadi mau bagaimana pun aku harus menyelesaikan persoalan ini, tidak mungkin juga bagiku untuk menolak. Di kesempatan kali ini begitu aku bertemu dengannya, aku akan langsung garuk-garuk kepala dan kemudian mengendus jari-jariku di hadapannya!


Hah... Lee Ji Eun! Kamu ini benar-benar ya...


Hanya gara-gara Huang Zitao pikiranku menjadi kusut seperti ini, hingga membawaku ke dalam situasi sekarang. Aku benar-benar ingin menyelesaikan ini seperti semula, persoalan ini rasanya hanya akan menempatkan aku di tempat yang salah, apapun pilihan yang akan ku buat.


Yah... Lagipula aku sudah menggali kuburanku sendiri, apa sekalian saja lakukan saran dari So Hee?


...•••THE SECRET CRUSH•••...


8 tahun yang lalu, SMA Seoul.


"Hei, coba lihat dia deh, tampan sekali."


"Sekelas dengan dia? Wah, kita benar-benar beruntung!"


"Ngomongin apaan sih?" tanya Lee Ji Eun kepada teman-teman perempuan di kelasnya yang sedang sibuk berbisik-bisik.


"Katanya dia yang paling tampan di angkatan kita loh!"


Aku pun berbalik badan hanya untuk mendapati sesosok murid laki-laki itu sudah disibukan dengan kerumunan murid perempuan di kelas. Senyumannya yang cerah hingga kedua matanya menyipit sempurna, nada suara canggung disela ia menanggapi hujanan pertanyaan, gaya rambutnya yang ditata ke atas dengan Pomade, gaya berpakaiannya yang sedikit berantakan. Sekilas, tatapan mata kami sepertinya saling bertaut.


"Kamu Lee Ji Eun, kan? Boleh duduk di sebelahmu?" tanya murid laki-laki yang terkenal tampan di sekolah.


Tanpa aku sadari, dia menghampiriku setelah kami berdua saling bertatap mata singkat tanpa di sengaja. Uh, atau bisa aku bilang... Aku ketahuan sedang memperhatikannya tadi.


"B-baiklah," jawab Lee Ji Eun canggung.


Aku pikir dia hanya tampan saja nilai plusnya, dengan popularitasnya itu aku pikir dia hanya anak dari keluarga upper-class yang tengil. Ternyata aku salah, dia begitu baik dan punya jiwa berbagi, dia sering menawariku sesuatu dari miliknya, entah makanan atau sekedar meminjamkan barang yang kebetulan aku tidak memilikinya -pensil warna.


Entah sejak kapan, aku jadi gemar sekali menghabiskan waktu istirahat sekolah untuk pergi dan duduk disisi lapangan basket. Melihat dia yang sudah bermandikan keringat di bawah teriknya matahari di siang hari, namun dia tetap lincah memainkan bola basket itu bersama dengan teman-temannya yang lain.


Aku melihatnya, dia sangat nampak hidup dan bersinar terang meskipun wajahnya sudah menjadi kusam oleh peluh yang bercucuran dari pelipisnya dan mengalir ke pipinya.


Tentu aku jatuh pada pesona Huang Zitao yang seperti itu. Berawal dari teman sebangku, kami selalu bersama dan menjadi teman baik. Karena itu orang-orang di sekitarku menjadi iri kepadaku, lebih tepatnya murid-murid perempuan di sekolah. Dan aku menganggap Tao itu spesial, hingga aku selalu memiliki harapan bahwa hubungan di antara kami berdua menjadi lebih jelas.


Tapi...


"Ji Eun, ini pacarku. Kami resmi berpacaran sejak kemarin," ujar Huang Zitao sembari merangkul gadis berambut hitam panjang.


Pilihan Huang Zitao jatuh kepada ratu di sekolah kami. Setelahnya, aku pikir hubungan kami akan berbeda dan sedikit menjaga jarak. Namun aku salah, Tao selalu menempatkanku di antara dia dan pacarnya, tidak peduli bahwa dia sedang berkencan di luar sekolah ataupun saat di lingkungan sekolah, aku selalu berakhir di tengah mereka. Kemudian hal-hal seperti itu terus berlanjut dengan aku yang menjadi 'teman perempuan' yang selalu dikenalkan dengan semua 'pacarnya'.


"Ji Eun, ini pacarku hehehe," ucap Huang Zitao dengan wajah cengengesan memperkenalkan gadis berambut cokelat pendek.


"Lagi?! Ini sudah yang ke berapa?!" Lee Ji Eun menarik lengan Huang Zitao agar sedikit menjauh dari gadis itu dan berbisik dengan nada bicara kesal.


**


Sampai 8 tahun lamanya, aku membantunya mengerjakan tugas, aku menggantikan absennya saat kami di universitas, aku membantunya menyelesaikan skripsi, sampai menjadi konsultan pekerjaan, tetapi pada akhirnya...


Aku terus menjadi 'seseorang' yang transparan untuknya.


Memangnya kekuranganku apa?!


Huh! Tetapi orang sepertiku ini dilamar oleh seorang Direktur Utama tahu! Huang Zitao, Direkturku ini tidak akan bisa dibandingkan denganmu!


