The Second Chance

The Second Chance
BAB 2



KANTIN


Alia, Aletha, dan Talia sudah berada di kantin. Mereka pun memilih salah satu bangku kosong di pojok kantin yang menjadi tempat favorit mereka.


Akan tetapi tiba-tiba saja handphone Alia berbunyi, dan pada layar handphonenya ada dua notifikasi pesan masuk yang belum terbaca dari Adrian.


Ia pun memilih untuk mengacuhkan pesan tersebut, karena saat ini dia masih bener-bener kesal pada Adrian.


Akan tetapi, rasa penasarannya meruntuhkan egonya untuk mengacuhkan pesan dari Adrian. Ia pun memilih untuk membaca pesan apa yang dikirim oleh Adrian.


Al, we need to talk !!


Sender : Adrian💕


Kalo emang kamu masih kesel dan tidak ingin berbicara denganku, aku akan kasih kamu waktu Al. Tenang aja Al, aku gak akan ganggu kamu kok.


Sender : Adrian💕


Alia masih tidak percaya dengan isi pesan dari Adrian yang ia terima. Sehingga ia terus mengulang-mengulang untuk membaca pesan dari Adrian tersebut, takut ia salah baca atau kelewatan.


"Al, lo mau pesan apa? biar gue dan Talia yang pesankan?" Tanya Aletha kepada Alia yang terus memperhatikan handphonenya.


Akan tetapi, Alia tidak memberikan respons apapun terhadap pertanyaan Aletha.


Sehingga, Aletha mencoba bertanya kembali ke Alia.


"Al, lo mau pesan?"


Namun, respons yang diberikan Alia tetap sama.


"Al, Al.." Panggil Aletha sambil menggoyangkan sedikit lengan Alia.


"Ah.. Iya. Kenapa? Udah masuk kelas ya? Bukannya, katanya jadi jam 11?" Jawab Alia spontan karena terkejut.


"Gak Al. Gue cuman nanyak lo mau pesan apa? biar kita pesankan."


"Gue pesan bakso sama ice tea aja."


"Oke ! Lo tunggu disini ya, jangan bengong lagi kayak tadi."


"Iyaaa baweelll. Udah ah sana !"


10 menit kemudian, makanan mereka pun tiba. Akan tetapi saat Aletha dan Talia fokus dengan makanannya masing-masing, Alia hanya diam dan mengaduk-mengaduk makanannya saja. Ya, dia masih memikirkan ucapan Adrian di pesan tersebut.


Sehingga tanpa ia sadari, ia bermonolog pada hatinya sendiri.


"Dasar cowok, gak bisa nepatin janji. Seharusnya dia minta maaf dong, berusaha dong, bujuk aku dong. Ini malah kirim pesan beginian. Maksudnya apa coba?"


"Tapi, apa aku gak kelewatan ya? Apa aku yang salah gak mau dengarin penjelasan dari Adrian? Apa aku coba kasih dia kesempatan aja?"


Talia yang sadar dengan sikap Alia yang aneh dari tadipun, akhirnya mencoba untuk memulai membuka pertanyaan.


"Al, are you okay?" Tanya Talia pada Aletha.


"Ya, Tal. I'm okay !" Jawab Alia sambil tersenyum.


"Ah.. lo Al. Selalu aja buat selalu terlihat baik-baik aja, padahal kenyataannya gak kayak gitu. Lo gak bisa bohongi gue ataupun Aletha Al, kita tau kalau lo sebenarnya saat ini tidak dalam keadaan yang baik-baik aja kan?"


"Al, apa ini ada hubungannya dengan sikap lo ke Adrian tadi? Ada apa? Apa orang tua kalian udah tau kalau kalian pacaran diam-diam selama ini?"


"Bukan karena keluarga kita kok. Sampai sekarang kita masih backstreet."


"Kalau bukan karena itu? Ini soal apa?"


"Ah.. ini itu cuman karena aku kesel sama Adrian?"


"Maksudnya gimana, Al?"


"Tadi pagi si Adrian itu gak ada kabar sama sekali setelah kirim pesan ke aku kalau dia bakal sampai rumahku 10 menit lagi. Aku udah nungguin dia hampir setengah jam, dan nyatanya dia gak ada kabar sama sekali."


"Lo udah coba hubungi Adrian belum tadi?"


"Udah. Bukan hanya sekali aku coba menghubunginya, tapi udah berkali-kali. Hasilnya apa? Gak ada jawaban dari dia."


"Saran gue sih, coba lo tanya sama Adrian kenapa dia sampai bisa seperti itu. Gue yakin, Adrian pasti punya alasan."


"Iya sih, aku belum dengar penjelasan dia. Aku masih bete banget sama dia. Ditambah lagi, masa dia malah kirim pesan ini ke aku? Maksudnya apa coba? Seharusnya dia bujuk aku atau gimana kan, bukan malah kirim pesan beginian" Ujar Alia sambil menunjukkan pesan dari Adrian ke Talia dan Aletha.


"Al saran kita ya, seharusnya lo balas pesan Adrian dan kasih Adrian kesempatan buat jelasin. Bukan lo malah menghindarin dia. Kita tau lo bete, lo kesel sama Adrian, tapi kalau kalian gak selesaikan masalah ini sekarang mau sampai kapan? Jangan buat hubungan kalian tambah sulit Al."


"Iya sih, kalian benar. Aku terlalu childish, gak mau dengerin penjelasan Adrian. Aku coba chat Adrian deh untuk nyelesaikan masalah ini."


Alia pun segera mengambil handphonenya di dalam tas, dan segera mengirimkan pesan ke Adrian.


