
Dua minggu kemudian.
Alia sedang benar-benar sibuk hari ini dengan tugas yang diberikan oleh dosennya. Bahkan, dirinya pun tak sempat untuk ke kantin ataupun membalas pesan di handphonenya yang dari tadi bunyi.
Tiba-tiba muncul sosok lelaki yang sangat Alia kenal di depan mejanya bersamaan dengan berhentinya bunyi dari handphonenya.
"Al, kamu kenapa gak balas pesan aku atau angkat telepon dari aku? Aku ada salah sama kamu?" Tanya Adrian pada Alia yang terlihat sibuk mengerjakan tugasnya.
"Gak Al, kamu gak ada salah apa-apa kok. Aku lagi sibuk sama tugas aja." Jawab Alia tanpa melihat wajah Adrian.
"Oke kalau gitu. Kamu udah makan kan?"
"Iya, ntar aku makan setelah ini selesai."
"Al, kamu itu kebiasaan tau gak kalau udah sibuk kayak gini."
"Al.. aku bilang kamu makan sekarang."
"Iya Adrian. Nanti aku pasti makan kok, kamu tenang aja ya."
"Al, bisa gak sih kamu itu dengerin aku kali ini aja."
"Iya, aku kan udah bilang bakalan makan nanti setelah ini"
Karena Adrian udah sangat kesal dengan sikap Alia yang tidak mau mendengarkannya, Adrian pun menarik buku Alia dan memintanya untuk segera makan dengan memaksa.
"Aku bilang makan sekarang ya sekarang. Dengar gak sih kamu sama yang aku bilang ah?"
"Kamu apa-apaan sih? Aku udah bilangkan kalau bakal makan setelah ini selesai. Aku udah dewasa, gak usah kamu paksa-paksa aku. AKU GAK SUKA." Ujar Alia sambil menarik bukunya dari Adrian.
"Emang kamu udah dewasa, tapi kamu gak ingat sama diri kamu. Kamu tau kan kalau kamu telat makan atau gak makan, kamu langsung masuk rumah sakit. Pokoknya kamu pergi makan sekarang, Al."
"Adrian, aku bilang aku udah dewasa. Jadi, kamu gak berhak buat ngatur-ngatur aku. Kamu hanya PACAR aku, bukan orang tua aku. NGERTI GAK?"
"Oke, terserah lo. Gue tau lo udah dewasa, dan lo tau mana yang baik untuk lo. Kalo lo gak mau makan gue akan maksa lo lagi, terserah lo. KARENA GUE GAK AKAN PEDULI SAMA LO LAGI." Ujar Adrian dengan menaham amarahnya sambil berjalan keluar.
Seketika dada Alia terasa sesak dan seperti tak bernafas dalam beberapa detik setelah mendengar pernyataan Adrian. Alia benar-benar menyesal dengan sikapnyanya ke Adrian barusan, tapi dia gak tau harus bagaimana.
Akhirnya ia mencoba untuk mengirim pesan ke Adrian untuk meminta maaf, namun nihil Adrian tidak membaca dan membalas pesan tersebut.
To : Adrianđź’•
Adrian, aku minta maaf. Aku tau, aku kelewatan sama kamu. Maafin aku !! Please !!!
To : Adrianđź’•
Adrian, maafin aku🙏*
To : Adrianđź’•
Adrian, maafin aku. Aku bakalan makan sekarang, asal kamu maafin aku.
To : Adrianđź’•
Aku ke kantin sekarang. Kamu jangan marah lagi ya.
Saat Alia ingin beranjak ke kantin, tiba-tiba ada seseorang yang ia tidak kenal, namun dipastikan ia adalah mahasiswa di kampus Alia juga mencarinya untuk memberikan sesuatu. Sontak Alia pun menghampiri orang tersebut.
"Alia ya?" Tanya orang tersebut.
"Iya benar. Siapa ya?" Jawab Alia heran.
"Saya Dika teman sekelasnya Adrian. Tadi Adrian suruh saya untuk memberikan ini ke kamu" Ujar Dika sambil memberikan bungkusan.