Dia seksi, anak konglomerat, berkompeten pula. Sangat jauh berbeda dengan pribadimu yang manja, dan selalu memaksa orang lain untuk memenuhi keinginanmu.


"Anda sudah lama menunggu?" suara berat pria dewasa membuyarkan lamunan Lee Ji Eun.


"Ah, iya! Sudah cukup lama," jawab Lee Ji Eun seadanya.


"Maaf saya terlambat, ada pertemuan klien yang mendadak," ujar pria itu menjelaskan alasan keterlambatannya sembari mendudukan dirinya.


"Kita pesan makanan dulu, steak atau pasta? Minuman anda, americano atau latte?" tanya Lee Ji Eun sembari membuka dan melihat buku menu restoran itu.


"Ayo kita menikah," ucapnya lugas tentu saja dengan wajah dan tatapan matanya yang dingin itu.


"Oke menikah, kalau begitu saya--" ujar Lee Ji Eun yang terlambat menyadari kalimat dari Park Seo Joon sebelumnya. Dia mengambil sikap tegas dengan bersandar pada kursi dan melipat tangannya di dada, guna melanjutkan kalimatnya.


"Anda pikir menikah itu sebuah bercandaan?"


"Apa saya terlihat sedang bercanda?" tanyanya dengan tatapan mata yang tajam.


Tidak! Tidak sama sekali!


Jadi itu masalahnya, karena anda tidak terlihat sedang bercanda sama sekali.  Aku tidak boleh menyerah di awal perjuangan, aku harus segera menyelesaikan persoalan ini.


"Pesan minum dulu untuk mendinginkan kepala, anda pesan apa?" tanya Lee Ji Eun dengan ekspresi wajah jengah.


"Espreso," jawab Seo Joon dingin.


Cih, sudah ku duga dia minum yang seperti itu. Dasar keras kepala!


Setelahnya aku ijin untuk pergi ke toilet sebentar, aku perlu menjernihkan pikiranku saat ini.


Kali ini aku akan yang bicara terlebih dulu, 'saya tidak bisa menikah' dan 'saya tidak mau menikah'. Aku harus bilang kepadanya dengan sangat tegas bahwa aku tidak akan pernah mau untuk menikah dengannya saat kembali ke meja kami nanti.


"Maafkan saya, ada keadaan darurat di kantor. Jadi saya harus kembali sebentar," ujar Seo Joon saat Lee Ji Eun baru saja hendak mendudukan dirinya ke kursi.


"Apa? Lalu soal pernikahannya?" tanya Lee Ji Eun gelagapan.


"Kita bicara lagi nanti," ucap Seo Joon dingin dengan tatapan mata tajam yang seakan menusuk.


"Tidak, bukan maksud saya menyetujui pernikahan tapi--" kalimat Lee Ji Eun terpotong.


"Hanya satu jam saja, tolong tunggu saya disini," ucapnya yang langsung berbalik melangkah pergi.


"Kalau sibuk begitu harusnya hidup saja sendiri, kenapa harus menikah!" gumam Lee Ji Eun merutuki Park Seo Joon yang sudah berjalan sedikit jauh di depannya.


Seusai kalimatku selesai, pria itu menghentikan langkahnya hanya untuk berbalik menatapku.


Ah, apa dia dengar aku merutukinya?


Lagi-lagi Park Seo Joon berjalan kembali menghampiriku yang masih berdiri disela kursi dan meja restoran, yang sedari-tadi tanpa henti memandangnya.


"Ponsel anda," ucapnya dingin sembari mengulurkan tangan kanannya.


Aku menatapnya dengan penuh kebingungan, tanpa bertanya ataupun berniat untuk memberikan ponselku padanya. Hingga kami pada akhirnya hanya saling bertatap mata cukup lama.


"Saya ingin tahu kenapa anda selalu menolak panggilan saya. Kalau anda melarikan diri akan menjadi rumit urusannya," jelas Seo Joon memecah keheningan keduanya.


"Saya tidak akan melarikan diri. Ada yang ingin saya sampaikan pada Direktur, bukan, maksud saya Tuan Park Seo Joon," jawab Lee Ji Eun meyakinkan.


Kalau aku kabur, aku juga akan diseret Han So Hee ke hadapanmu!


Aku keluar untuk memposisikan diriku agar berhadapan dengannya. Dengan percaya diri aku merekatkan jarakku dengannya, sembari membenarkan dasinya aku berniat menggencarkan serangan.


"Tapi, saya hanya akan menunggu satu jam saja. Anda tahu kan saya juga sangat sibuk? Kalau anda tidak datang dalam waktu satu jam, maka tidak ada alasan untuk kita bertemu lagi," jelas Lee Ji Eun dengan nada suara penuh penekanan.


Aku melihat wajah Park Seo Joon yang sempat memasang ekspresi terkejut, lalu dia memamerkan senyum tipisnya yang amat sangat langka itu, aku rasa.


"Baiklah," jawab Seo Joon tegas dan dia benar-benar berlalu pergi.


...•••THE SECRET CRUSH•••...