THE REAPER WIND'S

THE REAPER WIND'S
SEJARAH PERANG 500 TAHUN



1 Januari 1717 (Kalender Matahari)


Terjadi pembunuhan pada salah seorang putri satu-satunya yang dimiliki oleh Lord Arthurian de Leonheart yaitu salah satu dari 9 putra kaisar di The Empire. Tengah bersedih.


Larissa Riquelme mati ditangan salah satu The Grand Order dengan tusukan pisau di perut bagian atas(lambung).


Mendengar hal itu Lord sedih sekaligus marah atas apa yang dilakukan oleh The Grand Order dan The Republik. Menurutnya tindakan mereka sudah kelewat batas. Membunuh dua putra raja adalah hal yang berat. Maka dari itu Lord Arthur bersiap melakukan deklarasi perang kembali.


Tapi kemudian ada seorang pria berjubah hitam mendatangi raja di tahtanya mengatakan bahwa itu adalah hal bodoh. Para penjaga serta ajudan disana keheranan dari mana orang ini masuk.


Dia berbicara kalau dia dan pasukannya dapat membantu mereka dalam peperangan itu dan memenangkannya. Lord yang antusias berusaha berkomunikasi lebih lama dengannya. Lord tertarik tapi, dia tidak akan percaya kalau pria berjubah itu menyebutkan identitas nya dengan sedikit ancaman.


Tak punya pilihan lain pria itu membuka tudung kepalanya dan menjawab.


" Anda bisa memanggilku dengan Rasyid yang mulia..."


Raja kemudian melihatnya secara telaten dan melanjutkan pembicaraan tersebut.


" Baiklah Aku sudah mengetahui dirimu lalu bagaimana caranya?"


" Mudah sekali kita buat para anggota terkuat di The Republik bertarung satu sama lain, bagaimana?"


" Hanya dengan fitnah kau tidak akan menghancurkan suatu negri wahai Rasyid. Kau perlu cara yang paling efektif."


" Justru inilah yang paling efektif saat ini."


" Bagaimana kau tahu?"


" Aku adalah seorang saudagar yang berdagang keseluruh dunia. Jadi aku tau keadaan suatu negri."


" Lalu bagaimana keadaan The Republik?"


" Saat ini The Republik sedang dilema oleh yang namanya Low Trust(rendahnya tingkat kepercayaan) pada pemerintah."


" Tapi bukankah mereka memiliki namanya kelompok The Grand Order."


" The Grand Order juga sedang memiliki masalah dengan masyarakat dibeberapa tempat. Jadi jika kita bisa memanfaatkan situasi ini maka..."


Mata Lord memancarkan cahaya antusias sambil berkata. " Kita bisa menghancurkan The Republik sekaligus."


" Ya, itulah maksud saya." Kata Rasyid.


Raja pun kemudian tertawa keras yang terdengar oleh seisi ruangan tersebut.


" Orang ini menarik sekali, baiklah aku akan ikuti rencana mu dan setelah itu Aku! raja Imperial Palace, Lord Arthurian de Leonheart akan menjadi penguasa dunia...., Hahahaha."


Para penjaga serta ajudan disana juga senang dengan itu, semetara Rasyid dia hanya tersenyum dan mengatakan dalam hatinya.


' Raja bodoh...kau pikir aku membantu mu, justru kau yang membantuku untuk melakukan rencana sebenarnya., Hihihi' batin Rasyid.


****


Pria berjubah hitam berjalan mendatangi ibu kota The Empire, Tartarus. Membawa dagangannya yang hanya berdagang alat-alat kuno dan antik.


Dagangannya selalu laku pada orang tua lansia atau kolektor saja sementara untuk anak-anak dan remaja jarang sekali, ada tapi jarang.


Dia mendatangi istana karena salah satu penguasa disana memesan kepada pria ini untuk membeli alat antik dari abad ke-100.


Kebetulan pria ini menjualnya. Maka dari itu dia datang untuk memberikan barang yang dipesan tersebut sekaligus menawarkan barang lainnya.


