The Second Chance

The Second Chance
BAB 4



Dua hari setelah kejadian itu.


Alia baru saja selesai kelas, tiba-tiba ada satu notifikasi pesan dari Adrian di handphonenya.


Buru-buru Alia membuka pesan tersebut dan membacanya, karena pesan tersebut adalah pesan pertama yang Alia terima setelah Adrian marah padanya.


Hari ini gue antar lo pulang. Tunggu, gue di parkiran.


Sender : Adrian💕


Oke, aku ke parkiran sekarang.


Sender : Alia💕


Alia pun segera memasukkan handphonenya ke dalam tas, dan segera pergi ke parkiran menemui Adrian.


Saat Alia sudah berada di parkiran, ia pun segera mencari-cari dimana Adrian berada. Namun, ternyata tanpa butuh waktu lama bagi Alia untuk menemukan mobil silver milik Adrian. Alia pun segera menuju ke mobil Adrian, karena ia tau bahwa Adrian sudah di dalam mobilnya.


"Adrian, sorry aku lama." Ujar Alia sambil tersenyum kepada Adrian.


"Oke !" Jawab Adrian tanpa memperhatikan Alia sedikitpun.


"Adrian, aku pikir kamu gak bakal jemput dan antar pulang aku lagi. Apalagi kamu gak pernah balas pesan ku sama sekali sejak kamu marah padaku. Tapi... ketika aku tau kamu tadi kirim pesan ke aku dan bilang mau antar aku pulang, aku senang banget tau."


"Pakai seatbelt lo sekarang. Gak usah bahas yang lain-lain. Gue sibuk, masih banyak yang harus gue kerjain."


Seketika terasa sesak yang dirasakan Alia ketika ia mendengar sendiri secara langsung Adrian berkata kasar padanya. Karena yang ia tau selama ini Adrian sekalipun tidak pernah marah apalagi kasar padanya, bahkan Adrian lebih sering memilih mengalah. Tapi hari ini, di jam ini, ia seperti tidak mengenal sosok Adrian yang ia kenal.


Adrian melirik Alia, melihat gadis disampingnya yang masih terlalu diam bahkan setelah mereka sudah sampai di depan rumah Alia. Rasanya aneh melihat Alia yang tiba-tiba diam, padahal saat mereka masih di parkiran Alia banyak berbicara.


Tapi, ntah kenapa Adrian malah memilih untuk tidak berkata apa-apa.


Sadar, bahwa mobil Adrian telah ada di depan rumahnya. Alia pun memilih untuk turun dari mobil Adrian tanpa banyak bicara, bahkan untuk mengucapkan terimakasih atau menatap Adrian saja ia tak mampu.


Setelah Alia turun, Adrian pun segera pergi dengan mobilnya meninggalkan rumah Alia.


Akan tetapi saat itu Alia tidak benar-benar masuk ke dalam rumah, ia hanya mematung di halaman rumahnya sambil melihat mobil Adrian dan menangis.


"Apa kesalahanku sangat besar sehingga Adrian bisa semarah itu padaku? Apa kesalahanku sangat besar sampai dia gak bisa maafin aku? Apa kesalahanku sangat besar sampai-sampai dia harus berkata kasar seperti itu padaku? Apa itu masih Adrian yang sama dengan yang aku kenal? Apa dia udah berubah dan benar-benar tidak peduli denganku? Apa kamu udah puas nyakitin hati aku dan buat aku nangi kayak gini, Adrian? Apa aku harus mengakhiri hubungi kita Adrian?" Tanyanya dalam hati.


Alia pun segera menghapus air matanya dan masuk ke dalam rumahnya dalam keaadaan yang terlihat masih sedih. Bahkan, ia langsung memilih untuk masuk ke kamarnya agar dapat segera menenangkan dirinya.


Bi Ina yang melihat kejadian itu dan sadar dengan kondisi Alia yang saat ini tidak baik-baik saja pun ingin menghampirinya. Akan tetapi ia lebih memilih untuk mengurungkan niatnya, karena ia tau bahwa Alia butuh waktu untuk sendiri.


※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※


KAMAR ALIA


Alia sedang terlelap ketika mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Dengan mata yang masih mengantuk ia pun segera bangun dari tidurnya dan duduk di pinggil tempat tidur sambil mengucek-ngucek matanya, masih mengumpulkan nyawa.