To : Adrian💕


Kita selesaikan masalah ini setelah selesai kampus. Jam berapa kamu selesai?


Aku baru selesai , dan kebetulan hari ini cuman satu mata kuliah. Jadi, kapanpun kamu mau aku siap.


Sender : Adrian💕


Aku selesai jam 1. Aku tunggu kamu di taman kampus ya.


Sender : Alia💕


Oke !! Thankyou Al, udah kasih kesempatan buat aku jelasin.


Sender : Adrian💕


Iya. Jangan telat dan buat aku nunggu lama lagi.


Sender : Alia💕


Alia pun memasukkan handphonenya kembali ke dalam tas, dan kembali ke kelas bersama Aletha dan Talia.


※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※


Jam sudah menunjukkan pukul 13.05wib, dan kelas Alia pun sudah selesai. Alia pun memutuskan untuk segera menemui Adrian di taman kampus.


Ketika Alia sampai di taman kampus, mata Alia terus mencari-cari sosok Adrian, namun ia tidak menemukan Adrian.


"Apa aku kelamaan ya? Ah.. tapi ini kan masih jam 13.10wib, berarti aku hanya telat 10 menit. Masa iya Adrian udah pergi? Atau dia mau bohongi aku lagi? Tapi, sebaiknya coba aku kirim pesan ke dia aja dulu ya" Tanya Alia pada dirinya sendiri.


Saat Alia ingin mengambil handphonenya di dalam tas, tiba-tiba saja dia melihat sosok Adrian yang berlari menghampirinya.


"Al, sorry aku telat. Tadi aku udah nungguin kamu disini dari jam 12. Tapi karena aku pikir kamu masih lama, aku tadi pergi sebentar buat beli coklat kesukaan kamu." Ujar Adrian sambil mengatur nafasnya.


"Gak kok, aku belum lama juga nungguin kamu. Yaudah kita cari tempat dulu, biar enak buat bicarannya. Hmm... gimana kalau kita duduk disana" Ujar Alia, sambil menunjuk salah satu bangku kosong.


Alia dan Adrian pun duduk dibangku tersebut. Namun seketika suasana menjadi hening, karena cukup lama tidak ada yang memulai untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu.


"Hmmm... Al, ini coklat buat kamu." Ujar Adrian sambil memberikan coklat ditangannya kepada Alia.


"Makasih Adrian."


"Al, aku minta maaf buat yang tadi pagi ya. Sungguh, aku gak punya niat buat gak jemput kamu atau bohongi kamu. Aku tadi sempat kerumah kamu, tapi bi Ina bilang kamu udah berangkat tadi."


"Iya, aku berangkat sama pak Tio. Kamu tadi malah gak ada kabar, aku coba hubungi berkali-kali jugak gak diangkat."


"Iya, aku salah. Seharusnya aku kabarin kamu kalo aku telat."


"Emang kamu kenapa sampai bisa telat? bukannya tadi pagi kamu bilang 10 menit lagi kamu sampai rumah aku."


"Ban mobil aku bocor, jadi aku tadi ke bengkel dulu. Cuman, aku bener-bener lupa buat kabarin kamu kalau ban mobil aku bocor. Waktu kamu telpon aku, hp aku di dalam mobil dan aku gak tau kalau kamu telpon aku. Aku taunya, waktu mobil udah siap dan mau jemput kamu ke rumah."


"Kenapa kamu gak coba hubungi aku balik waktu kamu tau aku hubungi?"


"Aku mau hubungi kamu Al, tapi handphone aku lowbat. Aku mau charger handphone aku, tapi ternyata power bank aku ketinggalan. Makanya aku tadi nyamperin kamu buat jelasin. Aku beneran minta maaf Al, aku gak akan ulangi lagi kesalahan kayak gini."


"Yaudah aku maafin kamu. Tapi..."


"Tapi apa Al?"


"Tapi ada syaratnya, kamu bisa lakuinnya gak?"


"Syarat apa Al? Apapun itu pasti aku lakuin, karena aku gak mau kamu marah atau bahkan tinggalin aku."


"Gampang kok. Yang pertama, kamu harus antar dan jemput aku gak pakai telat. Yang kedua, kamu jangan pernah tinggalin aku. Oke?"


"Hahahaha... itu aja? Kalau itu tanpa kamu minta aku bakal lakuin Al." Ujar Adrian sambil menarik hidung Alia.


"Sakit tau Adrian." Ujar Alia sambil cemberut dan memegang hidungnya.


"Habisnya kamu lucu banget sih."


"Adrian"


"Ya, Al."


"Kita pulang yuk ! Ini udah jam segini, aku takut ntar orang rumah nyariin aku. Aku takut ntar mereka tau kalau kita jalan berdua dan masih pacaran."


"Ah... mau sampai kapan sih kita gini Al? Mau sampai kapan kita pacaran diam-diam kayak gini? Mau sampai kapan kita nyembunyiin ini dari keluarga kita? Aku pingin kita kayak yang lain Al." Tanya Adrian pada Alia.


"Adrian, sabar ya ! Kita sama-sama berusaha untuk dapat restu dari keluarga kita ya. Tapi, untuk sekarang seperti ini lebih baik." Jawab Alia sambil memegang pipi Adrian.


"Baiklah ! Selama kita bersama-sama dan terus berusaha, pasti mereka akan luluh dan merestui kita. Yaudah yuk, kita pulang sekarang" Ujar Adrian sambil tersenyum.


Ya, mereka pun memilih untuk pulang setelah mereka menyelesaikan masalah mereka pada hari itu.


※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※