Pria ini pun sampai didepan istana yang megah nan indah penuh dengan taman-taman Bungan dan kolamnya serta air pancuran dengan patung dewa Horus berukuran kecil diatasnya. Pintu terbuka dan pria itu pun akhirnya bertemu dengan produsen nya yaitu Lord Gordon Krisc Worg de Levant.


Pria ini dipersilahkan masuk ke dalam istana dan dibawa keruangan tertentu. Istana begitu luas sampai penuh dengan ruangan yang tak terpakai.


Entah mengapa banyak barang yang kosong, mungkin kerajaan sedang memiliki masalah internal.


Setelah mendapatkan barang yang dibutuhkan oleh penguasa itu yang adalah salah satu dari 9 putra kaisar The Empire. Pria itu kemudian bertanya pada Lord Gordon.


" Tuan, bolehkah saya bertanya sesuatu?"


" Memang apa tujuan mu sampai bertanya hal yang bukan urusan mu?" Kata Lord Gordon sambil melihat kagum benda antik yang dibawanya.


" Tidak, maaf bukan bermaksud untuk ikut campur urusan interna kekaisaran tapi saya hanya penasaran...." Dia menjelaskan dengan penuh sopan santun dan rasa hormat pada Lord Gordon.


" Masalahnya mengapa istana yang besar seperti ini memiliki banyak ruangan kosong padahal ruangan kosong ini bisa dialih fungsikan menjadi hal lain, seperti gudang barang antik misalnya..." Lanjut Pria itu.


" Itu hanya kemauan mu agar aku membeli lebih banyak barang antik mu, begitu kan?" Cetus Lord Gordon.


" Bukan begitu, maaf."


" Hahahaha. Hmmm, baiklah ku beri tahu. Sebenarnya istana sedang mengalami krisis ekonomi yang cukup serius sampai kami harus menjual beberapa barang-barang kami ke luar. Dan juga ini bertujuan untuk persiapan perang dengan The Republik."


' The Republik' Pria ini sebenernya memiliki masalah juga dengan di The Republik. Pemerintah ini lah yang bertanggung jawab atas kehancuran di Tevyat 50 tahun lalu.


" Terima kasih atas informasinya, Tuan."


" Ya , sama-sama. Lalu akan pergi kemana kau?"


" Mungkin, aku akan mendatangi beberapa pembeli ku yang lain."


" Hmmm, begitu ya...baiklah semoga selamat dalam perjalanan."


" Terima kasih atas sanjungannya, Lord. Aku pamit, selamat siang." Pria itu pun pergi dari tempat itu setelah Lord Gordon memberikan salam.


Pria ini juga mulai berangkat menuju pembeli lainnya dan sampailah di satu tempat yang tak jauh dari kediaman Lord Gordon yaitu salah satu putra kaisar juga yang adalah Lord Arthurian de Leonheart. Yang kalau tidak salah dengar baru saja putrinya terbunuh oleh salah satu pasukan khusus The Republik yaitu Grand Order.


Saat dipersilahkan masuk terlihatlah kericuhan didalam istana yang entah sebab apa. Para ajudan dan penjaga istana saling melemparkan opini dengan bahasa yang kurang enak didengar.


" Oh kau sudah datang wahai pendatang barang antik."


Salah satu Ajudan disana mendekati pria itu dan menanyakan barang yang dibawakan olehnya.


Singkat cerita dia mendapatkan alat tersebut. Dan pria ini yang selalu penasaran bertanya pada pembelinya itu apa yang terjadi pada Lord Arthurian.


Ajudan tersebut menjelaskan secara singkat tapi jelas, pasti ajudan ini orang cerdas. Pria ini kemudian berinisiatif untuk membantu Lord mungkin inilah saatnya untuk membalaskan dendam dengan The Republik.


Pria ini kemudian mendatangi tahta Lord Arthurian Dan memperkenalkan dirinya sebagai....