"Iya bi, sebentar." Sahutnya pelan dan berdiri untuk membuka pintu.


"Ada apa bi?" Tanya Alia sambil mengucek matanya.


"Ini non, ada kiriman buat non." Jawab bi Ina pada Alia sambil memberikan sebuah kotak.


"Bibi tau siapa yang kirim ini?"


"Bibi gak tau non. Tadi ada yg pencet bel pintu rumah dan ninggalin kotak ini. Karena di kotak tersebut tertulis untuk non Alia, makanya bibi antar ke kamar non."


"Yaudah kalau gitu bi, makasih ya."


"Sama-sama non. Saya tinggal balik ke bawah ya non."


Seperginya bi Ina, Alia pun segera membuka kotak yang barusan saja ia terima.


Sontak Alia terkejut ketika melihat isi di dalam kotak tersebut ternyata berisikan lima buah ampop yang bertuliskan angka 1-5 pada masing-masing amplopnya. Karena penasaran, Alia pun membuka amplop dari nomor terkecil.


Mungkin semua orang salah menilai aku sebagai orang yang ceria.


Sebenarnya aku ini seseorang yang pendiam, dingin, dan bahkan tidak peduli dengan sekitar.


Tapi semenjak pertemuan kita 3 tahun lalu, kamu merubah hidupku menjadi lebih berwarna.


Alia pun mengerutkan dahinya setelah membaca pesan di amplop pertama. Kemudian dia pun langsung membuka amplop kedua, dan di dalam sana masih ada sebuah note dengan kata-kata yang berbeda dari amplop pertama.


Keluarlah dari kamar, dan temukan sesuatu yang kamu suka di salah satu anak tangga rumah kamu.


Sesuai dengan isi note di amplop tersebut, Alia pun segera menyusuri anak tangga dan mecari tau apa yang dimaksud oleh si pengirim. Dan benar saja, ternyata Alia menemukan sebuah coklat kesukaannya di salah satu anak tangga.


Tanpa sadar, Alia pun tersenyum setelah menemukan coklat tersebut. Dengan rasa yang semakin penasaran, Alia pun segera membuka amplop ketiga dan membaca isi note di dalamnya.


Aku pikir semenjak kepergian mama, hidupku akan terasa hambar.


Ternyata Tuhan punya rencana lain untuk hidupku, Ia telah mengirimkan bidadari seperti kamu untuk hidupku.


Terimakasih telah menjadi bidadari untuk aku setiap harinya.


Senyum mengembang terukir di wajah Alia setelah membaca isi pesan di note tersebut.


Ia tau betul bahwa Adrian lah yang menulis di note tersebut dan mengirimkan padanya.


Alia pun melanjutkan rasa penasarannya untuk membuka amplop ke empat dan membacanya.


Pergi ke taman belakang, dan sesampainya disana bukalah amplop terakhir.


"Astaga Adrian..., kok malah jadi teka-teki begini" Ucapnya dalam hati sambil tesenyum dan menggelengkan kepalanya.


Walaupun berkomentar, Alia tetap mengikuti isi intruksi yang ada di note tersebut.


Tanpa membuang waktu, Alia pun segera pergi ke taman belakang rumahnya. Alia pun heran karena tidak biasanya lampu arah menuju taman belakang mati, seketika rasa takutnya muncul karena tanpa barisan bayangan berbentuk tetesan yang membias dan terus bergerak-gerak tak tenang di salah satu sisi dinding. Ia pun seketika ingin mengurungkan niatnya, namun hatinya berkata lain dan memaksa dirinya untuk terus melangkah menuju taman belakang. Dan akhirnya Alia pun memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju taman belakang.


Betapa terkejutnya Alia saat tiba di taman belakang rumahnya. Disana sudah ada sebuah meja dan dua kursi yang di hiasi dengan beberapa lilin dan kelopak bunga mawar, dan ditambah cantik dengan jejeran lilin dan kelopak mawar di sepanjang jalan menuju meja tersebut.


Juga tidak ketinggalan di sisi kolam renang telah dihiasi oleh kelopak mawar dan lilin yang dibentuk bertuliskan I LOVE U.