"Thankyou Dika. Maaf udah ngerepotin kamu. Btw, Adriannya mana? kok bukan dia yang kasih langsung?"
"No problem, Al. Adrian tadi sih bilangnya, habis dari kantin dia mau balik ke kelas."
"Oke, Dik. Thanks ya !"
"Oya, gue balik ke kelas dulu ya. Takut ntar ada dosen."
"Oke !"
Seketika hati Alia senang, ketika tau Adrian masih peduli padanya walaupun ia sedang marah. Alia pun segera kembali ke kursinya untuk segera mengirimkan pesan pada Adrian dan mengucapkan terimakasih.
To : Adrianđź’•
Makasih karena kamu tetap masih peduli padaku, walaupun kamu sedang marah saat ini. Thanks buat makanannya Adrian ! Aku suka !
Alia pun tersenyum setelah mengirimkan pesan tersebut, dan segera membuka makanan dari Adrian untuk segera ia makan.
※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※
Alia sedang duduk pada salah satu bangku di taman sambil melihat layar handphonenya, berharap Adrian mengirimkan sebuah pesan padanya. Tiba-tiba sebuah notifikasi muncul di layar handphonenya, siapa lagi kalau bukan dari orang yang ditunggunya.
*Sorry Al, g**ue* gak bisa antar lo pulang. Lo pulang naik taxi online aja, atau gak minta jemput pak Tio. Aku sibuk.
Sender : Adrianđź’•
Oke !! Aku pulang naik taxi online aja hari ini gapapa.
Sender : Aliađź’•
"Ah... ternyata kamu masih marah sama aku Adrian. Gapapa deh, emang aku yang salah sama kamu juga." Ujar Alia dalam hatinya dan langsung memesan taxi online pada sebuah aplikasi.
10 menit kemudian taxi online yang di pesan Alia pun datang. Alia pun segera berjalan keluar menghampiri taxi online pesanannya.
"Mbak, udah sampai tujuan" Panggil supir taxi online tersebut yang melihat kaca spion.
"Ah.. iya pak terimakasih." Jawab Alia yang segera menghapus air matanya.
"Mbak nangis ya? Apa saya membawa mobilnya kekencangan? mbak takut ya?" Tanya supir taxi online tersebut memperhatikan Alia.
"Ah.. gak pak, bapak gak kencang kok bawa mobilnya. Saya bukannya nangis kok pak, saya cuman ngantuk makanya jadi keluar air mata begini. Ini uangnya pak, saya turun dulu ya. Terimakasih sebelumnya" Ujar Alia sambil memberikan uang dan segera turun dari taxi tersebut.
Alia pun memasuki rumahnya, dan melihat isi rumahnya kosong. Akan tetapi, ada sosok wanita yang tiba-tiba menghampirinya di ruang tamu. Ya sosok itu bukan lah mamanya, tetapi sosok bi Ina yang merawatnya dari ia kecil.
"Non, udah pulang?" Tanya bi Ina yang tersenyum melihat Alia.
"Udah bi, barusan tadi naik taxi online." Jawab Alia sambil menyalam bi Ina.
"Kok naik taxi online non? kenapa gak minta jemput pak Tio atau diantar mas Adrian seperti biasa?"
"Adrian lagi marah sama Alia bi."
"Marah? Kenapa mas Adrian bisa marah sama non Alia?"
"Sebenarnya Alia yang salah bi, Alia yang kelewatan bicaranya ke Adrian."
"Non, lebih baik non minta maaf sama mas Adrian. Jangan dibiarin sampai berlarut-larut masalahnya non."
"Iya bi, Alia udah coba minta maaf ke Adrian kok. Alia udah kirim pesan ke Adrian terus kok bi. Ya... walaupun Adrian gak balas pesan Alia sih."
"Non, jangan menyerah. Bibi tau mas Adrian itu sayang banget sama non, jadi mas Adrian gak akan marah lama-lama sama non. Percaya pada bibi non."
"Iya bi, Alia tau. Makasih ya bi, udah selalu dengarin cerita Alia." Ujar Alia sambil memeluk bi Ina.
