
Saat ini Aldrich tidak ada kegiatan apapun karena mahasiswa Stansfield College sedang di liburkan, ia berada di apartemen nya, dan tidak punya rencana apapun untuk pergi keluar. Sebenarnya ia terkadang suka menikmati waktunya sendiri tanpa berkumpul dengan anggota gengnya, seperti menikmati musik dan juga bermain game.
Dibalik sifatnya yang terlihat dingin dan kejam, baginya cara memulihkan tenaga adalah dengan menyendiri, namun ia juga terkadang suka pergi ke club, membicarakan tentang sepak bola dan mengobrol panjang soal bisnis karena bagaimanapun ia penerus perusahaan ayahnya.
Banyak wanita yang mendekatinya tetapi semua itu hanya karena mereka memandang aldrich anak dan juga pewaris dari pemilik perusahaan besar.
Kali ini Al hanya berniat berolahraga di apartemen nya tanpa berniat untuk pergi kemanapun.
Ia memasang airpods kemudian mulai melakukan sedikit pemanasan sebelum masuk pada olahraga yang berat. Ia memulai sesi pertamanya dengan berlari dengan tempo santai di treadmill kemudian setelah 20 menit berlalu barulah ia beralih mengangkat beban. Tangannya memegang besi dengan cengkraman cukup kuat, ketika beban mulai terangkat, otot lengannya mulai timbul bersama veins yang juga tercetak jelas menandakan bagaimana bagian itu bekerja.
Di tengah kegiatan olahraganya, terdengar suara bell berbunyi, ia mengambil handuk kecil untuk mengelap keringatnya kemudian berjalan kearah pintu untuk melihat siapa yang datang dari layar monitor.
Ketika melihat wajah saudara sepupunya disana, Al langsung membukakan pintu.
Dari arah luar Sean Jerick Anderson langsung tersenyum padanya dan masuk kedalam, ia menaruh paper bag di dekat sofa kemudian mendudukkan diri disana tanpa disuruh, seolah apartemen ini miliknya.
Tampilan pria itu kali ini tampak berbeda, ia terlihat sedikit rapih dari biasanya.
"Ada acara apa Lo serapih ini?" Tanya Al penasaran.
" Kesini " jawabnya santai.
"Gak mungkin, serapih itu" Al tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
" Abis dari sini mau ketemu sama Asya pacar gue, di club."
Sean mengeluarkan ponsel untuk mengetikkan sesuatu kemudian kembali menatap Al.
"Ayo ikut gue kesana" Tawarnya.
Al membalas dengan gelengan kepala, kemudian langsung kembali melanjutkan olahraganya yang sempat tertunda.
Sementara Sean sudah berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum sambil berbicara dengan seseorang di telephone, sepertinya ia berbicara dengan kekasihnya.
" Al Lo yakin gak akan ikut? Ayo cari hiburan disana" ajaknya lagi.
" Gak, yang ada gue gak berguna disana cuma buat liat Lo pacaran." Jawabnya singkat.
" Ya gak gitu Al, pacar gue bawa temannya Lo bisa ajak dia bicara, siapa tau nanti Lo suka sama dia" ucap Sean sambil tersenyum.
" Gue gak tertarik " jawab Al dengan malas.
" Ayolah sekali ini aja Al." Ajak Sean tetap memaksa Al agar ikut dengannya.
Ia pun pergi berjalan ke arah kamarnya, sebelum benar - benar masuk Al menatap Sean yang masih menunggu jawaban darinya.
" Gue mandi dulu " ujarnya.
" Oke, akhirnya." Sean seolah sangat senang mendengar jawaban sepupunya.
Setelah sekitar 20 menit ia bersiap, akhirnya Al selesai. Laki laki itu kali ini memilih mengenakan pakaian serba hitam seperti biasanya, ia memakai turtle neck warna hitam dan jaket kulit serta celana denim dengan warna senada juga.
\*\*\*\*
Keduanya pergi menuju Club menggunakan mobil Sean. Jarak antara apart Al dan club tidak begitu jauh jadi mereka hanya membutuhkan waktu sebentar untuk mencapai area itu.
Banyaknya pengunjung di club, mereka yang akan masuk harus mengantri dahulu.
Sedangkan member VVIP tidak perlu menunggu, mereka cukup menunjukkan kartu member dan masuk melalui pintu khusus VVIP. Sean yang sering pergi ke club sudah pasti memiliki kartu member.
Seperti Club kebanyakan yang tentu saja tempat ini sangat ramai, baru saja mereka masuk dentuman musik sudah sangat jelas terdengar dan bercampur dengan suara orang orang disana.
Al hanya mengikuti Sean yang sejak tadi berjalan ke lantai dua untuk menemui kekasihnya. Sesampainya di sana ia dapat melihat dari kejauhan seseorang melambaikan tangan kemudian dibalas oleh Sean sambil berjalan kearahnya.
Sean yang melihat kekasihnya yang ternyata hanya duduk sendirian merasa bingung, karena sebelum pergi asya memberitahu bahwa temannya akan ikut.
" Babe" sapa Asya antusias.
"Lama nunggu?" tanya Sean sambil mencium pipi Asya.
" Gak, baru 5 menit disini."
" Oh iya, kenalin Aldrich sepupu aku"
Ucap Sean sambil menaruh tangannya di pundak Al.
" Hai, aku Asya Carolline panggil aja Asya."
Asya menyapa sambil tersenyum ramah pada Al.
"Gue Aldrich." Jawabnya singkat.
\*\*\*\*