Senyumnya Alia semakin mengembang setelah ia melihat kejutan tersebut. Sesuai dengan permintaan, Alia pun tanpa pikir panjang langsung membuka dan membaca isi pesan di amplop terakhir.


Terimakasih telah hadir dalam hidupku.


Terimakasih telah menjadi bagian dalam hidupku.


Terimakasih telah menjadi wanita kedua spesial dalam hidupku setelah mama.


I Love U Alia.


And now, please sit at the table in front of you.


Alia pun segera mengikuti intruksi sesuai di dalam note tersebut. Ia, mempercepat langkahnya mendekati meja dan duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


Tak lama ia duduk, muncul lah sosok lelaki yang sangat ia kenal dengan membawa sebuket bunga besar dan boneka tedy bear di tangannya menghampirinya dan berkata "I LOVE YOU ALIA". Sontak Alia langsung berdiri dan memeluk lelaki itu dan menangis dalam pelukannya.


"Thank you Adrian. Ini hadiah ter-sweet yang pernah aku terima dalam hidupku." Ucap Alia yang masih menangis dalam pelukan Adrian.


"Al, lepasin dulu. Ambil dulu ini boneka sama buket bunganya, ini besar banget. Kamu gak kasian sama aku?"Ucap Adrian.


Ketika mendengar ucapan Adrian, Alia pun langsung melepaskan pelukannya pada Adrian.


"Maaf, habisnya aku kangen banget sama kamu. Kamu betah banget marah lama-lama sama aku." Ucap Alia dengan wajah cemberutnya sambil mengambil buket bunga dan boneka dari tangan Adrian.


"Maaf aku gak ada maksud buat kamu sedih apalagi sampai keluar air mata. Aku sebenarnya gak tega saat dengar bi Ina cerita ke aku kalau kamu sampai nangis tadi siang.


Aku janji, tangis kamu siang tadi adalah tangis terakhir." Ucap Adrian sambil memegang kedua pipi Alia.


"Aku percaya kalau Adrianku gak akan pernah buat aku sampai nangis. Terimakasih buat kejutan ini Adrian. Aku suka banget sama kejutan ini, ini benar-benar kejutan paling sweet dan bikin cewek-cewek lain pasti iri." Ucap Alia sambil memegang Tangan Adrian yang masih memegang pipinya.


Adrian pun melepaskan tangannya dari pipinya Alia, dan langsung mengajak Alia untuk duduk kembali di meja tersebut.


Tak beberapa lama muncul lah bi Ina dan pak Tio sambil membawakan dua piring makanan dan minuman ke hadapan Adrian dan Alia.


"Al, kamu tau gak? Ini gak mungkin terjadi kalau tanpa campur tangan bi Ina dan pak Tio. Mereka yang ngebantuin aku buat mempersiapkan ini semua. Jadi, kamu juga harus berterimakasih sama mereka."


Alia pun langsung berdiri dan memeluk bi Ina ketika mendengar ucapan Adrian.


"Bi Ina, pak Tio, terimakasih ya udah mau repot-repot bantuin Adrian mempersiapkan ini semua. Alia sayang sama bi Ina dan pak Tio." Ucap Alia tersenyum kepada bi Ina dan pak Tio.


"Iya non, bi Ina juga senang kalau non Alia senang." Ucap bi Ina membalas senyum Alia.


"Bapak juga senang kok non. Semoga hubungan non Alia dan mas Adrian langgeng dan segera dapat restu ya." Ucap pak Tio tersenyum.


"Amin.." Balas Alia dan Adrian bersamaan.


Duar.. Duar.. Duar... tak lama setelah itu terdengar suara kembang api dari atas langit. Alia pun segera melihat keatas langit, karena saat itu langit benar-benar terlihat indah.


Sedetik kemudian Alia menatap mata Adrian lekat-lekat dan memberikan senyum termanisnya.


"I'm lucky to have you in my life my perfect person. I love you Adrian." Ucap Alia sambil tersenyum.


"I love you more Alia." Bisik Adrian di telinga Alia sambil tersenyum.


Malam pun tetap berjalan sebagaimana adanya, dan mereka berdua menikmati malam itu dengan makan malam berdua.


※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※