The Second Chance

The Second Chance
BAB 5



Sinar matahari yang menyeruak masuk dari sisi jendela, berhasil membuat si pemilik kamar terusik dari tidurnya.


Membuat Alia perlahan namun pasti terbangun dari tidurnya.


Baru saja Alia ingin bangkit dari tempat tidurnya, terdengar suara ketukan pintu dari pintu kamarnya.


Sontak Alia segera berdiri dari tempat tidurnya dan membukakan pintu.


Betapa terkejutnya ia saat membuka pintu kamarnya, karena yang ia lihat saat ini di depan matanya adalah sosok perempuan yang paling ia sayangi dan paling ia jarang jumpain belakangan ini.


Alia pun segera berlari ke pelukan mamanya, dan memberikan kecupan bertubi-tubi di pipi mamanya.


"Ma... sumpah deh, Alia itu kangen banget sama mama tau." Ucap Alia sambil memanyunkan wajahnya.


"Ah.. lebay kamu. Mama sama papa kan cuman pergi tiga hari, masa kamu udah kangen aja sama mama." Ucap mamanya sambil menarik hidungya dan tertawa.


"Ya... keluar kotanya memang tiga hari. Tapi kan tetap aja, papa sibuk terus dengan pekerjaannya, dan mama semenjak ngurusin bukti jadi jarang punya waktu dirumah."


"Mama gak boleh masuk ini ceritanya? Katanya kangen, tapi mamanya dibiarin berdiri diluar sambil dengerin ocehan anak mama tersayang ini. Kan daripada kamu marah-marah mending kita kangen-kangenan dulu didalam, sambil kamu curhat tentang Adrian."


"Ih... mama jangan kuat-kuat. Ntar papa kalau tau Alia masih sama Adrian bakalan marah dan suruh Alia putus ma." Alia pun mengintruksi mamanya untuk berbicara dengan pelan.


Alia pun segera membawa mamanya masuk dan menutup pintu kamarnya, agar tidak ada yang dapat mendengar pembicaraan mereka berdua.


"Jadi, anak mama mau curhat tentang apa ke mama soal Adrian? Apa kalian ada masalah?" Tanya mamanya sambil duduk di pinggir tempat tidur Alia.


"Kalau bertengkar-bertengkar kecil dalam hubungan itukan biasa ma." Jawab Alia sambil duduk disamping mamanya.


"Iya. Malah itu yang membuat hubungan semakin kuat sayang. Kalaupun ada masalah, coba dibicarain dan cari solusinya bersama. Jangan langsung ambil keputusan gegabah yang nantinya bikin kalian menyesal."


"Iya ma."


"Jadi, ada yang mau diceritakan ke mama sayang?"


"Oya ma, semalam itu Adrian sweet banget loh ma."


"Sweet gimana?"


"Awalnya itu kan kita berantam ma. Ya kalau dipikir-pikir sebenarnya Alia yang salah sih, karena udah buat Adrian marah."


"Loh.... berantem kok sweet?" Tanya mamanya heran


"Yee.. bukan bagian itunya ma. Kalau itu emang gak ada sweet-sweetnya ma, malahan nyebelin banget ma." Jawab Alia terkekeh.


"Jadi ma, kami itu emang sempat berantam.


Bahkan Adrian sampai gak pernah balas pesan dan antar jemput Alia ma. Yang parahnya lagi, bahkan Alia sampai sempat mikir buat akhiri semuanya"


"Ya ampun Al, kenapa kamu bisa sampai berpikir begitu?"


"Gimana gak bergikir gitu coba ma, orang Adriannya aja bener-bener ngeselin. Dia bisanya sampai ngomong kasar ke Alia ma, gimana Alia gak nangis dan berfikir kayak gitu ma."


"Terus akhirnya?"


"Ternyata ma, Adrian itu punya rencana buat kasih kejutan ke Alia. Dia sampai rela datang kesini dan ngerepotin bi Ina dan pak Tio cuman untuk nyiapkan kejutan buat Alia ma."


"Disini? Untung aja mama sama papa gak pulang pas Adrian disini ya."


"Iya ma, untungnya sih ma. Kalau gak, Adrian bakal dimarahin papa habis-habisan."


"Oya... sayang sekarang kamu mandi dan siap-siap, habis itu langsung turun buat sarapan ya. Papa sama nenek udah nungguin kita di bawah buat sarapan.


"Nenek? Beneran nenek datang ma? Mama gak lagi bohongin Alia kan?"


"Ya gak lah. Mama sama papa kan ke surabaya bukan hanya karena urusan pekerjaan aja, tapi juga buat ajak nenek untuk tinggal di rumah kita. Nenek kan udah tua dan sering sakit-sakitan sekarang, jadi gak mungkin tinggal sendirian kan disana? Gak ada yang urus disana, anak nenek kan udah tinggal papa aja."


"Iya sih ma. Kalau nenek disini, Alia kan bisa nemanin nenek."


