The Second Chance

The Second Chance
BAB 6



Setibanya Alia di bandara, ia pun langsung berjalan dengan cepat menuju jalur kedatangan. Ia berharap Nata tidak menunggunya terlalu lama.


Ketika Alia sudah tiba di depan pintu kedatangan, ia pun melihat beberapa orang sudah keluar dari pintu kedatangan. Ia pun mengamati satu persatu penumpang yang keluar sambil mengingat-ngingat kembali wajah Nata, tapi ternyata sampai pada orang terakhir pun yang keluar, ia tak juga dapat menemukan sosok Nata.


Alia pun mulai bingung, karena ia tak kunjung melihat Nata. Sehingga dia memutuskan untuk menelpon papanya, bertanya apakah Nata sudah berada dirumahnya saat ini atau belum.


"Hallo pa." Ucap Alia dengan pelan di telepon.


"Hallo sayang. Baru aja papa mau telepon kamu. Kamu dimana sih?"


"Alia di bandara pa. Alia udah nungguin dari tadi, tapi kak Natanya gak ada."


"Gak ada gimana? Nata bilang, dia udah nungguin kamu dari tadi. Kamu dimana sekarang?" Tanya papanya dengan nada panik.


"Alia di jalur pintu kedatangan pa." Jawab Alia dengan ragu.


"Jangan bilang kamu di jalur kedatangan domestik, Al? "


"I..ya pa." Jawab Alia terbata-bata sambil melihat papan arah yang menyebutkan pintu kedatangan domestik.


"Mau kamu tunggu sampai besok pun, Nata gak akan muncul disana Al. Nata kan dari Paris, ya berarti dia di jalur kedatangan international."


"Yaudah deh, Alia mau jumpain kak Nata sekarang."


Alia pun langsung menutup handphonenya, dan berlari dengan kencang menuju jalur kedatangan luar negeri. Saat Alia berlari, tiba-tiba saja seorang lelaki muncul dan memotong jalannya. Bugh.. tubuh Alia yang kecil terpental jatuh saat menabrak lelaki itu.


"Maaf. Aku tadi buru-buru, jadi gak sengaja nabrak kakak." Ucapnya pada lelaki tersebut sambil menggosok pantatnya sendiri yang terasa sakit.


Lelaki itu pun menyipit menatap Alia, sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Alia bangun dari duduknya. Alia pun langsung menerima uluran tangan lelaki itu untuk membantunya berdiri.


"Alia kan?" Tanya lelaki itu kepada Alia.


"I..ya. Kok kakak bisa tau nama saya? Apa kita sebelumnya pernah bertemu?" Tanya Alia kembali pada lelaki itu heran.


Lelaki itu yang mendengar pertanyaan dari Alia pun segera membuka masker yang ia gunakan sambil tersenyum tampan.


"Kak Nata kan?" Tanya Alia kepada lelaki itu untuk memastikan.


"Iya Ini kakak." Jawab Nata sambil mengembangkan senyum di wajahnya.


"Kakak maafin Alia. Alia salah nunggu kakak di jalur kedatangan dosmetik."


"Pas de quoi."


"Je suis désolé. Kakak udah lama nunggu?"


"Lumayan sih. Tapi karena yang jemput perempuan cantik gak masalah."


"Kakak jangan gombalin Alia, nanti bisa-bisa pipi Alia memerah jadinya tau." Ucap Alia tersipu malu mendengar pujian dari Nata.


"Hahahaha kamu ini, Al. Orang kakak bukan gombal, tapi tulus dari hati. Oya.. Bisa kita pergi sekarang? Sumpah badan kakak capek banget."


"Ah.. iya kak. Ayo.."


Alia pun berjalan lebih dulu, sedangkan Nata mengikuti Alia dibelakangnya sambil membawa koper. Ketika mereka sudah sampai di mobil, Alia langsung membukakan pintu mobil untuk Nata.


"Boku." Ucap Nata yang tersenyum pada Alia.


"De rien." Ucap Alia membalas senyuman Nata untuknya.


Alia pun langsung masuk ke mobil dan duduk di samping Nata. Ia meminta pak Tio untuk membawa mereka segera kembali ke rumah.


Ditengah perjalanan, Nata tiba-tiba saja membuka sebuah percakapan.


"Al, kakak punya hadiah untuk kamu." Ucapnya pada Alia.


"Hadiah untuk Alia? Hadiah apa kak?" Tanya Alia pada Nata yang penasaran.


Nata pun langsung membuka tasnya, dan mengeluarkan sebuah boneka tedy bear dan sekotak coklat untuk diberikan pada Alia.


"Buat kamu." Ucapnya sambil memberikan boneka tedy bear dan sekotak coklat.


"Wah... kak Nata tau aja kesukaan Alia sampai sekarang." Ucap Alia sambil tersenyum bahagia.


"Kakak masih tau semua tentang kamu Al. Kamu suka kan dengan hadiahnya?" Tanya Nata pada Alia.


"Alia gak suka kak, tapi.. malahan Alia benar-benar sangat suka sama hadiahnya kak. Thankyou kak Nata."Jawab Alia tersenyun.


"Sama-sama adik kecil kakak." Ucap Nata sambil membelai kepala Alia dengan lembut.