" Rasyid..."


****


The Republik dilema oleh banyak sekali masalah sejak 2 Minggu terakhir. Peningkatan jumlah orang sakit, ekonomi yang menipis serta renggangnya persaudaraan di setiap kekuasaan yang berserikat.


Admiral Dumble Roger Danuarta mengatakan bahwa " The Republik sedang mengalami penurunan kepercayaan ikatan masyarakat di setiap pelosok negri."


" Ini berbahaya sekali sebab ikatan antara satu negri dengan negri lainnya yang bersatu padu dalam naungan The Republik bisa terpecah." Dikutip dari Daily news observation.


Admiral D. R. Danuarta menyarankan untuk tidak mudah terpengaruh oleh omongan yang belum tentu kebenarannya sebab ini adalah akar permasalahan The Republik.


The Grand Order ditugaskan untuk mencari dan menganalisis permasalahan yang terjadi dan segera menangkap pelaku penyebar berita bohong.


Assyur (Grand Of Darkness) memberikan sebuah laporan pada pemimpin The Grand Order Thomassen.


" Lapor! Terjadi kerusuhan di daerah jembatan Your dreams, ganti..."


" Apa yang terjadi disana, apa yang memicu nya?"


" Pemicunya adalah roti,"


" Roti? Bukankah kita sudah memberikan konsumsi pada masyarakat yang tidak mampu."


" Aku tidak tahu tapi ada orang yang membawa roti banyak sekali dan buang dijalanan."


" Membagikan makanan dengan cara seperti itu, sangat tidak manusiawi. Redakan mereka bubarkan kerumunan massa itu."


" Baik!"


Laporan ditutup.


Thomassen berfikir keras akhir-akhir ini sebab dialah yang sekarang bertanggungjawab atas Grand Order bersama dengan wakilnya yang masih sama yaitu Sisilia (The Deputy Leader).


Sisilia berasumsi jika The Empire kemungkinan menjadi penyebab masalah. Thomassen yang mendengar penjelasan wakilnya juga berasumsi demikian.


Sisilia berfikir jika masalah The Republik dimulai semenjak Grand Order membunuh putri Lord Arthurian. Kemungkinan besar Lord Arthurian Bala's dendam dengan membuat konspirasi ini.


Keanehan ini juga diperkuat dengan data yang diberikan oleh pemerintah dengan yang diterima masyarakat sangat berbeda. Ada yang menyebarkan hoax di The Republik. Sisilia yang adalah orang paling paham dengan kondisi politik dan sosial di The Republik mengatakan juga kalau semenjak 3 Minggu yang lalu The Republik sudah memiliki masalah dengan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah atau Low Trust.


Kemungkinan ada orang lain juga yang mengetahui masalah yang terjadi di The Republik sejak 3 Minggu yang lalu.


Thomassen bertanya pada Sisilia dengan kemungkinan sosok yang mengetahui masalah The Republik selain mereka dan pemerintahan.


Sisilia kembali berfikir dan mendapatkan satu jawaban yang menurutnya bisa sangat berpotensi besar.


" Siapa sosok itu?"


" Kemungkinan yang paling berpotensi membocorkan kondisi itu adalah pedagang."


" Pedagang? Bagaimana bisa mereka melakukan itu?"


" Pedagang itu sangat suka melakukan komunikasi dengan pembelinya. Bisa saja kan ada dari kita yang berbicara jujur tentang kondisi kita pada mereka saat itu. Namun sayangnya kita malah berbicara dengan sosok yang sangat berbahaya."


" Maksudnya?"


" Penjual informasi."


Thomassen langsung terdiam di tempat dia tidak pernah berfikir begitu. Sisilia memang cerdas, Thomassen akui itu kalau wakilnya tersebut benar-benar cerdas.


" Terus apa yang akan kita lakukan? Apa kita harus melakukan penjagaan ketat pada mereka?"