"Oya bi, mama sama papa pergi lagi? Sibuk lagi dengan urusan mereka?" Tanya Alia sambil melepaskan pelukannya pada bi Ina.
"Iya non, tadi mama sama papa non bilang bakal ke Surabaya selama 3 hari. Tapi non jangan sedih, kan masih ada bibi." Jawab bi Ina yang tersenyum kepada Alia.
"Ah.. Alia udah tau pasti mereka lebih mentingkan urusan mereka dibandingkan Alia yang anaknya. Alia udah biasa juga dari kecil selalu ditinggal mereka." Ujar Alia dengan wajah murungnya.
Bi Ina tau bahwa saat ini Alia benar-benar tidak baik-baik saja. Sehingga bi Ina segera mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka, agar Alia tidak sedih.
"Non pasti capek karena baru pulang, lebih baik non mandi dulu. Biar bibi bisa masakin nasi goreng kesukaan non. Kalau udah siap nasi gorengnya, bibi antar ke kamar non."
"Oke, Alia naik ke kamar dulu ya bi. Makasih buat nasi gorengnya." Ujar Alia tersenyum kepada bi Ina.
Alia pun segera naik ke kamarnya untuk mandi. Sedangkan bi Ina hanya tersenyum melihat Alia, sebelum ia pergi ke dapur untuk memaksa nasi goreng kesukaan Alia.
Saat ini Alia sudah di kamar dan selesai mandi. Tetapi tiba-tiba saja mata Alia tertuju pada hanndphonenya, dan ia memutuskan mengirimkan pesan kepada Adrian untuk memberikannya kabar.
To : Adrianđź’•
Adrian, aku udah dirumah. Kamu udah sampai dirumah kan?
To : Adrianđź’•
Hari ini aku dirumah sendiri. Seperti biasa, mereka lebih penting urusan mereka dibandingkan aku anaknya.
To : Adrianđź’•
Kamu sedang apa? Kamu sibuk ya, sehingga kamu tidak bisa membalas pesanku?
Kamu tau gak, saat ini aku sedang di kamar buat nungguin nasi goreng buatan bi Ina.
Aku udah gak sabar, habisnya nasi goreng bi Ina enak sih. Hehehehe...
Akan tetapi pesan yang dikirim oleh Alia, tidak ada satupun yang dibalas oleh Adrian.
Tok !! Tok !! Tidak lama setelah itu terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar.
"Non.. non, ini nasi gorengnya udah siap." Panggil bi Ina dari balik pintu kamar Alia.
"Masuk aja bi, pintunya gak Alia kunci kok."
Teriak Alia dari dalam kamar.
Bi Ina pun masuk ke kamar Alia, dan meletakkan nasi goreng dan air di atas meja belajar Alia.
"Makasih ya bi." Ujar Alia sambil mengambil nasi goreng tersebut di meja belajarnya.
"Sama-sama non. Bibi tinggal dulu ya, jangan lupa dihabiskan ya non." Ujar bi Ina sambil keluar kamar Alia dan menutup pintu.
Seketika Alia pun tersenyum melihat nasi goreng buatan bi Ina. Ia teringat oleh Adrian yang sangat senang, jika Alia membawakan nasi goreng buatan bi Ina ke kampus untuknya. Spontan Alia pun segera mengambil handphonenya yang ada di tempat tidur, dan segera mengirimkan pesan kepada Adrian.
To : Adrianđź’•
Nasi gorengnya udah jadi, ini aku lagi makan nasi gorengnya. Aku tau, kamu sukak banget sama nasi goreng buatan bi Ina. Jadi, kalau kamu baca pesan dari aku ini jangan iri ya ! Hehehehe..
To : Adrianđź’•
Kamu jangan lupa makan ya !
Sudah 15 menit Alia mengirim pesan tersebut dan menunggu balasan dari Adrian. Namun hasilnya tetap sama, Adrian tidak membalas pesan Alia sama sekali. Sehingga membuat Alia kesal dan melempar handphonenya di kasur ke sembarang arah.
Setelah selesai makan, Alia pun memutuskan untuk tidur dan berharap hari cepat berlalu, dan kejadian hari ini adalah mimpi buruk buatnya.
※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※