"Yaudah, kamu siap-siap. Mama turun kebawah duluan, ntar kamu nyusul. Ingat jangan lama-lama ya anak mama sayang"


"Siap ibu bos" Ucap Alia sambil mengangkat tangannya memberi hormat kepada mamanya.


Setelah mamanya Alia keluar dari kamarnya, Alia pun segera masuk ke kamar mandi untuk segera mandi dan siap-siap.


※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※


Setelah Alia selesai bersiap-siap, ia pun segera turun dari kamarnya dan langsung menuju meja makannya di lantai satu.


Alia pun menghampiri papanya meminum secangkir susu hangat sambil sibuk memainkan ponselnya.


"Pagi papa" Ucap Alia sambil memberi kecupan kepada papanya.


Kecupan Alia pun mendarat singkat di pipi papanya, sehingga membuat papanya tersenyum padanya.


"Pagi anak papa sayang. "


"Oiya pa, mama sama nenek mana? Kok gak ada? Katanya mama tadi, papa sama nenek udah nungguin dibawah buat sarapan."


"Tadi sih katanya mama sama nenek mau ke halaman depan sebentar, buat hirup udara segar. Palingan bentar lagi mama sama nenek juga balik.


Tidak lama kemudian, terlihat mama dan neneknya sedang berjalan menuju ruang makan. Alia pun yang melihat neneknya langsung memeluk dan mencium pipi neneknya bertubi-tubi.


"Al, kangen-kangenannya nanti aja. Sekarang kita makan dulu, kasian nenek kelaparan udah nungguin kamu."


"Ah.. Nenek udah lapar ya? Maafin Alia ya nek, udah buat nenek nunggu lama."


"Cucu nenek tersayang ini gak salah kok. Emang nenek yang belum terlalu lapar, makanya tadi keluar dulu buat hirup udara segar sama mama kamu"


"Nah.. sekarang udah lapar kan? Jadi, ayok sekarang kita makan masakan mama yang super enak ini."


Setelah berbicara dengan neneknya, Alia pun dengan sigap langsung menarik kursi yang ada disampingnya untuk neneknya.


Mereka pun menikmati sarapan pagi itu sambil mengobrol bersama. Apalagi bagi Alia ini adalah sarapan pagi paling dinanti Alia, karena ia dapat berkumpul bersama semua personil keluarganya dengan lengkap. Tanpa Alia sadari, senyum indah terlukis diwajahnya.


"Oya Al, kamu hari ini ada kuliah?" Tanya papanya pada Alia.


"Gak pa, hari ini mata kuliah Alia kosong. Tapi nanti siang Alia ada rencana mau ketemu sama teman."


"Teman kamu cowok atau cewek?" Tanya papanya curiga


"Alia janjian sa...ma Aletha dan Talia kok pa." Jawab Alia dengan ragu-ragu.


"Aduh.. semoga aja papa gak curiga kalau aku bohong." Ucapnya dalam hati.


Ya, Alia emang sengaja berbohong kepada papanya tentang Aletha dan Talia. Karena sebenarnya siang ini dia janjian dengan Adrian buat ketemuan, bukan dengan Aletha ataupun Talia. Dan untungnya saja, papanya tidak curiga sama sekali dengan jawabannya.


"Anak teman papa? Siapa pa?"


"Nata anaknya om Danu. Kamu kenal kok, Nata kan teman main kamu waktu kecil."


"Kak Nata pa? Bukannya mereka udah pindah ke Paris ya pa?"


"Om Danu memang masih di Paris."


"Berarti mereka mau liburan disini?"


"Nata kesini sendirian, dia cuma mau cek kantor cabangnya disini yang bentar lagi bukak. Jadi papa pikir mending dia tinggal disini aja sementara, daripada dia cari penginapan lain."


"Iya sih pa. Lagian Alia udah lama banget gak jumpa kak Nata. Terakhir itu waktu kita nginap dirumah nenek, dan kak Nata belum pindah."


"Makanya itu papa minta tolong sama kamu buat jemput Nata. Kamu bisa kan Al?"


"Ah... Yaudah deh Alia ngalah. Alia nanti kabarin Aletha sama Talia buat kasih tau kalau nanti siang batal."


"Yaudah kamu siap-siap sekarang. Soalnya Pesawat Nata mendarat jam 12.00wib udah mendarat, jadi jangan biarin dia nunggunya kelamaan."


"Yaudah pa, Alia ganti baju dan siap-siap dulu"


Alia pun langsung berlari ke kamarnya untuk bersiap-siap. Setelah ia sudah selesai, ia pun kembali untuk turun menghampiri papanya di meja makan dan bertanya bagaimana wajah Nata sekarang. Karena memang dia tidak tau bagaimana wajah Nata sekarang ini.


"Pa.. gimana Alia bisa tau yang mana kak Nata? Kalau Alia sendiri gak tau wajahnya kak Nata sekarang seperti apa" Tanyanya sambil meminum segelas susu.


"Ya ampun papa lupa kasih tau wajah Nata sekarang. Ini papa kirim foto kamu, kamu langsung lihat hp kamu ya."