" Lakukan, tapi kita harus melakukannya tanpa terlihat. Sebab jika kita melakukannya secara terang-terangan. Para pedagang akan merasa bahwa mereka adalah kriminal. Itu dapat membuat para pedagang dan saudagar kita tidak percaya lagi pada pemerintahan kita."


" Berbahaya juga untuk pemasokan kita ya..."


" Hmm, bisakah aku ditinggal sendirian sementara. Aku butuh berfikir sendiri tanpa gangguan."


Thomassen paham dan mengangguk lalu pergi dari tempat itu juga. Dia saat ini hanya bisa mengandalkan ide cemerlang dari Sisilia saja sebab itulah yang saat ini dibutuhkan oleh The Republik.


Disisi lain Sisilia hanya memikirkan satu nama dalam kepalanya. Sosok yang melakukan semua ini.


'Rushd...apakah kamu pelakunya?'


****


Di Istana Lord Arthur menemui seseorang dia adalah penyebab masalah di The Republik tidak lain merupakan pedagang bernama Rasyid.


Rasyid semenjak melakukan kerja sama dengan Lord Arthur diberikan sebuah tempat tinggal di istana di salah satu kamar.


"Rencana kita berhasil Lord, bagaimana?"


" Sangat hebat, tak kusangka efek nya sebegitu besar. Lakukan terus sampai The Republik tidak tahu apa yang harus mereka perbuat. Maka saat itulah mereka akan meminta bantuan pada kita, begitu kan rencananya?"


" Benar tuan ku, saat mereka menyerah dengan keadaan mereka. maka saat itu kita bisa menginvasi wilayah The Republik."


" Hihihi', sungguh sangat hebat. Kekuatan fitnah itu memang berbahaya, Hahahaha."


Tawa Lord Arthur dengan riang senang. Sementara Rasyid hanya tersenyum kecil. Namun sebenarnya dalam diri Rasyid ada semacam keraguan dengan keberhasilan rencana ini, tapi tak berapa lama ia tepis perasaan itu.


Lord Arthur pergi dari tempat itu menuju tempat nya ditahta meninggalkan Rasyid sendiri.


" Rencana ku akan berhasil aku yakin itu, tapi...."


" Sisilia..., Jangan-jangan kamu sudah sadar kalau..."


****


Tahun 1722 (Kalender Matahari)


4,5 tahun sudah jalan lah rencana tersebut. The Republik benar-benar kacau. Banyak orang-orang yang mulai memberontak kepada pemerintah.


Rakyat sudah saling berebut makanan dan wilayah. Padahal wilayah itu milik mereka bersama. Para menteri disana mulai menyerah dan tumbang satu persatu untuk melakukan tugas mereka.


Grand Admiral Tempest sudah melakukan segala cara untuk membantu rakyat tapi percuma saja.


Rakyat sudah tidak percaya lagi pada pemerintahan. Belum lagi akhir-akhir ini The Empire melakukan pergerakan mencurigakan terhadap The Republik. Ini akan sangat berbahaya mengingat kondisi mereka saat ini. Mereka bisa saja kehilangan wilayah kuasa atas suatu negri mereka.


Ini berbahaya tidak boleh dibiarkan. Grand Admiral Tempest kemudian mengunjungi markas The Grand Order, dia berpikir hanya itu lah kekuatan militer The Republik yang masih stabil.


Tak berapa lama dia sampai disana. Dia mengetuk pintu itu. Dan keluarlah seorang anggota The Grand Order berjulukan The Grand of Catastrophe siapa lagi kalau bukan Vilmar.


Setelah mengetahui siapa yang datang Vilmar segera mempersilahkannya untuk masuk.


Para anggota yang lain pun kaget dengan kedatangan Grand Admiral. Thomassen merasa terhormat dengan kedatangan Grand Admiral ditempat mereka.


Tempest pun duduk bersama semua anggota militer khusus itu. Dan berbicara soal permasalahan negri yang entah sampai kapan akan bertahan.