Alia yang sadar dengan perlakuan Nata yang manis itu, spontan langsung memeluk Nata detik itu juga. Ia benar-benar bahagia, karena orang yang selalu jadi teman bermainnya dan pelindungnya saat ia masih kecil, saat ini ada di depan matanya.


"Kak, boleh kita foto berdua?" Tanyanya pada Nata.


"Yaudah, Ayo foto bareng." Jawab Nata dengan antusias.


Alia mengeluarkan kameranya dan mengambil foto mereka berdua. Setelah selesai, Alia langsung memandang hasil fotonya sejenak.


"Muka kakak jelek banget. Belum mandi gitu." Ucap Nata yang masih melihat hasil foto mereka berdua.


"Enggak kok. Oya kakak istirahat aja dulu, nanti kalau udah sampai rumah aku bangunin"


"Baiklah. Nanti bangunin kakak kalau udah sampai rumah ya."


Nata beristirahat sejenak, sedangkan Alia masih mengutak-atik handphonenya. Alia melirik Nata yang memejamkan mata disampingnya, dan sempat memandanginya selama di perjalanan.


※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※


"Ah.. Nata apa kabar? Sudah lama tante gak ketemu kamu. Bagaimana kabar mami papi kamu di Paris? Semuanya baik-baik kan?" Tanya mama Alia pada Nata sambil tersenyum.


"Semuanya baik kok tante." Jawab Nata membalas senyum mama Alia.


"Oya... kamu bisa bersih-bersih dan istirahat aja dulu di kamar. Tante udah siapkan kamar kamu, nanti biar Alia yang antar kamu ke kamar. Koper kamu nanti biar dinaikkan sama pak Tio atau bi Ina ke kamar."


"Iya tante, makasih. Oya.. maaf juga udah buat repot om dan tante."


"Gak kok, Nata. Malahan kita senang kamu mau tinggal sementara dirumah kita.


"Alia, kamu langsung antar Nata ke kamarnya ya. Kasian Nata pasti capek banget." Ucap mamanya pada Alia yang sedang memainkan handphonenya.


"Iya ma." Ucap Alia sambil memasukkan handphonenya kembali kedalam tas.


Alia pun berjalan lebih dulu, dan di ikuti oleh Nata dibelakangnya menuju ke kamar yang akan ditempati oleh Nata sementara ia tinggal disana.


Setelah Alia selesai mengantarkan Nata ke kamarnya, ia pun langsung menjauh dari kamar Nata untuk mengirimkan pesan kepada Adrian.


"Adrian, aku udah dirumah. Kamu dimana?"


Sender : Alia💕


"Aku lagi di cafe nongkrong sama teman-teman. Gimana tadi?"


Sender : Adrian💕


"Adrian tau gak? Masaan aku bisa salah tunggu kak Nata. Seharusnya kan, aku itu tungguin kak Nata di jalur pintu kedatangan international, eh.. aku malah nunggu dia di jalur kedatangan domestik. Bodoh banget kan aku?"


Sender : Alia💕


"kak Nata?"


Sender : Nata💕


"Iya kak Nata. Kamu tau gak Adrian? Aku itu gak nyangka kalau kak Nata bisa setampan ini sekarang. Kalau gak papa yang kirim foto kak Nata, aku mungkin gak akan bisa mengenali kak Nata yang sekarang ini."


Sender : Alia💕


"Oya? Aku pikir anak sahabat papa kamu dan teman kecil kamu itu perempuan, Al."


Sender : Adrian💕


"Adrian maaf. Aku lupa kasih tau kamu, kalau anak sahabat papa yang juga teman kecil aku itu adalah kak Nata."


Sender : Alia💕


"Kenapa kamu harus minta maaf Alia? Emangnya aku ada bilang kalau aku ada marah?


Sender : Adrian💕


"Gak ada sih. Tapi aku takut kamu marah atau bahkan sampai cemburu dengan dia Adrian."


Sender : Alia💕


"Kamu gak usah mikir yang aneh-aneh. Aku percaya kamu kok. Mungkin waktu kalian kecil, kalian terus bersama-sama. Tapi sekarang ini kamu punya aku, dan aku gak akan pernah tinggalkan kamu."


Sender : Adrian💕


"Kamu beneran gak cemburu?"


Sender : Alia💕


"Gak lah. Karena aku tau, walaupun dia lebih tampan dari aku, hati kamu tetap akan memilih aku. Mungkin saat ini kita harus pacaran seperti ini, tapi aku yakin suatu saat nanti akan ada jalan untuk hubungan kita. Aku percaya itu."


Sender : Adrian💕


"Adrian, aku gak salah pilih kamu. Kalaupun aku harus terlahir kembali, aku akan memilih untuk menjadi pacar kamu."


Sender : Alia💕


"Aku juga Al. Aku sayang sama kamu."


Sender : Adrian💕


"Aku lebih lebih lebih sayang kamu."


Sender : Alia💕


Alia yang membaca pesan dari Adrian pun tersenyum-senyum sendiri, karena menurutnya sikap Adrian semakin lama semakin manis.


※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※


Note:


Boku - Terimakasih


De rien - Sama-sama


Pas de quoi - Maaf


Je suis désolé - Tidak masalah