Ting.. !! Hp Alia pun berbunyi, dan ia langsung melihat handphonenya untuk membuka chat dari papanya. Ia pun berdecak kagum melihat foto Nata yang dikirimkan oleh papanya.


"Serius pa, Ini kak Nata?" Tanyanya pada papanya masih dengan wajah terkagum


"Iyalah. Nata sekarang tampan banget kan? Kenapa? Kamu mau daftar jadi pacarnya hmm?" Jawab papanya sambil menggoda.


"Ya gak lah pa. Alia itu udah anggap kak Nata sebagai kakak Alia sendiri. Tapi ya pa, Alia gak nyangka banget kalau kak Nata bakal setampan ini. Eh.. tapi emang waktu kak Nata kecil emang udah tampan sih pa, jadi wajar kalau sekarang lebih tampan."


"Kalau emang kalian berjodoh apa salahnya sih sayang? Yang papa, mama, dan nenek tau, Nata itu anaknya baik."


"Hahaha... ya gak mungkinlah pa."


"Kenapa gak mungkin? Nata itu tampan, pintar, mapan, pewaris tunggal perusahaan ayahnya lagi."


"Ya gak mungkin lah. Kak Nata itu tampan bagaikan prince, sedangkan Alia hanya remahan rengginang. Percaya deh sama Alia, pasti banyak perempuan di luar sana yang ngantri buat dapatin kak Nata."


Mamanya yang sadar kemana arah ucapan papanya pun segera memotong pembicaraan mereka berdua. Karena ia tau, siapa lelaki yang ada di hati anaknya.


"Udah, udah. Mendingan kamu berangkat sekarang sama pak Tio, kasian kalau Nata nungguin kamu terlalu lama. Kamu kan tau sendiri kalau jarak dari rumah kita menuju bandara itu hampir 1 jam, Al." Ucap mamanya sambil memberi kode ke Alia.


Alia yang sadar akan kode yang diberikan oleh mamanya pun langsung menyudahi pembicaraannya dengan papanya.


"Kalau gitu Alia berangkat sekarang ya ma, pa, nek. Ucap Alia sambil mencium mereka satu persatu.


Alia pun segera bergegas keluar rumah dan langsung menaiki mobilnya yang dikendarai oleh pak Tio.


※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※


MOBIL


"Kenapa papa niat banget nyuruh aku buat jemput kak Nata sih? Tanyanya sambil membuka bungkusan permen.


"Ada apa non?" Tanya pak Tio yang memperhatikan Alia dari kaca spion mobil, sedang berbicara sendiri.


"Eh.. gapapa pak. Alia cuman heran aja sama papa, kenapa papa niat banget buat nyuruh Alia yang jemput kak Nata. Padahal kan kak Nata bisa naik taxi sendiri atau gak di jemput pak Tio."


"Hati-hati non, kali aja tuan niat buat jodohin non dan dia."


"Memang sih papa tadi sempat bilang kalau Alia sama kak Nata berjodoh gak masalah. Tapi apa mungkin? Lagian pak, Alia udah punya Adrian. Ya.. memang kak Nata sekarang tampan banget, tapi kak Nata bukanlah Adrian pak."


Ditengah perjalanan Alia manatap foto Nata di handphonenya, sambil terus terngiang ucapan pak Tio dan kejadian tadi pagi.


Alia menutup aplikasi yang ada pada handphonenya. Saat dia hendak ingin memasukkan ponselnya, benda itu bergetar singkat. Alia pun segera membuka pesan tersebut dan membacanya.


"Morning Alia"


Sender : Adrian💕


"Morning too Adrian"


Sender : Alia💕


"Kamu udah siap-siap? Aku jemput kamu bentar lagi ya. Aku lagi panasin mobil, ntar kalau udah selesai aku langsung siap-siap dan jemput kamu."


Sender : Adrian💕


"Kamu gak usah jemput aku."


Sender : Alia💕


"Kenapa? Kamu mau langsung ke tempatnya?"


Sender : Adrian💕


"Gak Adrian. Aku lupa kabarin kamu tadi, kalau terpaksa kita harus batalin buat ketemuan hari ini. Soalnya papa kasih aku tugas buat jemput anak sahabatnya yang kebetulan teman kecil aku. Maafin aku Adrian, aku gak bisa nolak permintaan papa. Aku takut papa nanti nanyak macam-macam alasannya."


Sender : Alia💕


"Gapapa Al. Kamu jemput aja anak sahabat papa kamu. Aku gak marah kok sama kamu, aku ngerti posisi kamu."


Sender : Adrian💕


"Aku beruntung punya kamu Adrian. I love U Adrian"


Sender : Alia💕


"Aku juga beruntung punya kamu Alia. I love U too Alia."


Sender : Adrian💕


Selesai membalas pesan dari Adrian, Alia pun memilih untuk menikmati alunan musik yang ada di airpodnya selama di dalam perjalanan, daripada harus berdiam diri di dalam mobil.


※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※