Thomassen juga paham apa yang dirasakan oleh Grand Admiral Tempest itu sebab mereka juga ada ditempat yang sama. Jadi sama-sama merasakan kondisi yang dialami.


Akhirnya keduanya pun sepakat untuk bekerja sama. Grand Admiral Tempest mulai menanyakan apa saja yang didapat kelompok ini tentang kondisi saat ini.


Laporan dari masing-masing anggota mulai dikeluarkan. Tapi tidak ada keanehan yang terjadi dan semuanya sudah dilakukan tapi tetap tidak berubah sama sekali kondisi mereka.


" Apa ada lagi keanehan dari masalah kita?" Tanya Grand Admiral.


" Tidak ada hanya itu yang kami dapat."


Semua hanya terdiam, sampai Sisilia mengatakan kecurigaannya pada seseorang. Gran Admiral kemudian bertanya siapa yang dicurigai oleh Sisilia.


" Sebenarnya aku mencurigai orang itu sejak lama..."


" Siapa?" Tanya Turin yang mulai ikut penasaran dengan orang yang di curigai oleh Sisilia.


" Apakah dia pernah ada masalah dengan kita?"


" Bukan masalah lagi tapi sudah berhubungan dekat dengan kita."


" Jadi kau pikir salah satu dari anggota Grand Order yang melakukannya, itu tidak masuk akal. Sementara kita ada disini dan sudah bersumpah untuk tunduk pada The Republik." Jelas Fuhrer.


" Aku tahu tapi,..." Sisilia mulai tak habis pikir juga kenapa dia merasa bahwa orang itulah yang melakukannya.


Berbeda dengan yang lain Thomassen mengatakan kepada Sisilia untuk terus terang saja siapa pelakunya.


Sisilia kemudian mengatakan...


" Rushd, aku yakin dia pelakunya."


Semua terkaget kecuali Grand Admiral yang memang tidak mengetahui apa-apa soal The Grand Order.


Yuno langsung menanyakan apa alasan Sisilia menganggap bahwa Rushd adalah pelakunya sedangkan Yuno tahu persis siapa Rushd itu.


Assyur juga menanyakan hal yang sama.


" Kau jangan menunjuk orang yang sudah tidak ada hubungannya dengan kita lagi, Sisilia. Rushd, Aaron dan Melkior mereka keluar karena alasan tertentu."


" Tapi aku tidak mengatakan Aaron dan Melkior juga salah."


" Tapi secara tidak langsung kau mengindikasikan bahwa mereka yang keluar tanpa alasan yang jelas itu adalah penjahatnya, kau tidak bisa seperti itu."


" Diam! Aku akan menjelaskannya mengapa aku mengatakan Rushd kemungkinan adalah pelakunya."


Mereka semua diam dan mendengarkan cerita dari Sisilia.


" Jadi seperti ini, Rushd keluar tanpa alasan yang jelas, kan. Begitupun dengan Aaron dan Melkior. Aku tahu, aku menghormati keputusan mereka tapi kecurigaan ku hanya pada Rushd...."


" Karena terakhir kali dia berada di Grand Order sebelum keluar dia mengatakan padaku kalau dia memiliki masalah dengan pemerintahan."


" Apa?" Turin kebingungan disana.


" Jadi malam itu, Dia datang dan berbincang berdua bersama ku. Dia menceritakan masalah yang dialaminya...."


"....Malam itu dia sangat emosional. Tapi aku menyuruhnya untuk tenang. Dia mengatakan bahwa dia muak dengan beberapa Mentri karena kerakusan mereka terhadap harta sampai meminggirkan orang kecil."


" Tapi bukankah Rushd sudah mendapatkan gajinya apakah dia kekurangan uang?" Tanya Fuhrer. Sisilia menggeleng Rushd tidak mengalami krisis keuangan dia hanya kasihan lihat rakyat kecil yang kekurangan makanan.


Dia lanjut menjelaskan.


