The Richzern

The Richzern
BAB 4



Setelahnya Sean dan Asya melakukan obrolan yang entah apa, dan membiarkan Al terdiam, mereka seolah larut dalam dunianya. Al baru saja hendak menyesali keputusannya yang memilih ikut pergi ke club, sampai matanya menangkap sosok gadis berparas cantik tetapi terlihat tidak asing baginya.


Gadis itu berdiri di dekat meja bar sambil memegang gelas berisi cocktail, awalnya ia terlihat hanya sendirian, tetapi kini ada seorang pria yang mendekatinya dan mencoba mengajaknya mengobrol.


Al tidak bodoh untuk mengerti bahwa gadis itu tampak tidak nyaman tetapi pria itu semakin gencar mendekatinya, akhirnya muncul sebuah ide ia pun segera pergi menghampiri gadis itu.


" Mau kemana." Tanya Sean ketika melihat Al bangkit.


"Bar." Ujarnya kemudian menuruni anak tangga menuju lantai satu.


Al harus menerobos kerumunan orang orang untuk mencapai tempat gadis itu berada, setelah sudah berada disana, Al sengaja berdiri diantara pria asing dan gadis itu sehingga membuat akses mengobrol mereka terputus.


"Vodka." Ujarnya pada bartender, kemudian ia mengalihkan pandangannya pada gadis itu yang sedang menatapnya.


"Hai." Sapa Al sambil tersenyum.


" Lo kalo gak salah yang waktu itu negur gue di supermarket sama di kampus kan."


" Iya, itu gue" ucap Al.


Dari sanalah obrolan mereka dimulai, Al duduk di salah satu kursi tinggi yang berhadapan dengan Agatha. Mereka saling berbagi cerita, Al yang sangat antusias banyak menanyakan pertanyaan pada gadis itu.


Sebenarnya Al bukan tipe yang sangat antusias jika mengobrol dengan seorang gadis tetapi saat ini sikapnya benar benar berbeda.


Aldrich yang terus menatap gadis itu sambil bercerita tidak seperti biasanya jika ada beberapa wanita lain yang mendekatinya ia menanggapi dengan sikap acuh dan dingin, tapi kali ini sangat berbeda. Agatha yang sesekali hanya tersenyum menanggapi pertanyaaan pria itu dan selebihnya ia memilih menjadi pendengar.


Ketika DJ mengumumkan akan memutar sebuah lagu, para pengunjung berkumpul di lantai dansa termasuk Agatha yang berdiri dari kursinya dan ikut berkumpul. Al yang melihat Agatha berjalan kesana akhirnya juga mengikuti gadis itu untuk bergabung dengan pengunjung lainnya.


Keduanya berdiri berhadapan menikmati alunan musik, sedangkan Al hanya mengikuti ritme musik dengan pelan dan santai.


"Jangan pulang sebelum jam 12." Ujar Agatha sedikit berteriak.


"Apa?" Tanyanya kemudian mendekatkan tubuh seolah ingin mendengar lebih jelas. Agatha yang melihat itu langsung mendekatkan wajahnya ke telinga Al dan mengulangi kalimatnya tadi.


"Jangan pulang sebelum jam 12 malam." Ulangnya.


Kini Aldrich mendekatkan wajahnya ke telinga Agatha "Emang kenapa?" Tanyanya.


"Acara puncaknya jam dua belas malam ini, pasti seru." Agatha mendekatkan wajahnya lagi ke arah telinga Al.


Dari jarak sedekat itu mereka dapat mencium aroma parfume masing - masing. Agatha beraroma vanilla dan Jasmine sementara Al beraroma dominan maskulin.


Aldrich benar - benar bertahan disana sampai tengah malam. Semua itu ia lakukan untuk menemani Agatha yang tampaknya masih enggan untuk pergi.


" Kau tidak apa - apa?" Tanyanya khawatir.


"Sepertinya aku kebanyakan minum, kepalaku sangat pusing" Jawab Agatha.


Karena hal itu akhirnya mereka memutuskan pergi ke lantai dua untuk menemui Sean dan juga kekasihnya. Ketika sampai disana ternyata Sean dan Asya sudah tidak ada meja itu kosong entah kemana mereka berdua pergi.


Setelah mengobrol sebentar sambil duduk akhirnya mereka keluar dari Club, Al berniat mengantarkan Agatha pulang mau bagaimanapun keadaannya saat ini ia tidak bisa untuk pulang sendiri karena sudah banyak minum sehingga tawaran itu tidak ia tolak.


Aldrich merasa senang bisa menghabiskan waktunya dengan gadis itu, tidak seperti pada gadis - gadis sebelumnya yang pernah mendekatinya ia sangat merasa risih tetapi kali ini sepertinya Agatha mampu menarik perhatian Aldrich.


"Kamu gak mampir dulu?" Tawar Agatha, mereka sekarang sudah berada di parkiran basement apartement nya.


"Nggak deh, mau langsung pulang aja gue udah agak pusing juga soalnya." Jawabnya.


"Justru karena itu mampir dulu aja, bahaya nyetir sendirian disaat keadaan kamu abis minum." Ujar Agatha.


Dengan kalimat itu akhirnya Aldrich terbujuk dan memilih untuk mampir ke apartement milik Agatha mereka berdua berjalan menuju unit milik gadis itu, Ketika masuk suasana nyaman langsung terasa.


Aldrich diminta menggunakan sandal rumahan kemudian ia duduk di salah satu sofa dan menyamankan posisinya. Sementara itu Agatha kini tengah sibuk di dapur entah sedang melakukan apa, sampai kemudian Agatha kembali menuju ruang sofa dengan membawa secangkir teh hangat dan minuman kemasan pereda mabuk.


"Minum dulu." Ujar Agatha sambil memberi minuman itu pada Al dan ia pun duduk di sofa.


"Thanks." Ucap aldrich sambil tersenyum mengambil minuman itu. Matanya kini sambil sesekali mencuri pandang pada Agatha.


"Rumah kamu jauh, mau aku Anter gak?" Ucap Agatha sambil menatap Aldrich.


"Nggak juga, gue bisa balik sendiri lagian gue kesini buat nganterin Lo pulang."


" Iya juga sih, kamu udah mendingan kan pusingnya."


"Iya udah lumayan mendingan." Ujar Al.


"Oke nanti hati - hati ya pulangnya." Ucap Agatha.


Agatha jarang sekali bersikap perhatian seperti ini pada laki - laki lain. Begitu mudah tersenyum dan menjawab dengan nada lembut, sangat jauh sekali dengan sikapnya yang jutek dan jarang bertanya tentang hal - hal yang menurutnya tidak penting.


Semua pertanyaan yang tidak terlalu penting yang ia sebutkan hanya dilakukan ketika ia merasa ingin memainkan sebuah permainan, Agatha tidak bodoh untuk memahami bagaimana sosok tampan di depannya mencoba memulai sebuah permainan yang entah apa. Sikap Aldrich yang seperti itu terlalu jelas dan mudah dilihat oleh Agatha, untungnya kali ini Agatha tertarik dengan permainan Al.


\*\*\*\*