
Pagi hari Azka pergi ke Sekolah seperti biasanya, dengan gaya bad girl andalannya.
Sampai di Sekolah ia sudah terlambat, namun Azka dengan santai masuk kedalam kelas, dikelas sudah ada guru yang mengajar.
"Azka kenapa kamu terlambat? Ini sudah kesekian kalinya kamu terlambat," tegur guru.
"Kesiangan," jawab Azka datar.
"Kamu ikut ibu keruang kepala sekolah sekarang," ucap guru lalu pergi keluar kelas diikuti Azka.
Diruang Kepala Sekolah
"Pak, ini Azka terlambat lagi, ini sudah kesekian kalinya Pak, apa tidak sebaiknya dikeluarkan saja," saran guru.
"Baiklah, Azka kamu bapak keluarkan dari Sekolah karna telah banyak melanggar peraturan Sekolah," ucap Kepala Sekolah sembari memberikan surat.
Azka mengambilnya dengan wajah datar lalu keluar sekolah, ia menuju kemarkasnya, namun saat diperjalanan ia melihat seorang wanita yang ingin dilecehkan oleh beberapa preman.
Azka yang tidak bisa melihat wanita dilecehkanpun turun dari mobil dan menemui preman tersebut
"Hei lepaskan dia," perintah Azka.
"Mau apa kau bocah, beraninya mengganggu kesenanganku," ucap salah satu preman.
"Lepaskan dia," perintah Azka dingin dengan aura mencekam.
"Bermainlah dengan kami sebentar," ucap salah satu preman berjalan mendekati Azka.
"Main? Ayo," ucap Azka lalu menghajar para preman.
BUGH
KRAK
SRAK
Para preman kewalahan menghadapi Azka yang memang Queen mafia juga pandai bela diri.
"Pergi atau...," ucap Azka sembari mengeluarkan pistol yang selalu ia bawa kemana mana.
Para preman yang melihat Azka mengeluarkan pistol pun berlari terbirit birit karna ketakukan.
Azka menghampiri wanita tersebut.
"Apa kau baik baik saja?" tanyanya.
"A..aku baik baik saja," jawab wanita terdebut.
"Siapa namamu?" tanya Azka.
"Namaku Ayyara," jawab Ayyara.
"Dimana rumahmu biar kuantar," tawar Azka.
"Aku tidak punya rumah, aku juga tidak punya siapa-siapa," jawab Ayyara menunduk.
"Ah maaf, baiklah sekarang kau ikut aku," ucap Azka lalu pergi masuk kedalam mobilnya diikuti Ayyara.
Didalam mobil Ayyara sangat terlihat takut dan gugup.
"I... iya," jawab Ayyara gugup.
"Aku punya permintaan," ucap Azka.
"Apa?" tanya Ayyara.
"Mau kah kau menjadi Kakakku?" tanya Azka.
Ayyara yang mendengar permintaan Azka menjadi terharu dan berfikir
"Kalau kau tak mau tak apa," lanjut Azka.
"Ah tidak aku sama sekali tidak keberatan," jawab Ayyara cepat.
"Baiklah sekarang kau Kakak ku," ucap Azka.
"Boleh aku bertanya?" lanjut Ayyara.
Azka lalu menaikkan satu alisnya yang berarti 'apa'
"Kenapa kau sangat dingin? Pasti ada yang membuatmu seperti ini," tanya Ayyara.
Azka yang mendengar pertanyaan Ayyara langsung menepikan mobilnya, ia menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
"Apa kau sangat ingin mengetahuinya," tanya Azka.
"Iya, kau sekarang adalah adikku, jadi kau bisa berbagi masalahmu denganku," tutur Ayyara.
"Baiklah, aku seperti ini sejak usiaku menginjak 8 tahun, ibuku pergi meninggalkanku karna dibunuh oleh ibu tiriku," ucap Azka menjelaskan.
"Dia membunuh Ibuku tepat didepan mataku, namun Ayah dan Kakak ku tidak mempercayaiku," jelas Azka.
Ayyara yang mendengarnya menjadi sedih seperti hatinya telah ditusuk beribu ribu jarum.
"Aku mengerti perasaanmu, kau wanita yang sangat kuat," ucap Ayyara sembari memeluk Azka, Azka yang merasa nyaman akan pelukan Ayyara tanpa sadar ia menitikan air matanya, namun dengan cepat ia menghapusnya.
"Sekarang kita akan pergi kemana?" tanya Ayyara.
"Kita akan pergi kemarkas," jawab Azka lalu mengemudikan mobilnya.
"Markas?" tanya Ayyara kebingungan.
"Iya Kak, aku adalah seorang mafia," jawab Azka.
Ayyara yang mendengar penuturan Azka menjadi kaget dan membulatkan matanya sempurna.
"Ma...mafia?" ucap Ayyara tak percaya.
"Iya BLACK DEVIL," ucap Azka.
Lagi lagi Ayyara dibuat kaget dengan penuturan Azka.
"Kakak tak perlu khawatir, aku tidak akan menyakitimu," ucap Azka.
"Aku percaya itu, aku hanya kaget," jelas Ayyara.