" Rushd adalah orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan makanya dia sangat peka terhadap sosial yang ada diantara rakyat dan pemerintahnya. Tapi sayang pemerintah justru bersikap tak adil dan hal itu membuat Rushd marah pada pemerintah."


" Malam itu dia mengatakan kalau dirinya sudah kembali dari tempat Jenderal Sauron."


" Jenderal Sauron....?"


" Ya, Jenderal Sauron. Jenderal yang mengikuti kita melakukan perang Rose Gold War Of Durkk, 7 tahun yang lalu."


" Oh, jenderal itu ya..., Baiklah aku tahu."


" Dia menceritakan semua keluh kesahnya pada pemerintah tapi tidak ada yang mau mendengarkan. Sampai aku mulai merasakan ada perubahan pada dirinya."


" Perubahan seperti apa?"


" Rasa benci, rasa benci itu tersirat jelas di matanya. Itu membuatku merinding sampai-sampai aku merasa akan dibunuhnya ditempat itu juga."


" Itu berlebihan menurutku." Kata Assyur.


" Aku hanya diam mendengarkan cerita Rushd sampai selesai dan kemudian...."


" Kemudian apa?" Tanya Fuhrer penasaran.


" Dia menyatakan diri bahwa (aku akan kembali dengan sesuatu yang tidak disangka-sangka oleh siapapun akan ku buat mereka bertekuk lutut di hadapan ku) Begitulah kata nya sampai dia pun menyelesaikan perbincangannya dengan ku. Dan yah, kita tahu semua besok paginya dia menyatakan diri keluar dari....EVOLT." Terang Sisilia menutup penjelasannya dan cerita itu.


Semua berdiam sejenak.


" EVOLT ya..." Batin Yuno. Dia mulai memutar kembali kenangan yang indah saat EVOLT masih bersatu.


" Hmmm, itu aneh jika memang Rushd ingin menjunjung keadilan menatap dia membuat masalah seperti ini. Bukankah itu membuat rakyat menjadi lebih sulit?"


" Itu benar mengapa Rushd harus melakukan hal yang juga membuat rakyat menjadi susah. Aku yakin bahwa ada sesuatu, atau tujuan sebenarnya Rushd yang tidak di ceritakan pada mu, Sisilia."


Sisilia hanya diam saja. itu ada benarnya mengapa Rushd harus melakukan hal seperti ini.


" Kalau begitu bagaimana jika kita tanyakan pada Jenderal Sauron, itu lebih gampang kan. Bagaimana?" Saran Turin.


" Ah, benar juga. Bagaimana Grand Admiral apakah bisa?"


Grand Admiral Tempest hanya menggeleng kepala. Dan Thomassen pun menerangkan bahwa Jenderal Sauron sudah wafat 2 Minggu lalu.


Semua terdiam dan Turin dipukul pundaknya pelan oleh Yuno.


" Gelap oy!" Kata Assyur.


" Ya. Kan gw ga tau, maaf."


Grand Admiral Tempest berdiri dari duduknya dan melihat kearah luar tempat dari jendela kecil.


" Bagaimana pun juga kita harus mencari pelaku sebenarnya dari kejadian ini, situasi seperti ini tak boleh dibiarkan. Aku minta tolong pada kalian carilah dia, orang bernama Rushd itu tangkap dan bawa kehadapan ku. Aku ingin melihat wajahnya yang ketakutan." Tatapan yang sangat mengintimidasi yang ditujukan oleh Grand Admiral Tempest menunjukan bahwa dirinya berbahaya.


" Baiklah urusanku sudah selesai disini. Aku akan kembali ke tempat kerja ku dan menemui Grand Admiral Rover disana. Aku pamit sampai jumpa lagi. Lakukan tugas kalian dengan benar."


Semua orang disana menunduk dan berkata jika mereka akan melaksanakan tugas tersebut sampai berhasil.


Grand Admiral Tempest pun pergi dari sana dan akan kembali untuk laporan pekerjaan mereka 2 Minggu lagi.


...---BERSAMBUNG---...